Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Sedikit melupakan kesakitan.


__ADS_3

Hari ini tepatnya hari bahagia untuk Dharma. Nai mempersiapkan mental dan diri untuk mendatangi pestanya, menepati janji, sebagai penyanyi. Nai berkumpul dengan para pemain musik yang dia kenal jauh hari, saat nai masih merintis karir.


Fokusnya terbagi, ketika sang pengantin pria dan wanita berdiri, tersenyum diatas altar menyalami semua tamu. Acara ijab qobul telah selesai dan mereka telah sah menjadi suami istri. Tak ada sedikitpun rona kesedihan yang dia lihat di wajah mantan kekasihnya itu, sebaliknya, berseri - seri.


mungkin pernikahan ini adalah hal yang dia mau. Tidak bersanding denganku.


Sepanjang acara Nai bernyanyi riang, tidak menampakkan kesedihannya sama sekali. Profesional menjalankan karir, meskipun yang tersungging dari bibirnya adalah getir.


Sepasang mata mengamati, menuliskan permintaan lagu ditengah hingar-bingarnya pesta pernikahan yang meriah. Tak beberapa lama, ada seseorang yang menyerahkan secarik kertas pada Nai. Nai tersenyum kemudian menyanyikan lagu itu. Lagu permintaan lelaki yang mengejar Nai.


Tall and tan and young and handsome


The boy from Ipanema goes walking


And when he passes


Each girl he passes goes - ah


When he walks


He's like a samba


That swings so cool and sways so gentle


That when he passes each girl


He passes goes - ah


Ooh, but I watch him so sadly


How can I tell him I love him


Yes I would give my heart gladly


But each day


When he walks to the sea


He looks straight ahead, not at me


Tall, and tan, and young and handsome


The boy from Ipanema goes walking


And when he passes goes - ah


I smile - but he doesn't see (doesn't see)


He just doesn't see, he never sees me


Lagu yang membuat Nai melanglang buana di dunia tarik suara. Sedikit tersenyum mengenang hal itu, Nai membawakannya dengan anggun, tepukan tangan dari para tamu seolah menunjukan bahwa bakat Nai bukan hal sepele. Ditengah kesedihannya, dia mampu membawakan lagu dengan indah.


Lagi demi lagu berhasil ia lalui, dia selalu melirik pengantin pria berharap mendapat iba. Kali ini Tuhan mengabulkan keinginan Nai, Dharma melirik ke arah Nai, ditengah ramainya acara, bibirnya bergerak tanpa suara, mengisyaratkan " maaf". Benteng pertahanan yang sedari tadi Nai bangun roboh seketika. Dia kuat, dia mengetahui Dharma berselingkuh sejak mereka bersama, tahun ke dua. Nai selalu menguatkan dirinya, bahkan semalaman Nai berbicara sendiri seolah mengobati hati, namun hal lain terjadi, segala persiapan untuk tetap tegar, akhirnya hancur berkelakar.


Jam berlalu, pesta sudah tiba dipenghujung waktu, kini Nai menutup acara pernikahan itu dengan sebuah lagu sendu.


Cukup lama cinta kita bina cukup lama


Cukup sudah perjuangan kita cukup sudah


Untuk membina mahligai indah


Rumah tangga yg bahagia


Tapi kini apa yg terjadi, Kau bersanding dengan orang lain


Tak ku sangka engkau tak setia, tak kusangka.


Tak ku duga begini akhirnya, tak ku duga


Kau ciptakan pesta meriah, di sela tangis ku


Kau dirikan bangunan cinta, di atas lukaku

__ADS_1


Kau campakkan diri ku ini ke lembah derita...


Kau lenyapkan harapan hidupku, kau lenyapkan


Kau hancurkan seluruh hidup ku, kau hancurkan


Ku harapkan doa mu untukku, agar hatiku tabah selalu


Menjalani derita ku ini, sampai akhir hayat ku nanti


Ku terima kepahitan ini, ku terima


Kan ku bawa luka hati ini, kan ku bawa...


Pesta berakhir dengan meriah, ditutup dengan wajah Nai yang memerah. Dia segera berbalik kemudian bergegas untuk pulang. Namun saat dia berjalan keluar, bahunya ditepuk oleh seseorang, Nai menghapus air matanya kemudian menoleh kebelakang.


" Butuh bahu untuk bersandar?" Suara yang selalu mengagetkan Nai, tempo dulu.


Nai kembali melihat sosok tampan dihadapannya itu. Nai ketakutan.


Belum selesai tangisku mengiringi rumah tangga Dharma, sekarang aku akan diadili secara pribadi oleh orang yang rencana pernikahannya ku tinggal lari.


Namun tak bisa melawan keadaan, Nai hanya tersenyum sembari mengusap air matanya.


"Biar ku antar kau pulang kerumah, jika perlu, hingga depan orang tuamu, sekaligus aku meminta maaf." Ucap Benji sembari mengulurkan tangan.


Ini kan maumu? kau membenciku karena aku menghina mereka. Bersyukur Bianca memberitauku. Terimakasih adik ipar, mobilmu yang kau gadai dahulu untuk menebus Nai akan ku ganti. satu kodi.


Nai tak melakukan perlawanan saat Benji mengambil tasnya dan menarik tangannya menuju parkiran. Wanita keras kini berubah selembut kapas.


Benji membukakan pintu mobil, setelah memastikan Nai duduk dengan benar, dia menutup pintunya. Agar Nai tidak kabur lagi.


Sekuat apa aku mengejarmu, kau akan tetap sulit diburu, jika aku mengejarmu dengan cara anarkis, kau akan selalu menepis, jadi taktikku kali ini adalah berubah menjadi pria baik dan manis. Sip.


" Aku paham, kau merasa sakit karena seluruh cinta dan pengorbananmu tidak dihargai walau sedikit?" Benji berbicara sambil memasangkan seat belt pada Nai, tangannya kini menggenggam jari Nai.


"Menangislah jika kau ingin menangis Nai, setelah itu kembalilah tersenyum, meskipun kau bukan milikku, aku tidak ikhlas melihat matamu mengeluarkan air mata." Ucapnya sambil mengelus lembut pipi Nai yang memerah menahan tangisnya pecah.


" Kau sehat Nai ? bagaimana lukamu? siapa yang merawatmu setelah kau meninggalkanku? apa kau sudah makan?" Tanya Benji sambil mulai memacu mobilnya.


" Yang mana dulu yang harus ku jawab tuan tampan?" Nai berbicara namun matanya terus memandang kedepan, tak melirik Benji, hanya senyuman yang dia berikan. Senyum sisa kepedihan.


" Luka fisikmu. saat kau tertusuk waktu itu."


"Sudah membaik." Jawab Nai singkat.


"Syukurlah, Nai, bolehkah aku meminta waktumu, 60 menit? aku lapar dan kupastikan kau juga. Sudah lama aku tidak makan sambil melihatmu." Rayu Benji.


Nai mengangguk lagi. Tak ada penolakan sedikitpun.


Dibalik sakit hati, Nai menyadari mobil yang membawanya kini adalah mobil yang diimpikannya seumur. Seketika ada sedikit senyum dari bibirnya, sekilas Benji menatap Nai yang tersenyum sambil memegang pintu mobil itu.


Benji dengan gagah menyetir mobil tua, Land Cruiser.


" Suaramu bagus Nai." Benji mencoba mencairkan suasana.


Sebagus saat aku mendengarmu menyanyi pertama kali. Saat aku mulai ingin memilikimu.


"Kau mau menyetir Nai?" Tanyanya.


"Tidak tuan."


"2 hari kau bekerja dirumahku, kau sempat memegang mobil ini di garasi kan?" Dijawab dengan anggukan Nai.


" Jika kau mau, mobil ini boleh untukmu, tapi, hapus dulu air matanya." Benji mengusap kepala Nai.


"Terimakasih tuan, tapi tidak usah, saya hanya pembantu, masa pembantu dikasih mobil? Jika pembantu baru saja mendapatkan mobil semahal ini, bagaimana dengan bi Nuni tuan? sepertinya tuan harus membelikannya bus." Cletuk Nai.


" Yayayaya aku lupa kau pembantu. Nai, kau kan pembantu, bagaimana jika kau membantuku? berapa yang harus ku bayar per harinya ?" Tanya Benji serius.


"Membantu apa tuan? Jika bisa, aku pasti akan membantumu, tidak usah membayar. " ucap Nai balik bertanya.


"Membantuku untuk menjalani sisa hidupku sampai tua, membantuku menjadi orang yang lebih dewasa, membantuku menjadi suami dan ayah yang dibanggakan dikeluarga. Bagaimana?" Benji memberikan senyum manis.

__ADS_1


"Masih soal penawaran itu tuan?hahaha."


" Ngomong - ngomong, kau tidak mau bekerja lagi dirumahku Nai?"


"Nanti saya fikirkan tuan."


Sepertinya tidak tuan, saya masih trauma masuk bui karena keisenganmu. Isengmu merusak mental.


Benji berhenti dipinggir jalan. Ada tenda cukup besar dan menjual berbagai macam makanan.


"Kau mau menungguku? dengan jaminan TIDAK AKAN MELARIKAN DIRI, LAGI? Tanya Benji dengan penuh penekanan.


" iya aku tidak akan kabur." Nai memutarkan bola matanya.


Benji membuka pintu mobil dan berjalan menuju salah satu penjual makanan. Pandangan yang indah melihat lelaki tampan ber jas lengkap. Sontak semua mata wanita yang ada disitu terpaku.


Setengah jam berlalu, Benji kembali dengan membawa 2 mangkuk penuh seblak yang didalamnya terisi berbagai topping. Dia sepertinya kesulitan membuka pintu, akhirnya Nai membantunya.


"Ini makanan kesukaanmu kan? ayo kita makan seblak." Seru Benji.


" Waaah,, darimana tuan tau aku suka seblak ?" Nai menyantap seblak itu dengan lahap.


"Aku tau semua tentangmu."


Nai kemudian celingukan melihat sekitar, kemudian menarik bibirnya semanis mungkin.


"Tuan.."


"Ya cantik? kau perlu sesuatu?"


"Bolehkah aku meminta uang? 30 ribu." Nai memberikan senyuman maut, seperti anak kecil yang ingin jajan.


" Kenapa 30 ribu? tidak 300 juta atau 3 Milyar? Uangku cukup." Sambil mengeluarkan uang pecahan 100 ribu 3 lembar.


" Tuan, ratusan ribu aku ada, tapi aku ingin membeli minuman, aku tidak tega membeli minuman dengan harga murah, tapi penjualnya harus repot mengembalikan uang."


" Berikan saja semuanya. Kau suka berbagi kan? seperti saat kau membayar makananmu di warung nasi itu." Benji baru sadar dia membuka kelakuannya sendiri.


UHUUUUUKKK..UHUUKKK!!!!!!


Benjamin pura - pura batuk untuk memindahkan fokus Nai.


Tanpa peduli, Nai keluar mobil. Wanita cantik yang terlihat sempurna, dengan wajah yang penuh make up, serta heels tinggi yang ia gunakan. Pemandangan yang cukup mengherankan, dengan dandanan seperti itu Nai mendekati penjual minuman serbuk pinggir jalan. Seperti selebritis. Celetuk salah seorang pembeli lainnya.


Nai kembali dengan berlari, dia tau tuannya pasti kepedasan.


" Ini tuan."


"Apa ini?"


"Kalau makan seblak, cocoknya minum ini, ini rasa gula batu. aku sebutnya es cekik."


"Hah ??? apa? es cekik? kenapa?"


" Karena kan tuh lihat, dipegangnya seperti dicekik."


Benji menepuk jidatnya, melihat Nai dan tak kuasa menahan tawanya.


Nai hanya cengengesan sambil meminum es cekiknya.


" Matamu indah ketika kau tersenyum. Tetaplah seperti itu Nai, kau manis sekali." Benji kembali membelai wajah Nai, Nai hanya tertunduk malu.


"Terimakasih Nai."


"Untuk apa tuan?"


"Untuk pelajaran yang kau berikan. Ternyata bahagia itu sederhana. Tidak mengeluarkan uang berjuta - juta, tapi aku bisa melihat senyummu. Apa bahagiamu sesederhana ini Nai? Pantas saja, kau lebih memilih tersenyum ceria saat ku beri seblak, dibanding saat ku tawari mobil."


"Hahahahaha, siapa yang tidak mau mobil tuan? Tapi aku bingung, apa harus aku parkir di genteng tetangga ?" Jawab Nai sembari terus menyuapkan seblak ke mulutnya.


"Nai, apa kau sama sekali tidak tertarik dengan penawaranku?" Lagi - lagi, Dia masih berharap.


Nai hanya tersenyum kemudian ikut menggenggam tangan Benji yang sedari tadi terus memegang tangan Nai. Suasa hening, Benji kembali memacu mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2