Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Pintar atau bodoh? kontrak????


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, langit yang berubah jingga menyelimuti kota Jakarta. Nai menatap kearahnya sambil menghabiskan sebatang rokok yang terselip di jari, Di balkon kamar Benji. Sesaat dia melirik ke arah lelaki yang mau tak mau harus diakui bahwa dia suami. Lelaki arogan tak punya hati.


"Habis sebatang rokok, aku mandi." Gumamnya dalam hati.


Nai masuk ke kamar mandi, kamar mandi yang sangat luas. Dibanding kamar kostnya dulu, lebih besar kamar mandi ini. Komplit dengan bathtub serta shower yang tertempel rapi di sampingnya, tak ketinggalan wastafel yang dihadapkan dengan kaca super besar beserta peralatan mandi, hair dryer, sisir, handuk, jajaran parfum, lengkap. Seperti toko kecantikan.


Nai harus terbiasa dengan semua ini, bahkan untuk mandi saja, Nai harus menghabiskan waktu 5 menit untuk memilih puluhan sabun yang ada, berbanding terbalik dengan sebelumnya, saat dikostan, 5 menit Nai sudah beres mandi dan berganti pakaian.


Aku mau pakai sabun wangi peach ini ah, sepertinya manis. Jika aku pakai banyak, apa tidak dimarahi? ah paling dimarahi. Pakai saja dulu yang banyak. Horeeeeee mandi sabun!!!!!!!


Nai tersenyum senang, dimasukannya sabun itu setengah botol besar ke dalam bathtub, air hangat sudah ada didalamnya, Nai langsung masuk dan bergerak sesuka hati sambil sesekali mengocok tangannya didalam air sabun supaya terbentuk busa lembut.


Dulu aku mandi sabun hanya sekali saat kecil, itu juga didalam baskom. Jadi biarkan aku menjadi orang kaya satu hari. Ca, kalau kamu ada disini, kamu pasti senang.


Menghabiskan waktu untuk berendam memang tak pernah ada puasnya, hampir satu jam didalam kamar mandi tidak membuat Nai jenuh, dia malah asyik bermain busa sabun yang semakin banyak dan memenuhi lantai. Tak ia pedulikan, nanti saja aku bersihkan jika aku puas mandi. Gumamnya.


"Nai kemana?apa dia masih dibawah? Ahhhhhhh jam 7 malam, lama sekali aku tidur siang, sebaiknya aku mandi lalu menyusulnya. Bisa - bisanya batang hidung wanita itu tidak nampak saat aku membuka mata." Gerutu Benji dalam hati. Dilangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia tidak tau ada Nai didalamnya.


"BRUUUUUUUUUUGGGGG"


"AAAAAAAAAAHHHHH ....." Keduanya menjerit, yang satu menjerit karena kaget sedang asyik main sabun tiba - tiba ada yang masuk, yang satu lagi kaget karena terpeleset.


Secepat kilat Nai membenamkan badannya pada busa sabun yang cukup banyak.


"Nai tolong aku, aduh sakit." Rintih Benji.


Nai mengernyitkan dahi " tolong bagaimana, aku tidak pakai baju tuan."


"Cepat pakai handuk, bantu aku, pinggangku sepertinya copot!!!!!!! bagaimana jadi istri, suami jatuh malah dipelototi."


Ya Tuhan, sudah celaka masih sanggup marah - marah.


"Yasudah sebentar tunggu jangan banyak bergerak, tutup mata, aku tidak pakai baju ini." Kata Nai sambil mencoba berdiri, saat kakinya menginjak lantai, dia malah terpeleset, tubuhnya menimpa tubuh Benji.


"Nai hati - hati." Benji dengan segera memegang tangan Nai.


Kau mau menggodaku, jangan begini caranya, aku jadi mati kutu.


" Tuan maaf tolong tutup matamu, jangan kesempatan." Nai yang sadar dipelototi oleh suaminya itu sontak menutup tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benang pun.


"Ah maaf - maaf, iya aku tutup mata, ayo cepat pakai handuknya, bantu aku berdiri!!!!!Aku tidak akan macam - macam denganmu Nai." Kata Benji.


Nai segera mengenakan handuk, tak lupa dia membersihkan sedikit dari banyaknya busa sabun di lantai menggunakan shower.


"Ayo tuan bangunlah," Nai membantu Benji yang masih dengan posisi awal, terpeleset.


Sexy sekali tubuhmu, bagaimana jika aku... ah otak, tolong jangan berfikir macam - macam. Dia pasti akan menolak. Hey adik kecil, jangan bangun.


Benjamin normal, melihat wanita dengan kondisi hanya menggunakan handuk membuat bangun adik kecilnya. Nai yang melihat kejadian tersebut takut setengah mati, bagaimana tidak, Benjamin adalah suaminya namun dia belum siap melakukan itu semua.


"Tuan, sebaiknya aku mandi dulu, tuan bisa tolong keluar? hehehehe, ada yang bangun karena tuan memelototi perabotanku, mohon pengertiannya." Nai mendorong tubuh Benji keluar kamar mandi, kemudian menutupnya kembali.


selamaaaat selamaaaaaat...


Setelah membilas seluruh tubuhnya dan membersihkan sisa sabun di kamar mandi kemudian berpakaian, Nai keluar dengan malu - malu, sama seperti Benji, dia nampak ragu menatap Nai, sama malu.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Benji.


"Tuan tidak salah, itu salahku karena aku menggunakan sabun terlalu banyak."


"Lain kali hati - hati, jangan ceroboh."


"Baiklaaahhhh.." Nai tersenyum. "Tuan mau mandi?" Katanya.


"Mau, aku juga mau berendam sebentar, nanti gantian boleh? kau yang masuk lalu terpeleset." Benji menggoda Nai sambil mencubit hidung istrinya itu.


"Hahahaha, bagaimana jika bagian melototnya saja seperti tuan tadi? jangan bagian terpelesetnya." Nai menjawab ringan sembari menaikan alisnya. Benji yang merasa digoda lagi hanya tersenyum.


"Tolong bilang pada bi Nuni aku meminta makan malam dikamar saja, berdua denganmu."


"Baik tuan."


Bagaimana jika ku jebak kau kedua kalinya Nai?Perasaanku tidak enak, aku rasa kebaikanmu itu sekedarnya, cintamu masih untuk lelaki itu. Aku ingin kau mencintaiku lebih daripada cintamu padanya.


**********


"Bi Nuni.."


"Ya Nai?"


"Bi, tuan Benji ingin makanannya dibawa ke atas saja."


"Tapi makanan habis saat tadi makan malam Nai, agak lama menunggu tidak apa - apa? bibi buatkan lagi."


"Baiklah, tidak apa - apa."


"Aku ditaman belakang yah bi, mau sebatang dulu." Seringai Nai.


Sedang asyik menghisap sebatang rokok, tiba - tiba Laras, salah satu pembantu yang ada dirumah itu mendatangi Nai.


Selamat malam nona"


"malam Laras."


"Bagaimana kabar nona? Aku ikut bahagia nona menikah dengan tuan Benji."


"Aku juga Laras."


"Apa tuan Benji benar serius menikahi nona?


"Menurutmu????"


"Nona, kehidupanmu berubah sekarang, dulu nona sepertiku diam terus didapur, sekarang nona dikamar megah, memiliki harta kekayaan secara tiba - tiba. Boleh berikan aku rahasianya? Hehe barangkali aku bisa mengikuti jejakmu."


"Nanti kuberikan saran beserta lelakinya langsung." Jawaban yang menukik. Dia sedikit kesal terhadap laras, kenapa Laras seperti ingin tau sekali rahasianya. Nai berdiri kemudian meninggalkan Laras yang masih duduk, Nai memilih membantu bi Nuni menyiapkan makanan untuk Benji.


********

__ADS_1


"Non, non dipanggil tuan Benjamin. Aduh tuan Benjamin melotot non." Ucap wati yang berlari tergopoh - gopoh mencari Nai.


"45 menit lagi, masakannya belum jadi, nanti aku kekamar."


Seperti napi, pergi sedikit dicari. Apa kamar megahmu akam runtuh jika aku tidak disitu?


"Saya keatas lagi non?" Katanya sedikit takut.


"Kamu takut? yasudah ini bantu potong ayam. biar aku yang telepon dari sini." Nai lalu menelepon Benji dengan telepon yang ada di dapur."


"Kenapa menelepon? Kau hanya tinggal naik keatas." Terdengar suara dibalik telepon.


" Aku masih memasak tuan, aku buatkan ayam kesukaanmu, tapi prosesnya masih lama, mungkin sekitar 45 menit lagi. Nanti setelah selesai, aku langsung keatas."


"Baiklah."


Aku mencintaimu Nai.


Nai menutup teleponnya. Dia kembali ikut memasak dengan bi Nuni dan Wati.


Ada sesuatu yang direncanakan Benji, setelah selesai mandi, dia duduk di meja kerjanya, mengetik hingga beberapa halaman cukup banyak. Kemudian mencetaknya, tak lupa diselipkan materai dan bolpoin didalam berkas yang ia siapkan.


***********


Satu jam berlalu Nai dan bi Nuni berjalan menyusuri rumah besar yang terlihat sepi. Untuk menuju tangga, mereka bisa berbincang hingga 4 topik, dari mulai harga bawang, harga cabai, asal usul mang Ujang, hingga keadaan rumah yang penuh namun terlihat tak berpenghuni.


Nai celingukan melihat sekitar, "Pada kemana ya bi?"


"Sepertinya semua sudah kembali ke kamarnya Nai. Tadi yang makan malam juga tidak semuanya."


"Kemana mas Bhrams ?"


"Sedang pergi bersama nona Bianca."


"Aaaaahhhh, aku sampai lupa ingin menelepon dia, nanti aku telepon ah."


Ketika akan menaiki tangga, Nai dan bi Nuni berpapasan dengan Helen yang terlihat acak - acakan dengan rambut yang kusut. "Kak Nai?"


"Eh ,hai Helm. Kau sudah makan?"


"HELEN KAK!!!" Jawabnya kesal. " Aku sedang tidak enak badan, ini memaksakan bangun, aku mau minum obat." Mukanya memang terlihat sangat pucat.


"Makan malam sudah habis, inipun aku mendadak masak, makanlah ini." Nai menyodorkan 2 piring, 1 berisi nasi ayam kemangi, udang serta tumis brokoli, satu lagi berisi beberapa potong buah semangka. " Setelah itu makan obat. Jangan sakit kamu helm."


Helen yang melihat perlakuan baik itupun hanya tersenyum, dia sangat lemas, daripada pingsan dijalan menuju dapur, dia memilih mengambil piring yang Nai berikan. Ternyata dia peduli padaku, padahal ibuku sinis padanya. Pantas saja kak Benji menikahi kak Nai. Ucapnya dalam hati.


CLEEEEEEEKKKKK... CLEEEEEEEEKKKKK


Nai menjentikkan jari dihadapan Helen, "Hai helm, kenapa melamun?makan dulu nanti kamu pingsan, aku tidak bisa mengangkutmu, suamiku menunggu makannya." Kata Nai.


"Terimakasih kak Nai." Helen tersenyum. Dibalas dengan senyuman Nai, kemudian mereka menaiki tangga.


"Sudah bi, aku saja yang masuk, bibi tidur saja disini, sudah malam. "


"Baik Nai, kalau ada apa - apa, bibi dikamar."


"Kenapa lama sekali dibawah?" Benji yang sedang duduk disofa terlihat kesal. Ditatap tajam Nai yang mematung dengan nampan ditangannya.


lama apanya, belum 2 jam.


"Tadi aku berbincang dengan bi Nuni dan lagi makanan tidak disisakan jadi aku menunggu bi Nuni memasak."


"Dengan siapa lagi kau berbincang?"


"Dengan Laras."


"Kau lupa Laras pernah mengejekmu saat dia pertama bertemu denganmu?"


"Ah lupakan soal itu tuan, makanlah dulu, tuan pasti lapar." Bujuk Nai.


"Kenapa hanya satu? aku bilang makan malam berdua denganmu dikamar."


Nai bingung menjelaskan, " Ah iya tuan maafkan aku, aku fikir makan malam berdua itu sepiring berdua, kan romantis. Dan lagi aku tadi sudah makan mie instant di dapur sambil menunggu masakan, aku masih sangat kenyang. Tuan saja yang makan."


Alasan ini saja lah, daripada si helm kena marah.


Benji tersenyum, diambilnya nampan ditangan Nai kemudian menggandeng tangan istrinya itu berjalan ke meja yang ada di balkon. "Baiklah. Temani aku makan."


Suapan pertama berhasil mendarat dimulutnya, diiringi senyuman bahagia. " Buka mulutmu dan jangan menolak!!!" Perintahnya.


Nai membuka mulutnya, suapan kedua di mulut Nai, mereka makan bergantian, Benji yang menyuapi.


"Kenapa kau berbohong?"


Nai melotot sambil terus mengunyah, "Bohong apa tuan? aku tidak berbohong, aku benar memasak, tanya saja bi Nuni."


"Kau fikir disini CCTV tidak dinyalakan disemua sudut ruangan?" Kata Benji memulai pembuktian.


"Justru itu, lihat saja CCTVnya, aku tidak berbohong, aku memang memasak. Aku akan santai saja jika memang tidak berbohong." Kata Nai lagi meyakinkan.


"Kau belum makan!" Kata Benji sambil tersenyum.


Duh dia membuntutiku dari jarak jauh. Sialan.


Benji tersenyum, dicubitnya pipi Nai, "Kau teralu baik Nai, kau memberikan makananmu pada Helen padahal perutmu juga lapar. Kau selalu berkorban untuk orang lain dalam segala hal, meskipun dirimu sendiri yang dikorbankan." Ucapnya.


"Hahahahahaha soal itu, yayayaya, maaf - maaf. Aku bisa memesan makanan atau membuat makanan setelah tuan makan malam, dia sedang sakit, akupun pernah merasakan saat sakit dan lapar, badanku lemas. Hihihi, maafkan aku tuan." Ucap Nai cengengesan.


Selesai makan, Benji dan Nai masih berdiri di balkon, sekedar menghirup udara segar.


"Bagaimana kedepannya setelah ini?" Tanya Benji berharap Nai menjawab sesuai keinginannya.


"Entahlah tuan, mungkin jika Dharma sudah berfikir jernih, kita akan menikah."


Benar firasatku. Dan ini adalah langkah yang sangat tepat.


"Kau masih mengharapkannya?" Tanya Benji lagi.

__ADS_1


"Jodoh tidak ada yang tau tuan." Nai masih menatap jauh. Sama seperti ketika mereka berbincang disitu, Pertama kali.


"Jika dalam pernikahan ini kau hamil?"


Nai tertawa sambil menepuk tangan Benji, "Ahahahahaha tuan jangan bercanda, tidur saja kita tidak bersama, kita tidak melakukan apapun, dan tuan berkata tidak akan macam macam, aku tidak akan hamil."


"Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi Nai." Benji menegaskan suaranya.


"Apa harus digugurkan? aku tidak mau, biar ku urus saja nanti anakku tuan, kan aku sudah banyak uang. hehehehe." Jawab Nai sekenanya.


"JAGA UCAPANMU, JANGAN LAGI SEDIKITPUN KAU MEMPUNYAI NIAT MENGGUGURKAN ANAKKU NANTI. Nyawa kau dan orang tuamu taruhannya."


Bukan niat, aku kan bertanya.


Benjamin kemudian masuk ke kamar, meninggalkan Nai yang masih berdiri di luar. Dia kembali ke luar dengan membawa map berisi beberapa lembar kertas, "Tandatangani ini." Perintahnya.


Nai membuka map dan hanya melihat judulnya saja. "Kontrak pernikahan?"


"Itu yang kau inginkan kan?" Tantang Benji.


"Baiklah baiklah" Tanpa fikir panjang Nai menempelkan materai diatas kertas itu. Dijilat. Lalu ditandatangani.


"Tidak kau baca dulu?" Benji tersenyum.


Nai ikut tersenyum, setelah selesai menandatanganinya, map itu langsung ia tutup dan diberikan lagi pada Benji, "Tidak perlu, aku hanya menjalankan tugasku, setaun dari sini, aku dapatkan uangku, aku bawa surat yang tuan berikan saat dibandung untuk masa depan Caca, lalu aku akan pergi. Setidaknya kehidupan Caca dan orangtuaku sudah terjamin. Itu bagiku lebih dari cukup dan aku sangat berhutang budi padamu. Jangan khawatir, aku tidak akan kabur lagi sebelum waktunya, aku mengerti aturan dan aku orang yang konsisten, aku akan melaksanakannya sebaik - baiknya." Kata Nai dengan bersemangat.


Pintar sekali. Bagus. Terkadang kau bodoh jika berurusan dengan uang. Apa kau tidak sakit hati Nai? Oh ya, aku lupa, hatimu untuk si brengsek itu, sedalam apa aku menyakitimu, tidak akan terasa, karena hatimu belum terbuka untukku. Tunggu sebentar lagi.


"Eh tuan sebentar." Nai mengingat sesuatu, dia menarik tangan Benji kemudian mereka duduk diatas tempat tidur.


"Ada apa ?" Benji keheranan.


Nai setengah berbisik, "Pinjam laptop boleh?"


Benji membalasnya dengan perlakuan serupa,"Kamar siapa yang akan kau bobol?"


"Bantu aku." Nai merengek seperti anak kecil, Benji yang gemas melihat Nai kemudian mengangguk dan membawa Nai ke meja kerjanya.


*********


"Laras ke kamarku bawakan aku buah!!" Terdengar suara dari salah satu kamar melalui telepon dapur.


"Baik nona."


Cukup lama, Laras menyiapkan beberapa buah potong lalu berjalan ke kamar si pemilik suara. Laras mengetuk pintu kemudian masuk setelah dipersilahkan. "Kamu tadi bicara dengan Nai?" Kata Arsila.


"Iya nona."


"Apa katanya??"


"Dia hanya memamerkan keberuntungannya menikahi tuan Benjamin."


"Ah dasar sombong." Ucap Arsila sambil menyuapkan potongan buah ke mulutnya. "Lalu apa lagi?"


"hanya itu nona."


"Apa dia benar dinikahi karena kak Benji menyukainya?" Tanyanya lagi.


"Sepertinya tidak, tuan Benji hanya berpura - pura saja." Ucap Laras.


Ramona yang ada dikamar itu pun langsung menanggapi, "Kamu tau darimana?"


"Tadi saya menguping saat dia bercerita dengan bi Nuni, mereka hanya menikah sementara, sepertinya agar tuan Benji bisa menguasai semua kekayaan tuan besar."


Arsila tersenyum, "Kamu yakin?"


"yang saya dengar demikian nona."


"Baiklah, apa jadinya jika aku membawa temanku yang lebih cantik dari Nai ya?sepertinya kak Benji akan tergoda. Hahahahaha."


Dia melirik Ramona, "Bagaimana menurutmu kak?"


"Lakukan saja. Menurutmu bagaimana?" Tanya Ramona pada Laras.


"Jika itu kemauan nona, tidak ada salahnya"


Makan buah selesai, Arsila menyimpan garpu sambil berkata, "Setidaknya jika kak Benji mencintai temanku, dia akan sedikit baik padaku dan keluargaku. Apalagi jika sampai dinikahi, aku bisa menyuruh temanku untuk memberikan sebagian hartanya padaku dan aku akan kaya." Harapnya. Arsila kemudian mengambil majalah disampingnya, dia membuka halaman perhalaman sambil mengamati gambar didalamnya. Majalah fashion.


"Nona itu baju bagus sekali." Kata Laras ketika Arsila cukup lama memandang foto model yang menggunakan stelan dengan merk ternama.


"Ya tapi mahal, aku harus mengumpulkan uang jajanku untuk membelinya, jadi ku tandai saja dulu di majalah ini."


"Kenapa tidak meminta pada tuan William?"


"Ah papa tidak akan membelikannya, malah aku dimarahi."


********


CLEEEEEKKKKK!!!


Nai mematikan tombol di laptop itu. "Aku tau caranya. Terimakasih tuan." Katanya sambil tersenyum.


Benji tak mengomentari apa yang direncanakan saudarinya, dia hanya menatap tajam ke arah Nai, dengan suara yang berat dia bertanya, "Kau berbicara pada bi Nuni?"


"Tuan yang lebih tau. Jangan pura - pura." Nai hanya tersenyum ketika menjawab pertanyaan itu.


"Apa yang mau kau lakukan Nai?" Tanya Benji lagi.


"Minta uang." Seringai Nai seperti anak SD yang ingin jajan telur gulung.


"Aku lupa." Benji mengambil dompetnya kemudian dia mengeluarkan kartu seukuran KTP berwarna hitam. " Ini , kartumu. Pakailah, jangan sampai tidak habis."


Ha? apa ? jangan sampai habis? atau tidak habis?


"Belanjakanlah jika tidak mau aku marah!!" Tambahnya lagi.


"Siap. Besok aku berbelanja boleh?"

__ADS_1


"Boleh. Beli semuanya. Mall dikota punyamu sekarang."


__ADS_2