Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Aku datang seperti apa katamu, Tuan!


__ADS_3

Hari pertama Nai bekerja, dengan pakaian yang dia pinjam dari temannya. Semalam Nai menginap dirumah Shilya, beruntung Shilya belum pindah dan menerima Nai dengan senang hati.


"Selamat pagi." Sapa Peter yang mendatangi meja kerja Nai.


"Sepertinya kamu kurang bersemangat. Ada apa ? Apa kamu sakit?" Lanjutnya.


"Tidak pak. Saya baik - baik saja."


"Kamu yakin?"


"Yakin."


"Baiklah jika begitu, ini tugasmu, selesaikanlah. Nanti siang saat istirahat tolong keruanganku." Sambil memberikan 4 buah map tebal.


" Baik pak."


"Hey, kamu anak baru ya? Siapa namamu? Namaku Alvin, dia Tami, dan ini Axel." Sapa Alvin, lelaki tulang lunak yang sepertinya baik.


"Iya, namaku Nayanika, panggil saja Nai." Nai mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Hai Nai, kamu satu ruangan dengan kami, kalau ada apa - apa, jangan sungkan minta tolong ya." Axel tersenyum.


"Iya, kami akan menolongmu. Itu jelas, sebab tugas kami bertiga adalah asistenmu. Tidak ku sangka atasanku lebih muda dariku." Timpal Tami sambil tersenyum manis. Dia imut sekali, padahal usianya diatas Nai.


"Ah, jangan anggap aku atasan, aku saja tidak tau apa yang harus ku kerjakan dengan map ini." Ucap Nai sambil kebingungan.


Mereka pun mulai membantu Nai, tidak bekerja, malah terlihat seperti kerja kelompok anak sekolahan. Ada tawa disela perkenalan mereka yang singkat. Nai memiliki teman baru, dia harap semua temannya ini baik.


Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 12 siang. Mereka melirik arloji masing - masing.


"Ayo ke kantin, sudah waktunya istirahat, kamu belum tau letak kantin disini kan?"


"Ah ingin sekali aku kesana, namun aku harus menghadap pak Peter." Alasan Nai.


"Ya sudah, kami ke kantin dulu, kita tinggal ya."


Nai masih sibuk membereskan map hasil kerja bersama sejak pagi. Bukan tidak lapar, Nai berusaha menahan lapar dengan bulak balik minum air putih saja, dengan uang yang pas - pasan Nai harus berfikir ulang kala ingin membeli makanan. Tanpa sadar ada yang mengamatinya dari pojok atap, dimana CCTV ruangan tertancap.


"Haduh, sepertinya aku akan sering buang air kecil!!!! Hai lapar, cepatlah pergi, dan kamu perut, bertahanlah, aku berjanji sebulan dari sini akan ku jaga kalian, kita tidak akan kelaparan lagi." Gumam Nai pelan.


Gelas ke delapan saat Nai kembali berjalan ke kursinya, dispenser terletak di pojok ruangan. Saat dimana Peter masuk dengan membawa sup hangat, nasi soto dan beberapa potong buah.


"Hai nona, kemarilah." Sapanya ceria sambil membawa nampan.


"Pak, saya baru mau ke ruangan bapak."


"Teralu lama. Duduklah."


"Jamee, apa kamu tau aku bisa meramal?"


"Tidak pak, tapi sekarang sudah tau, baru tadi bapak memberitahunya."


"Ku ramal kamu sedang lapar sekali. Jadi jangan banyak tanya, aku perintahkan kamu temaniku dan ikut makan juga sekarang."


"Tapi pak, maaf, "


"Ayo duduk saja, jangan menolak makanan, ini rejeki untukmu."


Nai menganggukan kepala, dia bersyukur karena hari ini bisa mengisi perut dengan kenyang. Namun saat dia hendak menyuapkan nasi, Peter melarangnya dan berkata,"Jangan langsung makan nasi Jamee, perutmu sangat kosong, sengaja ku bawa sup, hangatkan dulu perutnya, jika langsung diisi nasi, aku khawatir perutmu kaget dan akan sakit." Nai tersenyum lalu menuruti perintah atasannya, terasa sup itu masih tetap hangat saat sampai diperut Nai.


"Mulai besok jika bisa, datanglah lebih awal, kamu bisa sarapan disini, disini disediakan makanan dan minuman untuk semua karyawan, atau kamu datang saja ke ruanganku setiap pagi, siang, dan saat mau pulang, kita bisa makan bersama."


Terimakasih pak,


"Ya sama - sama. Habiskan dulu makanannya.


Nai melamun, dia merasa bersyukur saat mendengar dikantornya disediakan makan. Dia tidak akan kelaparan lagi, setidaknya jika dia terus bekerja disini, dia bisa lebih hemat.


"Jamee, aku juga pernah sepertimu." Suara Peter memecah lamunan Nai.


"Saat aku kuliah di Belanda dulu, aku pun menjalani masa sulit, ditambah lagi ketika musim salju datang, kamu tau Jamee? Aku sering mengencangkan ikat mantelku, hanya untuk menekan perut sekencang - kencangnya agar menahan lapar. Semua orang akan menghadapi masa tersulit, jalani saja mau tak mau, biarkan masa sulit itu berlalu." Jelasnya.


"Si gadis cantik kekasih Bhramsy menitipkanmu padaku, begitu juga kekasihnya. Aku tau tentangmu, pantas saja saat pertama aku melihatmu aku merasa kamu memang membutuhkan pekerjaan, selain itu kamu memang berkompeten untuk bidang ini, makanya aku menerimamu bekerja."


"Jalani saja semuanya, biarkan mereka berjalan sesuai arusnya, tidak usah dilawan, mereka akan berlalu begitu saja." Ucapan itu mengakhiri makan siang mereka.


"Pak Peter." Kata Nai

__ADS_1


"Ya?"


"Terimakasih."


"Sama - sama. Jangan sungkan, aku atasanmu tapi anggap saja aku kakakmu. Aku ke ruanganku dulu ya Jamee. Selamat bekerja kembali."


Andai saja sainganku bukan Benjamin, sudah ku pastikan hidup gadis cantik itu bahagia denganku. Sayangnya, Tuhan tidak memberikanku kesempatan. Atau... apa sebaiknya aku coba saja?


************


Nai pulang kerja dengan berjalan kaki, setengah berlari. Basah kuyup karena hujan angin sejak sore tak kunjung berhenti. Mau tidak mau dia harus kerumahnya, habis kemana lagi? tetap dikontrakan Shilya? Nai malu. Dan lagi, dia merindukan Caca. Nai juga tidak mempersiapkan diri untuk kabur, semua barangnya masih dirumah. Akhirnya dengan berat hati Nai memberanikan diri menginjakkan kaki dirumahnya walau dengan jantung yang terus berdegup kencang.


"DASAR ANAK TIDAK TAU DI UNTUNG. BERHENTI MEMBUAT MALU KELUARGA. SANA PERGI, KAMU TAU? MENJALIN HUBUNGAN DENGAN LELAKI YANG PUNYA ISTRI ITU PERBUATAN YANG SANGAT MEMALUKAN. PERGI!!!!! PAPA TIDAK MAU PUNYA ANAK YANG KERJANYA HANYA BIKIN MALU KELUARGA." Jawaban atas salam yang Nai ucapkan ketika dia baru masuk kerumah.


"Pa? Sebentar. Ada apa ini?" Nai menarik nafas panjang mencoba untuk tidak ikut emosi, mencoba mencerna segala ucapan ayahnya namun dia masih tidak tau apa kesalahannya.


PLAAAAAAKKKKK!!!!!!!!


"PERGI SANA." Tanpa diijinkan bicara, Nai diseret keluar pintu. Ibu Nai hanya mampu menangis tersedu, Ayah Nai yang sangat marah membanting lalu mengunci pintu rumah itu.


Nai tidak diberi waktu untuk sekedar berpamitan pada Caca. Dia berjalan,, lalu kembali menghadap rumahnya, ditengadahkan kepalanya untuk melihat jendela kamar, terlihat jelas Caca yang menangis sesenggukan sambil memegang kaca jendela. Nai menangis, kemudian melambaikan tangan pada anaknya itu. Tanda perpisahan sementara. Nai lalu berlari sekencang - kencangnya menuju jalan raya.


Aku akan melakukan apapun yang terpenting aku bisa memelukmu kembali, tunggu disitu Ca, jangan beranjak, biar aku yang berusaha. Nai.


Kenapa kakek selalu memukul tante? padahal tante sangat baik padaku. Kasihan tante. Bagaimana aku jika tante tidak ada? aku akan terus dibentak dan dimarahi. Tante aku mohon kembalilah. Tolong aku. Caca.


Sesaat terlintas dibenak Nai untuk mengakhiri hidupnya. Dia menunduk dan berjongkok ditengah derasnya hujan, memukul - mukul kepalanya sendiri, mengutuk jalan hidupnya. Benar kata atasannya itu, satu - satunya cara adalah mengikuti jalan yang ada didepan mata.


Dia meraih ponsel di sakunya, mencari nama seseorang yang dipastikan mampu menolong. Tidak ada lagi pilihan jalan, bahkan untuk alasan ditampar pun, belum Nai temukan.


"Aku tau kau akan menghubungiku. Jalan anggrek nomor 39."


Jalan yang cukup jauh dari rumah Nai, namun tekadnya kuat, bertengkar dengan orang tua bagi Nai hal yang biasa, namun dia tidak kuat jika harus berpisah dengan Caca, bagaimanapun dia harus melakukan segalanya agar bisa memeluk anak itu lagi. Ditengah hujan angin Nai terus berjalan, tangannya disilangkan sambil menarik blazer yang dia kenakan, diapitnya ponsel pemberian sahabat karibnya itu, satu - satunya usaha Nai menjaga pemberian Bianca.


45 menit berjalan kaki Nai sampai di jalan yang ia maksud. Rumah megah yang pagar tingginya sengaja tak dikunci. Tanpa fikir panjang Nai masuk, pintunya pun tidak ditutup. Saat Nai menginjakkan kaki didalam rumah, terlihat lelaki dengan sebatang rokok dan segelas wine menemani lamunannya. Ditengah rumah mewah.


"Aku datang padamu, seperti apa katamu, tuan Benjamin." Kata Nai sambil berjalan mendekati Benji. Tubuh Nai masih gemetar, menahan dingin dari tetesan air hujan yang menyentuhnya sepanjang perjalanan.


Melihat hal itu, Benji segera membuka mantelnya dan langsung ia pakaikan pada Nai. "Kenapa pipimu?" Katanya khawatir, sambil mengelus wajah Nai yang sudah basah oleh air mata.


"Kau yang diam Nayanika, duduk!!!!" Ucap Benji berubah dingin.


"aku ingin...."


"Duduk dan diamlah dulu." Benjamin berlari ke belakang, tak lama dia kembali dengan es batu dan kotak obat.


"Ada apa?" Tanya Benji sembari mengompres pipi Nai yang terlihat bengkak, setelah itu ia mengoleskan salep pada sudut bibir Nai yang sedikit mengeluarkan darah akibat tamparan Ayahnya.


"Tuan ingin aku menikah dengan tuan? Baiklah. Dengan 1 syarat. Bantu aku membalaskan dendamku pada Dharma." Kata Nai sambil menatap dalam kedua bola mata milik tuannya. Benji melebarkan pandangannya, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan didengar telinganya.


Melihatmu seperti ini aku tau siapa dalang dibalik amukan papa.


"Tuan menikahiku hanya agar tidak dijodohkan oleh tuan besar kan? Malam itu Dharma menelepon dan memintaku menikah dengannya. Ku iyakan permintaan itu dengan syarat dia harus menceraikan istrinya terlebih dahulu." Lanjut Nai dengan santai. " Tuan ingat malam itu? ya, malam dimana tuan meninggalkanku dipinggir jalan lalu tuan pergi ke arah rumahku. aku tau apa yang tuan lakukan." Tambahnya lagi.


"Jika hanya membalas dendam, cukup ku hancurkan perusahaannya. Perusahaannya sangat tergantung pada perusahaanku." Jawab Benji singkat.


Nai tersenyum picik, dia seperti ingin bermain dulu dengan tuannya, kemudian dia berkata, "Dia memiliki keluarga, ayah, adik, banyak karyawan yang akan sengsara jika tuan menghancurkan perusahaannya, urusanku hanya dengan dia. Jangan libatkan banyak orang. Dia kini menyadari kesalahannya, aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan dulu. Bagaimana sakitnya ditinggal menikah begitu saja. Impas kan? Aku membantumu dan tuan membantuku."


"Hmmmm..jika begitu, kita menikah minggu depan. Lalu aku harus membuat kontrak atas peraturan dan kesepakatan antara kita. Itukan maumu?" Benji mencoba menebak jalan fikiran Nai.


"Tepat!!!!" Ucap Nai sambil menjentikan ibu jari dan jari tengahnya. Kemudian dia berkata, "jangan lupa tuan, cantumkan bahwa diantara kita bebas menjalin hubungan dengan siapapun, sebab itu rencana awal dari semua rencana pembohongan yang maha dasyat ini kan?" Lagi - lagi seringai curang tersungging di bibir Nai.


Kau cari masalah? kau akan mendapatkannya. Siapa suruh mengadu pada papa hingga aku bonyok seperti pepaya yang teralu matang begini.


"Kau curang. Kau menikah hanya untuk membalas dendam pribadimu." Ucap Benji keberatan.


"Siapa yang lebih curang? Aku hanya ingin melihatnya menangis saat pernikahanku. Dan, selesai! Sedangkan tugasku setiap hari selama satu tahun menemanimu, ikut berbohong pada papa. Aku sudah berbaik hati untuk menerima tawaran ini." Nai jual mahal.


"Ku fikir kau sepolos itu Nayanika, ternyata kau pendendam. Kau ingin tugas Tuhan kau yang kerjakan, kau ingin mendahului hukum alam yang membalas karma, dan CLEEEEEEKKK.. " Benji menjentikan jarinya didepan mata Nai lalu berkata, "semua sesuai rencanamu."


"Tidak ada lagi Nayanika yang dulu, tuan punya kepentingan, akupun sama. Apa bedanya aku denganmu tuan? Tuan juga melakukan bahkan merencanakan ini semua jauh sebelum aku seperti ini. Jawab!!! Siapa yang mengatur tugas Tuhan perihal jodoh? Tuanpun ingin semua sesuai keinginan tuan kan?" Nai mulai tidak bisa menahan emosi.


"Ganti pakaianmu Nai, nanti kau sakit. Minggu depan kita menikah, ku ikuti apa maumu, tapi ikuti juga apa mauku." Akhirnya Benji mengalah.


"Ganti pakaianmu Nayanika!" Benji meninggikan suaranya karena Nai masih saja duduk dan tidak mendengarnya.


"JANGAN BERTERIAK PADAKU!" Nai lebih keras. Dia muak selalu mendengar nada tinggi tuannya itu.

__ADS_1


"Nai tenanglah, sebentar lagi aku akan kerumahmu, bicara pada orangtuamu, tak kusangka ucapanku kemarin membuat kau dipukul. Ringan sekali tangan ayahmu Nai." Benji mulai menurunkan nada bicaranya lagi sambil memegang pundak Nai, berusaha meredam amarah wanita dihadapannya itu.


"Tidak apa - apa tuan, sudah biasa." Sambil menolak sentuhan Benji, Nai memalingkan wajahnya. Namun wajahnya kembali ditarik oleh Benji, Nai dipaksa untuk kembali menatap sesosok pria tampan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Aku berjanji hal itu takkan jadi kebiasaan lagi dihidupmu. Aku jaminannya." Kata Benji sambil tersenyum.


"Pergilah ke kamarku di atas, pilih pakaianku yang kau mau, jika sudah selesai kembalilah kesini, akan ku buatkan sup hangat untukmu. Aku tidak mau kau sakit." Pintanya lagi, kali ini dengan nada sangat lembut.


Coba jangan bentak - bentak, aku pasti akan menurut dari awal.


Nai berlalu mengikuti titah Benji tanpa sepatah kata pun. 30 menit berlalu Nai kembali dengan menggunakan pakaian Benji dari atas hingga bawah. Dia duduk diposisi semula dan mencoba meneruskan pembicaraan. Sedangkan Benji sudah di Meja lengkap dengan semangkuk sup instan yang dibuatnya sendiri.


" Tuan."


"Ya.."


" Apa yang akan tuan besar katakan jika tuan menikahiku."


"Dia akan merestuinya."


"Jika tidak?"


"Aku jaminannya."


"Apa yang akan tuan besar katakan tentang orangtuaku?"


"Nayanika, berhenti. Papi tidak seburuk yang kau fikirkan."


"Bukan tuan besar, tapi keluargaku yang buruk."


"Keluargamu baik Nai. Cukup. Buka mulutmu, aku suapi." Nai sama sekali tidak menolak, dia membuka mulutnya berkali - kali hingga sup di mangkuk habis.


"Rumahmu megah sekali." Kata Nai mencoba mencairkan ketegangan. Ternyata benar, orang lapar akan lebih sering mengamuk.


"Oh ya, hampir aku lupa." Benji membuka laci kecil dipinggir kursinya. Diambilnya beberapa lembar kertas yang masih ditutup kertas kosong, yang terlihat hanya bagian tanda tangan saja.


"Tanda tangan disini." Kata Benji sambil memberikan bolpoin.


"Ini apa?" Nai tidak mau sembarangan menandatangani surat. Dia mengernyitkan dahinya.


"Sudah tanda tangan saja."


"Aku harus membacanya dulu, bagaimana jika isinya bertuliskan aku siap dimutilasi?????" Jawab Nai polos.


"Astaga Nai, apa se kriminal itu aku dimatamu. Sudah berkata akan ditumbalkan, sekarang di mutilasi."


"Tu..."


"Tanda tangan cepat. Kau boleh tidak percaya padaku, tapi untuk kali ini saja tolong."


"Baiklah. Sudah!" Ucap Nai saat selesai menandatangi kertas tersebut.


"Bacalah." Perintah Benji.


Nai terbelalak ketika membaca kalimat perkalimat di surat itu.


Ya Tuhan, apakah ini jawaban dari doaku selama bertahun - tahun? apa kau menjawab semua doaku Tuhan? Apa ini bukti bahwa kau benar - benar menjaga Caca? Terimakasih Tuhan terimakasih.


Surat yang isinya menyatakan bahwa rumah yang saat ini Nai injak menjadi milik Caca, ditambah dengan biaya sekolah, biaya hidup, asuransi pendidikan serta tunjangan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, juga penyerahan salah satu perusahaan milik keluarga Wijaya yang akan Caca dapatkan ketika dia lulus kuliah nanti.


"Ini sebagian kecil hadiahku, untuk putri cantikmu yang sebentar lagi akan menjadi anakku juga. Dia harus terjamin, aku harus menjamin bahwa dia tidak akan kesusahan sampai dia diterima bekerja. Tapi maaf, tidak akan aku bicarakan jelas padanya meskipun dia sudah dewasa, biar ini menjadi penolongnya. Aku ingin Caca mandiri, jangan sampai dia jadi anak manja, dan jangan sampai kepedihanmu saat kau menempuh pendidikan terulang. Tunggulah, jika sudah saatnya, akan kuberikan lagi hadiah - hadiah kecil untuknya. Percaya padaku, bukan hanya kau, kedua orangtuamu, anakmu, aku akan bertanggung jawab." Terang Benji sambil tersenyum.


"Kenapa tuan memberikan semuanya untuk Caca?" Nai mencoba mencari kepastian sambil matanya berkaca - kaca.


"Aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri Nai!! jangan coba bermain - main denganku. Kau fikir aku percaya jika maksudmu hanya untuk balas dendam? tidak. Mungkin itu hanya salah satu niatmu, tapi niat terbesarmu menerima pernikahan ini karena saat ayahmu marah tadi, kau tidak bisa memeluk anakmu lagi kan? Jika hanya dendam yang kau fikirkan, kau tidak akan membalasnya, 1 hal yang aku tau, kasih sayang seorang ibu mampu membuat ibu tersebut melakukan apapun, asalkan bisa memeluk anaknya kembali. Meskipun anak itu bukan dari rahimmu. Namun, jika memang kau mau membuat Dharma menangis, aku akan membantumu, tidak hanya saat hari pernikahan, dia akan menangis sepanjang waktu karena telah berani menyakitimu." Benji tersenyum sambil memberikan surat itu.


"Apa dengan ini semua, uang bayaranku sebagai istri pura - puramu habis tuan?" Goda Nai yang tiba - tiba merasa sedikit tenang karena ternyata calon suaminya ini cukup memahaminya.


"Tenanglah, jatahmu aman, berapapun yang kau mau, ambil. Semua akan jadi milikmu. Asal kau tau, uangku tidak akan habis meskipun kita punya anak se lusin." Ucap Benji.


"Ah yang betul tuan??????"


"Kau tidak percaya, ayo buktikan." Kini Benji yang menggoda Nai.


"Yah!!!!!! pilihan yang sangat simalakama tuan."


Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2