Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Mau bayi!!!!!!!!!


__ADS_3

"Hai Ezra." Sapa Rania saat ia melihat Nai masuk ke kamarnya didampingi seorang pria tampan.


"Hai.. aku mau melihat bayi." Ujar Nai sambil mengendong bayi yang sedang dipangku oleh Rania.


"Sudah kamu fikirkan? jadi kira - kira siapa namanya ?" Sambungnya lagi.


"Azriel Ezra Benjamin."


Benjamin terkejut, ia langsung menatap Nai, "Ezra? Benjamin?"


"Ya, aku dan Rey sepakat menggunakan nama Ezra karena dia adalah penolong yang diberikan Tuhan pada kami. Sedangkan Benjamin, Ezra sendiri yang kemarin memintanya agar bayi ini diberi nama itu." Jelas Rania.


"Karena harapanku, bayi ini bisa sepertimu, sesempurna ini." Nai mencubit lembut pipi suaminya sambil menyunggingkan senyuman manis.


"Ini suamimu ?"


"Heem." Nai menangguk.


Eh dia mengakui aku suaminya tanpa terpaksa?


"Tuan, tuan tau? Ezra malaikat untuk keluarga kami. Terimakasih, tadi suamiku memberi tahu besok dia sudah mulai bekerja.."


Nai menyodorkan bayi itu pada Benji, segera Benji menggendong dan menimang bayi tanpa khawatir, "Dia bekerja di kantor suamiku, suamiku yang menerimanya. Dan lagi, suamimu itu pintar, dia akan membuat kemajuan di perusahaan suamiku. Berterimakasihlah padanya." Ucap Nai.


"Kamu penolong, pantas Tuhan menganugerahkan lelaki sempurna ini padamu.." Rania terharu, ia menatap dalam pada Nai, wanita yang sempat iya cemburui karena suaminya beberapa kali menceritakan kisahnya, namun setelah bertemu, dia mengerti bahwa memang Nai sangat baik.


"Sssstttt.. aku yang beruntung mendapatkannya." Celetuk Benji sambil tersenyum pada Rania.


"Ayo pulang." Ajak Nai


"Aku masih ingin bermain dengan bayi ini."


"Tapi bayi ini milik Rey,, bukan milikmu."


"Lalu bagaimana ?"


"Ish kembalikaaaaaaan!!!"


"Tapi aku masih senang bermain dengan bayi ini."


"Kembalikan tidak?"


"Tidak." Tolak Benji, menjauhkan dirinya dan sang bayi dari Nai.


"Tuaaaaaaaaannnn.."


"Nai sebentar lagi, aku juga ingin menggendong bayi, lihat, cocok kan aku?" Kata Benji sambil terus menimang bayi di pangkuannya.


"Astaga kembalikan pada ibunya, dia haus ingin susu.." Menggaruk kepala yang tak gatal, Nai bingung melihat suaminya yang seperti anak kecil mempertahankan mainannya.


"Naaaaiii.." Rengek Benji.


"Sudah sudah, kembalikan.." Paksa Nai.


"Aku juga ingin bayi..." Benji semakin ngotot, namun terlihat menggemaskan, nada bicaranya memaksa namun sangat lucu.


"Iya ayo kita buat sendiri,, ayo cepat kembalikan.." Tak mau ambil pusing, Nai berbicara sekenanya.


"Benar ya?????"


Benarkah apa yang dia katakan? buat sendiri? Roni, saranmu berhasil. Akan ku berikan bonus tahunan untukmu.


"Iyaaaaaa..." Jawab Nai menyakinkan Benji sambil merebut bayi itu dan dikembalikan pada Rania. Rania terkekeh melihat keduanya.


"Aku pulang dulu ya, salam untuk suamimu. Oh iya, sudah ku belikan semua peralatan bayi lengkap selengkap lengkapnya, sedang dikirim kemari, tunggu dan jangan kemana - mana ya Ran."


"Ya Tuhan, Ezra, kamu menanam kebaikan lagi, terimakasih..."


"Sama - sama. Jaga bayimu baik - baik." Ucap Nai sambil berpamitan.


"Doakan kami segera menyusul memiliki bayi juga yaaaaaaa." Benji tersenyum jahil.


Dalam perjalanan menyusuri rumah sakit, Benji terus merengek, mengejar - ngejar langkah Nai yang sengaja Nai percepat karena pusing melihat kelakuan suaminya yang seperti anak kecil meminta jajan pada ibunya. Ia terus saja mengejar Nai sambil menarik - narik bagian belakang kemeja Nai.


"Naaaaaiiiii.. yang benar..."


"Iya buat saja, jangan ambil bayi orang." Jawab Nai acuh.

__ADS_1


"Awas kau bohong." Rengek Benji lagi sambil memajukan mulutnya.


Nanti malam akan aku coba eksekusi kau Nai. lihat saja.


"Hahahahahaha." Tak bisa menahan tawa, Nai terbahak.


"Tuh kau berbohong. Kau mau apa? Mobil balap????Rumah lagi? Mall? Istana bogor? Istana merdeka? Istana presiden? Akan ku usahakan tapi aku mau bayi." Rengek Benji tak henti.


Sialan, dia mengerjaiku. Apa maunya wanita ini.


"Tuaaaaan malu."


"Naaaaaiiiii."


**************


**Di perjalanan.


Bayi lucu.. aku mau bayi lucuuuuuu juga**..


Nai terkekeh, dia membuka whatsapp dan melihat story suaminya. "Hahahahahaha apa ini statusmu tuan?"


"Aku mau bayi." Jawab Benji merengek.


"Berhenti merengek."


Sialan, aku salah bicara, dia pasti akan terus merengek seperti ini sampai beberapa hari kedepan. Lalu bagaimana aku mengatasinya? ah... jangan sampai...


"Bayi kembar Nai."


"Iya, dua duanya laki - laki ya?" Nai menimpali sambil tersenyum, badannya berbalik menghadap Benji yang sedang menyetir.


"Ayo..."


"Ayo apa?"


"Bayi...lucu.. malam malam kita akan ramai sekali."


"Memang tuan mau mengurusnya ?"


Katakan tidak mau..katakan tidak mau.


"Anakku." Tegas Nai.


Benjamin berusaha mencari jalan tengah, "Iya anak kita."


"Jadi kapan?" Sambungnya lagi.


"Kapan apanya?"


"Prosesnya Nai, kau fikir membuat anak itu hanya dengan batuk."


"Hahahaha..."


Benji mengelus pipi Nai, "Apa yang kau rasa selama tinggal denganku?" Katanya.


"Bahagia." Jawab Nai singkat.


Ini kenyataannya, aku bahagia, belum pernah aku se foya - foya ini mengeluarkan uang tanpa berfikir. cita - citaku.


"Benarkah ?"


"Benar. Tuan memberikanku banyak uang, dan Tuhan mengijinkanku membalas jasa orang - orang yang pernah menolongku saat aku kesusahan."


"Selain itu?"


"Aku seperti ratu, semua memujiku, bahkan Rey saja bilang aku berubah."


Haus pujian. Aku memaafkannya karena aku tau dia berjasa untukmu, sekarang kau malah menyebut namanya dan seperti senang dipuji olehnya.


"Kau selalu cantik Nai."


"Benarkah?"


"Benar sekali."


"Tapi hidupmu masih seadanya Nai. Apa kau hidup sederhana di dalam istana karena kau takut uang yang kuberikan habis kau bagi - bagikan ?"

__ADS_1


"Mungkin iya."


Tidak mungkin juga, aku tau tuan kaya.


"Jangan takut, lakukan semua kebaikan yang kau mau. Uangku takan habis. Ngomong - ngomong, siapa lagi yang mau kau beri uang?"


"Yayasan tempat kerjaku dulu."


"Yayasan yang membawamu bertemu denganku?"


"Iya."


Kapan rencananya kau akan kesana?"


"Aku akan cari waktu yang tepat."


"Eh tuan, tuan tidak pergi lagi ke kantor?"


"Untuk apa?"


"Untuk bekerja."


"Tadinya mau, namun ada yang menulis surat padaku dan berkata agar aku pulang cepat."


"Hahahahahaha. Tuan, ayo kita merokok di taman itu, sepertinya sejuk." Tunjuk Nai ke sebuah taman yang tak jauh dari pinggir jalan.


"Ayo!!!"


Sejuk bagaimana, panas begini, merokok disiang bolong dengan udara sangat panas, kau bilang sejuk.


Mereka pun memarkirkan mobilnya, berjalan santai sambil berpegangan tangan. Sesekali Nai melihat Benjamin yang terus tersenyum sambil berjalan. Merekapun duduk di kursi yang tersedia disana. Masing - masing menyalakan rokok, menatap jauh, mengawang.


"Tuan, aku bahagia ada dengan tuan disini." Tatapan mata Nai sendu, seolah memikirkan sesuatu.


"Benarkah?" Benji mencari kepastian, "Kau fikir aku tidak merasakan serupa?"


"Entahlah.." Menggelengkan kepala sambil tersenyum, Nai menunduk, Benji melihat itu dan teringat saat awal Nai menjadi pembantu dirumahnya.


"Aku lebih bahagia Nai."


Sangat bahagia melebihi apapun. Kau hidupku.


"Semoga waktu tidak cepat berlalu. Hari demi hari dengan tuan tak pernah terasa membosankan. Sudah berapa bulan kontrakku?" Nai mencoba mencairkan suasana, bertanya dengan nada riang seolah pertanyaan itu tidak menimbulkan masalah, namun ternyata salah, seketika raut wajah Benjamin berubah, ia melempar rokok yang sedari tadi ia hisap. Tatapannya berubah tajam menatap Nai.


"Berani kau membahas itu?" Tanyanya mengancam.


"Tapi suatu hari aku tetap harus pergi jika kontraknya sudah habis. Kita harus konsisten."


Mati aku. Apa kali ini dia akan kerasukan barongsai dan marah - marah?


"Masih lama. Jangan fikirkan itu, nikmati waktumu yang masih tersisa." Benji mencoba dingin.


Jika aku marah, Nai akan ketakutan dan rencana membuat anak bisa mengalami penundaan. Tapi aku ingin sekali marah, dia berani mengungkit sesuatu yang aku benci.


Nai menarik nafas panjang, terlihat lega. "Ah benar juga. Syukurlah masih lama."


Syukurlah? Apa maksudnya dia bahagia hidup denganku?


"Jadi aku masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri, untuk belajar menjadi istri yang baik."


"Apa? Aku tidak salah dengar?"


"Tidak."


"Kau sudah menjadi istri yang sangat baik."


"Belum."


"Sudah.. akan lebih baik jika memberiku anak."


Kena kau.


"Eh anak lagi.."


"Iya dong, pembahasan tentang anak kan belum selesai." Benji akhirnya tersenyum melihat ekspresi Nai yang terlihat kesal. "Apa ini salah satu tempat istimewa, menurutmu?Kenapa tidak mall, taman bunga tulip, atau kebun buah?" Tanyanya.


"Semua tempat itu bisa menjadi istimewa atau terasa petaka, tergantung dengan siapa yang ada disampingku, tuan."

__ADS_1


"Aku?"


"Dimanapun, dengan tuan akan selalu terasa istimewa."


__ADS_2