
Selesai makan siang bersama, Benjamin mengajak Nai jalan - jalan. Tentu, dengan Roni sebagai tumbalnya, Dia menitipkan segala pekerjaan hanya demi jalan - jalan dengan Nai.
"Tuan aku mau dibawa kemana?" Nai terlihat tidak nyaman dengan mata yang tertutup sepanjang perjalanan.
Wah bagaimana kalau aku dibuang di kali. Atau dibunuh dalam mobil ini?
"Tunggu sebentar lagi." Benji tersenyum sambil terus menyetir. Cukup lama perjalanan hingga mobil itu berhenti. Dengan segera Benji membuka pintu dan menuntun Nai keluar mobil.
"Ayo jalan."
"Sebentar tuan mataku tertutup."
Akhirnya mereka sampai di tempat yang mengeluarkan barang bermerk terkenal itu, Benji membuka ikatan di mata Nai.
"Pilihlah, semua milikmu." Katanya lagi. Nai hanya tersenyum bahagia saat Benji membuka pintu toko tersebut.
"Tuan aku ingin membeli sesuatu yang cukup mahal untuk Laras, boleh?"
"Boleh. ambilah semua yang kau mau."
Puas berbelanja berjam - jam, mereka kembali pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, Nai meminta Benji ke kamar duluan karena ia akan memarkirkan mobil lebih dulu. Ya, Benji membiarkan Nai menyetir karena Benji tau mengendarai mobil gunung ini adalah salah satu mimpi istrinya.
Saat masuk ke tempat parkir, Nai melihat Anton membawa kotak, sepertinya berisi perkakas, "Om Anton, lagi apa disini?" Sapa Nai. Anton yang kaget melihat Nai keluar dari mobil menjawab, "Eh i ini, membetulkan mobil tadi mesinnya mogok." Jawabnya gelagapan.
"Hmmmm Baiklah. Aku permisi." Tak mau ambil pusing, setelah parkir Nai berjalan masuk rumah. Setengah berlari dia menuju kamar karena baginya hanya kamar tempat paling aman. Tapi bukan istirahat, sampai di kamar, Nai langsung menuju meja kerja Benji, membuka laptop dan membuka CCTV dirumahnya.
"Kenapa tidak bisa?" Gumamnya.
"Ada apa Nai?" Benji yang melihat hal itu mendekati Nai.
"Kenapa aku tidak bisa melihat rekaman CCTV tadi siang? ini hanya sampai jam 11, setelah aku pergi blank semua." Nai menekankan suaranya, seperti orang yang gagal mendapatkan undian.
"Mungkin listri mati. Memang kau mau melihat apa? Jangan emosi."
Semakin bingung dan kesal, Nai meninggikan suaranya, "Mati? rumah sebesar ini tidak pakai diesel ?"
"Meskipun istana, untuk listrik aku mengambil jalur umum Nai." Benji masih tenang mendengar suara Nai yang seperti petir.
"Oh begitu, ada rendah hatinya juga dirimu tuan."
ada apa ini? aku tidak enak hati.
Nai berjalan, mengambil air mineral dingin berukuran 1,5 liter lalu menenggaknya sambil berdiri. Dia terlihat gusar. Kekesalannya tak bisa dia sembunyikan.
Bahkan ketika bingung pun kau terlihat seperti preman yang manis. Jika semua preman manis sepertimu, aku akan ikhlas dipalak.
Nai menghampiri Benjamin yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya diatas sofa. "Tuan, apa tuan memang tidak dekat dengan semua paman tuan?" Kata Nai sembari ikut duduk disamping Benji.
"Tidak. Kenapa."
"Hanya bertanya." Jawab Nai asal.
"Mereka kerjanya apa ?"
"Mereka memiliki perusahaan kecil."
"Dulu mereka sekolah bisnis semua ?" Nai semakin penasaran.
"Tidak, William dulu kuliahnya jurusan managemen bisnis." Jelas Benji.
"Waaaah hebat. Kalau paman Anton dan Andra?"
"Anton anak teknik mesin, sedangkan Andra, dia paling kacau dulu, dia anak elektro, sekarang dititip perusahaan oleh papi, tukang listrik disuruh pegang perusahaan, mana mungkin bisa."
Itu dia jawabannya. Aku bersumpah jika sampai ada apa - apa, aku tidak akan menyalahkan setan atau keadaan lagi. Akan ku tunjuk hidungnya.
"Oh begitu." Sejenak Nai melamun seperti berfikir, tapi tak juga dia temukan jawaban dari apa yang difikirkannya. Nai beranjak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Sebaiknya aku tidur dulu, siapa tau dapat wangsit.
**********
Lagi - lagi Nai terbangun dan hari sudah tak bisa dikatakan sore. Dilihat jam tangannya "Waduh, jam 9." Nai segera beranjak, saat disadari, tangan Benji memeluknya, dia sangat nyenyak tertidur.
Kurang ajar, setelah membawaku belanja dan aku tidur kelelahan, dia mengambil kesempatan untuk tidur disampingku. Lama - lama begini aku bisa suka padanya. Tuan, bahkan tuan bisa disebut sleeping handsome kalau begini. Ya Tuhan, produk lokal juga tak kalah tampan.
"Mau kemana?" Suara Benji mengagetkan Nai yang sedang sibuk memandang.
"Ke kamar mandi, jam 9 malam sekarang. Kita tidur seperti mayit. Bahkan aku tidak ingat bumi alam ini." Ucap Nai.
Toooookkkktooooookkkk
Terdengar pintu kamar diketuk, Nai memindahkan tangan Benji kemudian berjalan kearah pintu dan mengintip lagi, " Laras?" Segera Nai memutar otak menjalankan recananya. Dia menarik tangan Benji, memaksanya untuk bangun.
"Bangunlah, bantu aku" kata Nai, seperti panik. Benji bangun dan berdiri "Diam dan masuklah ke kamar mandi." Ucap Nai buru - buru mendorong tubuh gagah itu.
"Ada apa Nai"
"Sudah turuti saja."
"Baiklah." Benji meraih handphone dengan headsetnya lalu mengikuti titah Nai. Nai segera membuka bungkusan baju yang baru dia beli tadi, lalu membukakan pintu.
"Hai laras, masuklah."
"Nona aku membawakan cemilan. Tuan besar yang menyuruhnya, katanya nona dan tuan tidak keluar kamar dari tadi."
"Ah kamu sangat tau sekali kesukaanku."
"Oh ya laras, aku tadi mau memanggilmu tapi aku lupa karena baru bangun."
"Apa tuan pergi? "
"Ya dia sedang ke depan. Mungkin kamu tidak melihatnya. Tunggulah dulu."
"Bagus sekali nona, kalau tidak salah nona Arsila kemarin menunjukan padaku baju seperti ini di majalah." Jawab Laras polos.
"Ah kurasa dia belum mampu membelinya, ini sangat mahal sekali. Suamiku yang membelikannya." Nai sangat sombong.
"Baju itu pasti sangat cocok dipakai oleh nona."
"Jelas. Tapi aku tidak menyukainya. Sepertinya suamiku belum memahami seleraku. Bawalah, ini untukmu." Nai lalu memberikannya pada Laras.
"Benarkah nona?" kini wajah laras terlihat senang.
"Ya ,pakailah berkencan malam minggu dengan kekasihmu itu."
"Nona baik sekali."
"Jelas.. aku akan baik padamu jika kamu juga baik padaku. Kamu akan terlihat cantik dengan baju ini."
"Apa nona Arsila tidak akan merasa tersaingi?" Sejenak laras seperti mengkhawatirkan majikan barunya.
"Ah biarkan saja."
"Tapi nona Arsila selalu ingin tau tentang anda nona."
"Benarkah?"
"Iya, dia selalu bertanya padaku, apakah nona baik baik saja? Apakah nona sedang bertengkar."
"Lalu apalagi?" korek Nai.
"Tidak ada nona, dia jarang berbincang lagi padaku, hanya tadi pagi saat aku ke kamarnya, dia sedang menelepon temannya."
"Oh begitu ya. Apa yang kamu dengar."
__ADS_1
"Sepertinya nona harus hati - hati sebab nona Arsila akan membawa temannya sesama model untuk menginap disini. Nona Ramona dan nona Arsila sepertinya ingin tuan Benji tergoda pada temannya. Tapi nona janji jangan beritau padanya ya. Ini rahasia." Ucap Laras, dia lalu sengaja memegang tangannya dan mengusap usapnya pelan sambil cengengesan memberi kode.
"Ahaha.. yayaya aku paham. Tolong ambilkan dompetku." Tunjuk Nai pada meja kerja Benji yang diatasnya ada tas kecil berwarna hitam. Laras dengan bersemangat segera mengambil tas itu.
"Ini nona."
Nai mengambil beberapa lembar uang ratusan didompetnya. Sengaja dia menghitung didepan mata Laras. "Satu dua tiga empat.......duapuluh.
Ini untukmu."
"Waaah banyak sekali, terimakasih nona, anda sangat cantik dan sangat baik."
"Kamu juga baik padaku. Jika kamu terus baik dan patuh padaku, kurasa kamu bisa memperbaiki penampilanmu, kamu akan lebih cantik dan lebih kaya dari Ramona ataupun Arsila..kamu tidak akan menyesal, itupun jika kamu terus ada di pihakku."
"Itu sudah pasti nona."
"Jangan khawatir soal uang, suamiku sangat mencintaiku, secara sekejap, aku mampu mendapatkan uang sebanyak - banyaknya. Hahahahahahaha teruslah bekerja untukku dan beritau aku jika ada sesuatu yang tidak beres dirumah ini. Ah iya, 1 lagi, kamu harus tutup mulut kepada siapapun yang bertanya tentangku dan suamiku, kamu hanya perlu menggelengkan kepala. Mengerti?"
"Baik nona. Perintah nona akan saya laksanakan."
"Ya sudah, kamu boleh keluar Laras."
"Baik nona, terimakasih banyak."
"Sama - sama." Segera Nai menutup pintu kamar kemudian membuka pintu kamar mandi. Terlihat Benji yang sedang memandangi layar ponselnya. "Ayo ayo keluar. Maaf lama" Ucap Nai menarik tangan Benji, mereka keluar kamar mandi dan duduk di sofa.
"Kau memiliki bakat yang luar biasa." Benjamin tersenyum, tatapannya tajam.
"Ah tuan menguping?"
"Kau lupa ada cctv disini Nai?"
"Ah iya. Hihihi maafkan aku tuan."
"Jadi selain karena kau memang pintar membaca situasi, kau pun pintar mengorek berita dengan cara apapun."
"Tuan yang berkata padaku jika ada uang, kita pegang kendali."
"Ya, tapi itu tidak berlaku saat aku mengenalmu."
"Coba pada saat itu tuan mengejar Laras, pasti dapat."
"Kau ini." Benji menarik tangan Nai, membawanya ke balkon.
"Nai.." Ucapnya mesra sambil melingkarkan tangannya dipinggang Nai, sontak Nai berbalik, kali ini rangkulannya kencang, Benji mendekap Nai.
"Ya tuan ?"
Melawan dan melakukan pergerakan pun percuma, dia PTS. Pemuda tenaga samson. Pasrah sajalah daripada dapat masalah.
"Kau takut aku tergoda?"
"Oleh siapa?"
"Siapapun."
"Tidak juga, aku kan dinikahi untuk membantu tuan memilih wanita mana yang cocok dihati lalu dijadikan istri sungguhan. Jika dalam kurun waktu kurang dari setahun sudah ditentukan, aku tinggal angkat kaki."
"Malam ini kau sudah mencintaiku? Jika belum biar kutanya besok pagi." Benji mendekatkan wajahnya, sangat dekat, lalu dia mencium bibir Nai, lagi - lagi, hanya beberapa detik. Dia tersenyum lalu melepaskan rangkulannya, membiarkan jantung Nayanika berdegup tak karuan.
"Ceritakan padaku." Katanya, membuyarkan debaran jantung Nai.
"Tentang apa?" Nai segera membalikan badan, takut dicium lagi.
"Tentangmu."
"Semuanya?"
__ADS_1
"Tentu, bagaimana Nayanika kecilku dulu?"