
Keesokan harinya Nai bangun dengan kondisi kurang enak badan karena aksi demo dan huru - hara yang dia lakukan tadi malam, seorang diri. Dia melihat dihadapannya ada sebungkus makanan cepat saji dan beberapa macam obat. Diambil dan dilihatnya obat itu.
Ini obat anti sakit dan obat penurun panas. pasti bapak yang tadi malam yang memberikan. Wah.. ini ayam tepung kesukaanku. Kenapa dia baik sekali ? dan kenapa dia tau semuanya?
Tanpa fikir panjang Nai pun menyantap ayam dan nasi yang tersaji didepannya. Suasana sepi. Dia pun keheranan kenapa hanya dia yang ada diruangan itu. Dia pun tidak mendengar suara tahanan lain. Namun hal tersebut dia abaikan kemudian kembali menghabiskan makanan didepannya. Tak lupa meminum obat.
Tak lama berselang, terdengar suara hak sepatu yang berjalan seperti sedikit berlari, dia berbincang dengan penjaga didepan kemudian berjalan lagi semakin mendekat. Bunyi hak sepatu yang menekan lantai bergantian disusul dengan bunyi gentringan kunci. Nai pun tetap acuh.
"Hai!!!!!" sapa si pemilik suara. Nyaring, nyaman, menyejukkan.
Dengan tatapan nanar Nai melihat wanita yang riang gembira sembari menenteng kunci di tangannya.
" Ready to home sweety?" Serunya.
Nai hanya melongo tak percaya.
"Tenang, kondisi sudah aman terkendali. Tentu, dibawah kendaliku. Kupastikan hanya 3 hari kamu tidur di lantai. ah aku lupa, Aku bawakan cemilan. Makanlah dulu, untuk mengganjal perut." Ucapnya sambil memberikan kantong plastik berisi gorengan kesukaan Nai.
Sambil mulutnya dipenuhi tempe goreng yang dibawakan sahabatnya itu, Nai pun bertanya.
" Bagaimana caranya? apa semua sudah terbukti?"
"Tentu. Aku sudah memiliki bukti bahwa kamu tidak bersalah. Memang sedikit sulit, untungnya aku masih punya tabungan untuk memperlancar ini semua dan juga teman - temanku yang membantuku. Dan lagi apa kamu lupa? Yang berkuasa dikota ini bukan hanya majikanmu itu. Mungkin mereka belun tau bahwa akupun mampu berkuasa jika aku mau.Cepatlah ganti pakaianmu, ayo kita keluar dari tempat ini." Seru wanita itu bersemangat.
Dia membusungkan dada tanda menyombongkan diri. Namun Nai melihat ada sedikit kesedihan dimata temannya.
Ada apa? Baiknya nanti kutanyakan saja lah.
Kedua wanita inipun kini berada diluar gerbang dimana Nai ditahan. Mereka berjalan menuju parkiran untuk segera memasuki mobil. Namun mata Nai terpaku melihat sesosok lelaki bijak yang tadi malam menasihatinya. Masih menggunakan seragam rapi yang sama, sedang bercengkrama dengan beberapa orang sebayanya yang berseragam sama pula. Disebrang jalan. Sontak Nai menghentikan langkahnya kemudian menatap dalam pria paruh baya tersebut. Betapa terharunya Nai mengingat kejadian tadi malam.
"Ayoo..mau pulang atau masih betah? kalau masih betah masuk lagi aja nih. " Sindir wanita cantik disamping Nai.
" Sebentar. Aku kesitu dulu." Tanpa menunggu jawaban, Nai pun berlari menyebrang jalan menghampiri bapak itu.
Secara kebetulan bapak itu melihat Nai dan dia langsung mengerti. Diapun berjalan kearah Nai.
" Pak.. saya pamit." Nai mengulurkan tangan kemudian mencium tangan bapak tersebut."
"Maha besar Tuhan yang telah mengabulkan doamu untuk keluar dari tempat itu. Pergilah nak, masih panjang jalanmu. Ingat pesan saya, selalu rendah hati. Suatu hari semua akan berubah posisi, ketika kamu diatas, bantulah siapapun dihadapanmu tanpa memandang bulu. Ucapnya sambil melihat ke sebrang jalan ke arah teman Nai sembari tersenyum.
" baik pak." Nai menyeka air matanya. Sosok dihadapannya sangat bijak. Mengingatkan ia kepada ayahnya.
__ADS_1
Kini kedua sahabat tersebut berada didalam mobil yang berlalu kencang.
*****
Seminggu berlalu sejak pak Wijaya tergeletak tak berdaya, kini keadaannya sudah mulai membaik meskipun tetap harus dirawat dirumah sakit hingga dinyatakan sembuh total.
Bhramsy larut dalam kesibukannya. Bukan tidak mau menengok Nai lagi, namun sejak dia diketahui menengok Nai malam - malam, Benji benar - benar marah dan memperingatkan agar Bhramsy tidak menjenguk Nai lagi. Ditambah, Benji melimpahkan semua pekerjaan kepadanya. Tak seharipun Nai luput dalam ingatan Bhramsy. Masih memutar otak bagaimana membebaskan Nai secepatnya, banyak pekerjaan Bhramsy yang kacau. Sejak kejadian naas itu, Bhramsy tidak masuk kuliah. dia hanya mengerjakan tugas secara online.
Hujan turun begitu deras. Bhramsy sedang sibuk mencari buku catatan kuliah, ketika dia menarik sebuah buku, sepucuk surat terjatuh dikakinya.
"Kamu tau siapa aku, kamu tau bagaimana aku benar benar merasa terpenjara meskipun tidak berada dibalik jeruji besi. Aku tidak memiliki alasan lain, karena bukti menunjukan akulah yang membuat tuan besar masuk rumah sakit. Jika kamu membaca surat ini, aku mohon cek cctv ruang tengah dan dapur. Aku mohon.
Duuuaaaarrrrrr..
Bersamaan dengan gelegarnya petir, Bhramsy menyadari kebodohannya. Mengapa dia tidak sampai berfikir bahwa disetiap sudut rumah megahnya tertanam Cctv. Segera dia pergi ke kamar untuk melihat kejadian minggu lalu.
Dengan nafas kasar dan tangan yang bergetar menahan amarah, Bhramsy menembus hujan, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor polisi membawa bukti yang dia miliki. Namun hasilnya nihil.
Nai telah lepas dari tuduhan karena ada seseorang yang memberikan bukti rekaman CCTV tersebut.
"Bagaimana bisa pak? Keluarga saya yang membuat laporan, sekarang Nai dilepaskan sudah 4 hari yang lalu tanpa persetujuan
kami dan bahkan kami tidak diberitahu ?" Ungkapnya kesal.
"Jadi kakakku yang mengeluarkan Nai??"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
Bhramsy bingung. Apakah dia harus bahagia karena Nai sudah tidak ditahan ataukah dia harus menangis karena tidak mengetahui dimana kini keberadaan nai. Dia kemudian menelepon kakaknya untuk memberitahukan kabar yang dia dapatkan.
Benjamin geram saat mengetahui Nai sudah keluar dari penjara 4 hari lalu. Kini dia bingung dimana harus menemukan Nai.
Bagaimana dengan Nai? Sejak keluar dari kantor polisi, dia hilang tanpa jejak pula. Yayasan, menjadi satu satunya hal yang Benji tau, namun setelah didatangi, pemilik yayasan pun tidak mengetahui dimana Nai.
Di dalam mobil kakak beradik ini hanya menatap lurus, Benji berkata, " Awal Nai kerumah, kamu pernah mengantarkan Nai kerumahnya kan?" tanya Benji berharap ada titik terang.
" Hanya sampai gang kak. Nai tidak membawaku kerumahnya. Sudahlah aku hafal gang kecilnya. Masih sedikit jauh dari sini. nanti sesampainya disana kita bertanya saja pada orang sekitar."
Alamat Nai pun dia datangi, naasnya hujan turun. Tidak ada seorangpun tetangga yang keluar rumah. Mereka berteduh didalam pos kamling. Di tengah hujan, ada seekor kucing yang tak asing bagi Benji, sepertinya itu kucing yang pernah ia temui saat mengejar Jameela.
__ADS_1
Ini kan kucing itu? Aku pernah membaca informasi bahwa kucing bisa menunjukan jalan.
Menembus hujan Benji kembali memasuki mobilnya dan mengambil beberapa makanan kucing yang sengaja dia beli. Dengan cepat Benji kembali dan memberikan makan pada kucing itu.
" Hai kucing, Apa kau mengenali Naipah?" Ucapnya pada seekor kucing.
Ini maumu menjebloskan Nai kepenjara, sekarang kau bicara dengan kucing seperti orang frustasi. Bhramsy
" Ayo makan yang banyak. Setelah itu tunjukan padaku dimana Nai." Penuh harap si kucing menunjukan jalan, Benji memberikan makanan terus - menerus kepada kucing itu. Berharap kucing itu mengerti maksudnya. Dan si kucingpun lahap sekali, dia memakan habis apa yang diberikan Benji, maklum saja, seekor kucing kampung diberi makanan yang cukup mahal, terlebih tidak setiap hari kucing itu memakan makanan mahal tersebut.
Entah kebetulan atau memang nasib sedang mujur. Hujan berhenti dan seketika cuaca panas mulai mendekati.
Apa kubilang, kucing ini bisa diandalkan. Lihat saja, setelah dia kenyang, cuaca sepeti tiba - tiba mendukung.
Benji yang bersemangat dengan sabar menunggu sang kucing makan, tak berapa lama, sang kucing kemudian berjalan meninggalkan Benji dan Bhramsy.
" Ayo ikuti !!!!!" Perintah Benji pada adiknya. Bhramsy yang kebingungan terpaksa mengikuti Benji karena kakaknya itu sudah duluan mengikuti jalan si kucing.
Ya disekolahkan tinggi berada jauh diseberang negeri pun dilakukan oleh papi, namun sepertinya tidak membuatmu menjadi orang yang pintar kak. Bhramsy bergumam dalam hatinya.
"Ya Tuhaaaaaaaaan!!!!" Benji terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan memamerkan wajah yang sudah putus asa.
"Ada apa kak?" Bhramsy mempercepat langkahnya. Nampak kucing tadi tiba - tiba merebahkan badannya dipinggir jalan. Sepertinya kucing itu kekenyangan. Bhramsy hanya memalingkan wajah karena tak sanggup menahan tawanya.
"Aku menyarankan bertanya pada warga sekitar. bukan kucing sekitar!!!"
Dengan putus asa Benji duduk disamping kucing itu. Terlihat sesekali dia mengelus dan kembali mengajak berbincang. Sedangkan Bhramsy berlari seperti sedang mengejar seseorang. Benji yang melihatnya kemudian menyusul berlari. Ternyata Bhramsy melihat ada orang keluar dari gang rumah Nai, mengambil kesempatan kemudian Bhramsy menanyakan keberadaan Mai.
" oh si Nai, pindah beberapa hari lalu dari sini, gatau deh kemana." Kata wanita paruh baya itu.
" Oh begitu, terimakasih bu." Bhramsy kemudian menatap marah pada kakaknya. Dia kemudian berjalan masuk mobil tanpa menghiraukan Benji. Benji yang juga mendengar ucapan ibu tersebut merasa benar - benar tidak tau lagi harus bagaimana.
*********
Benjamin menepikan mobilnya di sebuah taman. Hujan kembali turun deras beberapa waktu setelah mereka melaju. Meski hujan tak kunjung reda Benji tetap keluar mobil dan duduk diatas mobilnya, sembari meneteskan airmata.
Bodohnya aku memberi hukuman seperti ini. Maafkan aku. Aku ingin menjelaskan semua. kamu dimana Nai?
1 Jam lebih Benji menghujani dirinya sendiri. Bhramsy merasa iba, dia tau kakaknya merasa bersalah, dan sama seperti dirinya. Kebingungan. Dia kemudian menyusul kakaknya yang berada diluar.
"Masuklah, nanti kakak sakit. Ayo kita fikirkan caranya bagaimana mencari Nai." Sembari menepuk pundak kakaknya.
__ADS_1
kakak beradik itu terlihat akur. Tidak ada Benji si pemarah begitupun Bhramsy yang jail. Mereka kini ada dalam 1 rasa. Kehilangan.