Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
"AKU BADAI NYA!!!!!"


__ADS_3

Sampai didepan gerbang Benji dan Nai dibuat keheranan. Gerbang terbuka dan para penjaga sedang mondar - mandir. Wajah mereka terlihat lebih lega saat melihat mobil tuannya memasuki rumah. Namun bukan Benji namanya jika tidak bersifat masa bodoh, dia tetap menginjak gas meskipun salah satu penjaga menghampiri.


Ada yang tidak beres ini.


"Kak Naaaaaaaiiiiiiiii!!!!!hiks hiks..." Sambutan hangat dari gadis belia yang entah sejak kapan duduk memeluk lutut, menangis sesenggukan dipojokan garasi mobil luas itu. Dia segera berdiri saat mobil terparkir dan melihat Nai keluar.


"Tuan sebaiknya bereskan orang yang ada didalam rumah, ku urus pelindung kepala ini." Pinta Nai. Benji mengangguk, secepat kilat dia masuk kedalam rumah setelah sebelumnya menyempatkan untuk mencium kening Nai.


Nai menghampiri, dengan wajah acuhnya Nai menatap Helen. "Kamu kenapa helm?"


"Papi dan mami kak.." Helen masih dengan tangisannya.


"Kenapa?"


"Hiks.. hikss..."


Ini bocah malah menangis parah. eh sebentar...papi?


"Papiku?" Tanya Nai.


"Bukan,,papiku.."


"Oh papimu. Ada apa dengannya ?"


"Polisi kak..hiksss.."


"Papimu jadi polisi?" Lagi - lagi Nai menjawab sekenanya. Dia tau apa yang terjadi.


"Bukan kak!!!!!huhuhu.."


"Berhentilah dulu menangis, aku bingung jadinya."


"Papi dan mami ditangkap polisi..hikss..hiksss.. rumah tadi didatangi polisi kak, semua di geledah, kamar kakak juga..hikss.."


"Lalu?"


"Lalu papi dan mami dibawa oleh polisi setelah semua digeledah."


"Helm, dengarkan aku, polisi tidak mungkin membawa seseorang ke kantornya, jika tidak ada barang bukti. Paham sampai sini?" Nada bicara Nai berubah tegas.


"Tapi orang tuaku bukan pemakai dan penjual obat terlarang itu kak.. tolong.. hiks.. hiksss.."


"Tau darimana?" Nai seperti menyindir, tapi sepintas dia mengingat bahwa hanya anak ini yang membela dan tidak ikut nyinyir padanya, anak inipun seperti diterlantarkan, ayah ibunya seperti tidak peduli padanya. Tak jarang Nai melihat Helen sedang duduk melamun atau sedang masak mie instan sendiri di dapur. Nai berubah iba.


Anak ini kuat, dia akan mengerti.

__ADS_1


"Kemarilah, biar ku ceritakan sedikit." Mau tak mau Nai menjelaskan panjang lebar. Dia paham, meskipun tidak diperhatikan, anak ini tetap butuh orang tua, dan lagi, anak mana yang tidak sedih melihat orang tuanya dibawa polisi.


"Sudah mengerti? Kamu adikku, kamu tetap akan diurus dan disayangi, jangan merasa sendiri. Meskipun tidak satu perut, aku itu kakakmu dan kamu harus mau menurut. jika ada apa - apa, jadikan aku orang yang kamu percaya untuk semuanya." Tangisan Helen mereda, dia mengangguk sembari tangannya erat memeluk.


Kenapa aku lebih nyaman dipeluk kak Nai? kenapa aku bisa lebih tenang ketika berbicara dengannya?


"Maafkan orangtuaku kak." Ucap Helen lirih. Nai hanya mengangguk lalu mengajak Helen kembali kedalam rumah.


****************


"Tuan, aku mau bicara." Ujar Nai saat membuka pintu kamar. Dilihat suaminya sedang asyik menghisap sebatang rokok dengan satu cangkir kopi disampingnya.


"Tentang?" Jawab Benji.


Tentang paman tuan."


"Aku tau. Lakukan apa yang menurutmu baik. Jika sesuatu itu kurang baik, aku pasti sudah melarangmu. Aku memantaumu setiap saat Nai, kau saja yang tidak tau." Tambahnya enteng.


Oh tidak, dia tau kelicikanku saat aku mencelakai pamannya dan apa? Setiap saat? Pembicaraan tadi dengan Dharma? Astaga didepan Dharma aku memujinya setengah mati agar Dharma sakit hati, jangan sampai tuan Benji malah merasa diatas langit karena pujianku. Bisa mati aku!!!


"Bagaimana papi?"


"Papi baik - baik saja."


"Tidak, kita akan beri penjelasan. Dan lagi papi terlihat santai.."


"Aku merasa jahat sekali, padahal papi bahagia dengan adik - adiknya."


"Kau menyelamatkan keluarga ini, papi pasti paham."


"Tuan.. maafkan aku teralu ikut campur urusan keluargamu."


"Itu kau tau. Kenapa kau lakukan ?"


"Maafkan aku. Aku hanya ingin setidaknya aku bisa sedikit melindungi keluarga ini, jika dibiarkan dan sampai ketauan polisi, malah rumah ini yang disita karena mereka tinggal disini, menurutku lebih fatal." Jelas Nai dengan wajah polos.


Benji mendelik, menatap tajam sipemilik mata indah, mencari jawaban. "Kau peduli pada keluarga ini?" Tanyanya.


"Tuan, disini aku disayang oleh papi, bagaimana bisa aku tidak peduli, tapi yang salah harus tetap diperbaiki, maaf jika aku lancang. Jika tuan keberatan, aku bisa menarik semua bukti dan membawa paman tuan kembali." Tawar Nai. Dia takut apa yang jadi rencananya tidak disetujui Benji.


"Walaupun sampai semua keluarga disini masuk penjara, aku bisa mengeluarkannya dengan mudah, uangku banyak. Sebenarnya kau tidak usah repot - repot menyusun rencana. Kau tidak tau bagaimana bahayanya mereka."


"Hidup tidak selamanya melulu tentang uang tuan, tuan bisa beli segalanya, apa termasuk dengan tanggung jawab dan kejujuran ?"


Jawab saja tidak bisa. Tuan saja tidak jujur.

__ADS_1


"Kau takut ikut terseret dan masuk penjara lagi?"


"Aku? aku tidak apa - apa tuan. Apapun yang akan jadi jalan hidupku, aku yakin tidak akan pernah melewatkanku. Jika memang harus aku yang masuk penjara lagi, aku tidak apa - apa, aku hanya..." Benji melotot menatap Nai yang jadi gelagapan.


"Boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Nai lagi.


"Katakan."


"Jika sampai hal paling buruk terjadi, entah aku masuk penjara lagi, atau aku mati, aku titip caca. Tuan, tuan boleh ambil semua upahku selama satu tahun, jadikan biaya untuk caca. Maafkan aku yang pamrih, tapi aku benar - benar ingin anak itu selamat dan bahagia."


"TIDAK ADA HAL BURUK YANG AKAN TERJADI NAYANIKA!!!! APALAGI ITU MENYANGKUT DIRIMU. AKU JAMINANNYA!!!!


"Jangan membentak dong, aku kan hanya meminta sesuatu." Nai merengut, dia keberatan dibentak.


Benji mendekati Nai, dia meraih dan menggengam tangan Nai, "Maafkan aku, jika ada waktu, kau harus bertemu temanku, trauma masa kecilmu belum sembuh."


"Trauma masa dewasa juga, tapi aku baik - baik saja." Goda Nai sambil tersenyum.


"Nai, jika sesuatu terjadi padaku dalam pernikahan ini, apa yang akan kau lakukan?"


"Sesuatu semacam apa?"


"Sakit, kecelakaan, kemiskinan?"


"Kenapa tuan bertanya seperti itu?"


"Karena banyak kemungkinan yang akan terjadi dikemudian hari."


"Tuan, apapun keadaanmu, aku akan tetap ada disampingmu, aku akan merawat jika tuan sakit, dan miskin? ah itu gampang, kita berusaha sama - sama, saling mendukung, aku tidak masalah jika harus menjadi tukang keripik lagi, jika harus menjahit atau memasangkan bulu mata palsu pada setiap orang dirumahnya."


"Bagaimana dengan mobilmu?"


"Jika keadaan sudah pailit, jual saja. Harta kan hanya titipan."


"Tapi itu kan keinginanmu dari kecil."


"Aku sudah mendapatkannya. Jadi boleh Tuhan ambil lagi. Tuan, tuan kenapa? tuan seperti mengkhawatirkan sesuatu." Nai heran, kenapa suaminya ini seperti lemah dan menakuti sesuatu.


"William seperti menyindirku. Aku tidak pernah takut dengan mereka, yang aku takutkan kau atau papi yang jadi sasarannya. Perang dingin ini belum berakhir sebelum apa yang mereka mau bisa mereka dapatkan."


"Apa yang dia katakan?"


Benji menghela nafas, " Hmmmmmm, Akan ada badai besar yang datang."


Dengan angkuh Nai tersenyum sinis, menyepelekan ancaman itu."Sepertinya aku harus menjelaskan pada pamanmu bahwa , aku badainya!!"

__ADS_1


__ADS_2