Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Sedikit tentang Nai.


__ADS_3

"Tuan akan mendengarkanku kan?"


"Tentu."


Nai menarik nafas, pandangannya kini diarahkan lurus tak bertujuan. "Aku anak ke dua dari 2 bersaudara. Kakakku, Mahisa Jiwangga. Anak pertama yang sangat diinginkan dan ditunggu kehadirannya oleh kedua orang tuaku. Berbeda denganku, bahkan papa tidak berharap aku menjadi wanita. Dia inginnya anak lelaki."


"Dengan hidup pas - pasan dan segala perbedaan yang aku rasa; aku dapatkan. kakakku tumbuh menjadi wanita pintar, berpotensi, dipuja karena kecantikannya, kepintarannya, memiliki tubuh ideal, normal, sehat, banyak teman, sedangkan aku? Kebalikannya." Nai seperti mulai menggali lagi ingatan pedih masa lalunya.


"Mungkin itu semua akan terampuni ketika aku sama pintar, namun saat itu bagiku roda tidak berputar, aku jatuh dalam semua nilai. Sedangkan kedua orangtuaku mengedepankan angka dalam segala hal. Aku terasing. Bukan, bukan mereka yang mengasingkanku sejak kecil, tapi diriku sendiri."


"Kakakku selalu mendapat baju baru, sedangkan aku? Baju bekas kakakku. Tuan tau? Pernah suatu hari aku ingin mukena, mama janji membelikanku mukena lucu itu, berwarna ungu. Namun kakakku marah karena dia ingin yang baru, akhirnya aku yang mengalah, dia dibelikan baru dan aku menggunakan bekas kakaku, sama warnanya, ungu."


"Tak berhenti sampai disitu, ternyata kakakku tidak mau memberikan mukenanya, dia cemberut, tengah malam dibalik selimut aku mengguncang tubuhnya untuk meminta maaf, namun dia menendangku. Aku kesakitan, aku tersungkur membentur lemari. Kuputuskan untuk membangunkan mama, menceritakan semua.


Mama datang dan bertanya sewajarnya pada kakakku, namun kakakku tidak mengakuinya. Alhasil, aku yang dimarahi habis-habisan karenanya. Aku dituduh berbohong. Dan tuan tau? Papa ku sangat membenci pembohong, aku dipukul, papa bilang itu cara mendidikku. Yang tak pernah kulupa, hingga nanti aku tua. Padahal kakakku jelas tau, yang berbohong ; siapa?"


Benji menatap Nai yang masih melihat ke arah depan, dirangkulnya wanita disampingnya itu, seolah memberi dukungan, kekuatan, atau sekedar isyarat " kau aman disini."


"Aku melihat mama menjahit, pada saat itu mungkin umurku sekitar 9 tahun lebih sedikit, aku mencoba mengikutinya dan bisa. Sebulan setelah itu aku setiap hari membuat baju barbie. Aku menggambarnya dulu kemudian menggunting kainnya sendiri."


"Kau anak hukum yang berpotensi menjadi designer Nai." Benji mencoba menghiburnya.


"Hari demi hari aku lalui, tak pernah sedikitpun merasa sedih, yang aku tau hanyalah aku harus membuat bangga mama papa, aku harus mengalahkan kakakku, dengan apapun caranya. Sedikit demi sedikit aku menjual hasil karya kecilku, aku menjualnya pada teman yang juga menyukai barbie."


"Menginjak smp, aku masih tetap seperti ini, tidak ada yang berubah. Yang ku ingat kelas 3 aku mulai bernyanyi, aku bangga bisa mendapatkan uang sendiri, namun lagi - lagi. Papa membenci. Semua baju nyanyi yang kubuat susah payah dengan mudah dia enyah."

__ADS_1


"Bertahun Aku tak mendengar apalagi menurut, yang ku fikirkan adalah dengan cara mendapatkan uang, aku dapat membuat bangga orang tuaku. Tapi tetap saja semua usahaku tak dihargai, karena bagi mereka yang paling penting itu prestasi."


"Setiap hari yang paling ku ingat adalah aku harus berjalan jauh sekali untuk mengambil keripik. Setelah itu ku jual disekolah dengan harga 2x lipat. Pulang sekolah kadang aku menjadi buruh cuci dirumah teman - temanku. Aku malu, tapi aku butuh uang. Kadang mereka yang menyuruhku mencuci bersikap baik saat aku dirumahnya, namun saat disekolah, mereka selalu membicarakanku. Aku malu. Aku ingin seperti yang lain, bermain, minum kopi ditempat bagus, memakai sepatu baru, memakai tas baru, jajan disekolah." Kini Nai tersenyum, sekilas melihat ke arah Benji lalu menunduk.


"Saat aku menginjak kelas 2 Sma, aku dapat kabar dia ( mahisa) ternyata sudah mengandung, entah, karena faktanya pada saat mengetahui, dia jelas belum menikah. Terbayang bagaimana hancurnya papa dan mama. Seolah dikhianati kepercayaan dan kasih sayangnya selama ini. Kakakku menjalani hari - hari dengan murung, aku yang sejak dulu ingin sekali saja melihatnya bernasib sepertiku, nampaknya Tuhan kabulkan. Dia sedikit dididik oleh papa. Namun anak kesayangan tetaplah anak kesayangan, kakakku tak dipukul papa seperti papa memukulku saat aku cat rambut, padahal menurutku sih lebih fatal hamil. Lagi lagi aku kecewa."


"Akhirnya papa putuskan untuk menikahkan kakakku dengan lelaki yang sepantasnya bertanggung jawab atas perbuatannya, tepatnya 5 bulan, kakakku dan suaminya tinggal dirumah itu, Namun dengan ujian - ujian yang menyakitkan ; dari papa."


"Papa sangat membenci suami kakakku, mungkin papa merasa seperti dirampas sesuatu berharga miliknya. Aku tau memang iya, namun bukankah jodoh milik yang kuasa ?mengapa tidak menerima takdir ?"


"Akupun melihat itu sangat sakit, bagaimana tidak ? Setiap hari kakak iparku diceramahi, dimarahi, papa benar - benar murka, sedangkan kakakku sedang hamil, bagaimana mentalnya? Papa tidak menyadari itu. Apalagi kesalahannya."


"Perlu diketahui bahwa jika teralu sadis mengekang anak, anak itu akan mencari celah untuk mendapatkan zona nyaman, kakakku yang ku fikir baik ternyata dibelakang bermain licik. Bukan salah kakakku, salah papa yang mengekang seperti mencekik."


"Semua berlanjut, kakakku kembali mendapatkan kepercayaan papa dengan berbagai cara. Dia merayu papa untuk menguasai uang pesangon kerja papa. Ratusan juta. Kakakku berbohong, dia bilang dia bekerja di Bank, padahal dia menjajal peruntungan di dunia saham online yang diragukan keabsahannya."


"Uangnya habis?"


"Tentu tuan. Itu satu - satunya simpanan keluargaku. Seperti ditusuk jantung, papa menjerit histeris mendengarnya. Namun kita tidak bisa berbuat apa- apa."


"Karena?" Sekarang Benji penasaran.


"Karena kakak saat itu sakit parah. Entahlah, sakitnya pun tak diketahui hingga mautnya mendatangi."


"Sejak kakak sakit semua berubah, rumah untuk berteduh bagai neraka, semua dikuasai amarah, kekurangan, tak jarang aku berhari - hari menahan lapar hanya untuk memastikan papa mama caca dan kakakku makan. Saat itu keadaan semakin sulit, ditengah ketidakberdayaan aku menjerit, mengutuk semesta yang terlampau rumit. Seolah Tuhan memberikan aku pilihan, seolah takdirku adalah aku yang tentukan. Dan ketika gagal, aku lagi yang menyesal kemudian."

__ADS_1


"Kesialan demi kesialan tak henti mengunjungiku. Benar kata leluhur, mungkin aku hidup kurang mujur. Tapi kalaupun aku harus memilih, apa yang harus kupilih? Jalan hidup mana yang harus ku raih? Bukankah jauh 50 ribu tahun sebelum aku dilahirkan, takdirku sudah Tuhan tentukan ?"


"Lagi - lagi, aku menjalani hidupku seperti terhimpit, harus melamar pekerjaan, menjalani pekerjaan yang ada, mengurus caca, mendengarkan keluhan dan tangisan mama papa yang ceracaunya tak henti. Tidak mujur lagi, aku selalu tidak diterima ketika melamar kerja, padahal IPK ku tinggi. Aku tau, karena aku tidak pernah mengikuti organisasi, tapi bagaimana aku mengikutinya, setiap hari aku berjibaku bekerja untuk menyambung hidup, tak ada waktu luang, semua hanya tentang bekerja dan uang. Terasa sekarang, beroganisasi itu penting."


"Akupun tak pernah ikut organisasi Nai."


"Tapi tuan terlahir dari akar yang kaya. Aku dari akar serabut tuan. Hehe. Naas."


"Nai, semua akan berakhir, kesedihanmu, kesusahanmu, semua ada akhirnya..percayalah."


"Hmmmm.. iya tuan. Semua ada akhirnya. Termasuk hidupku."


"Sssssttttt Nai, diamlaaaah!"


"Nai kau ingat aku pernah berkata sesuatu?"


"Apa?"


"Jika tuhan yang berkehendak, bahkan rumah ini jadi milikmu. Benar kan? Sekarang terbukti."


"Bolehkah aku bertanya sedikit?" Tambah Benji.


"Tentu."


"Jadi uang orangtuamu hilang, bukan karena kelakuanmu? lalu kau bekerja hingga jadi pembantu dan penyanyi malam hanya untuk mengganti semua uang itu?"

__ADS_1


"Bukan tuan, aku minta sepuluh ribu untuk tugas saja aku disangka menipu, mungkin karena dandanku yang kurang meyakinkan." Nai tersenyum. " Aku terlanjur janji padanya."


"Janji apa?pada siapa??"


__ADS_2