
Pesta hampir berakhir walaupun tamu yang diundang tak berhenti hadir. Disela ramainya acara, Benji membawa ayah Nai ke taman belakang hotel mewah itu. Terlihat cukup sepi, hanya ada tanaman - tanaman indah yang menghiasi.
"Ada apa nak Benji?"
"Saya boleh meminta sesuatu ?" Ucap Benji serius.
"Ada apa?" Mulai panik, Ayah Nai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Tolong jaga Caca, jangan ada bentakan. Saya tau didikan bapak baik, namun untuk jaman seperti ini, sudah bukan waktunya mendidik keras. Jika satu kali lagi saya mendengar Caca dibentak, saya akan mengambil Caca. Terimakasih juga untuk bantuannya, saya berjanji akan menjaga anak bapak. Saya permisi." Benji berjalan meninggalkan ayah Nai yang tak bersuara 1 kata pun. Kini hanya tinggal seorang ayah yang tiba - tiba meneteskan air mata.
"Haiiiiii sahabatku!!!!! akhirnya masa bujang lapukmu habis ya. Hebat sekali hebat sekali." Roni, sahabat karib sekaligus tangan kanan Benji diperusahaan datang. Dia menepuk - nepuk punggung Benji tanda bangga.
"Akhirnya Tuhan mengabulkan doa gue. Lu saksinya kan Ron? Tanya Benji.
"Eh sebentar, kemari." Panggil Roni yang Hendak membisikan sesuatu. " Ini pembantu rumah lu dulu?atau penyanyi malam itu? gue bingung."
gue inget saat disuruh mengejar orang jahat tempo lalu, Benji berkata wanita ini mantan pembantunya, tapi, dia seperti penyanyi malam itu.
"Menurut lu? Gue nikahin dua duanya. " Jawab Benji asal.
Ehhhhhhmmmmmmm !!!!!!!
"Eh Nona baru, selamat selamat. Kau adalah wanita paling beruntung karena telah memikat hati sahabatku. Sahabatku harus mengadakan tumpengan setelah menikah, karena dipastikan dia akan disahkan menjadi pewaris semua kekayaaan ayahnya. Hahahahahaha" Ucap Roni yang sangat mengetahui seluk beluk keluarga Wijaya.
Apa?????oh ini alasannya dia menikahiku. Klasik. Harta juga ujung - ujungnya. Terlanjur. Biarkan saja, dan lagi aku juga dapat bagian, selesaikan misi ini, aku sudah diberi rumah dan segala kebutuhan caca, minimal aku tidak usah banting tulang teralu keras.
"Mulut lu jaga Ron." Benji mendelik tajam.
Roni yang sadar akan tatapan tajam atasannya baru menyadari dia bicara teralu jujur. Gue harus kebawah, makan, dan jangan jadi ember bocor lagi yayayaya. Katanya dalam hati. "Eheheheheh, permisi permisiiiii saya mau makan sate sapi dulu." Ungkapnya sambil menunjuk prasmanan menggunakan jempolnya. Takut. Roni memberikan seringai manis sambil terus berjalan menuruni Altar, dia takut dipecat karena salah bicara.
"Tidak usah didengar ucapan orang sinting itu." Benji mencoba menenangkan Nai.
"Sayangnya, terdengar renyah tuan ,ditelinga sebelah kanan." Balas Nai sambil melihat sekitar.
Benji hanya melirik Nai lalu menarik nafas panjang.
"Selamat nak." Ucap Andra, paman Benji.
"Terimakasih emh.. om eh paman.. "
"Panggil om saja."
Cantik. Sepertinya aku mengenalnya. Aku lupa.
"Om yang lain kemana? Kenapa hanya om Andra yang kemari."
"Yang lain sedang menunggu rumah, tante juga."
"Ah baiklah jika begitu." Nai menyunggingkan senyuman.
Masa bodoh, kata Bianca semua jahat, bagus mereka tidak datang, kalau datang nanti stand bakso tahu dan zupa - zupa dihancurkan.
"Segeralah kerumah, tambah keceriaan dirumah super besar itu. Semoga kamu betah."
Dipastikan tidak betah, jangankan oleh para penduduk, oleh lelaki yang sejak tadi berubah status menjadi suami palsuku saja aku tidak betah.
Pesta meriah itupun berakhir ditutup dengan sukacita semua keluarga.
*********
Ruang ganti.
"Nai.."
"Mama?"
"Hiksssss... Semoga kamu bahagia nak, percayalah Tuhan sangat menyayangimu."
"Aamiiin ma.. terimakasih. Tidak usah sedih, aku akan sering ke Bandung. Aku titip Caca dulu ya ma."
Nai memeluk erat ibunya. Dibanding dengan ayah, Nai lebih bisa jujur pada ibunya itu. Namun ibunya kalah kuasa dibanding ayahnya.
Nai mengambil tasnya dan memberikan 10 gepok uang pecahan seratus ribuan kepada ibunya. "Ma, ini. Aku titip."
"Kenapa diberikan pada mama?"
"Titip, jika mama butuh pakai, aku tau papa pelit. Jika Caca mau jajan berikan, beli semua kebutuhan yang mama perlukan, beli semua barang yang mama mau. Pakai saja."
"Kamu bagaimana? apa kamu masih pegang uang?" Tanya ibu Nai khawatir.
"Ah aku kan nikah sama ATM, aku tinggal menggeseknya saja jika mau uang. Tenang, banyak uang aku sekarang."
"Terimakasih nak, jika kamu butuh, bilang."
Nai menjawab dengan anggukkan kepala.
__ADS_1
Suatu hari akan kuceritakan semua ini ma. Doakan aku. Aku mohon doakan aku selamat.
Setelah acara benar - benar selesai, Benji berpamitan untuk membawa Nai pulang kerumahnya.
******
Kediaman Wijaya.
Rumah ini lagi, semoga tidak membawa duka kedua kali. Selamat datang hidup baru
Batin Nai saat memasuki gerbang.
"Oh ini yang katanya pembantu lalu dinikahi si tuan dingin bergelimang harta ? Ucap Arsila." Saat itu Nai baru menginjakkan kaki dirumah Benji, penuh penyambutan yang hangat. Bahkan cenderung panas.
"Maaf nona, biarkan aku istirahat. Ini hampir dini hari, Aku lelah."
Kamu tidak tau ceritanya anak bocah, ringan sekali ucapanmu seperti tanpa tenggorokan. Nanti ku beritahu! Kalau nikah nikahan ini beres.
"Jelas lelah, berbulan - bulan memikirkan cara untuk menguasai harta. Tapi lelahmu terbayar kan?" Sindir Arsila. Nai yang mendengarnya pun seperti tersulut emosinya.
"Bukankah bagus? Seorang pembantu naik derajat karena menikahi orang kaya? Jadi anda yang orang kaya mau turun derajat menjadi pembantu juga tidak? Siapa tau ada orang kaya yang juga mau memungut anda." Nai mendelik, mendekatkan wajahnya pada Arsila.
Diamlah mulut sialanmu itu. Kepalaku migrain. Lebih baik kita pukul - pukulan saja, jika aku emosi dan emosiku tertahan, migrainku bisa berhari - hari.
Arsila mengangkat tangannya bersiap menampar Nai, namun kalah cepat karena Benji lebih dulu menampar Arsila. Benji yang menyusul Nai masuk rumah sudah dari tadi melihat percekcokan itu.
Plaaaaaaak!!!!
"Sekali kau menyentuh dia, kau yang akan kusakiti. Ayo naik Nai." Kemudian mereka segera menaiki tangga. Suasana rumah sepi, sepertinya semua sudah nyenyak meraih mimpi, meninggalkan Arsila mematung setelah ditampar Benji.
"Tuan, tuan tidak perlu menamparnya, dengan ucapanku pun kurasa sudah sedikit membuatnya berfikir." Protes Nai.
"Ku kira kau Nayanika yang dulu hanya tersenyum. Ternyata senyum manismu tameng dari ucapan berduri. Bagus!!!! " Sambil membuka pintu kamar dengan kuncinya, Benji mempersilahkan Nai masuk kekamar dimana dulu Nai sering membersihkannya. "Masuk ke kamar. Kini rumah ini jadi milikmu."
Nai kaget ketika dibukakan pintu kamar Benji. Dindingnya terlihat penuh oleh foto Nai yang dihias indah dalam figura besar. Bukan 1, hampir semua foto Nai ada dikamar itu. Nai menatap tuannya seolah mencari jawaban, "Tuan......" ucapnya lirih, entah kenapa hatinya terasa berbunga -bunga.
Dulu aku mau memasang fotoku dikamar Dharma saja dia menolak padahal dia bilang dia mencintaiku. Sekarang fotoku terpampang nyata padahal aku tidak memintanya. Eh, dia tidak benar mencintaiku kan?
"Kau tak perlu bertanya seberapa besar aku mengagumimu."
"Oh baiklah." Nai mengalihkan pembicaraan, "Tapi boleh kutanyakan sesuatu?aku bingung. Kenapa rumahmu jadi banyak sekali penghuninya? Aku tau mereka kemari sejak aku di Bandung, itupun dari Bianca, namun kukira mereka pulang. Dan mereka sepertinya tidak akan menyukaiku. Salah satunya gadis yang tadi, dia jahat." Kata Nai, sok meramal.
"Kau mengetahuinya? Benji mengernyitkan dahi, "Mereka tidak menyukaiku juga Nai dan itu jelas. Mereka hanya ingin menguasai beberapa proyek papi sejak dulu. Mereka semua tanpa terkecuali."
"Lalu?"
"Oh aku baru tau, jadi maksud tuan menikah denganku adalah..."
"Adalah untuk membantuku. Dalam segala hal. Sejak melihatmu tadi siang, Aku tau kau tidak awam dalam hal ini, perihal bersandiwara, berbohong, membuka kartu mati, kau mumpuni."
"Aku tidak bisa sendiri. Karena aku harus bekerja. Jadi ku putuskan kau yang disini."
"Eh tuan, aku sudah diterima bekerja." Nai menyela ucapan Benji.
"Berapa gajimu"
"Kurang lebih 10 juta."
"Ku ganti, diam dirumah." Tegas Benji.
"Eh tidak bisa begitu tuan."
"Kau disini kerja juga bukan ?" Benji mendekatkan wajahnya ke wajah Nai hingga tersisa jarak beberapa centi saja.
"Bukan tuan. Eh iya."
Ya aku disini bekerja juga. Entah jadi apa. Tolong kondisikan hidung mancungmu itu. aku deg degan.
"Ya sudah. Kenapa ngotot sekali? Apa karena kau menyukai si Peter?" Ungkap Benji sambil sedikit membentak. Dia menjauhkan wajahnya karena tak kuat melihat mata Nai.
"Tu tuan tau?"
aku lupa dia cenayang.
"Kau melamar di Perusahaanku lagi. Huuuuh..." Benji menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Walau lampu yang menyala hanya lampu kecil disamping tempat tidurnya, tetap tak bisa menyembunyikan senyuman bahagia Benji membayangkan malam ini dia akan memeluk wanita incarannya.
"Ganti pakaianmu, lemari pakaianku, sudah kukosongkan setengahnya untuk pakaianmu, jika kurang, besok kita beli lemari lagi." Benji bangun seraya membuka jasnya dihadapan Nai yang masih duduk di sofa. Bukan memalingkan wajah, Nai malah menatap dalam Benji. Sedangkan Benji yang berniat menggoda Nai malah mengurungkan niatnya.
Mata itu seperti menantang, aku jadi tidak berani.
Benji kemudian membalikan badan dan masuk ke kamar mandi.
"Tuan, tidak jadi buka baju didepanku? ku kira tadi mau dibuka semua." Goda Nai, padahal Nai juga setengah mati menahan detak jantung yang bergedup entah bagaimana ketukannya.
"Tidak jadi, kukira kau akan menutup mata karena malu, malah kau membuka matamu lebar - lebar, aku yang jadi malu." Benji berbicara dingin diri kamar mandi.
__ADS_1
Nai menertawakan kelakuan majikannya itu.
"Tuan bolehkah aku duduk di meja yang depannya ada kaca ini?"
sejak kapan meja ini ada disini? eh apa ini? krim wajah? kosmetik? wah wahh...
"Itu untukmu, sengaja kubeli kemarin!!!!!" Teriaknya lagi.
Untukku? aku kira sebelum aku kesini, dia membawa wanita lain.
"Ah tuan baik sekali." Nai mulai merapikan rambut, menghapus make up yang menempel tebal di wajahnya. Sementara itu Benji keluar dengan piyama berwarna biru muda.
"Awh.."
"Kau kenapa?"
Nai memegang bekas tusukan waktu itu, terasa sakit kemudian hilang begitu saja setelah beberapa detik. "Entahlah, ini bekas jahitan sakit saat aku mengangkat tangan."
"Kita ke dokter." Benji panik langsung mengambil ponselnya.
"Tidak tidak. Besok saja." Nai menolak
"Besok bagaimana sakitnya sekarang!!!!!"
"Tidak ini sudah tidak sakit."
"Bohong." Benji menatap Nai tajam.
"Benar. Ini tidak sakit."
"Tapi besok kita periksa."
"Iya besok."
"Yasudah." Benji berdiri kemudian membereskan beberapa majalah tebal dihadapan Nai yang sedari tadi seolah meminta Nai untuk menatapnya, otomatis Nai melirik tumpukan majalah itu. Majalah yang cover depannya bergambar mobil jadul yang kini mengeluarkan edisi baru. Nai sangat tau, mobil itu kini hits bagi para pecinta Offroad. Dia lalu mengambil majalah paling atas.
"Sebentar - sebentar lihat ini dulu."
"Wah ini bagus." Nai terus memperhatikan cover majalah itu. Terpampang foto mobil Jimny terbaru.
Benji hanya tersenyum melihat Nai yang fokus dengan majalah dihadapannya.
Lembar demi lembar Nai membuka majalah itu sampai di hampir bagian tengah. Namun ada yang aneh, seperti ada yang mengganjal di beberapa halaman selanjutnya. Nai yang penasaran membuka halaman itu dan dia melihat ada kunci mobil tertempel rapi lengkap dengan remote kecil.
Ini apa ?????
"Kemarilah. Bawa kunci itu." Benji kini sudah berada dipintu balkonnya.
Dengan segera Nai melepas kunci yang menempel kemudian membawanya pada Benji.
"Lihat." Titahnya. Benji mejentikkan telunjuknya menunjuk halaman belakang rumah megah itu, terparkir mobil baru berwarna biru tua lengkap dengan seikat bunga mawar berwarna serupa.
"Tuan, itu mobil yang ada di majalah tadi, bukankah itu mo.."
"Itu untukmu. Dan jangan menolak."
"Aaaaaahhhhhhh..!!!!!!! Terimakasih tuan." Nai loncat kegirangan. Dia memeluk Benji. Kemudian tersadar lalu menunduk malu.
"Tuan, bertahun tahun aku bernyanyi, jangankan mobil, motor saja tidak terbeli. eh sebulan lebih berhenti bernyanyi, malah dapat mobil." Nai tertawa." Tau begini aku menikah saja denganmu dari dulu."
"Itu baru permulaan Nai. Lihat nanti."
"Terimakasih tuan."
"Tidak usah berterimakasih. Semua untukmu.
Kau senang?" Benji seperti bangga berhasil membuat Nai tersenyum.
"Sangat senang." Ucap Nai jelas, selaras dengan wajahnya yang menyunggingkan senyum bahagia.
Nai menangkupkan tangannya diwajah Benji.
"Tuan, tuan baik sekali. Belum 24 jam jadi istri pura - puramu aku sudah diberi mobil. Beruntung sekali istri betulanmu nanti."
Nanti tetap dirimu nai.
"Aku ingin mencobanya. Sekarang. Ya sekarang. Tuan apa kau mau ikut denganku? Ayolah aku mohon ikutlah denganku..." Pinta Nai.
"Ayo." Benji meraih tangan Nai kemudian mereka keluar kamar. Mereka menuruni tangga dengan tergesa - gesa.
Inilah kehidupanmu seharusnya Nai. Kau harus bahagia.
Saat tiba dilantai bawah, Arsila masih duduk dan dia langsung berbalik ke arah langkah kaki yang cenderung berlari itu.
"Sudah jangan lihat - lihat, aku mau coba mobil pemberian suamiku. Jangan iri, fokus saja mencari suami kaya." Kata Nai sambil memperlihatkan kunci mobil yang ada ditangannya. Nai tertawa menyindir Arsila kemudian menggandeng lengan Benji berjalan keluar.
__ADS_1
Lihatlah! dia memanas - manasi saudaraku. Kau memang benar - benar mampu membuat seisi dunia cemburu padamu. Kali kedua aku melihat kau memutar balikkan fakta. Pantas banyak wanita iri padamu, mereka tidak mengetahui bahwa kau menjalani hidup ini penuh derita. Kau akan selalu tersenyum ceria supaya terlihat baik - baik saja, tapi jika sudah jujur, bahkan kau memukulku seperti amukan masa.