Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Lupakan Tawaranku!!


__ADS_3

Sepanjang jalan Nai tersenyum. Dia diterima Bekerja mulai besok, dengan jaminan Peter akan bicara pada Benji bahwa Nai tidak masuk kualifikasi. Akhirnya, dia bisa bekerja di tanah kelahirannya. Di tengah perjalanan, handphone Nai bergetar, tanda menerima sebuah pesan.


Drrrrtttt..drrrrttttttt..


Aku membutuhkan kamu.


Tolong aku.


Nai yang sudah hampir sampai ke rumah segera kembali memutar arah dan berjalan lagi ke depan gang, terlihat mobil yang terparkir disebrang. Dia masuk mobil tanpa diperintah.


"Ada apa?"


"Nadia."


"Istrimu?"


"Dia selingkuh."


"Apa kau punya bukti? Pernikahanmu belum 2 satu bulan Dharma."


"Dia ternyata tidak setia. Ada buktinya."


"Hatiku hancur Nai!!!!! Maafkan aku. Ini karmaku." Dharma memegang pelipisnya, terlihat wajah kecewa, sakit hati, menyesal.


"Kini kamu mengeluh istrimu tak setia, sama seperti kamu tak setia padaku. Kini kamu mengadu dia menduakan cinta, seperti kamu yang menduakan cintaku? Kini kamu rasa apa yang kurasa?" Ucap Nai sembari tersenyum dan tangannya memegang bahu Dharma.


"Aku baru menyadari kamu yang setia, kamu yang benar mencintaiku. Aku tidak mau menyesal aku tidak mau terlambat. Kembalilah padaku, menikah denganku. Aku janji memperbaiki semuanya Nai, aku mohon. Beri aku 1 kesempatan lagi. Kamu percaya padaku kan ? Aku mengenalmu, aku memahamimu. Ayo kita wujudkan mimpi kita dulu Nai, aku akan menemanimu lagi. Laranglah aku, jangan suruh aku mencari wanita lain, aku akan patuhi aturanmu. Aku sadar kamu orang yang paling tulus mencintaiku. Menikahlah denganku.


"Ini bukan proses yang mudah Dharma. Pernikahanmu harus dibereskan terlebih dahulu. Belum lagi soal keluarga kita. Ah apa kamu menjadikanku pelampiasan?" Nai seperti tidak percaya ucapan Dharma, bagaimana bisa lelaki mengajak menikah wanita lain saat kecewa dengan pilihannya sendiri.


"Tidak, saat aku mengetahui semuanya, aku langsung mengingatmu, mengingat segala kesalahanku, aku baru mengerti bahwa aku masih menyayangimu. Soal pernikahan, aku yang atur semua. Kamu diam saja."


"Kamu mau kan Nai?" Tanyanya.


"Apa kamu tidak akan menyakitiku lagi?" Nai menatap Dharma, mencoba mencari kepastian yang dulu tiada jawaban.


"Tidak. Aku janji."


"Baiklah. Aku mau."


***********


Nai terkejut ketika menginjakkan kaki dirumahnya. Ayah ibunya menatap kagum. Mereka berdua seperti tidak sabar menanti Nai pulang.


"Kamu kenapa tidak bilang ke mama?"


"Apa ma?"


"Terimakasih nak, kamu bekerja keras mengumpulkan semua ini."


"Iya Nai, maafkan papa yang memaksamu kerja dan sedikit kecewa saat kamu bilang kamu berhenti kerja. Padahal kamu berhenti kerja untuk mendapatkan pencairan dana asuransi dan agar uangmu yang ditahan pihak perusahaan dikembalikan."


"Hah? Asuransi? Uang ditahan perusahaan ?"


Papa, bahkan aku kerja dikantor saja tidak. Apalagi ini.


"Si siapa yang memberitau ma?" Tanya Nai keheranan.


"Tadi bos kamu diperusahaan lama kesini. Dia memberikan uang 500 juta. Katanya uang asuransi dan sebagian besarnya uang penggantian karena ada kesalahan dari perusahaan. Bos kamu tidak bicara banyak, dia langsung pergi katanya harus ke jakarta. Dia titip surat ini, mama tidak berani membukanya. Istirahatlah. Kamu lelah nak."

__ADS_1


Ada uang aku disayang, jika soal uang aku mendadak menjadi ratu dirumah.


Nai langsung membuka surat itu.


Nai, maafkan aku. Ini adalah satu - satunya caraku membantumu. Tidak ada yang bisa aku berikan untuk mengembalikan senyummu dan mengembalikan kondisi rumahmu seperti dulu. Hanya ini. Jangan tolak pemberianku. Aku pergi 2 hari, nanti aku kembali dan menemuimu.


Jangan hilangkan senyum diwajahmu Nai. 1 hal lagi, jadilah anak yang berbakti dan menurut pada kedua orang tuamu. Mereka menyayangimu. Isi dari surat yang ditujukan untuk Nai.


"Nai. Kemarilah."


"Maafkan mama dan papa terus menyuruhmu kerja dan dipaksa menjadi tulang punggung dikeluarga ini. Maafkan papa." Ucap ayah Nai sambil mengusap punggung Nai.


"Umurmu sudah cukup untuk menikah, papa tau Dharma mendahuluimu, tidak apa - apa nak, semua sudah jalanNya. Jika kamu memang mau dan sudah siap, menikahlah. Ada yang mau menikahimu. Tunggu apa lagi? Kamu bebas sekarang, papa mama akan merintis usaha kecil - kecilan. Tidak akan papa pergunakan semuanya, ini uangmu. Entah kenapa bos mu itu memberikan uang lebih, dia memberi amanat agar papa membuat usaha."


"Itu untuk papa mama, bawa saja. Aku belum mau menikah pa. Aku mau mengurus caca, dan jika sampai nanti aku tidak menikah, tidak apa - apa." Jawab Nai sekenanya.


"Mama sudah tua, papa apalagi. Mama ingin kamu ada yang mengurus, menyayangi. Jika kamu menunda menikah, hamil diusia tua itu resikonya besar Nai, bukankah mimpimu memiliki anak kembar ? Ayo wujudkan." Tambah ibunya.


"Astaga ma, pa !!!!!! kenapa seperti ini? Sejak kakak meninggal aku mengikuti mau papa mama, aku bekerja, S2 ku gagal karena tidak ada dana, aku mengalah!!!!! Sejak kecil aku mengalah, dirumah ini aku selalu kalah oleh semuanya, oleh keadaan, oleh kakakku sendiri, boleh jika aku minta 1 hari untuk bernafas lega tanpa aturan? Bertahun - taun keluarga ini merasa menghadapi petaka karena hilang uang, sekarang uang ada dihadapan kalian, aku lagi yang harus menerima derita? Menikah. Ya menikah. Mana mungkin tidak mau? Siapa yang tidak sudi diikat dalam suatu janji didepan tuhan? Tapi aku harus memilih lelaki yang seperti apa??????? Bahkan lelaki seperti Dharma yang aku cinta dan menjalani hubungan sejak beberapa tahun lalu mampu menikah dengan orang yang bukan aku. Lelaki seperti apa? Lelaki yang bagaimana yang bisa aku percaya? Apalagi untuk rumah tangga. Bertahun - tahun, sejak kecil aku menuruti semua keinginan kalian ma, pa, meskipun tidak sesuai dengan keinginanku. Hingga saat ini. Aku masih mengikuti semua keinginan kalian. Aku berusaha setengah mati, tolong hargai. Jangan menganggap enteng semua, apalagi masalah hati. Papa dulu bilang papa menyayangiku, sekarang dengan mudah papa menyuruhku menikah dengan orang yang bahkan aku tidak ketahui." Nai yang teralu lama memendam kesakitan, memberontak. Dengan nada tinggi dia menekan semua ucapannya dihadapan orang tuanya. Bentuk penolakan terhadap semua yang dia terima dulu, kini amarahnya memuncak.


"Nai cukup. Kami ini orangtuamu. Turunkan nada bicaramu." Bentak ayahnya tak kalah tinggi.


Ibu adalah wakil Tuhan. Baiklah. Ini titik akhir dimana aku percaya bahwa Tuhan maha kuasa. Untuk besok dan seterusnya, biarkan aku melakukan segala hal haram yang sejak dulu ingin ku lakukan. Biarkan saja, paling suamiku nanti menceraikanku, menyiksaku, atau membunuhku karena perangaiku tak sesuai dengannya. Percuma aku bersujud setiap malam pada Tuhan. Percuma.


Nai menyeka air matanya.


" Bisa tolong ijinkan aku untuk menata kehidupan? Aku diterima bekerja pa, diperusahaan yang papa pinta, aku diterima bekerja disana, aku mewujudkan permintaan papa." Nai tak bisa lagi membendung tangisannya, dia mengguncang - guncang bahu ayahnya, hanya mengharap iba dan sedikit pengertian.


" Lupakan soal pekerjaan itu Nai, jika kamu punya suami, suamimu akan bertanggung jawab."


"Lupakan??????? aku yang papa suruh lupakan pekerjaan? sedangkan itu ambisi papa, didikan papa yang bicara bahwa aku harus tetap bekerja agar tidak tergantung pada suamiku kelak, seumur hidupku papa terus berbicara dan menanamkan didikan itu. Sekarang itu semua harus dilupakan?"


Nai kembali menitikan air mata. Dia mengangkat wajahnya, melihat wajah kedua orangtuanya sambil tersenyum getir.


Ibu Nai mengerti, apalagi ayahnya. Namun difikiran keduanya hanyalah menikahkan anaknya agar tidak terus - menerus mengingat Dharma.


Nai memutuskan untuk pergi. Dia berlari untuk menghirup udara segar diluar. Dia menepati ucapannya dalam hati tadi. Didatanginya tempat hiburan malam dan menenggak 2 botol minuman keras sendirian. Bertahun Nai ingin menikmati dunia yang sudah lama ia tinggalkan demi kepatuhannya pada Tuhan, tapi, Benteng keimanan Nai diuji, hal yang paling menguji adalah pernikahan perintah orangtuanya.


Nai sepertinya tak kuat minum namun ia memaksakan, sama seperti rasa mual yang terus bertambah ketika Nai menenggak lagi minuman keras itu. Nai duduk di kursi paling sudut, baginya, sudut ruangan adalah tempat paling aman.


"Siapa yang menemanimu?" Tanya seorang pria yang didalam surat mengatakan bahwa ia sedang pergi ke Jakarta. Hanya dusta.


"Hai tuan." Nai melihat tuannya, matanya masih bengkak, bahkan ada air mata yang menyisa.


"Siapa yang menemanimu?" Ulang Benji.


"Ah tidak ada."


"Baiklah, itu artinya; aku." Benji duduk tanpa dipersilahkan.


"Kenapa tuan memberikan uang sebanyak itu?" Nai memulai percakapan.


"Karena aku ingin membantumu."


"Bagaimana aku membayarnya?"


"Aku tidak meminta dibayar."


"Tapi aku merasa mempunyai hutang!"

__ADS_1


"Itu hanya perasaanmu. Aku mendapatkan keuntungan banyak dari perusahaan baruku. Boleh jika aku berbagi sedikit rejeki untuk ayahmu kan?"


"Yayayayaya. Aku kebingungan ketika papa bicara tentang uang itu. Ngomong - ngomong, terimakasih telah ikut berbohong untuk menyelamatkanku."


"Menyelamatkanmu? Aku tidak menyelamatkanmu."


"Lalu?"


"Aku menyelamatkan diriku dan perasaanku. Aku tak mau kau bersedih, menanggung beban sendiri. Tangismu tangisku, dukamu dukaku, tak pernah sedikitpun terbesit dikepalaku untuk melihat kau menangis seorang diri. Hanya itu yang bisa ku bantu."


Nai hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Jadi jangan bilang aku menyelamatkanmu, aku tidak menyelamatkanmu." Pungkas Benji


"Lalu apa yang menjadi deritamu lagi hingga kau ada disini?"


"Tuan kenapa disini?"


"Menghabiskan waktu, aku baru kembali dari jakarta. Tidak jadi 2 hari. Mau turun?"


"Ya. Mau."


Mereka turun, Nai dibawah kendali alkohol bergoyang menikmati irama musik ditengah gemerlapnya dunia malam. Benji bukannya senang, dia iba melihat Nai hampir tak sadarkan diri. Untung segera ia temukan, jika tidak, entah bagaimana, ketika Nai mabuk semua bisa terjadi.


Sepertinya Nai sudah tak sanggup menopang kakinya sendiri, ia terhenti kemudian memeluk Benji, Benji yang sigap segera menahan badan Nai dan memapahnya keluar.


UWEEEEEEEEKKKKKK...


Nai memuntahkan isi perutnya kedua kali dihadapan Benji. Tak habis akal, Benji memberikan susu yang ia beli diperjalanan mengikuti Nai tadi, Muntah Nai semakin menjadi, namun Nai masih membuka mata, tanda bahwa dia masih sadarkan diri. Segera Benji memapah Nai masuk mobil yang terparkir tak jauh dari pintu masuk. Dan segera melaju.


"Kau puas Nai? Kau kenapa? Ceritakan."


"Tuan.. masih tuan tanya kenapa aku ini? AKU YANG HARUS BERTANYA PADAMU APA MAKSUDMU ? APA MAUMU? MENIKAH ? HANYA MENIKAH UNTUK MENEMANIMU, MEMBANTUMU MENCARI WANITA YANG COCOK DENGANMU LALU BERCERAI? SEMUA INI TUAN LAKUKAN HANYA KARENA TUAN TIDAK MAU DIJODOHKAN? KONYOL. TUAN TERALU TOLOL UNTUK MELAKUKAN SEMUA INI. TUAN TAU KELUARGAKU MEMBUTUHKAN UANG LALU TUAN MENGAMBIL KESEMPATAN INI? BERILAH SEMUA KESEMPATAN PADA KELUARGAKU, TAPI JANGAN HALANGI KESEMPATANKU, JANGAN HALANGI NAFASKU, JANGAN HALANGI KEBEBASANKU TUAN AKU MOHON. KENAPA HIDUPKU SIAL SEPERTI INI KENAPA????" Dibawah pengaruh Alkohol, Nai lantang membentak tuannya.


"Aku mencin.. Nai sadarlah Nai. Aku membantumu aku membantu keluargamu."


"Kau membeliku, dan orangtuaku yang gelap mata oleh uang menjualku. ITU KENYATAANNYA."


"Nai kenapa kau tidak mau mencoba ?"


"KENAPA KAU MELAKUKAN SEGALA CARA?"


"Nai, kenapa kau tidak sadar Dharma menyakitimu, dia meninggalkanmu.. sadarlah."


"Ya orang baik seperti dia saja meninggalkanku, apalagi kau."


"Nai, bisakah kau mencoba membuka mata, membuka hati, lihat sekelilingmu, banyak yang menyukaimu Nai."


"BISAKAH KAU MEMBERIKAN WAKTU UNTUKKU MENYEMBUHKAN HATIKU? AKU BISA MENGOBATI HATI INI SENDIRI. TAK USAH KHAWATIR, PERIHAL SAKIT - SESAKIT SAKITNYA, AKU BUKAN AMATIR. Tapi tolong tuan tolong aku mohon, aku mohon padamu tuan aku tidak mau menikah. Aku mohon."


"Nai,"


"Hentikan tangismu Nayanika!!" Benji membentak Nai, sesaat Nai terkejut kemudian menatap wajah Benji yang merah padam. Nafasnya kasar, dia menepikan mobilnya, Benji keluar dan menarik Nai untuk ikut keluar juga.


"Kejarlah apa keinginanmu. Lupakan tawaranku. Obesimu pada pria brengsek itu teralu tinggi. Kau akan membutuhkanku dan menemuiku Nai." Ucapan terakhir. Benjamin pergi meninggalkan Nai ditengah jalan. Tak ada lagi kekhawatiran yang terlihat, Benji Benar - benar marah. Dia memacu kencang mobilnya, menuju rumah Nai.


**************


Nai berjalan menyusuri gelapnya malam. Hanya ketenangan yang saat ini dia harapkan, bukan cinta yang baru, menata kehidupan dengan membenahi perasaan yang terbukti salah sasaran sepertinya lebih menggiurkan dibanding menerima tawaran dari si tuan tampan.

__ADS_1


Nai melangkahkan kaki, kali ini hatinya mantap, menuju kontrakan seseorang yang dia kenal sejak dulu, Shilya namanya. Seseorang yang pernah membantu Nai saat berjualan keripik.


Semoga saja dia belum pindah, aku ingin meminjam baju untuk besok, dan semoga sama malam ini aku diijinkan tidur ditempatnya.


__ADS_2