Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Dengan caraku.


__ADS_3

Tuan..." Sapa Nai saat membuka mata, wajah pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sudah membuka mata sebelumnya namun tak beranjak pergi, betah menatap Nai yang tertidur pulas.


Pagi cantik."


Cuuuuppppp..


Kecupan pagi hari di dahi Nai.


"Sudah membaik?" Tanya Nai lagi.


Benjamin tersenyum sembari mengelus tangan Nai yang sedang membelai pipinya. "Sangat baik."


Syukurlah. Tapi jangan dulu ke kantor."


"Kenapa?" Benji keheranan.


Sehari lagi istirahatnya." Pinta Nai manja.


"Kau mau menghabiskan waktu denganku?" Goda Benji.


Tentu saja." Nai menyeringai riang melihat Benji menganggukan kepala tanda setuju.


"Kau ingin kemana hari ini?"


"Disini saja." Kata Nai.


"Kau tidak bosan? Terus - terusan dikamar. Kau bukan lagi jadi penunggu kamar Nai, tapi sudah termasuk property didalam kamar."


"Disini aku rasa istimewa. Tuan lupa?"


Baiklah." Benji mengalah, dia memeluk Nai dari belakang sambil berkata "Apa yang kau sukai untuk mengisi waktumu seharian didalam kamar?"


"Menonton, tiduran, makan cemilan dan tuan ada di sampingku, memelukku, dan kita tertawa bersama." Terasa ringan di tenggorokan, Nai berucap seperti anak kecil polos. Sangat jujur.


"Selalu bersama kan Nai? Apa kau rasa satu tahun cukup?" Tanya Benji memastikan.


"Jangan berfikir macam - macam. Nanti mengigau lagi." Kali ini berbeda, Nai seperti tidak mau menggubris pertanyaan suaminya itu.


"Ayo kita sarapan dulu ke bawah."


"Tuan tidak akan mandi dulu?"


"Nanti saja."


***********


"Pagi pi." Sapa Benji saat menuruni tangga bersama Nai.


"Pagi, Benji, Nai. Ayo sarapan." Ajak pak Wijaya. "Kenapa kamu tidak pergi ke kantor?" Tambahnya lagi.


"Ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh pi...." Benji menatap mata ayahnya.


"Perkerjaan kantor?"


"Lebih tepatnya amanat." Seringai tipis dan sorot mata tajam ia lemparkan. Pak Wijaya paham apa yang sedang anaknya rencanakan.


"Ah... Baiklah - baiklah, papi paham. Hahahahahaha." Ayo sarapan dulu.


Pak Wijaya tersenyum sepanjang sarapan, membuat semua orang disitu keheranan.


"Pi, sudah perkiraan mau dapet undian harapan? ko sumringah mukanya." Nai menyadari, mertuanya tak seperti biasa. Dia tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Lebih dari itu Nai." Jawab Pak Wijaya.


"Pi......." Benji kembali menatap ayahnya dengan tajam, seolah takut ayahnya membocorkan.


"Sudah - sudah, Nai sudah selesai kan makannya? aku harus menelepon Roni. Ayo kembali ke kamar." Segera Nai memasukan 2 potong semangka terakhir ke dalam mulutnya hingga mulutnya penuh. Ia berjalan mengikuti langkah suaminya yang terburu - buru menaiki tangga. Tak mengeluarkan sepatah kata, Nai masih sibuk mengunyah semangka sambil berjalan.


"Mau beli cemilan apa?" Tanya Benji saat masuk kamar.


"Baru saja sarapan. nanti lagi saja tuan." Nai menjawab sambil mengambil pakaian di lemari.


"Mau kemana?"

__ADS_1


"Mandi."


"Mau mandi mau kemana?"


"Memang kalau mandi harus mau kemana - mana?"


Eh si kepala batu. ditanya malah balik bertanya.


"Aku ikut." Teriak Benji saat Nai masuk kamar mandi.


"Ikut kemana?"


"Memang kau mau kemana selain mandi?" Dengan santai Benji kembali bertanya sambil menyalakan sebatang rokok.


"Hmmmmmmmmm!!!!!!" Menarik nafas panjang, Nai kembali membuka pintu kamar mandi dan menghampiri Benji.


"Apa ada yang salah dengan mandi pagi tuan Benjamin ?" Ucap Nai menggoda. Dilingkarkan tangannya pada leher Benji yang sedang berdiri. Dayung bersambut, Benjamin menyimpan rokok yang ia hisap dan segera mendekap wanita dihadapannya itu. Dengan segera ia mencium seluruh wajah Nai dan mulai mencumbu leher jenjang istrinya. Kali ini lain, Nai tertawa geli sambil menikmati perlakuan suaminya.


Apa ini lampu hijau dari Nai?Dia sama sekali tidak menolak.


"Jawab jujur cantik. Kau mau kemana? kenapa mandi pagi - pagi?" tanyanya lagi sambil tak henti mencumbui.


"Hahahahaha, geli. Sudah - sudah." Nai mencoba melepas pelukan Benji, namun sia - sia. "Aku tidak akan kemana - mana. Hanya ingin mandi saja." Jelas Nai.


"Benar?"


"He'em." Tandasnya. "Jadi lepaskan aku, aku mau mandi."


"Baiklah jika begitu. Berikan dulu cium di pipi baru aku akan melepaskanmu."


Muuuuuuuuuaaaaaahhhhhhh...


Tak menolak, Nai menyambar pipi kanan Benji dan mencium gemas. Mata Benji membelalak tak percaya, tak ada penolakan, tak ada adu argumen, tak ada pemaksaan. Nayanika yang dulu seperti macan kini berubah seimut kucing persia.


Dia mulai nyaman berada didekatku. Dia menjadi sangat patuh.


Tanpa bicara Benji melepas pelukannya. Nayanika tertawa sambil berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan Benji yang masih berdiri.


45 menit berselang, Nai keluar dengan kondisi segar. Ia tersenyum melihat Benji yang terus menatapnya.


"Oh senang sekali kehidupan putri yang satu ini. Sangat merdeka. Makan, mandi, main hp, merokok." Goda Benji melihat istrinya bermain hp sambil menghisap rokok.


Nayanika tertawa sambil mencubit pinggang Benji." tuan sirik? yasudah. Minggu depan aku mau melamar pekerjaan lagi." Ancam Nai.


"Eh jangan. Diam dirumah. Tidak usah bekerja, nikmati hari - harimu menjadi putri dirumah ini."


Tegas Benji.


Muuuuuuuuuaaaaaaaah


Nai kembali mencium pipi suaminya." Terimakasih tuan. Sungguh, ini kehidupan yang sangat aku inginkan, Hahahahahaha." Nai tertawa geli. Dia terlihat seperti anak kecil yang mendapat hadiah baru.


"Bolehkah aku belanja online?" Tanyanya.


"Sebanyak yang kau mau. Belilah."Jawab Benji sambil tersenyum. Ia berdiri meninggalkan istrinya yang dengan cepat memilih barang - barang sesuai keinginannya. "Giliran aku yang mandi." katanya. Dijawab dengan anggukan dan senyuman Nai.


**********


*Baju ini bagus untuk mama pergi mengaji.. Aku beli untuknya. apa 7 stel cukup? mama suka warna pink.. coklat juga..


Ah, papa suka kurma. Aku akan beli untuknya. 10 box.


Tas ini, baju ini, lucu sekali. caca pasti suka*.


aku akan pesan makanan dari sini. Semoga mama tidak masak.


Asyik memilih puluhan barang dan langsung membayar tanpa berfikir panjang, Nai tidak sadar Benji sudah selesai mandi sedari tadi menatapnya berbelanja.


"Jadi, apa yang kau beli? Untuk dirimu sendiri." Tegas Benji.


Menyeringai jahil. " Aku rindu Bandung, seumur hidup, aku selalu tertekan jika papa dan mama meminta sesuatu. Karena uangku pas - pasan. Tapi karena tadi tuan bilang aku harus menikmati jadi putri, ya sudah aku manfaatkan untuk membeli beberapa barang dan makanan yang mama papa suka." Nai menjawab sambil tertawa.


"Kau bahkan tak membeli satupun barang untuk dirimu sendiri." Sesal Benji melihat bagaimana Nai memperdulikan keluarga. Tak ada hal egois yang ternilai selain soal sifat kepala batunya. Dibalik itu, Bagi Benji Nai terlihat seperti seorang anak yang berusaha membahagiakan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Nai paham, ia lalu memeluk dan menyimpan kepalanya di dada bidang milik Benji. "Aku kan ada tuan. Semua yang tuan beri padaku lebih dari cukup. Aku tidak usah mengkhawatirkan diri sendiri lagi. Setidaknya, sampai tahun ini berakhir."


Deg...deg...


"Ada masalah apa tuan? kenapa detak jantungmu menjadi lebih kencang?" Nai keheranan. Ia melepas pelukan, menarik tubuhnya menjauhi Benji.


Benjamin menggelengkan kepala, ia meraih kembali Nai dalam pelukannya." Tidak ada akhir dalam tahun Nai. bahkan 31 Desember pun segera disusul oleh tanggal 1 Januari. mereka tak berhenti. Ini perihal saling berputar dan berganti. Bukan berhenti.


"Setidaknya itu yang tertulis dalam perjanjian."


" Dan banyak hal yang tidak tertulis dalam perjanjian. Bisa kita bicarakan di kemudian."


"Ia iya." Nai erat memeluk tubuh suaminya itu. Begitu pula Benji.


"Kau senang memelukku seperti ini?"


"Aku senang ada dalam pelukanmu tuan."


"Baiklah kalau begitu." Benjamin segera memangku tubuh Nai keatas tempat tidur dan kembali memeluknya. Nai hanya mampu tertawa.


"Sekarang pilih apa yang kau inginkan. aku temani sambil memelukmu." Nai mengangguk cepat. Mereka kembali diatas tempat tidur sambil berbelanja online. Nai benar, mereka menghabiskan waktu hingga malam hari. Tertawa bersama, berpelukan, menonton film kesukaan Nai sambil makan berbagai macam cemilan.


*******


"Enak sekali kopi ini. besok aku mau beli lagi boleh tuan?" Nai menikmati 1 cup kopi susu rhum yang ia pesan secara online. Malam hari, sambil menikmati pemandangan di balkon.


"Beli. tokonya." Timpal Benji. "Nai..." Panggilnya. "Aku tanya padamu 1x lagi."


"Apa itu?"


"Jawab sejujurnya, dan jika jawabannya tidak, aku akan menggunakan caraku sendiri agar kau menjawab iya." Dengan nada mengancam. Benji menatap dalam mata Nai yang polos.


"Iya apa pertanyaannya?"


"Apa kau sudah mulai menyayangiku?"


Tak menjawab, Nai hanya tersenyum, menyimpan kopi yang ia pegang, sambil berlalu, Benjamin segera mengikuti dan mengunci pintu balkon.


"Kenapa kau tidak menjawab?" Tanyanya lagi.


Nai menggelengkan kepala, ia membalikan badan namun Benji menahan tangannya, secepat kilat Benji mendaratkan kecupan lembut di bibir Nai cukup lama. Membawa tubuh Nai ke atas tempat tidur dan melanjutkan kecupannya, beberapa saat.


Perlahan pakaian mereka terlepas satu persatu tanpa rencana lebih dahulu, Benjamin benar - benar melakukannya, sentuhan dan cumbuan terus menerus ia berikan pada tubuh wanita yang kini ikut larut dalam permainan. Sama - sama menikmati, Hingga Nai menyadari akan terjadi sesuatu yang lebih dari ini.


Nai memberhentikan diri, memundurkan tubuhnya dari pelukan Benji.


"Tuan.." katanya.


"Hmmm?????"


"Ini tidak tertulis dalam perjanjian.."


"Segala sesuatu yang tidak ditulis dalam perjanjian bisa dibicarakan kan?"


Kau selalu menang dalam hal apapun.. mungkin malam ini aku yang akan menang, dan lagi, kau tidak akan pernah bisa dikalahkan, kecuali oleh ke nekatan ku sendiri Nai.


"Tuan, tapi.."


"Tapi kau istriku Nai,, dan aku ingin kau bisa menyayangiku."


Ini masih proses. Semua akan sesuai rencanaku, akhirnya aku mendapatkanmu seutuhnya, dan ku jamin kau tidak akan pernah lagi berfikir untuk kabur dariku atau mengakhiri kontrak ini.


Apa lagi ini?????


Semakin dalam aku terjebak. Bagaimana kedepannya?


Aku ingin menolak tapi kenapa tubuhku sepertinya malah setuju. Aku tau ini bukan dosa tapi haruskah aku melakukannya ?


*******


Malam panjang itupun mereka lalui, beberapa kali. Nayanika sudah terlelap, Benjamin mematikan lampu tidur, agar senyum bahagianya bisa ia sembunyikan rapat - rapat.


Detak jantungnya terasa tak seperti biasanya. Dia merasa hidupnya benar - benar sempurna. Perlahan ia membaringkan badan disamping istrinya, memberikan pelukan, ditubuh Nai yang hanya tertutup selimut tanpa pakaian.

__ADS_1


*******


__ADS_2