Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Ide Roni!


__ADS_3

GEDUNG WIJAYA GROUP.


"Punya anak!!!!! Roni mencetuskan ide saat sahabat karibnya meminta pendapat bagaimana membuat seorang istri mencintai suaminya.


"Itu jalan satu - satunya menurut gue." Sambil menganggukan kepala tanda yakin akan buah fikirnya.


"Tapi..." Benji menatap nanar, ingin mengeluarkan suara namun ragu.


"Apa?"


"Gue belum pernah..."


"ASTAGA BENJAMIIIIIIIN!!!!! jadi selama ini elu rumah tangga ngapain aja? Main kucing - kucingan?"


"Entah.. gue juga bingung.. takut."


"Takut? Gak salah kuping gue? Seorang Benjamin takut?"


"Gue takut Nai malah benci sama gue."


"Karena?"


"Karena ngelakuin hal itu. Gue mau kita ngelakuinnya karena sama - sama punya rasa sayang, gue dan begitupun Nai."


"Ya Tuhanku!!!!! Elu suami sah nya dimata agama dan negara, gimana bisa dia benci sama elu? Apa jangan - jangan punya elu cuma segede batu baterai tamiya makanya elu takut dia benci sama elu?"


"Sialan!!!!! Mau liat lu?"


"Kagak usah kagak usah...makasih.." Tolak Roni setengah jijik.


"Jadi gue harus nih?"


"Harus!!!!!!" Ucap Roni mantap, " Dan liat gimana reaksinya. Setau gue, perempuan kalau udah berhubungan badan, dia bakal timbul rasa sayang.. lagian selama ini kalian nikah masa gak ada rasa sih."


"Gue yang kejar Nai, elu tau itu."


"Iya sih.. dan wajar juga kalau istri lu belum cinta sama elu, orang elu halalin segala cara buat dapetin dia. Konsekuensinya sih kalau kata gue.." Sejenak Benji terdiam, memutar ulang bagaimana dia habis - habisan mengejar Nai tanpa mempedulikan perasaan Nai yang sesungguhnya.


"Ron.."


"Apalagi?"


"Gimana gue mulainya?"

__ADS_1


"Nah,, itu gimana perempuannya, istri lu bisa diajak kerja sama gak?"


"Boro - boro. Kalau bisa diajak kerjasama, mungkin gue gak usah susah payah akalin biar dia mau sama gue. Diajak kerja bakti sih ok."


"Cari cara lain kalau gitu."


"Gimana caranya?" Benji semakin kesal karena tidak menemukan jawaban.


"Ini gue lagi nyari, Benjamin. Sabar. Belum juga 2 menit gue mikir."


Roni menjentrikan jari, menemukan ide kembali "Aaaah, gue tau. Bikin dia sebahagia mungkin."


"Udah gue usahain!"


"Hasilnya?"


"Dia tidur disofa." Jawab Benji lemah.


"Bantu dia ketika dia kesusahan!" Coba Roni lagi.


"Udah gue coba."


"Hasilnya?"


"Rayu dia semanis mungkin.."


"Udah gue coba dan hasilnya hanya sebatas ciuman."


"Nah itu udah agak lumayan, coba rayu lagi."


"Itupun udah gue lakuin."


"Hasilnya?"


"Dia malah jalan keluar balkon liatin matahari terbenam." Semakin pusing, Benji mengusap kasar wajahnya sambil mengacak - ngacak rambut.


"Nona Nai kayaknya kurang otak juga, masa dia sesulit itu nerima elu yang jelas nyaris sempurna, perempuan mana yang gak mau sama elu?"


"Itu yang jadi fikiran gue."


"Apa dia ada trauma ?"


Seketika Benjamin melihat isi pesan dari Rio di hpnya

__ADS_1


Sepertinya istrimu memiliki trauma, harus dilakukan pengecekan lebih lanjut, itu hanya dugaan sementara, dan lagi melihat kondisi fisiknya, dia seperti tertekan, dia tersenyum tapi matanya sama sekali tidak fokus, dia langsung menelan obat dariku tanpa bertanya, normalnya orang akan mengajukan beberapa pertanyaan meskipun sudah dijelaskan, pertanda kurang baik. Apalagi katamu dia mengigau setiap malam, aku khawatir mentalnya "sakit". Sebaiknya kamu mendatangi psikolog. secepatnya.


Benjamin menunjukan isi pesan itu pada Roni.


"Benjamin, gue serius buat kali ini, mungkin saran Rio ada benernya, tapi buat gue lebih penting elu jadi orang yang dipercaya nona Nai, bikin dia nyaman, sentuh sisi tergelap hidupnya, biar.."


"Biar gue bisa kuasain dia?"


"Bukan, biar elu jadi pegangannya dia."


"Gue bukan dokter, gue gak tau soal kesehatan mental. Tapi gue orang sosiologi, gue paham gimana orang - orang melakukan sesuatu secara terpaksa karena tekanan dan keadaan disekitarnya yang gak memberikan sarana untuk orang tersebut melakukan hal yang dia inginkan. Pada akhirnya, banyak kekecewaan yang menumpuk di dalem dirinya. Kekecewaan dan rasa sakit yang menumpuk itu mempengaruhi alam bawah sadarnya, dia jadi suka ngigau waktu tidur. Apa nona Nai suka ngomong sama termos? Apa dia jahat? Apa setiap hari dia tunjukin gelagat orang kurang waras? Enggak kan?"


"Gue gak tau perkara ngobrol sama termos, dimata gue dia perempuan yang sangat baik meski kadang dia kayak setan, galak, suka ribut, temen sodara gue ditodong pake pisau." Jawab Benji sambil tersenyum mengingat saat Nai menodongkan pisau dan berkata bahwa dia hanya milik Nai.


"Nona Nai bukan sakit mental.." Ucap Roni lagi meyakinkan.


Benjamin kembali terdiam, mengingat wajah Nai yang sangat ketakutan.


Tuan aku tidak gila..


"Dia berusaha kasih tau ke elu apa yang dia alamin,, dia berusaha kasih tau elu apa yang dia takutin. Percaya ke gue, dia bakal baik - baik aja ketika elu jadi orang yang dia percaya." Roni mulai serius, duduknya kini tepat disamping Benji. "Seenggaknya, dia gakan ngerasa sendiri. Apa Nona Nai punya beban berat sebelum nikah sama elu?" Tanyanya lagi.


"Hidup dia berat dari dulu, keluarganya, dan mungkin karena hatinya belum sembuh. Gue setengah ngerebut dia dari Dharma, orang yang tempo hari elu cari infonya. Itu mantan pacar Nai. Gue benci denger namanya atau apapun tentang dia, tapi perasaan gue, laki - laki brengsek itu pernah ada disaat Nai bener - bener butuh pertolongan, makanya sampe sekarang hati Nai tertutup. Nai percaya banget sama itu orang, dan ketika si brengsek itu nyakitin Nai, Nai belum bisa terima sampai sekarang."


"Angkat beban dipundaknya, Ben, apapun itu. Bantu dia. Kalau dia udah nyaman sama elu, gue yakin mata dan hati dia bakal kebuka. Dia bakal membaik dan perlahan bakal cinta sama elu."


"Gue bingung mulai dari mana."


"Apa kesukaan dia?"


"Uang. Gue udah kasih uang, mobil, semuanya, elu tau beberapa saham sekarang atas nama dia."


"Gue gak yakin nona Nai seneng sama hadiah mewah,, Gue liat si..."


"Seblak." Ucap Benji mantap.


"Itu dia!!!!!! Coba elu jadi temen satu frekuensinya dia, ikutin kesukaan dia, jangan bikin sekat,, jangan bentak dia, jangan jutekin dia, perhatiin hal sekecil mungkin yang dia sukain, lu harus sehangat mungkin pokonya ke dia!" Roni melihat wajah sahabatnya yang terlihat antara yakin dan tidak yakin.


"Repot memang, tapi kadang, bikin nyaman seseorang itu kayak kita ngadepin anak kecil. Kita harus rela jadi konyol buat liat senyumnya dan buat dapetin rasa nyamannya dia." Tambahnya.


"Tumben elu bijak." Benji mendapat angin segar, Ia membereskan tas kemudian bersiap untuk pulang sebelum waktunya.


"Gue bijak, elu yang rese." Roni menarik nafas, dia tau sahabatnya akan langsung melakukan hal apapun terkait wanita yang dicintainya. Termasuk pulang sebelum waktunya.

__ADS_1


"Besok gajian elu 3x lipat. Beresin kerjaan sana." Pungkas Benji ringan.


__ADS_2