
Tepat jam 7 Benji sudah bangun, diusapnya pipi wanita yang hingga jam 4 subuh masih bersamanya mengelilingi jalan dengan mobil baru. Mereka tak satu tempat tidur, Nai memilih tidur di sofa saja, padahal ranjang Benji adalah ranjang 2 tingkat yang bagian bawahnya pun bisa ditarik.
Sehabis mandi Benji turun ke belakang untuk meminta dibuatkan susu dan kopi, setelah bi Nuni membuatkannya, Benji kembali ke kamar dan dipandangi istrinya yang masih tertidur nyenyak itu.
Fhuuuuuuhhhhhhh.." Benji meniup lembut wajah Nai. Namun Nai yang lelah hanya menggeliat kemudian tidur nyenyak kembali dengan selimut ditubuhnya."Emh..." Dia bersuara ketika Benji membuka gorden jendela yang menyorotkan sinar matahari langsung ke wajah Nai.
"Hai. Pagi!!" Sapa Benji lembut.
Nai mengucek matanya, "Ah tuan.. selamat pagi. Ini jam berapa? Aku rasa aku baru memejamkan mata sebentar." Katanya sambil menguap. Dia paksakan untuk membuka matanya kemudian duduk.
"Sudah pagi ini Nai..Ada apa dengan tanganmu???"
"Apa?" Nai kebingungan segera melihat satu telapak tangannya, tak dia temukan keanehan, dia membalikan tangan hingga yang dilihat kini punggung tangannya sendiri.
Tidak ada apa - apa. Memang ada apa?
Benji yang melihat Nai kebingungan segera menarik tangan Nai lalu menciumnya.
Cuuupppp...
"Kau terlihat cantik sekali."
Nai hanya tersenyum senang menerima perlakuan tuannya itu. Mencoba menyembunyikan debaran jantungnya.
Ah cantik darimana rambutku saja seperti singa. Tolong berhenti bersikap manis tuan, seperti kau mencintaiku setengah mati saja. Aku tidak sanggup menahan detak jantungku jika kau manis seperti ini.
Benji memberikan segelas susu hangat yang dibawanya.
"Susu? Terimakasih tuan." Ucap Nai langsung mengambil gelas.
Sejak kapan tuan tau kalau aku hingga sebesar ini menyukai susu?
"Tuan libur?Eh kenapa tuan tau kalau aku suka susu?" Tanya Nai.
"Heh, itu perusahaanku. Aku bebas masuk kapan saja. Kenapa kau banyak tanya? Kau tidak suka aku disini?" Tegas Benji.
"Bukan begitu tuan." Nai panik karena Benji menatapnya seperti marah.
Tuan anda sedang manis, kenapa berubah lagi menjadi galak? jangan melihatku dengan tatapan itu.
"Lalu bagaimana ?"
"Ti tidak tidak.."
"Mandi, 20 menit lagi kita sarapan. Oh ya, soal susu, aku tau sejak kecil kau sangat suka susu. Mungkin kau saudara sepersusuan dengan sapi."
Eh, iya sih tapi bukan saudara sepersusuan juga tuan. Nai yang malas adu argumentasi dengan tuannya menyeret kaki untuk mandi, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Dia takut salah bicara.
***********
Selesai mandi dan mengganti pakaian, Nai berjalan dibelakang Benji, pas dengan Bhramsy yang keluar kamar pula, "Hai kakak iparku yang cantik. Wah bagaimana malam pertamanya? terlihat sangat segar sekali."
"MALAM PERTAMA HINGGA JAM 5 SUBUH. KITA KELELAHAN. Turun kebawah jangan banyak tanya Bhramsy." Jawab Benji, dia tidak mau Bhramsy kembali menyukai Nai jika Nai bersikap baik pada Bhramsy.
"Ah baiklah, aku akan segera punya keponakan lucu." Ucap Bhramsy acuh.
"Selamat pagi pi." Sapa Benjamin
"Selamat pagi semua." Nai yang berjalan dibelakang Benji ikut memberikan sapaan. Meja makan super besar yang dulu hanya ada Benji dan Bhramsy kini formasinya penuh. Semua orang menduduki kursinya masing - masing. Nai melihat sekeliling, hanya pak Wijaya dan William saja yang dia kenal. Satu lagi, Arsila yang ditampar tadi malam.
"Pagi, menantu baruku." Jawab pak Wijaya lembut, dia tersenyum manis menatap Nai dan Benji.
"Pagi tuan."
"Hey, papi. Bukan tuan." Katanya lagi. Nai hanya mengangguk kemudian duduk disamping Benji.
"Susah kalau dasarnya pembantu." Erlyn yang melihat itu bergumam sambil memalingkan wajah, tersenyum sinis.
"Oh ini istrinya Benjamin, masih cantik Almeera. " Sambung Melly.
"Cantik juga percuma tante kalau jahat." Kata Nai.
"Ah, bisa bersuara juga ya, ku fikir gadis ini pendiam atau malah bisu." Tambahnya.
"Ah tante juga bisa bersuara? Aku fikir tante yang gagu, sebab tadi saat ku sapa tante hanya diam." Nai ikut tersenyum sambil mendelik tajam ke arah pemilik suara.
"Eh apa ini, ayo sarapan, jangan membuat keributan." Andra yang melihat ada percikan kegaduhan berusaha mendinginkan suasana. Hanya Ernesta, istri Andra yang benar - benar tidak mengeluarkan suara. Sedangkan William dan Anton menatap Nai seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kak maafkan mamaku." Bisik Helen yang kursinya ada disamping Nai.
"Diam dulu adik kecil, jangan sampai kamu ikut dimarahi, nanti minta maafnya." Jawab Nai. Dia melihat gelagat Benji yang sudah ancang - ancang mengeluarkan suara petirnya.
"BISA TIDAK PARA PENUMPANG DIRUMAH INI MENGHARGAI ISTRI SAH KU? MAKAN MAKANAN KALIAN DAN DIAMLAH! JANGAN SAMPAI TANGAN INI MELAYANG LAGI SEPERTI TADI MALAM." Teriaknya di meja makan.
"Apa ku bilang, kambuh kan penyakit bentak - bentaknya." Bisik Nai pada Helen.
"Hayooooo ngaku siapa yang ditampar tadi malam??????" Canda Bhramsy yang memperkeruh suasana. Disampingnya duduk Arsila, dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, hanya setangkup roti diatas piring yang ia pandangi sedari tadi. Istikomah.
__ADS_1
Pak Wijaya hanya mengelus dada melihat tabiat anaknya yang pemarah kembali. Bhramsy hanya bisa senyum senyum sambil ikut menyombongkan diri.
Hingga sarapan selesai, mereka semua masih menundukkan kepala. Mereka menunggu Benji pergi. Ya, bukan pak Wijaya, melainkan Benji yang lebih disegani karena dianggap tidak memiliki kasih sayang pada semua saudaranya.
"KUPERINGATI SEKALI LAGI, JIKA ADA YANG BERBUAT SEENAKNYA DIRUMAH INI, SILAHKAN ANGKAT KAKI. RUMAH INI SEKARANG MENJADI MILIKKU DAN ISTRIKU SEPENUHNYA. Permisi pi." Benji beranjak tanpa melihat sekitar.
"Nai, ayo keatas."
"Permisi papi." Nai menganggukan kepalanya sambil tersenyum dan dibalas dengan senyuman pak Wijaya.
Sambil melangkah pelan, Nai melewati Melly dan Erlyn yang kursinya berdampingan, kemudian bicara setengah berbisik, "Permisi.... Para penumpang." Katanya sambil terus melangkah menyusuri anak tangga.
Setelah dipastikan tak lagi ada di meja makan, William bertanya, "Kak, apa kakak tidak salah memilih menantu?"
"Tidak, dia baik, berpendidikan," Pak Wijaya menjawab dengan santai.
Arsila yang sedari tadi hanya diam mengeluarkan suara, "Berpendidikan tapi jadi pembantu?" Seperti menghina.
"Dia disebut berpendidikan? Dia saja tidak bisa menjaga ucapannya itu." Kata Anton yang ikut mendengar ucapan Nai saat berjalan.
"Diamlah.. Nanti kita diusir.." Bisik Istrinya, Erlyn.
"Hahahaha.. sudahlah. Aku ke belakang dulu." Pak Wijaya tak mau ambil pusing, dia meninggalkan meja makan yang masih terisi oleh keluarganya, disusul oleh Bhramsy.
Ernesta juga sepertinya berfikiran serupa, tanpa bicara dia dan suaminya segera ikut meninggalkan meja makan. Kini hanya tinggal Melly, William, Anton dan Erlyn beserta anak - anak mereka, entah apa yang mereka bicarakan.
********
KAMAR.
"Lagi - lagi tuan berbicara keras!" Protes Nai
"Aku memang selalu melakukannya pada semua orang!!!"
"Kenapa???"
"Tidak apa- apa, memang kenapa?"
"Tidak apa - apa juga tuan.hehehe."
Hari ini aku tidak mau dibentak. Biar saja semerdeka pemuda plin plan ini.
"Aku hanya tidak pernah berbicara keras padamu." Tandasnya.
Kata siapa tuan kata siapa tidak pernah? kejeduk kepalamu tuan? amnesia? Gerutu Nai dalam hati. Jelas, Nai dulu sering dimarahi dan dibentak habis - habisan.
"Karena dia tidak menghargaimu." Jawab Benji singkat.
"Aku tau tuan memiliki dendam pribadi, tapi sepertinya tidak usah bekerja keras menghadapi mereka, kita harus bekerja cerdas."
"Lakukan apa yang aku perintahkan saja Nai, aku tidak meminta pendapatmu."
Ah aku lupa apa tugasku sebenarnya. Tapi aku tidak mau dirumah ini selalu ada peperangan. Apa mereka tidak bisa berdamai? atau, karena ada aku disini mereka jadi bertengkar? aku merasa memiliki banyak musuh baru. Bagaimana perasaan papi, dia pasti sangat sedih.
Nai ingin mendinginkan kepalanya, dia berjalan membuka pintu tapi tertahan. " Kau mau kemana lagi?" Tanya Benji.
"Aku ingin bertemu bi Nuni, sebentar saja tuan, boleh?"
"Setelah itu segera kembali." Tanpa melihat Nai. Mata Benji masih terpaku pada layar di laptopnya.
Nai melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga, ruang tengah, bahkan untuk sampai didapur pun sepertinya membutuhkan tenaga yang cukup banyak. Rumah ini luas sekali.
Aku rindu saat jadi pembantu disini. Rindu lelah ketika harus bulak Balik. Nai tersenyum mengingat kisahnya tempo hari. Saat hampir sampai, Nai menemukan tujuannya, Bi Nuni sedang asyik menyapu halaman disamping dapur, segera ia berlari menghampirinya.
"Bi Nuni!!!!!!!! aku merindukanmuuuuuuu.hihihihi" Teriaknya sambil tertawa.
"Nai? Eh nona Nai, peluk bibi sini.. "
Bi Nuni yang hanya mampu mendengar kabar Nai tanpa bertemu merasa sesak di dadanya. Dia merentangkan tangan menunggu si pemanggil berlari dari kejauhan. Dipeluknya gadis cantik yang ada didepannya kini, gadis cantik yang sebisa mungkin membantu bi Nuni saat masih sama - sama bekerja disini. Air mata tak lagi bisa disembunyikan.
"Akhirnya hidupmu bahagia, kini kamu menjadi nona dirumah ini. Tuhan begitu cepat mengabulkan doaku. Kamu anak baik nona, kamu mendapatkan balasan dari semua kebaikanmu. Inilah derajatmu yang sesungguhnya." Katanya sambil menciumi Nai.
"Bi, terimakasih.." Lirih Nai yang ikut terharu.
Tak mau berlama - lama dalam air mata, Nai memeluk Bi Nuni lalu berkata, "Bi, jangan panggil aku nona, aku sama sepertimu, aku pernah mencuci, menyapu, bahkan pernah dikerjai habis - habisan oleh tuan Benji, Bi Nuni beruntung tidak sepertiku. Hihihi" Ucap Nai manja.
"Kini nona majikan bibi."
"Tapi bibi kuanggap ibu keduaku, aku tidak mau bibi memanggilku nona. Panggil saja Nai, kalau tidak, aku marah." Kata Nai lagi sambil terus memeluk Bi Nuni.
"Baiklah. Eh Nai, kamu mimpi apa tiba - tiba menerima pinangan tuan, jadi meskipun kamu dikerjai habis - habisan, kamu dinikahi.. Itu wajar karena kamu sabar menghadapinya." Goda Bi Nuni.
"Sepertinya karena aku sedang hoki bi, coba kalau bibi masih muda, pasti yang dinikahi itu bibi, bibi kan lebih sabar dari aku." Mereka tergelak. Nai selalu bisa merubah suasa secepat kilat.
Ketika sedang asyik bercengkrama, Nai sepeeti ingin mengungkapkan isi hatinya, "Tapi bi..." Katanya tak terselesaikan.
"Percayalah, dia mencintaimu, ini bukan hanya soal kontrak."
__ADS_1
DEGGGGGGGG!!!!!
Kenapa dia tau maksudku? Apa tuan menceritakannya?
Tak mau salah berucap, Nai kembali berusaha terlihat baik - baik saja, dia mengambil 2 gepok uang di saku celana kulotnya kemudian celingukan melihat sekitar, setelah dirasa aman, dia memberikannya pada bi Nuni.
"Ambil ini bi, buat berobat." Kata Nai sambil memasukan uangnya ke saku daster bi Nuni.
"Nai..."
"Ah jangan berisik jangan menolak, bibi pernah mendoakanku agar aku banyak rejeki kan? aku mendengarnya saat bibi solat sambil menangis. Saat itu aku berjanji jika aku kaya, aku akan memberikan bibi uang, Tuhan mengabulkan doa kita bi. Terima ya." Kata Nai sambil tersenyum. Bi Nuni mengangguk, benar perasaannya, Nai adalah orang sangat baik dan tak melupakan janjinya.
Selesai melepas rindu, Nai pergi ke taman belakang, sekedar mengingat bagaimana hamparan tanah luas yang ditumbuhi ratusan bunga - bunga yang dulu selalu dia sirami setiap hari. Bunga itu masih ada, tumbuh semakin cantik dan kuat. Bahkan lebih lebat.
Hai bunga, aku kembali? kamu merindukanku? aku pastikan Tuhan menjagamu hingga saat ini, kamu masih tumbuh dengan cantik. Mulai hari ini, tanganku lagi yang akan mengurusmu.
Senyum merekah tersungging di bibir Nai, tak sadar mertuanya sudah menatapnya dari kursi dimana dulu Nai memijat kaki pak Wijaya.
Lamunannya terpecah ketika pak Wijaya memanggilnya, segera dia berlari.
"Papi?"
"Duduklah nak disini." Pak Wijaya menepuk kursi disebelahnya, namun Nai tetap duduk dibawah sama seperti saat itu, dia menaikan kaki pak Wijaya ke pangkuannya, dipijat pelan kaki itu.
"Papi masih suka sakit kakinya?"
"Kamu menantu diistana megah ini, tapi kamu masih tetap rendah hati. Benar pilihanku." pak Wijaya tidak menolak saat Nai memijat kakinya. Nai hanya menunduk dan tersenyum.
"Nai maafkan keluarga papi." Sambungnya.
"Tidak apa -apa pi."
"Maafkan kejadian tempo lalu Nai,"
"Tidak apa apa pi, sudah jalannya. Papi tau? Aku mendapatkan banyak pelajaran dari kejadian itu."
"Diantaranya?"
"Diantaranya, aku harus menjadi orang yang luas hati. Om Krisna yang memberitahu."
"Kris ada disana?"
"Ada pi. Dia bahkan memberiku ayam goreng kesukaanku."
"Nai, papi titip Benji."
"Sejak ibunya meninggalkan papi, dia menjadi dingin terhadap wanita. Hanya kamu yang bisa membuatnya kembali ceria. Papi sadar itu."
Ah masa iya? Gara -gara aku??
"Dia benar - benar berubah saat kamu bekerja disini, dia terlihat panik saat kamu melakukan kesalahan itu. Perusahaan terbengkalai, murung seharian, apa namanya kalau bukan dia mengkhawatirkanmu?"
"Pi, maaf, tapi mungkin harus ku jelaskan pada papi."
Aku harus mengatakannya, harus berani karena memang bukan salahku.
"Soal Almeera? Papi tau. Benji mengirimu ke penjara karena ingin mengamankanmu."
"Apa tuan Benji mengatakannya juga ?"
"Apa yang tidak ku ceritakan pada orang tuaku sendiri?" Suara Benji yang berjalan santai dibalik pintu mengagetkan Nai.
Cupp.. Benji mencium kening Nai
Astagaaaaa, perlakuan manis apa lagi ini?
"Papi bahagia sekarang ?" Tanya Benji sambil duduk di samping ayahnya.
"Jelas. 2 minggu lagi serah terima semua perusahan padamu." Kata Pak Wijaya.
"Boleh ditukar?" Tambahnya.
"Ditukar dengan apa?"
"Dengan cucu kembar. Rumah ini akan ada langkah mungil dari cucuku. Hahahaha.. pergi bulan madu kemana yang kalian inginkan, sebelum papi mati, kalian harus sudah punya anak."
"Hah? Anak?"
"Jangan lupa juga segera bawa anakmu kemari Nai."
"Ba..baik pi."
********
"Tuan Benjamin memerintahkan aku untuk mempekerjakan kalian lagi. Tolong pantau rumah itu sesuai jam kerja kalian. Jika ada seseorang yang keluar maupun masuk, ikuti mereka. Kalian mulai bekerja besok."
"Baik Tuan." Terdengar samar jawaban dari ponsel Roni. Perintah penjagaan ketat dari si pemilik kuasa, Benji.
__ADS_1
Setelah kenal wanita itu, aku jadi tidak memahami permintaan dan pemikiran aneh sahabatku ini.