Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Jalan - jalan.


__ADS_3

"Sore non Nai, mau kemana?" Sapa mang Ujang.


"Jalan - jalan sore mang." Jawab Nai sambil bersiul kecil.


"Tidak bawa mobil non?"


"Ah kedepan situ aja mang, jalan kaki juga bisa. Deket kok, tuh kesitu tuh, kelihatan ko dari sini." Tunjuk Nai ke sembarang arah.


"Ba..baik Non, hati - hati."


Semoga nona tidak berniat kabur, aku nanti jadi sasaran amukan masa.


"Eh non, didepan jalan ada pasar malam, sepertinya sudah ada yang buka jam segini, barangkali non Nai mau naik kora - kora. Hehehehe."


"Menarik, nanti aku kesana. Mang Ujang mau titip apa?"


"Tidak usah non.."


"Baiklah. Dadah mang ujang." Ucap Nai sambil menutup gerbang.


"10 juta cukup." Nai berbicara sendiri di dalam Atm saat mengambil uang. Ia berjalan sekehendak hatinya untuk membagi - bagikan uang pada siapapun yang dia mau. Tak lupa ia mampir ke toko perlengkapan kucing, membeli 2 bungkus makanan kucing.


Cukup jauh berjalan, Nai melihat 1 induk kucing beserta 3 anaknya, segera ia membuka bungkusan itu dan menuangkannya. "Nah ini dia..Hey, ini buatmu.. ayo makan ayo.."


Hal itu terus dilakukan Nai sepanjang jalan yang ia lalui.


*****


"Nai.." Dengan lembut Benjamin memanggil nama itu saat ia keluar kamar mandi, namun tak ada jawaban, yang dilihat hanya pakaian untuknya diatas tempat tidur.


"Astaga Nai..kau dimana?" Beres memakai baju, Benji berkeliling dikamar dan melihat kearah balkon, namun istrinya tak ditemui. Ia berlari keluar kamar dan menuruni tangga, tepat saat bi Nuni sedang mengepel.


"Bi lihat Nai?"


"Tidak tuan, memang nona Nai keluar?"


"Tolong cari bi, semuanya tolong cari Nai!!!!!!" Benji berteriak pada semua asisten rumah tangga yang ada disitu. Semua panik mendapat mandat tiba - tiba. Kondisi berubah cukup ricuh dengan para pembantu yang hilir mudik kesana kemari. Begitu pula Benji yang ikut berlari - lari dirumahnya sendiri mengecek setiap sudut.


Cukup memakan waktu namun Nai tak ditemukan didalam rumah itu, "Tidak ada tuan.." Kata bi Nuni. Benji segera berlari keluar menuju pos mang Ujang.


"Mang apa tadi Nai kelihatan keluar gerbang?"


"Iya tuan ada sejam yang lalu." Jawab mang Ujang.


Ya Tuhan.. Kemana dia..


"Kemana dia?"Sambil ngos - ngosan Benji mencoba menenangkan diri.


"Katanya ke depan tuan."


"Depan mana????"


"Itu kesitu tuan katanya.." Mang Ujang spontan mengikuti gerakan Nai saat Nai menunjuk tadi.


"Yang benar mang ujang!!" bentak Benji.


"Iya non Nai sambil menunjuk bilang kesitu, dekat, katanya kelihatan ko dari sini." Anggukan cepat dari kepala mang Ujang menunjukan ia panik. Ia tau tuannya akan seperti singa jika marah.


"MANG UJANG, LANGIT PUN KELIHATAN DARI SINI TAPI JAUH!!!!"


"Mu..Mungkin ke pasar malam tuan, tadi saya kasih tau ada pasar malam."


"Aduh. Pinjam motor." Titah Benji.


"Sebentar tuan." Dengan berlari mang Ujang mengambil sepeda motornya.


"Ini tuan. Tapi bensinnya bensin campur."


"Campur? Campur apa? Memang bisa bensin dicampur?" Benji mengernyitkan dahinya.


"Campur dorong tuan. Itu sudah mau habis. Tapi kalau sampai depan cukup sepertinya."


"Ah.. sini mana kuncinya cepat." Paksa Benji.


Cukup jauh Benji menaiki sepeda motor dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya. Ia melihat Nai sedang berbincang dengan beberapa anak penjual batu cobek dipinggir jalan, memberi uang dan pergi.


Benjamin tidak menyusul, dia malah bersembunyi, mengikuti diam diam tanpa Nai sadari. Dia memantau Nai dari kejauhan. Sedangkan Nai terus berjalan lagi, membagi bagikan uang di dompetnya. Penjual rongsok, pejual buah, siapapun yang dia temui dijalan.


Aku menikahi malaikat.


Ujung jalan yang sangat jauh namun Nai tak lelah menempuh, ia terus berjalan hingga sampai di pasar malam. Tepat didepan penjual daster.


"Waaaahh bagus sekali. Saya mau ini, ini, ini, ini dan ini." Kata Nai sembari mengambil 8 daster yang menurutnya bagus.


"Jadi dua ratus empat puluh ribu non."


"Ini." Nai menyodorkan 5 lembar uang seratus ribuan.

__ADS_1


"Kebanyakan ini uangnya nona."


"Buat bapak saja. Terimakasih ya pak, mari.." Nai tersenyum ramah sambil berlalu melanjutkan langkah.


Nai menghampiri penjual telur gulung, dengan sabar ikut mengantri antrian yang sangat panjang. Matanya tak berhenti menatap sekeliling layaknya anak kecil yang kegirangan. Ia berusaha mencari semua makanan ia inginkan.


Kini Nai mendapatkan gilirannya, ia membeli 20 tusuk telur gulung, selesai membayar dan memberikan kembalian pada penjual itu, ia meminta ijin untuk duduk di kursi belakang penjual telur gulung sambil menyantap satu persatu telur gulung yang ia beli. Sesekali Nai terlihat meneguk air mineral yang ada disampingnya.


Membuat dia nyaman dan mulai dengan kesukaannya. Eh, Kulihat sorot matanya sangat suka dengan semua yang ada disini, dia sangat senang ditempat ini, apa pasar malam ini harus kupindahkan ke halaman rumah?


Benji menatap Nai, kini tidak jauh. Kondisi pasar malam yang cukup ramai dirasa mampu menyamarkan keberadaannya.


"Apa yang mau kau beli?" Tanya Benji yang berada tepat dibelakang Nai saat Nai berjalan kembali mengelilingi pasar malam itu.


"Aromanis." Jawab Nai santai.


"Hah? Aromanis?"


"Iya itu..." Tunjuk Nai.


"Itu kembang gula Nai."


"Di Bandung namanya aromanis."


"Belilah..."


Eh tuan." Nai menghentikan langkahnya, ia seperti baru mengingat sesuatu.


Eh Nai." Sindir Benji yang tau Nai kaget karena keberadaannya.


"Tuan tau darimana aku disini?"


"Kenapa kau pergi?"


"Kata tuan aku boleh kemana mana!!!!"


"Ya tapi tidak secepat itu Nai."


"Aku kira sudah boleh."


"Boleh, tapi jangan buat aku khawatir." Benji meraih jemari Nai, berpegangan tangan seperti orang pacaran.


"Pak, maaf, boleh tolong buatkan 1?"


"Boleh, mau warna apa?"


"Dia lucu." Celetuk Benji.


"Iya, warnanya kuning,, lalu dia bicaranya tidak jelas." Nai menyeringai senang.


Setelah kembang gula ditangan, Nai melihat penjual rujak jambu biji, ia bersorak setengah berlari, menarik tangan Benji."Tuan, ayo beli itu!!!"


"Boleh." Dengan anggukan dan senyum manis, Benjamin mengikuti Nai.


"Tuan mau cakwe mini?"


"Boleh.."


"Tuan, ada yang jual cireng."


"Kau mau?"


"Heem...."


"Ayo beli." Ajak Benji sambil merangkul Nai.


"Tuan.."


"Es campur ya?"


"Iya, boleh?"


Ini sudah malam Nai.."


"Aku tidak akan pilek!"


"Belilah.."


"Tuan tuan.."


Lebih dari 10 penjual makanan dihampiri hingga mereka lelah dan memutuskan untuk pulang. Mereka menuju parkiran dimana Benji memarkirkan motornya kemudian bergegas pulang.


Di atas motor.


"Nai."


"Ya tuan??"

__ADS_1


"Kau sedang apa? Tumben tidak bawel???"


"Nyaaammm..nyaaaaammm." Tak menghiraukan pertanyaan Benji, Nai asyik mengunyah rujak jambu biji yang ia beli.


"Sepertinya jajanan itu lebih penting!" Benji memacu kencang motornya.


Eeeeeeh jangan ngebut!!!!!!" Sontak Nai memeluk Benji erat.


"Cleeeeeek!" Mesin motor itu mati seketika.


"Astaga!!!!"


"Kenapa tuan??"


"Bensinnya habis."


"Dorong sajalah,, rumah tidak teralu jauh dari sini.. aku sudah bilang jangan ngebut." Kata Nai sambil meneruskan menyantap rujak jambu biji ditangannya. Ia lalu duduk di trotoar.


"Kau akan kelelahan!" Jawab Benji sembari ikut duduk disamping Nai. Berbincang sebelum melanjutkan perjalanan.


Kau masih saja sesantai itu Nai. Tidak marah sama sekali.


"Bagaimana aku akan kelelahan,, bensinku saja sebanyak ini.." Tunjuk Nai pada kantong plastik berisi banyak makanan yang ia bawa.


"Bagiku dari sini cukup jauh Nai."


"Ini dekat tuan.."


"Kau tepati janjimu untuk menemaniku saat kesusahan." Benjamin menatap dalam istrinya itu, sama sekali tak ada raut kesal apalagi marah yang terpancar di wajah Nai.


"Uhhuuuuuk uhuuuukkkk.." Nai tersedak bubuk cabai yang cukup banyak.


"Minum Nai.."


"Tuan, terimakasih." Ucap Nai lembut sembari memberikan senyuman.


"Senang?"


"Senang sekali." Nai memeluk erat Benji. Dia senang bisa kembali menikmati jajanan - jajanan sederhana yang selalu ia inginkan saat hidupnya pas - pasan. "Ayo jalan.." Ajak Nai.


"Eh Nai..."


" Emmm?"


"E..akupun senang bisa jalan - jalan malam denganmu seperti ini." Benjamin terlihat gugup saat mengatakannya.


Mereka berjalan menyusuri malam, mendorong motor hingga sampai di rumah.


"Ini mang.."


"Di campur tuan?" Tanya mang Ujang saat melihat tuan dan nyonyanya jalan kaki hingga pos.


"Iya, aku campur dorong. Besok buat pom bensin disini. Kasihan istriku kelelahan, untung saja dia makannya banyak jadi kuat berjalan sampai sini." Jawab Benji sambil merangkul istrinya, mereka berjalan memasuki rumah.


"Loh?" Bi Nuni keheranan melihat raut wajah Benjamin yang berubah ceria. "Sudah ditemukan bi." Katanya.


"Kamu paling bisa ya Nai bikin tuan panik dan seisi rumah jadi repot mencari kamu." Goda bi Nuni. Nai menyeringai. Dengan cepat ia menarik tangan Benji, membawanya ke sofa ruang tengah.


Nai membuka plastik cakwe mini yang dibelinya, ia mengambil 1 dan menyodorkannya pada mulut Benji, "Coba ini." Katanya.


"Hmm.. enak.." Jawab Benji sambil mengunyah.


"Aku bisa membuatnya!" Kata Nai.


"Jangan repot - repot, kau suruh saja bi Nuni."


"Belum tentu bisa, ini butuh keahlian."


"Benarkah?"


"Heem."


"Nayanikaku memang banyak keahliannya.."


Setelah menghabiskan seluruh makanan yang dibeli, Nayanika dan Benji merebahkan badannya diatas sofa. "Aku kekenyangan tuan, tolooong, aku tidak bisa bergerak." Ucap Nai sambil terkekeh. Tak menunggu lama, Nai terlelap disamping Benji. Sebelah tangannya tiba - tiba memeluk tubuh gagah itu.


Dia sangat lucu...


"Nai?" Panggil Benji lembut. Memastikan wanita disampingnya sudah benar - benar terlelap atau belum. Lebih tepatnya, memastikan kondisi aman terkendali karena sebuah ciuman akan ia daratkan di bibir istrinya itu.


Cuuuuuuup..


"Hmmmmmm.."Nai malah mempererat pelukannya."


Hanya soal isi perut. Wanita akan baik padamu jika perutnya kepenuhan.


Benjamin tersenyum sembari membopong Nai ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2