
Pagi ini Nai berwajah ceria. Polesan bedak dan blush menambah aura kecantikannya. Dia akan interview di salah satu perusahaan baru dikota Bandung. Nai sudah menyiapkan semuanya, tak lupa ia memakai parfum kesukaan pemberian tuannya yang masih tersisa.
Nai menuju perusahaan itu menggunakan ojek online. Apalagi? Nai yang sejak kecil tidak bisa menggunakan sepeda, merasa takut jika harus menggunakan motor, padahal dirumah ada motor tua milik ayahnya.
Sesampainya disana, Nai celingukan sendiri, sepertinya dia datang lebih awal dari peserta yang lainnya. Memberanikan diri Nai mendatangi resepsionist di meja depan.
"Permisi, maaf mbak, saya mau interview, disebelah mana yah? Saya kemarin di telepon untuk bertemu pak Peter." Tanya Nai dengan ramah.
" Oh langsung naik ke atas saja mbak, ke lantai 18, diatas ada satpam juga, boleh nanti ditanya ke satpam didalam." Ucap resepsionist itu tak kalah ramah.
Nai kemudian mengangguk, setelah mengucapkan terimakasih, dia masuk ke lift yang kebetulan kosong. Nai menekan angka 18 kemudian berdiri menunggu dengan tidak sabar.
Namun di lantai 2 pintu terbuka. Seorang pria tampan, jika dilihat mungkin umurnya diatas Benji sedikit, wajahnya seperti bukan asli orang Indonesia. Pria itu memasuki lift dengan berkas yang menumpuk di tangan kanannya dan banyak buku ditangan kirinya.
Pria itu tersenyum, raut wajah baik terlihat diwajahnya. Yang dia berikan senyum asli menurut Nai. Pria tersebut melihat deretan angka disamping pintu lift namun tak menekannya. Dapat dipastikan dia naik ke lantai yang sama dengan Nai.
Tak berselang lama, terdengar bunyi ponsel di saku jas pria itu, entah karena sedang melamun, pria itu tak sadar melepaskan buku ditangannya disusul dengan cepat mengambil ponsel disakunya.
BRUUUUUUKKKKKK
Buku yang dia pegang jatuh. Nai kaget segera berjongkok dan membantu membereskan bukunya. Nai terpaku pada sebuah buku yang dicover depannya tertulis CRIMINOLOGY. Buku tersebut adalah buku familiar yang membuat Nai pusing 7 keliling saat harus menerjemahkannya, waktu kuliah dulu. Buku yang sampai saat ini masih dia inginkan dan sampai saat inipun belum sanggup nai beli.
Nai menatap buku itu beberapa detik dengan mengusap bagian depannya. Ada segaris senyum di bibirnya itu mengenang masa kuliah, dimana dia benar - benar merasa sibuk yang berilmu. Bukan sibuk kaleng - kaleng.
Nai tersadar, dengan segera dia menyimpan buku itu pada tumpukan buku lainnya, dia bangun dari jongkoknya dan memberikan buku itu pada pria dihadapannya. Pria tersebut tersenyum menatap dalam pada mata nai. Kemudian mengangguk.
"Dank ye, Wat is uw naam?" Tanya nya.
Mati ! Bahasa londo. lift segera naiklah!!!!!!! bukan aku tidak bisa, lebih tepatnya pas - pasan! pas ditanya pas tak bisa menjawab. astagaaaa.
Namun pria itu terus saja bertanya pada Nai. Sebisa Nai menjawab meskipun banyak terbata - bata dengan tidak bisa membedakan kata biasa atau kata dalam kalimat. Harap maklum, kursus bahasanya tidak serius.
Tiiiiiing.
Lift pun akhirnya berhenti di lantai 18. Nai tetap berdiri dibelakang untuk menghargai orang yang ada didepannya, namun orang itu malah berbalik dan menyuruh Nai lebih dulu. Tanpa fikir panjang Nai mengangguk dan tersenyum kemudian belari kecil keluar lift.
Pria itu mempercepat langkahnya menyusul Nai.
"Sepertinya kamu ketakutan. Hehehehehe bahasa belandamu cukup lumayan, hanya kurang percaya diri."
Astaga, kenapa tidak menggunakan bahasa Indonesia saja dari tadi?
"Saya Peter, siapa namamu?"
"Nayanika." Singkat.
Ini kan yang harus kutemui, astaga makin runyam.
"Nama yang indah. kamu akan interview hari ini kan? Semoga beruntung." Ucap Peter ketika mereka berdua sampai depan pintu yang berdiri didepannya beberapa orang satpam.
Ya, ruangan dalam ruangan, pintu dalam ruangan, satpam dalam ruangan, siapa yang memiliki ide untuk ini semua. Sangat bagus. Tapi memusingkan.
"Masuklah, kamu tidak perlu diperiksa satpam, saya sudah memastikan kamu wanita baik." Seru Peter bersamaan dengan satpam yang membukakan pintu. Nai masuk dan melihat ternyata banyak sekali yang sudah menunggu untuk interview. Dia terakhir. Sehabis memberikan senyuman sebagai tanda permisi, Peter masuk ke ruangannya. Ruangan tempat dimana Nai akan interview kerja.
Sorot mata tak nyaman dari para peserta yang duduk berderet. Mungkin mereka mengira Nai sudah kenal dengan Peter. Membuat hampir sebagian orang olahraga jantung, memupuskan sedikit harapan untuk diterima bekerja diperusahaan ini.
Beberapa menatap sinis, bahkan ada yang membicarakan sambil menatap Nai. Nai hanya tertunduk setelah mengetahuinya.
"NAYANIKA." Ucap Peter sambil berdiri didepan ruangannya dengan map yang dipastikan berisi berkas yang nai kirimkan. Kini Nai yang olahraga jantung. Belum sempat meredam kekesalannya ditatap sinis, kini dia harus kembali jadi bahan pembicaraan karena datang terakhir namun dipanggil duluan.
__ADS_1
"Masuklah." Ucap Peter sambil tersenyum.
Nai berdiri kemudian dengan sopan memasuki ruangan.
"Duduklah. Nayanika Ezra Jameela. Saya mau memanggil Jame, bagaimana ? Unik kan."
"Boleh pak." Nai tersenyum.
"Baiklah, Jame, ada yang mau kamu jelaskan tentang kriminologi? Ah lebih tepatnya buku yang tadi kamu pegang, beberapa detik sebelum dikembalikan."
Nai tersenyum, kemudian mengangguk.
"Baik pak Peter, terimakasih sebelumnya atas pertanyaannya, itu adalah buku dimana saat saya kuliah, saya harus menerjemahkan kemudian mempelajarinya."
"Kenapa kamu mau mempelajarinya?"
"Karena saya tertarik."
"Apa yang membuat kamu tertarik pada Kriminologi. Coba jelaskan."
"Menurut beberapa ahli, Kriminologi merupakan ilmu yang mempelajari gejala kejahatan seluas - luasnya, hal yang membuat menarik adalah dari ilmu tersebut, saya bisa memahami, mengapa orang bisa berbuat jahat, kebanyakan orang menganggap kejahatan yang dilakukan sebagian besar oleh orang yang kurang baik, namun dari ilmu ini, saya sedikit demi sedikit mengerti bahwa ada kalanya orang baik pun melakukan kejahatan, entah karena tekanan, tidak adanya akses untuk mencapai keinginan, atau malah pengaruh lingkungan."
"Begitu alasan kamu mempelajarinya?"
"Iya Pak."
"Kamu juga menarik, apa saya harus mempelajari isi kepalamu juga, Jame?"
"Itu hak bapak sepenuhnya." Senyum Nai.
Peter pun terpaku melihat senyum Nai. Dia menjadi salah tingkah kala mereka beradu pandang. Tak dipungkiri Nai adalah gadis sederhana, namun aura cantik dan menariknya sangat istimewa.
"Baik, cukup. Tunggu hingga semua peserta selesai di interview dan hasilnya akan keluar hari ini. Didepan ada coffe break khusus untuk peserta, tunggulah disana, kamu bisa bersantai."
"Baik pak." Nai menganggukan kepala lalu keluar dari ruangan itu.
Saat keluar ruangan, Nai menikmati lagi tatapan sinis. Dia menarik nafas panjang ketika seseorang didekat pintu ruangan Peter bergumam pelan namun terdengar.
" Susah kalau melawan orang yang memiliki koneksi dengan orang dalam, saya yang menunggu sejak lama, dia yang lebih dulu dipanggil." Sindirnya.
" Hak penuh saya sebagai orang yang akan menginterview kalian. Siapa duluan, bagaimana pertanyaannya, semua hak saya, jadi jangan buat kekacauan dengan ucapan - ucapan pelan anda yang jelas terdengar. " Jawab Peter tegas sambil membuka pintu. Sepertinya Peter mengikuti saat Nai keluar.
Suasana hening, pelamar lainnya menunduk takut. Nai beranjak pergi karena tidak mau melihat kejadian itu. Dia menuruti perintah Peter, Nai menyeduh segelas kopi instan kemudian mengambil beberapa camilan.
Kue sus!!!!!!! ini enak sekali. Sayang tempat orang lain, aku harus tau diri. Tadinya aku mau ambil 10. Tapi 1 sajalah. Ah,, ini pie buah, ini tart mini, ini red velvet, enak sekali. Jika semua perusahaan seperti ini, tidak diterima pun tidak apa - apa, yang penting interview dan makan kue gratis. Aku bisa sarapan. Terimakasih Tuhan. Jika saja ini bisa dibawa pulang, caca pasti suka. Nai teringat anaknya. Dia mengambil kue itu secukupnya lalu memilih kursi pojok. Diatasnya tertulis SMOKING AREA.
Nai menyeruput kopi sembari memantik korek ditangannya. View yang sangat bagus, menghadap langsung ke pusat kota Bandung, dari ketinggian Nai bisa melihat gedung yang berjajar tak kalah tinggi.
"Jangan melamun."
Nai terperanjat mendengarnya. Dia berbalik lalu melihat pria ini kembali. Nai berdiri tanda menghargai namun tangan Peter seolah menyuruh nai untuk duduk saja. Peter membuka kancing jas, menarik kursi dipinggir Nai kemudian duduk dengan kopi ditangan kanannya.
"Jadi, bagaimana perasaanmu tadi?"
"Saya bingung pak, kenapa semua menatap seperti itu." Ungkap Nai kesal.
"Kamu hanya cantik, mampu beradaptasi dengan cepat, dan mereka tidak suka. Itu saja." Peter menjawabnya dengan santai.
"Aku selalu menunduk setiap jalan kaki sebab aku malu, bahkan untuk menatap wajah orang lain yang berpapasan, aku tak mau. Bapak tau kenapa begitu? Sebab bagiku, tak ada yang bisa kubanggakan walau hanya satu. Jadi jika harus kuberi tau, mereka tak perlu merasa tersaingi, karena, aku tau diri."
__ADS_1
"Hahahaha ya. Kebanyakan manusia iri melihat manusia lainnya disukai. Nikmatilah Jame, itu tandanya kamu memiliki apa yang tidak mereka miliki." Lagi - lagi lelaki tampan ini tersenyum sembari menatap mata Nai.
"Dimana rumahmu? Jauh?"
"Cukup jauh pak.."
"Kamu ada waktu hari ini? Mungkin kamu harus melihat bagaimana kerjamu jika diterima diperusahaan ini. Berminat?"
"Siapa takut?"
"Kita bertemu pemilik perusahaan dan mempresentasikan perkembangan perusahaan selama sebulan ini. Untung laporannya sudah kubuat. Ayo, jangan buang waktu."
Setelah menyetujui, Nai mengikuti Peter untuk bertemu dengan pemilik perusahaan. Ditengah perjalanan Peter terlihat sibuk memilih nomor di ponselnya.
"Bhramsy ????ya, aku sudah di jalan menuju cafe FGH, di meja VVIP ya, apa kau masih jauh? Ah iya, bawa saja, kenalkan padaku." Ucapnya.
Bhramsy? apa itu mas Bhrams? ah tidak mungkin, di dunia ini banyak sekali yang serupa namanya.
Sesampainya disana mereka berjalan ke tempat yang ditunjukkan oleh pelayan. Tak lama, Si pemilik Perusahaan datang dengan gadis cantik disampingnya.
"Kemarilah, akan ku kenalkan padamu, dia sepertinya bisa diandalkan, sedang ku uji coba, namanya...." Belum sempat Peter meneruskan ucapannya, gadis cantik yang berdiri di samping pemilik perusahaan mengeluarkan suara.
"NAYANIKA" Ucap gadis itu sembari tersenyum
"Rupanya kau mengenalinya?" Peter heran.
"Dengan sangat baik." Ucap Bianca sambil memeluk sahabatnya itu.
"Bisa - bisanya kamu lepas dari Benjamin dan pindah ke Peter, kalau tak salah lelaki ini orang kaya juga. Bagus seleramu nai. "Goda Bianca sambil berbisik. Nai melotot dan mencubit Bianca. Mereka tertawa kecil.
"Duduklah. Ayo Jame, tunjukan kemampuanmu." Perintah Peter.
"Baiklah, sudah berkumpul, sebaiknya kita..."
"Sebaiknya kamu tutup laptop dan setumpuk laporan itu, kemudian duduk dan ceritakan bagaimana akhirnya kamu bisa bertemu dengan sahabat tuaku ini,Nai?" Bhramsy kini yang bicara. Tatapannya masih sedalam dulu, saat pertama kali pandang mereka beradu.
"Baiklah, baiklah, tenang dulu, akan ku ceritakan, tapi ceritakan terlebih dahulu bagaimana dan apa yang terjadi hingga mas Bhrams menatap penuh cinta seperti barusan pada sahabatku itu?" Ucap Nai mengalihkan tatapan Bhramsy.
"Aahahahahahah.. Aku sadar aku mencintainya Nai"
"Ya memang harusnya seperti itu. Bukankah memang sahabatku pun sama ? Sejak dulu, jauh sebelun mas Bhrams menyadari semuanya." ledek Nai.
"Iya iya."
"Jame, apa kamu mengenal mereka dengan baik?inilah orangnya, pemilik perusahaan ini." Ucap Peter.
"M mas Bhramsy?"
"Milik berdua Nai, aku dan kak Benji. Dari namanya saja jelas.. BERJAYA. Artinya Benjamin Bhramsy Jaya."
Astagaaaaaaaaaa..bodoh bodoh.. terlibat lagi dengan orang itu. Tuhan, lepaskan aku dari orang itu.
"Oh begitu ya. Perusahaan mana yang bukan milik tuan Benji?" Nai bertanya seperti putus asa. Lagi - lagi dia harus terlibat dengan lelaki yang mengajaknya menikah.
"Banyak Nai, namun sepertinya susah kalau melawan takdir." Celetuk Bianca sambil tertawa.
"Tapi tenanglah Nai, kita bisa menutup mulut ini, dan lagi, kak Benji sibuk mengurus perusahaan di Jakarta, perusahaan disini semua dipegang oleh aku dan sahabatku. Aku tau sepertinya kamu sedikit takut di kerjai oleh kakakku lagi." Sambung Bhramsy.
"Benarkah?" Semangat Nai mulai kembali.
__ADS_1
"Semua bisa diatur Nai." Jawab Peter.
Pertemuan Nai dan Bhramsy. Mereka berempat mengobrol hangat hingga sore hari tiba. Banyak yang Nai ceritakan, namun sebagian dia sembunyikan, mungkin, akan Nai ceritakan pada sahabatnya yang baru ia temui lagi di lain kesempatan.