Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Obrolan Tengah Malam.


__ADS_3

"Tuan,, jam berapa ini?" Tengah malam Nai terbangun, dia kini ada didalam pelukan suaminya yang tak menggunakan baju, dengan malas, dia paksa membuka mata.


"Jam 1 malam" Jawab Benji tanpa melihat Nai.


"Kenapa belum tidur? Eh tuan menangis?" Setelah membuka mata dengan jelas, Nai melihat sisa air mata di pipi Benji yang sedang bersandar diatas tempat tidur dengan 1 bantal dibelakangnya.


"Malam - malam menangisi apa?" Sambung Nai lagi keheranan.


"Tidurlah Nai." Titah Benji lembut sambil mengusap dan mengecup puncak kepala Nai.


Mencoba meneduhkan, Nai memegang kedua pipi Benji sambil mengusap sisa air mata yang tergenang, "Tuan kenapa?"


Benji tersenyum getir, ditatap wajah Nai dengan dalam, "Aku tidak kenapa kenapa." jawabnya.


"Bohong." Nai memajukan bibirnya.


"Hmmmm,," Benji menarik nafas panjang, mengusap wajahnya kasar lalu menahan kepalanya yang membungkuk dengan telapak tangan. "Aku memikirkan ucapanmu tadi siang. Apa yang harus aku lakukan? bagaimana caranya agar aku bisa terus bersamamu setiap hari, jika kontrak kita selesai."


Sejujurnya aku memikiran bagaimana upaya lain yang harus kulakukan. Karena aku tau kau tidak mudah dijebak, meskipun telah terjebak, kau akan melakukan segala cara untuk keluar dari jebakan itu dan harus aku lagi yang memikirkan alternatifnya.


"Ah tuan, jangan begitu, kan aku jadi sedih." Nai memeluk dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Benji. Dia menyembunyikan debaran jantung yang membuatnya merasa serba salah.


Perasaanku tidak enak begini, kenapa aku jadi ikut memikirkan bagaimana jadinya jika kontrak pernikahan kita selesai. Apa ini namanya tidak ikhlas ?Apa aku harus kembali ke kehidupanku yang dulu?brengsek. Hei hati, tolong jangan cepat jatuh. Dia bukan lelaki yang mencintaimu sepenuh hati.


"Tidurlah." Titah Benji lagi.


"Tuan juga."


Bagaimana aku bisa tidur, aku jadi ingin ikut menangis juga membayangkan jika waktunya tiba. Selalu hal ini yang menjadi fikiran terberatku.

__ADS_1


Gara gara menangis, aku menjadi tidak berselera untuk mencoba membuat anak. Kau selalu punya rencana diluar kepalaku!


"Nai." Benji seolah mengerti Nai ikut berfikir, "Peluk aku." katanya. Tanpa paksaan Nai mengeratkan pelukannya dan Benjamin melakukan hal serupa.


Apa ini? aku merasakan apa? lagi - lagi perasaan aneh. Aku merasa sangat aman, seolah tidak akan ada lagi cobaan dihidupku. Tentram sekali. Ya Tuhan.. saat kecil aku pernah merasakan pelukan ini oleh papa, tapi setelah dewasa, bahkan aku tak pernah tau bagaimana rasanya aman. Hanya takut dan bingung yang jadi makanan sehari - hariku.


"Tuan,, detak jantungmu kencang sekali, padahal bukan kali ini saja tuan memelukku." Nai segera menyeka air mata yang tiba - tiba mengalir di pipinya, secepat kilat ia merubah raut wajahnya menjadi ceria.


"Entah." Ketus Benji.


"Dengan yang sebelumnya apa begini juga?"


ah, aku coba kepo ah...


"Tidak." Tegas Benji.


"Tidak deg - degan?"


"Tidak." Jawabnya lagi.


"Oh, kenapa bisa?"


"Karena tidak ada!"


"Hahahahahahaha mana ada lelaki seperti tuan tidak pernah memeluk wanita sambil tiduran."


Nanti aku cari bukti. awas saja. Tuan lupa aku intelijen independen sukarela.


"Ya sudah kalau tidak percaya."

__ADS_1


"Tuan.." Nai masih saja mengganggu Benjamin yang asyik melamun.


"Hmmmmm..."


"Tuan tidak mau bertanya tentangku?"


"Untuk apa? Menyakiti diriku sendiri ? Sejak pertama melihatmu, aku sudah setuju, perihal masa lalumu, aku tau mau tau."


"Yakin?"


"Beberapa keadaan memaksaku untuk menyelami masa lalumu yang harus ku bereskan, tapi, hanya sebatas itu.,"


"Kenapa?"


"Karena, semua masa lalumu itu yang membentuk kau menjadi istriku yang ada dihadapanku saat ini." Benji tersenyum, diusap lembut bibir istrinya. Nai menatap dalam - dalam wajah Benji hingga ia larut dalam lamunannya. Ia tersadar ketika Benji lagi - lagi, tanpa aba - aba dan pemberitahuan sebelumnya, mengecup bibir Nai. Membuat Nai terbangun dari lamunannya.


"Kenapa memandangiku seperti itu?"


Tersipu malu, Nai menggelengkan kepala, " Sialan, tuan tampan sekali."


"Kau menyukainya?"


"Tuan tau jawabannya. Sebetulnya tidak," Jujur. Nai anak jujur.


"TAPI?????" goda Benji dengan senyumnya. Ia tau Nai akan berucap manis."


"Tapi Tuhan menggariskan aku mendampingimu, jadi, tampanmu, biar ku nikmati seorang diri." Nai tergelak, ia tak melepaskan pelukan di tubuh Benji, begitupun sebaliknya, "semua yang ada di depan mataku ini manis sekali." Timpalnya lagi sambil mencubit hidung mancung suaminya itu.


Semakin hari aku semakin tak karuan. Seperti burung yang kehilangan arah! Jantungku selalu berdegup kencang. Tuhan, semoga ini tidak cepat berakhir.

__ADS_1


Nai terlelap di tengah obrolannya, Selimut yang ditarik sampai leher diiringi ciuman kening menjadi pengantar Nai kembali terlelap.


__ADS_2