
Sudah 2 hari Benjamin ditinggal pergi oleh wanita yang dikejarnya setengah mati. Emosi yang naik turun membuat kewalahan semua pekerja dirumah itu, tak terkecuali keluarganya sendiri. benjamin kerap kali ngamuk, melemparkan makanan yang diantar oleh para pelayan, menendang lemari kaca, mengacak - acak kamar hingga tak berbentuk. Bhramsy dan Bianca pusing di buatnya, apalagi Roni yang mau tak mau mengurus segala kebutuhan perusahaan padahal dia tidak tau apa - apa. Namun pagi ini berbeda, Benjamin merapikan diri berniat menemui pamannya. Dia tau hanya pamannya yang bisa menenangkan dan mungkin pamannya memiliki jalan. Tanpa menghiraukam pertanyaan dari semua orang didalam rumah, benjamin pergi.
Bagaimana kabar Tessa? meskipun berusaha, dia menjadi ragu, terlebih setelah diseret malam itu dan dilempar mangkok kemarin sore.
"Bagaimana ini, kakak seperti orang gila." Bhramsy berbincang dengan Bianca di halaman belakang.
"Dia kehilangan cintanya, wajar saja." Jawab Bianca dengan senyuman sinis.
"Bukan wajar, dia mengamuk, tidak mau makan seharian, bagaimana jika sakit?" Bhramsy menarik nafas panjang"Nai kenapa kamu pergi secepat itu?" Ucapnya lirih.
"Sahabatku akan berhasil." Bianca menatap jauh. Tatapannya tertuju pada salah satu bunga yang sangat disukai Nai. Dia menatap sangat dalam, dengan senyuman di bibirnya. Bhramsy hanya menatap Bianca dengan penuh pertanyaan.
Aku tau Tuhan selalu melindungimu, segeralah pulang Nai, segera beri pelajaran pada orang jahat dirumah ini. Aku tau kamu pasti terluka parah, tapi kamu belum mati, kamu selalu melawan takdir, aku tau itu, cepat sembuh dan cepat pulang Nai.
Dilain tempat, Pak Wijaya sama depresinya, dia hanya menangis seharian dikamar, namun setidaknya dia tak ikut ikutan mengamuk.
************
"Aku harus kembali kerumah itu om." Ucap Nai sambil bersiap. Sudah 2 hari dia dirawat oleh om Kris dan temannya.
"Kamu belum sembuh!!!!"
"Ini sudah mendingan, aku kuat, om Kris yang mengatakannya sendiri bukan?"
Krisna menggelengkan kepala "Batu sekali. Jika ada apa - apa kamu bisa telepon om. Biar om antar." Nai mengangguk, dia berpamitan pada pemilik rumah lalu masuk ke dalam mobil.
Sekitar 40 menit diperjalanan, kini Nai sudah sampai di depan gerbang besar, rumah istanya itu. "Om, terimakasih." Ucapnya sembari memeluk erat.
"Hati- hati, Tuhan melindungimu." Nai tersenyum. Dia keluar dari mobil kemudian menghampiri gerbang kecil di pojok, tempat keluar masuk satpam.
Kemana para penjaga yang kemarin? kenapa gerbang tidak dikunci? Tanyanya dalam hati. Nai masuk dan melihat mang Ujang sedang tertidur pulas.
"Mang ujaaaaang.. hey... Bangun..." Nai berusaha mengguncang - guncang tubuh mang Ujang, namun mang Ujang tetap pulas. Tak habis akal, dia mengeluarkan sisa uang didompetnya.
Susah sekali bangun. Nah pakai ini bisa. Didekatkannya uang yang dipegang ke hidung mang Ujang dan seketika mang Ujang tersadar dari tidurnya.
"Aduh wangi fulus nih." Katanya tanpa dosa. Saat membuka mata, dia langsung lompat, kaget melihat majikannya ada didepan muka lengkap dengan perban dan beberapa luka. "Astaga non Nai, non selamat? Alhamdulillah ya Allah.. mang ujang barusan lihat berita katanya mobil non terbakar. Mari non mang Ujang antar ke dalam."
"Selamat mang, mang ujang fikir aku sudah jadi setan, siang bolong begini setan mana yang keluyuran?" Nai hanya tertawa tanpa menggubris tawaran mang Ujang. "Mang, mang ujang mau uang?" Nai malah kembali bertanya.
"Mau non kalau non kasih." Mang Ujang tersenyum cengengesan. Dia tau wanita dihadapannya ini adalah wanita yang suka membagi-bagikan uang.
Nai memberikan uang ditangannya. "Ini.. 10 lembar."
"Alhamdulillah non,, terimakasih." Seringai mang Ujang tak bisa disembunyikan.
"Eh sebentar, ada pamrihnya itu." Ucap Nai sambil melotot.
"Apa non?"
"Tolong bawa tangga, pasangkan ke balkon kamar tuan Benji."
"Non mau manjat?" Mang Ujang terlihat heran.
"Mau masak . Manjat !!!!!ayo cepet.
Awas jangan terlihat oleh yang lainnya."
"Baik non." Mang Ujang segera melangkah namun ditarik lagi oleh Nai. "Eh jangan bilang aku ada disini."
"Siap non."
Segera mang Ujang mencari tangga yang cukup tinggi disamping posnya. Setelah ditemukan, dengan susah payah mang Ujang membawanya untuk diletakan di balkon kamar majikannya.
"Mang ujang sedang apa bawa - bawa tangga?" Naas, saat berjalan membawa tangga, Erlyn tiba - tiba keluar rumah.
__ADS_1
"Eh ini non barusan tuan benji suruh saya periksa pagar balkonnya, kemarin katanya ada yang berkarat."
"Oh." Erlyn kemudian duduk dikursi depan.
Setelah berhasil memasangkan, mang Ujang kembali berjalan ke pos nya."Non, sudah. Tapi masih ada nyonya Erlyn didepan." Dilihatnya Nai sedang bersembunyi dibawah meja, dan menghisap sebatang rokok.
"Pantau terus mang, kalau aman kabari."
"Siap non."
Sudah 20 menit mang Ujang diam didepan posnya, bulak balik sambil melihat keadaan. Tak lama Erlyn kembali masuk kedalam."Sudah aman non, ayo." Kata mang Ujang.
Bersama mang Ujang, Nai berjalan setengah berlari, mengendap - ngendap takut keberadaannya diketahui. Untungnya, tak ada seorangpun yang keluar, kini dia sudah berada tepat didepan tangga."Mang, mang ujang pegang tangga tolong ya. Pegang erat erat." Perintahnya.
"Non mau mang ujang bantu untuk naik? Tangan non terluka." Tawar mang Ujang. Terlihat mang Ujang pun khawatir karena Nai seperti menahan sakit.
"Tidak apa - apa mang, aku jagoan mama. Ini hanya luka dan sudah diobati. Jadi tugas mang ujang hanya pengangi tangga dan berdoa. Oke? Jangan meleng, jangan sampai tangan ini luka dua kali dalam satu minggu."
"Siap non."
"Oh iya, Kunci mulut, jangan bilang ini pernah terjadi."
"Siap non, eh jangan bilang pada siapa?"
"Pada orang rumah." Mang Ujang mengangguk. Kini Nai berusaha menaiki tangga, kakinya masih terasa ngilu namun mau tidak mau dia harus sampai di kamar.
Setengah perjalanan Nai berhasil, tinggal beberapa anak tangga lagi dilewati dia bisa lompat. Namun hal yang tidak diduga terjadi.
"NAI???????" Nai terkejut, begitupun mang Ujang, hampir saja Nai jatuh. Nai segera melihat kebawah, mencari asal suara itu.
"Sssssttttttttttt.." Nai menyimpan jari telunjuknya dibibir. Dia segera mengambil ponsel didalam tasnya lalu menelepon.
"Hey adik ipar, jangan keras keras bicaranya. Nanti orang rumah dengar." Bhramsy melotot, tidak percaya melihat apa yang terjadi didepannya sambil tetap menempelkan ponsel dikupingnya. Sedangkan Bianca tersenyum puas. Lirih dia berkata " Aku tau kamu berhasil selamat Nai.
"Nanti aku cerita, kamar ini dikunci kakakmu, kalau mas Bhramsy masuk nanti orang akan curiga. Suruh kakakmu pulang dan ikutlah masuk bersamanya nanti. Jangan lupa pura - pura menangis ya." Kata Nai sambil terus menaiki tangga. Sudah sampai, sekuat tenaga Nai melewati pagar balkon yang cukup tinggi. Dia berhasil. Dilihatnya kebawah, masih dengan Bhramsy yang melotot tak percaya, mang Ujang yang sibuk membereskan tangga serta Bianca yang tersenyum bahagia. Nai melambaikan tangan, kemudian dia masuk ke kamar.
"Kenapa kamar ini seperti kapal Titanic yang sudah menabrak gunung es? berantakan sekali. Pantas Tuan menikahiku, baru ditinggal 2 hari saja kamar seperti ini kondisinya tanpaku."
Mau tak mau Nai membereskan apa yang ada didepan mata walau dengan tangan dan kaki yang masih sakit. Cukup memakan waktu, hampir 2 jam. Dengan tenaga yang hampir tak bersisa, akhirnya kamar itu beres juga. Nai lalu berjalan ke meja kerja,mengecek cctv rumah itu menggunakan laptop Benji.
Sialan.. mereka malah tertawa."
Akhirnya Nai putuskan untuk membersihkan diri dikamar mandi. Saat Nai masuk kamar mandi dan menguncinya, terdengar pintu kamar terbuka. " akhirnya pemilik kuasa pulang juga." Gumamnya.
"Aku kunci pintu ini, siapa yang masuk dan membereskannya??????" Benjamin melihat kamarnya rapi, se rapi saat Nai masih ada disitu. " AC menyala dingin sekali. Kenapa bisa?"
"Tidak tau." Kompak Bianca dan Bhramsy menggelengkan kepala. Mereka malah membuka kulkas, mengambil minuman, lalu duduk santai di sofa.
Benjamin melihat sekitar, dilihatnya pintu balkon yang terbuka. Panik, karena berkas perusahaan penting sebagian ia simpan dikamarnya, dia takut ada maling, sedangkan para pengawal sudah dipecatnya semua karena dianggap tidak mampu menjaga istrinya. Dia berkeliling kamar sambil mengawasi setiap sudutnya. Tindakannya berhenti ketika dia berusaha membuka pintu kamar mandi yang terkunci.
"Kenapa terkunci?"
Tokkkk tooooookkkkk
"SIAPA DIDALAM? BUKA PINTUNYA!!!!!!!" Benji berteriak dan mengetuk tak henti sambil berusaha mendobrak pintu yang cukup kuat.
Kemudian pintu itu terbuka. Terlihat dihadapannya wanita yang membuat dirinya gila, dengan rambut masih basah. "Jangan membuat kegaduhan." Nai tersenyum manis, entah darimana keberanian ia dapatkan, dia tiba - tiba mencium lembut pipi suaminya itu.
"Nai? Nai ini dirimu ?" Benjamin tak percaya, wanita yang ia cari berhari - hari keluar dari kamar mandi, dengan beberapa perban basah, mengalir sedikit darah segar dilukanya. Benjamin masih terpaku, entah harus menangis atau tersenyum, sedangkan Nai duduk diantara Bianca dan Bhramsy.
"Nai kubilang hati- hati menyetir." Ucap Bhramsy sambil mencoba mengganti perban ditangan Nai bersama Bianca.
"Keluarga kalian gila." Kata Nai kesal.
"Apa?" Bhramsy bingung.
__ADS_1
"Pamanmu. Lebih tepatnya. Entah mobil impianku dia apakan. Brengsek."
"Kau tau darimana?"
"Perasaanku." Jawab Nai enteng.
Benji mengambil kotak obat, dia berjalan cepat mengikuti Nai. Hatinya terasa sakit melihat Nai penuh luka."Bagaimana kau bisa naik keatas ? Kau terluka parah." Ucapnya lagi.
"Ini tidak parah." Nai hanya tersenyum, dipandanginya wajah Benji dengan mata bengkak,"sepertinya dia kurang tidur."
"Sudah ku bilang Nai akan berhasil. Dia itu seperti kucing, punya nyawa 9." Celetuk Bianca.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini?"
"Balkonmu tidak dikunci. Aku naik dari benteng samping menggunakan tangga dari mang ujang. Dia yang membantuku."
"Kenapa tidak lewat depan?"
"Lihatlah cctv dirumahmu. Mereka tertawa saat melihat berita mobil terbakar. Jahat sekali. Lalu jika aku masuk lewat depan, nanti malam keluargamu akan memikirkan bagaimana caranya mencelakaiku lagi. Biarlah otak mereka istirahat sejenak."
Benji memeluk Nai kemudian bangun dan mengambil koper lalu membereskan bajunya.
"Kemasi bajumu. Kita pindah." Perintahnya.
"Tidak." Tolak Nai.
"Kenapa?"
"Papi tidak akan ikut pindah, kita harus menjaga papi."
"Kau tidak aman Nai!!!!!"
"Aku aman. Tuhan melindungiku."
"Nai, kau terluka. Aku tidak suka melihatmu kesakitan seperti ini."
"Tidak apa - apa tuan." Benjamin menyimpan tasnya, dia berjalan menghampiri pintu.
"Mau kemana tuan?"
"Memberi pelajaran pada mereka!"
"Eh jangan."
"Kenapa???"
"Diam disini dan temani aku. Aku mohon." Nai mengeluarkan jurus memelas, matanya yang indah menatap Benji seolah berkata jangan pergi. Tak kuasa menolak, Benji kalah telak. Diurungkan niatnya itu.
"Tidurlah. Istirahat. Aku akan menjagamu." Benji tersenyum sambil mengangguk.
"Aku rasa papi juga syok, Bianca, mas Bhrams, boleh minta tolong???? bisakah kalian memberitau papi kalau aku selamat? dan beritau juga bi Nuni. tapi selain itu, jangan beritau siapapun termasuk Laras. Aku mau istirahat sebentar dengan suamiku, sepertinya aku merindukannya. Ingat, ini misi rahasia, jangan sampai bocor." Ucap Nai dengan seringai menggoda. Bianca dan Bhramsy yang mengetahuinya langsung berdiri. " Silahkan melepas rindu, kami pergi dulu. " Katanya dengan tawa. Lalu pergi dibalik pintu.
"Hidupku hampir gila."
"Tuan, kau merindukanku?"
"Tanya hatimu." Benjamin membopong Nai keatas tempat tidur.
"Kutemani kau, jika kau mau, aku dengan senang hati menjagamu disini hingga kau membuka mata kembali."
"Boleh tuan?"
"Tentu." Di kecup kening istrinya itu sangat lama. Tuhan, terimakasih telah mengembalikan Nayanikaku.
Nai merebahkan tubuhnya dengan susah payah. Dia terus menerus meringis karena menahan sakit dan banyak luka entah beberapa lama hingga terlelap.
__ADS_1