
Pagi buta Nai berhasil kabur dari rumah sakit. setelah melakukan serangkaian taktik mengelabui beberapa perawat dan satpam depan. Infus yang masih melekat ditangannya dia cabut paksa. Dia memasuki taksi yang berada sedikit jauh dari rumah sakit, kemudian pergi menuju rumah kontrakannya.
Sesampainya disana dia melihat mobil sahabatnya terparkir, dia tau Bianca lebih senang tinggal dikontrakan yang kecil dibanding dirumah megah bak istananya. Nai susah payah memanjat pagar, masuk kedalam lewat jendela kemudian kembali lagi kedepan untuk membayar taksi. tentu, setelah mengambil 2 lembar uang pecahan 50 ribu di dompet Bianca.
Nai masuk kembali ke kamarnya. Dia melihat Bianca sedang tertidur pulas dan menyelimutinya. Sepintas matanya terpaku pada 2 koper besar yang ada dipojok kamar. Dia mengamatinya.
Apakah Bianca akan pergi? Mau kemana dia?
"Astaga Nai? Sinetron apa lagi yang kamu lakukan?" Suara Bianca memecah hening, dia terkejut melihat sahabatnya yang tadi tidak berdaya namun kini ada dihadapannya.
"Harusnya kamu tanyakan itu pada calon kakak ipar mu, dia gila. Masa dia mau begitu saja menikahiku? Yang benar saja?" Gerutu Nai.
"Menikah? Apa orang tuamu sudah diberitahu?" Bianca yang mendengar hal itu ikut keheranan.
"Ah boro - boro. Ini rencana Roni, sahabatnya." Kemudian Nai menceritakan apa yang ia dengar.
"Terima sajalah Mai, dia tidak teralu buruk." Ucap Bianca sembari memeluk selimut.
"Dia fikir menikah secara agama seperti main petak umpet, tidak ada yang diberitahu. Bukan menikah namanya. Dan lagi ayahku masih hidup Bi, jika aku menikah dengannya tanpa ayahku, sama saja aku menganggap ayahku sudah mati. Sudah gila kali si Benji." Nai sangat kesal.
"2 kali dia merendahkan keluargaku. Pertama dia menghina didikan orangtuaku, sekarang dia mau menikah tanpa restu orangtuaku, apa dia fikir aku ini lahir dari batu?" Lanjutnya.
Bianca kemudian menarik nafas, mencoba menelaah maksud dari kakak kekasihnya kemudian menatap Nai dan berkata, "Menurutku tidak begitu, Kak Benji hanya mencari cara cepat bagaimana bisa memilikimu, coba kamu tanyakan baik - baik padanya, aku yakin dia akan mengerti."
"Tidak seperti itu Bi, kenapa kamu membelanya?" Nai sedikit meninggikan suaranya. Dia seperti kurang setuju jika sahabatnya itu malah membela orang lain.
"Jadi seperti apa Mai? Intinya bukan hanya karena orang tua, kamu masih mengharapkan Dharma kan ? Ah sebenarnya aku tidak mau membicarakannya."
"Apa? Ada apa Bian? Apa yang kamu ketahui?" Nai panik mendengar nama kekasihnya disebut.
"Tinggalkan saja dia. Yang kemarin kamu lihat itu tunangannya. Mereka sedang berbelanja untuk keperluan pernikahannya. Aku tidak mau menyakitimu Nai, tapi tolong, tipis perbedaan antara tulus dan bodoh." Bianca melihat Nai yang hampir meneteskan air mata.
Nai kemudian mengambil tas dan mengemasi barang - barangnya yang tersisa. Tanpa fikir panjang.
__ADS_1
"Kamu mau kemana ?"
"Aku mau ke rumah ibu kemudian pulang ke Bandung. Semoga Dharma ada disana dan aku bisa mencari kejelasan darinya. Jika tidak, mungkin di sana aku bisa memulai hidup baru dengan melupakan semua kejadian pahit disini. Kejadian yang membuatku geleng - geleng kepala." Naipah membereskan pakaiannya dengan tertatih, kondisinya belum sehat namun yang terasa paling sakit saat ini adalah hatinya.
"Nai.. " lirih suara Bianca. Naipah yang berusaha menahan air matanya menatap saat sahabatnya itu memanggil namanya.
"Aku harus pergi ke Amerika, ada beberapa usaha keluargaku yang memerlukanku untuk turun tangan." Lanjutnya
"Pergilah Bian, aku tidak apa- apa, aku bisa sendiri."
"Maafkan aku Nai." Sesal Bianca.
"Ah tidak usah cengeng begitu. Ini kan hanya masalah kecil."
Samar Nai melihat ada kesedihan dibalik senyum Bianca. Yah, teman yang selalu ada saat kondisi apapun.
"Sepulang dari Amerika, aku akan menyusulmu kesana." Mencoba mengembalikan suasana.
Jika memang memaksa, Pergilah Nayanika, selamat renangi air mata. Batu karang pun tak sekeras kepalamu, kamu akan baik - baik saja meskipun terluka. Karena kamu pun pernah berkata, Untuk orang baik ; bahkan semesta pun menjaga.
"Bianca.." Nai tak kuasa menahan tangis kemudian memeluk sahabatnya itu.
*******
POV BENJAMIN
Dia benar - benar menguji kesabaranku. apa yang dia inginkan sebenarnya ? mengapa semua terasa sangat menyakitkan. Apakah sebegitu rendah diriku dimatanya sehingga dia melakukan segala cara untuk menjauh dariku? Mengapa cintanya begitu dalam pada lelaki yang salah.
Hari pernikahan sederhana yang ku harapkan hancur seketika saat kulihat Nai tidak ada ditempatnya. Si mata indahku hilang lagi, gemar sekali dia bermain petak umpet. Ku rasa, dia sekuat tenaga menahan sakit di badannya. Dia pergi lagi tanpa sepatah kata. Apa ini caranya untuk menjauh dariku ? Harus dengan cara apa lagi aku mencarimu Nai? Harus sekeras apa lagi aku berusaha meyakinkanmu? Apa Tuhan akan berbaik hati membawa kau kembali? Setauku, keberuntungan sulit untuk datang ke dua kali. Begitupun kau.
Lukamu belum sembuh Nai, siapa yang akan merawatmu ? kau masih lemah namun kau memaksakan diri sekuat batu. Sangat keras kepala. Apa kau sudah makan? apa kau masih punya uang? dompetmu masih ada...
Seketika Benji tersentak mengingat dompet Nai yang masih dia simpan. Dia membuka lemari dan mengambil dompet itu. Dia mencari KTP. Beruntung, KTP Nai ada didalam dompet itu, lengkap dengan foto anak kecil, dan foto lelaki yang dipastikan itu Dharma.
__ADS_1
"aku dapat alamatnya. Harus kudatangi kesini." Secepat kilat rona wajah Benji berubah. Kembali bahagia.
Keberuntungan sepertinya berada di pihak Benjamin. Dia diutus oleh ayahnya pergi ke Bandung untuk mengurus perusahaan barunya. Dia dapat mengerjakan tugas sekaligus mencari Nai. Lagi - lagi Benji diberikan kemudahan untuk segala keinginannya. Berbeda dengan Nai, yang seolah selalu ditimpa musibah.
Tuhan, jika kau memang benar Maha Mengetahui, ketahuilah bahwa aku mencintainya. Buatlah dia mengetahui bahwa aku menunggunya. Bukankah perasaan ini kau yang membuatnya Tuhan? tolong aku. Berikanku kesempatan untuk bisa bersamanya di jalanMu.
Pinta Benji di sepertiga malam.
*******
"Kamu yakin mau pulang neng? Ibu disini bagaimana? Sendiri lagi?" Ucap Bu Marni yang sepertinya sedikit keberatan.
"Nai janji bakal tengok ibu. Tenang. Besok lusa nai kesini bawa berita bahagia. Sabar yah bu." Nai memeluk ibu angkatnya yang sudah seperti ibunya sendiri.
"Ya sudah, pergilah. hati - hati dijalan. Ingat neng, jangan terlalu keras sama diri sendiri."
Tatapan mata Nai tak berdaya. Dia terlalu manis dengan senyumnya, Namun lengkung bibirnya mengisyaratkan tidak bisa.
******
Nai membawa amplop berisi uang dari Bianca. Ya, atm, ktp, semua ada di dompet Nai yang berpindah tangan pada tuannya.
Suatu hari akan ku bayar semua ini Bian. Terimakasih.
Nai mengingat sahabat baiknya itu. Yang tak pernah letih untuk membantu.
Kini Nai berada dalam bus menuju kota kelahirannya, Bandung. Dengan harapan semua tujuan dapat ia selesaikan, dan semua kesakitan dapat dia lupakan.
Terima kasih Jakarta. Kamu memberikan banyak pelajaran yang hingga saat ku pulang, masih sulit ku terka. Suatu hari jika memang harus aku kembali kesini, aku harap perih tak ada lagi. Untuk kalian, kakak beradik yang teramat baik, Tuhan menjaga kalian. Terimakasih untuk semua pahit manis kenangan. Semoga kalian mendapatkan segala hal terbaik sesuai keinginan.
Senja menepi di kota Bandung. Awan jingga yang mengantarkan Nai berubah mendung. Dia berada di tanah kelahirannya. Tempat dimana dia berikrar untuk membawa bahagia bagi keluarga.
Namun hidup tetaplah hidup dengan jalan yang sudah digariskan. Sekeras apa Nai berusaha membuktikan, keadaan seolah terus memberikan ujian, hingga seperti berada di persimpangan perdebatan ; Antara keyakinan dan sedikit ketidakpercayaannya pada Tuhan.
__ADS_1