Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Hai tampan, tuan tidak usah menangis!!!


__ADS_3

"Uhhhuuuukk.. uhuuuuuukkk!!!!!!"


Benji yang masih kuyup duduk siaga disamping Nai yang basah serupa. Ditepuk halus pundak Nai. " Nai berhenti membuatku panik setengah mati."


"Huaaaaaaaaaa.. hikss.. hikssssss.. uhukkkk uhuuuuuukkk..tuan.." Nai merengek seperti anak kecil, ia memeluk erat Benji.


"Tenanglah, minum dulu." Ucap Benji sambil membantu Nai minum air teh hangat. Beberapa saat Benji mencoba menenangkan Nai hingga kondisi Nai mulai membaik.


"Nai, kamu diapakan sama mereka? Ya Allah bibi jadi tidak tenang begini." Ucap Bi Nuni sambil membuka lemari, menyiapkan pakaian untuk kedua majikannya.


"Ramona mendorongku. Aku kan tidak bisa berenang." Jawab Nai. Kedua tangan Nai kembali memeluk Benji, seolah meminta perlindungan.


Dia setakut ini????


"Tenang, akan aku buat perhitungan pada mereka." Benji mengusap pundak Nai, "Kau keberatan jika aku membantumu mengganti baju? Kau masih lemas dan bajumu basah semua, aku takut kau sakit. Jika kau keberatan biar bi Nuni yang mengganti pakaianmu." Nai menatap mata Benji, ada ketulusan dibalik itu semua.


Apa dia benar tidak akan macam - macam?ah.. bahkan tangannya pun sedikit gemetar saat memegang bahuku. Dia juga kedinginan, tapi dia malah memperdulikanku. Dia tampan walaupun basah kuyup.


Nai mengangguk tanpa membantah. Benji segera mengambil pakaian yang sudah disiapkan bi Nuni lalu membantu Nai berjalan menuju kamar mandi.


Di Dalam Kamar Mandi


"Tuan.."


"Aku janji aku tidak akan macam - macam."


"Tuan..."


"Ganti dulu bajumu Nai."


"Iiiiiihhhhhh.. dengar dulu..."


"Tidak akan ku dengar sebelum kau mengganti bajumu, buka dulu bajumu cepat."

__ADS_1


"Tuan balik badan, jangan mengintip."


"Baiklah.. kau boleh memegang tanganku jika masih lemas berdiri."


" Iya." Jawab Nai, beberapa saat ia mengganti seluruh pakaiannya. "Sudaaaaah." Ucapnya memberitau.


"Aku tepati janjiku padamu, kau mau bicara Apa? Ayo keluar." Ajak Benji sembari memegang pergelangan tangan Nai.


" Sebentar."


"Ada apa?"


"Ganti bajumu juga tuan, tuan menyelamatkanku hingga tuan basah kuyup, tuan pun kedinginan dan aku tau itu." Ucap Nai yang secara spontan membuka baju Benjamin. Benji hanya diam dengan senyuman yang manis.


" Tuan teralu memikirkanku sampai tuan tidak memikirkan diri sendiri. Aku baik - baik saja, aku tidak akan sakit, aku biasa mandi air dingin sedangkan tuan seperti ayam negeri harus selalu pakai air hangat. Tuan mengkhawatirkanku masuk angin tapi tuan sendiri tidak ganti baju, bagaimana jika tuan yang sakit?" Cerocos Nai sambil memakaikan pakaian Benji. " Ini celananya, aku akan balik badan sampai tuan selesai." Kata Nai sambil menyodorkan celana.


"Kau tidak perlu balik badan." Otak jahil Benji mulai beraksi.


"Baiklah." Jawab Nai santai.


Aku tenggelam masih saja dijahili. Apa maumu tuan tampan? Menguji imanku?


"Hahahahahahaha wanita pintar." Kata Benji sambil dengan cepat memakai celana.


"Kau mau menutup mata terus sampai pagi?" Goda Benji melihat Nai terus memejamkan mata sedangkan ia sudah selesai berganti pakaian.


"Yeeeeeee.. tuan tidak bicara." Jawab Nai, matanya mendelik kesal. " Ayo." Ajak Nai keluar kamar mandi namun tangan Benji menahannya. Benji langsung mendekap Nai, didekatkan mulutnya ke telinga Nai, " Aku mohon padamu berhenti membuatku khawatir Nai, aku bisa gila jika terjadi sesuatu padamu lagi, aku sudah cukup menggilaimu hingga aku menghalalkan segala cara untuk membuatmu tinggal bersamaku disini, jika kau perlu kejujuranku, Demi Tuhan demi apapun aku mencintaimu Nai, bagiku pernikahan ini bukan sekedar kontrak, bukan sekedar simulasi, aku berusaha menjadi suami terbaik didunia ini untukmu, maafkan aku, kedua kalinya aku tidak berhasil menjagamu, maafkan aku." Benji memeluk erat Nai, suaranya terdengar parau.


DEGGGGG!!!!!!!!!


Nai tidak bisa berkata apa - apa. Dia tidak percaya apa yang didengarnya.


Apa ini? Taktik apa lagi yang dia lakukan? Eh dia menangis ? Laki - laki ini bisa menangis ?ko bisa ?

__ADS_1


Ditengah tak enak hati yang Nai rasakan, ia membalas pelukkan erat Benji, tak lama Nai mundur, meraih wajah lelaki super tampan dengan kedua tangannya. Benar saja, Benjamin menangis. Hal yang luar biasa.


" Hai tampan, tuan tidak usah menangis, maafkan aku membuat tuan menangis dan maafkan aku sudah 2 kali membuat tuan khawatir, terimakasih telah mengkhawatirkanku. Maafkan tanganku yang menamparmu tadi. Aku kesal padamu karena membawa Papa dalam obrolan kita dan aku tidak bisa menahan marah itu." Nai mengusap air mata Benji, terlihat Nai menyesali perbuatannya. Benji hanya menatap Nai sambil tersenyum manis lagi.


"Ada lagi?" Tanyanya.


CUUUUUPPPP..


Nai mencium pipi yang tadi ditamparnya. " Maafkan aku." Rengek Nai.


Benji membulatkan mata. Dia bahagia melihat perlakuan manis gadis didepannya itu. Seketika Benji meraih dagu Nai, mencium bibir mungil itu untuk beberapa saat. Tak ada perlawanan, Nai malah melakukan hal yang sama. Cukup lama, mereka berpelukan dengan bibir yang saling bersentuhan.


Ini pelukkan ternyaman yang aku rasakan. Tuhan, aku ingin selalu mendapat pelukan hangat ini.


Tuhan, aku benar - benar mencintainya, jangan ambil dia dari kehidupanku.


"Kau mau berjanji padaku Nai ?"


"Hmmm?"


"Temani aku sampai kapanpun, jangan pergi dariku. Aku mohon."


Nai hanya tersenyum tipis.


Itu juga keinginanku tuan. Namun aku harus tau diri, kontrak kita suatu hari harus diakhiri. Dan lagi, lelaki bermulut manis sepertimu itu paling hanya 10 menit berbicara seperti ini, besok, wanita lain yang ia rayu dengan rayuan serupa padaku.


Nai menarik tubuhnya menjauh dari Benji, ia tersenyum manis, berusaha menutupi kegalauan hatinya. Sedangkan Benji mengartikan senyuman Nai sebagai tanda setuju. Sungguh salah kaprah.


Ia mencium kening Nai sebelum mereka kembali ke tempat tidur.


"Berisirahatlah Nai, nanti jika Rio datang, aku akan membangunkanmu." Seru Benji sambil menyelimuti Nai.


"Tuan, terima kasih."

__ADS_1


"Sama - sama. Tapi, bolehkah aku tidur disampingmu lagi???? kapanpun kau membutuhkanku kau boleh membangunkanku, tenang, aku tidak akan macam - macam, aku menjagamu." Entah karena lemas tak berdaya atau mungkin tidak menyadari bahwa dihatinya sudah ada cinta, Nai mengangguk membolehkan Benji tidur disampingnya. Benji merebahkan badannya, menatap langit - langit kamar dengan senyuman.


Tuhan, terima kasih atas kebahagiaan ini.. aku bahagia memilikinya, aku janji salah satu ciptaanmu yang tercantik ini akan ku jaga sampai mati. Ucapnya dalam hati.


__ADS_2