Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Tenggelam!


__ADS_3

Suara Dharma masih terdengar jelas, Nai masih melamun diluar memikirkan hal itu.


Kenapa aku harus sakit hati? Ah tidak mungkin aku menyukai es balok itu!


"Nai? Sudah malam. Tidurlah."


"Tuan, apa tuan membutuhkan sesuatu?" Basa basi Nai.


"Tidak, Aku hanya melupakan sesuatu."


"Oh baiklah." Nai kembali memandang kearah depan. Tanpa tujuan dan tanpa senyuman.


"Kenapa kau tidak bertanya melupakan apa?" Benji mengernyitkan dahi, terlihat jelas, sejelas wajah yang ia tekuk karena jawaban Nai tak sesuai dengan yang ia harapkan.


"Untuk apa aku bertanya?" Jawab Nai polos.


"Jadi kau sudah tidak peduli padaku. Baiklah. Kau akan rasakan bagaimana jika aku sudah tidak peduli lagi padamu." Jawab Benji penuh ancaman.


Pasti mengancam uang. Kenapa tuan tau kelemahanku sih?


"Maaf tuan." Nai menarik nafas panjang, sadar selalu kalah dengan lelaki dihadapannya, ia lebih memilih untuk mengalah.


"Kau kenapa?"


"Tidak apa - apa tuan."


"Kenapa malah jadi terbalik? Harusnya aku yang bermuka masam gara - gara tadi kau bertemu dengan lelaki sialan itu, kenapa malah kau yang seperti ini?" Benji terlihat kesal, mencoba menelaah apa yang sedang Nai fikirkan.


"Tuan selalu berpura - pura. Dasar tukang bohong." Nai menyunggingkan senyumannya. Sarkas.


Katakan kau cemburu dan memikirkan apa yang lelaki brengsekmu itu ucapkan tadi siang.


"Kebohongan mana yang ku ubah menjadi kebenaran?" Benji tersenyum sinis. Namun bukan menjawab, Nai berlalu meninggalkan Benji diluar menuju sofa setelah mengambil selimut diatas tempat tidur.


"Oh jadi sekarang kau lebih memilih tidur disana lagi? Kau membenciku?"

__ADS_1


Tak digubris, Nai menepuk - nepuk bantalnya, bersiap untuk tidur.


"Jadi sekarang kuping dan bibirmu ikut membenciku sehingga apa yang aku ucapkan tidak didengar dan dijawab?" Nai diam, dia membalikkan badan.. memunggungi Benji.


Sudahlah, sudah malam, bukan tidur malah ceramah. Aku tidak sudi berdekatan dengan lelaki yang selalu gonta - ganti wanita setiap hari. Jika memang mencintai wanita itu, kenapa menikahnya denganku? Aneh. Suara hati yang ingin Nai ungkapkan namun terpaksa dipendam karena dia takut jika Benji benar - benar menepati ancamannya.


"Jadi punggungmu bisa mendengarkanku?"


"Nayanikaaaaaaa!!!!!!!" Panggil Benji dengan nada yang cukup tinggi karena kesal.


"JANGAN BERTERIAK!!!" Bentak Nai.


"Apa ? Aku tidak salah dengar? Kau mengatakan jangan berteriak dengan teriakkan? Kau kenapa ?" Benji mendekati Nai, mencoba meredam suasana panas.


"Aku memahamimu Nai, aku tidak menyalahkanmu. Ayahmu mendidikmu teralu keras sehingga kau membenci perlakuannya, namun tanpa sengaja kau juga mengikuti perlakuan itu."


PLLAAAAK!


"JANGAN BAWA - BAWA AYAHKU." Tak disangka, Nai melayangkan tamparan ke pipi Benji, ia lalu keluar kamar, membanting pintu dan berlari sekencang - kencangnya. Tenang. Ya ,, dia hanya ingin ketenangan. Selain memikirkan ucapan Dharma, Isi kepalanya tak berhenti mengingat seluruh sakit hati pada ayahnya, hingga saat ini, saat lelaki yang menikahinya malah mengungkit luka lama yang bahkan belum bisa ia sembuhkan.


Dia tidak akan diam apalagi menyangkut orang tuanya.


Ia memejamkan mata, teringat ucapan yang ia katakan pada Bianca. Ya, Nai sangat sensitif jika ada sesuatu terkait ayah ibunya.


Sial. Aku mengetahui itu tapi kenapa aku bisa berbicara seperti tadi ?


Benji mengusap kasar wajahnya. Perkataan yang ia lontarkan disadari sangat menyinggung Nai. Ia segera mencari cara bagaimana agar mendapatkan maaf dari istrinya.


****************


Langkah cepat Nai terhenti tepat disamping kolam, melihat Ramona dan Tessa sedang serius berbincang, sambil terisak, ia memutar balik langkahnya namun Ramona lebih dulu menahan.


"Ah.. ratu sementara dirumah ini menangis, apakah karena sang raja sudah menemukan ratu aslinya?" Sindirnya.


"Aku tau, dia menangis karena dia akan miskin kembali." Tessa menimpali.

__ADS_1


"Hahahahahahahahahaha."


"Sudahlah, kan sudah kubilang, kak Benji tidak sungguh - sungguh mencintaimu, kenapa tidak terima kenyataan? lihatlah dirimu, kamu jauh dari kata sempurna." Ramona mendorong jauh tubuh Nai hingga masuk ke kolam.


BHUAAAAAAAAARRRRRR!!!!!


"Hahahahahahahahaha dia pasti akan sangat jelek saat kebasahan. Seperti anak kucing yang masuk got." Gelak tawa kedua wanita itu terdengar kencang. Sementara Nai panik bukan kepalang, dia didalam air dan sama sekali tidak bisa berenang. Dia mencoba berdiri menapakkan kaki namun sia - sia. Air yang masuk kedalam hidung Nai menambah kepanikan. Dari atas hanya terlihat Nai yang sedang kelabakan didalam kolam dan perlahan gerakannya melambat. Diiringi tertawa Ramona dan Tessa yang tak kunjung henti.


"Dia tidak bisa berenang?Hahahahahahah dasar kampung. Kita lihat bagaimana usahanya bisa kembali kesini. Lucu sekali.. ahahahahahah!!!!" Cetus Tessa. Cukup lama mereka menertawakan Nai dan sangat lama bagi Nai saat didalam air itu.


BRENGSEK!!!!!! NAYA! Benjamin berlari saat ia melihat Ramona tertawa menunjuk kolam, ia yakin Nai disana.


Seketika Wajah kedua wanita itu pucat pasi mendengar teriakkan Benjamin, kini, mereka berdua yang panik setengah mati.


BUAAAAAAARRRRRRR.


Benjamin masuk kolam dan segera meraih Nai yang sudah tak bergerak. Setelah didapat, Benji langsung meletakkan Nai dipinggir kolam.


Benji menekan - nekan dada Nai sekuat tenaga berharap air yang masuk ke paru - paru bisa dikeluarkan, beberapa kali ia memberikan nafas buatan, namun Nai belum juga sadar. Nai pingsan karena ada didalam air cukup lama. Tatapan tajam Benji diarahkan pada kedua wanita itu. Terlihat amarah yang luar biasa.


"Ka.. kami mau membantunya naik,, ta- tapi.. kakak lebih dulu datang, eh.. dia terpeleset sendiri kak.." Ucap Ramona gelagapan.


"Jika sesuatu terjadi pada istriku, leher kalian jaminannya." Sambil menatap tajam, Benji terus berusaha membuat Nai sadar. Butuh waktu yang cukup lama.


"Uhhhuuuuuuukkkk.. uhuuuuuuukkkkkk!!!! Huaaaaaaa.. uhuuuuuk uhhhuuukkk." Nai sadar, sambil tersedak dan langsung menangis dia memuntahkan air yang ada di mulutnya.


"Nai!! Benji memeluk Nai kemudian segera ia angkat. Setengah berlari Benji menuju kamarnya sambil menggendong Nai yang lemas tak berdaya. Menyusuri rumah yang begitu luasnya.


"Astaga non Nai?kenapa tuan?" Bi Nuni berpapasan dengan Benji yang tergesa - gesa menaiki tangga.


"Telepon Rio suruh kemari cepat bi. Buatkan juga teh manis hangat." Ucap Benji panik.


"Baik tuan." Jawab Bi Nuni dengan segera.


***********

__ADS_1


__ADS_2