Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
POV Bianca


__ADS_3

Aku melihat gadis itu, tatapannya lugu. Saat pertama kali menawarkan minum, dia nampak ragu dan rendah diri. Dia teralu cantik untuk seorang pembantu rumah tangga disini.


Kekasihku yang ku puja bertahun - tahun dengan lantang menceritakannya dihadapanku, penuh senyum merekah. Ah semudah itukah dia menyukai perempuan? Atau sebaliknya ; semudah itukah perempuan itu membuat semua lelaki terpikat?


Dia berbeda sejak aku mengajaknya berbicara. Dia cerdas, cerdik, sedikit picik. Dia menyembunyikan ketinggian dibalik kerendahan bawah tanah yang ia lontarkan. Aku menangkap itu, namun dia bersikeras hanya mencari kerja. Saat aku tatap matanya, aku merasa, ini bukan dia sebenarnya.


Dia mendorongku jauh, hingga badannya menimpaku. Terjatuh. Dia menyelamatkanku dari serempetan motor waktu itu. Kali ketiga aku melihatnya seperti tanpa beban untuk membantu. Lagi - lagi, aku hampir tak bisa membencinya meski ku tau bahwa kemungkinan dia akan merenggut cintaku.


Dia memukul wanita simpanan ayahku dipersimpangan jalan. Saat aku diseret dan hampir dipermalukan. Ya.. saat itu masih teralu pagi untuk dicocokan dengan angka enam. Jalannya tergesa - gesa, sepertinya dia kesiangan. Berjalan kaki dari rumah menuju tempat bekerja setiap hari bukan perkara ringan. Makian, hinaan dan tamparan dari ayahku yang membela simpanannya sama sekali tak dia rasa, dia tetap tersenyum padaku sambil membantuku pergi ke tempat yang lebih aman. Dia menenangkanku, kemudian pamit, pergi berlalu.


Berkali aku mendatangi rumah itu hanya untuk sekedar bercengkrama, dia masih mengelak dengan semua bantahan yang terkesan memaksakan. Dia selalu benar ketika ilmu sekolahnya ku talar, dia selalu spontan menjawab ketika pertanyaan dadakan ku lontarkan. Tapi, Dia selalu menunduk haru ketika ku tanya tentang keluarga, dia selalu tersenyum memaksa ketika ku tanya tentang buah hatinya; yang baru dia akui bahwa itu anak kakaknya yang dia urus sejak sekolah menengah atas. Dia selalu pergi setiap ku tanya perihal kejujuran. Namun Saat itu dia mengakui semuanya. Dengan air mata.


Sebuah lagu manis keluar dari mulutnya yang bersuara merdu, aku duduk di meja kedua dan benar - benar jelas melihat dialah si pembual hebat yang membuat lelakiku terpikat. Dia menatapku seolah mengiba, memohon untuk menutup semua rahasia.


Dari sejak saat itu kita berteman. Dengan berjanji untuk menjaga rahasia satu sama lain.

__ADS_1


Ya, dialah orangnya. Satu - satunya wanita yang membuatku ikhlas memberikan orang yang aku cinta. Tak ada salahnya, hidupnya selalu menderita, bahkan jika aku ada diposisinya, mungkin aku sudah hampir gila.


Kini aku mengetahui rumahnya, dia membawaku yang tak sadarkan diri, tapi ini bukan rumah, lebih tepatnya tempat tidurnya yang sama sekali tidak mewah. Kamar berukuran 2x3 meter. Jauh dari kata nyaman. Dia hanya mampu menyewa itu, karena dia memberikan semua uang untuk orangtuanya. Lagi - lagi, dia tulang punggungnya.


Sepintas menggunakan logika, aku merasa sesak berada berdua ditempat sempit ini. Namun semua menjadi luas saat kulihat dia tidur membungkuk dengan memeluk lututnya sendiri. Pagi buta dia pergi, masih sempat selimuti aku yang kembali tidur. Tak ku tau lagi kabar darinya, yang ku dengar, dia dicecar karena lalai, tertidur saat bekerja.


Ingin rasanya aku membela dia ketika bentakan demi bentakan sang pemilik kuasa rumah terdengar renyah, namun dia hanya tersenyum. dia menguatkan dirinya sendiri dengan dalih : sudah terlatih. Aku malu melihat diriku yang hanya mampu iri hati ketika kekasihku lantang memuji, padahal kenyataannya, wanita ini memang pantas dipuji atas keahliannya menyembunyikan luka mental sendiri.


Dia hanya tertidur 2 jam dalam satu hari. Kemudian dilanjut dengan bekerja keras untuk mimpinya kembali. Meskipun tak sesuai kondisi, dia rela menjadi pembohong besar, hanya demi menjaga perasaan dan membuat bahagia orang tuanya.


Aku melihatnya panik saat kejadian itu, dia menangis tak henti. Sahabatku yang dikucilkan sejak kecil ini tersedu mengetahui sang pemilik kuasa dirumah terbaring tak sadarkan diri. Badannya gemetar hebat. Aku tau, dia memiliki trauma sejak kecil. Dia selalu disalahkan atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Dia membenci dirinya sendiri.


Dipojokan rumah sakit dia tertunduk lesu. Bentakan yang memecah gendang telinga tak digubrisnya. Sahabatku teralu luas hati untuk menerima hinaan yang tidak harus dia akui. Namun kali ini dagunya terangkat, matanya memekik cepat melihat si pemilik suara menghina orangtuanya, bahkan harga diri dia gadaikan, tapi nama orang tua tetap dia jaga.


Aku melihatnya diborgol. Ada memar didahinya, mungkin semalam dia kembali melakukannya lagi. Ya, dia sering memukuli diri sendiri ketika merasa sakit hati. Tak ada yang bisa dia lakukan. Lalu baginya siapa yang patut untuk disalahkan atas takdir Tuhan? Diri sendiri.

__ADS_1


Malam harinya aku dan kekasihku pergi menjenguk, sekedar memastikan dia aman disana. Kubawa semua baju dan peralatan yang dibutuhkan. Dia tak punya siapa - siapa disini, dia bahkan dihianati oleh majikannya sendiri. Teman yang malang. Kulihat dia menatap jauh, tak ada tangisan dan tanpa mengeluh. Dia melarang kekasihku untuk membebaskannya dengan cara cepat, lagi - lagi, dia selalu bisa membuat Bhramsy terpikat.


Beberapa hari aku berusaha mencari bukti, dengan segala cara, aku harus mengetahui bahwa bukan dia pelakunya. Syukurlah, Tuhan mempermudah jalanku. Tapi apa? Tebusan sebagai jaminan? Dia sudah dijaminkan? Bagaimana prosedurnya ini? Apa maksud dari lelaki itu?


Akhirnya kuberikan uang yang dia pinta, berurusan dengan belut yang sulit ditangkapi, kini dia sanggup memborong oli. Aku tak berkutik, ku ikuti jalan kemauannya, asal temanku bisa kembali mengejar mimpinya.


Ah,, biarlah,, 2 mobil itu tidak terlalu sering ku pakai. Biar saja, dan lagi, sejak ayahku pergi, mobil itu seperti keluarga kami dimatanya. Sedikit abai.


Aku masih memiliki uang sisa, ku belikan ponsel baru dan sebuah kamar yang sedikit lebih leluasa. Ku suruh dia pindah karena aku tau, dia tidak akan aman disana. Biar kuberikan nanti saja ponsel ini. Sebagai hadiah.


Tak pernah aku tau rasanya setia kawan seperti ini, benar ucapannya saat memelukku tempo hari, kebaikan itu menular, hidup itu tabur tuai. Tuhan akan membalas semua dan hukum alam jadi jaminannya.


Darinya lagi aku paham bahwa terkadang banyak orang yang terbuang. Kami berdua diantaranya. Aku yang terbuang didalam keluarga berantakan, sedangkan dia, terbuang oleh kenyataan dan keadaan. Dia lebih memahami bagaimana rasanya jadi aku, karena dia pernah ada diposisiku. Namun aku tak pernah berada diposisinya, semoga tidak pernah.


Aku memanggilnya Nai. Seorang wanita cantik yang sejak kecil tak punya teman, masa kecilnya penuh dengan luka pukulan, bentakan, tak ada teman berbagi walau hanya sebagian. Dia hanya tunduk ke bumi, hidup tertekan. Sejak dia menolongku, aku berusaha merubah diri menjadi lebih baik, dan menjadi sebaik - baiknya teman.

__ADS_1


__ADS_2