Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Kemasukan sesepuh pohon talas!!!


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang sangat dingin. Nai dan Benji makan malam dengan terpisah. Nai memilih memasak mie didapur kemudian menyantapnya dimeja belakang, sedangkan Benji ikut makan malam bersama yang lainnya. Bukan tanpa sebab, Nai yang masih kesal karena Benji masih baik pada Tessa membuat Nai memilih diam dan menghindar.


"Kemana istrimu?" Tanya pak Wijaya disela makan malam.


"Sepertinya dia sedang ingin sendiri." Jawab Benji dengan santai.


"Aku lihat tadi dia didapur, memang cocok. Itu tempatnya, biarkan saja." Ucap Melly ketus.


Benji hanya melirik tajam kemudian menaruh sendok dan garpu diatas piring. Dia beranjak pergi sebelum menghabiskan makanannya.


Benji kemudian berjalan menuju taman belakang, mencoba mencari Nai, namun tak dia temui.


Kenapa wanita itu sensitif sekali? Apa dia cemburu? Apa dia membenciku gara - gara aku membicarakan wanita lain? Harusnya dia cemburu pada Bianca, jelas - jelas aku jauh lebih baik pada sahabatnya itu. Dasar wanita aneh.


Sebatang rokok Benji nyalakan sembari melihat lurus ke kolam renang. Di sela lamunan, ada suara lembut yang terdengar menyapanya.


"Kak.." Suara wanita itu. Wanita yang sudah Nai ancam namun masih saja berusaha. Wanita yang membuat Nai memilih masak mie instan malam ini. Dia terlihat cantik dengan baju tidur bermodel tali satu jari lengkap dengan celana super pendek. Menggoda sekali. Tubuhnya yang tinggi dan langsing membuatnya tampak sangat sexy.


"Hai. Duduklah." Perintah Benji. Tanpa dilihatnya.


"Iya kak." Tessa duduk disamping Benji yang masih mematung. Gerak - geriknya seperti ingin menarik perhatian Benji.


"Kakak sedang memikirkan sesuatu?" Basa - basi.


"Memikirkan istriku." Jawab Benji.


"Kakak seperti sedang tidak bersandiwara mencintainya." Selidik tesa lagi.


"Jelas"


"Beruntung sekali Nai. Dia dicintai oleh lelaki seperti kakak."


"Siapapun akan mencintainya segila ini. Dia perempuan yang berbeda."


"Apa bedanya?"


"Yang jelas dia tidak sepertimu, tidak seperti kebanyakan perempuan."


Tessa menarik nafas panjang kemudian dihembuskan dengan kasar. Pertanda kesal. Lagi - lagi kecantikannya yang dipuja banyak pria belum mempan dijadikan senjata untuk menggoda lelaki disampingnya. Tak berselang lama, Nai muncul dari arah taman, kemudian mendekati keduanya.


"Ah sedang apa kalian? Aku tidak mau disebut setan apa daya aku jadi yang ke tiga." Nai berpura kaget, menyindir.


"Jika setannya sepertimu, aku mau digerayangi setiap hari." Kata Benji sambil menatap Nai dengan senyuman.


"Benarkah?"


"Tentu."


"Senang sekali nampaknya melihat kolam, aku malah belum pernah sekalipun berenang disini." Nai mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mendekati Benji.

__ADS_1


"Mau sekarang?"


"Dingin."


"Bagus, biar aku bisa memelukmu sepanjang malam."


"Apa tanpa berenang, aku bisa dipeluk sepanjang malam?" Goda Nai.


"Boleh jika kau memaksa." Benjamin seketika melingkarkan tangannya dipinggang Nai, mendekatkan tubuh mereka. Nai tidak tinggal diam, dia ikut memeluk tuannya, sama eratnya.


"Hahahahaha,Tampan sekali tuan hari ini, setiap hari ketampananmu selalu bertambah." Puji Nai sembari mengelus lembut pipi Benjamin.


"Apa itu bisa membuatmu mencintaiku?apa kau sudah mencintaiku sekarang?"Benji sedikit menunduk, menyetarakan kepalanya dengan kepala Nai.


"Tentu." Nai bicara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Benji, hanya berjarak beberapa centi, cuppppp..kecupan singkat di bibir Benji pertama kali yang dilakukan Nai.


Apa dia benar? Kemasukan sesepuh pohon talas atau bagaimana istriku ini? Kenapa agresif? Astaga aku tidak kuat. Nai kau sudah mencintaiku?


Benji tak mau kalah, meskipun sedikit gugup karena mendengar pernyataan Nai, dia mulai mencumbu leher Nai, menciuminya sesekali, "Kau yakin?" Katanya.


"Yakin. Makanya aku menerima lamaranmu, jika tidak, mana mungkin aku mau menikah denganmu." Nai tertawa renyah menikmati perlakuan dari suaminya itu. Sama sekali tak ada perlawanan, sebaliknya, Nai terlihat sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh Benji.


"Hey ada orang lain." Kata Nai. Mencoba kembali memanas - manasi Tessa melihat hal yang terjadi didepan matanya. Dari sorot mata lawannya itu, Nai yakin Tessa mendidih.


"Tapi ini rumahku." Benji segera memangku Nai, Nai yang masih bertingkah nakal segera memeluk Benji.


Nai mengacungkan jari tengah ke arah Tessa sembari menjulurkan lidah tanda mengejek dibalik pelukannya pada Benji. Tessa yang melihat lalu pergi dengan kesal.


Setelah Tessa hilang dari pandangan matanya, Nai mencoba turun dari pangkuan Benji, tapi Benji pun tak mau kehilangan momen langka di hidupnya, dia mempererat pelukannya, sayang, Nai yang cukup pintar berhasil lepas dari pangkuan itu kemudian mereka kejar - kejaran hingga sampai di kamar. Nai yang masih ngos - ngosan kemudian segera berlari ke balkon untuk menghirup udara segar. Meninggalkan Benji yang berjalan cukup pelan.


"Nai."


"I iya tuan."


"Kenapa kau jadi gemetar seperti itu??" godanya sambil memeluk Nai dari belakang.


"Ti tidak apa - apa." Jawab Nai gelagapan.


Mati aku jika tuan Benji menyangka aku se binal tadi. Bisa rusak masa depanku. Nai semakin tak tenang.


"Bagus juga sandiwaramu!!!"


"Tu tuan tau??"


"Hahahahahahaha." Benji tergelak, "Aku mengenal dirimu dengan baik. Lebih dari dirimu sendiri." Benji mengulangi tindakannya lagi, dia mencumbu Nai, kali ini lebih panas dari adegan didepan kolam renang.


"Eh tuan." Nai mencoba mengelak, mendorong dada bidang Benji.


"Sssttttt diam, Tessa melihatnya" Benji kemudian melirik kearah bawah mengisyaratkan sesuatu pada Nai. Saat Nai pura - pura menengok, Benar saja, Tessa sedang memandangi balkon itu. "Bukankah ini maumu?"Benji segera memangku Nai dan masuk ke kamar. Menurunkan Nai diatas tempat tidur lalu menutup pintu.

__ADS_1


"Bisa tidak kau setiap hari bersandiwara dengan perlakuan seperti ini padaku?" Ucapnya lembut sembari menyalakan sebatang rokok. Nai hanya terbahak, dia mendekati suaminya kemudian mengambil sebatang rokok untuk dirinya. Mereka kini berbincang santai, seperti teman.


"Cobalah Nai, aku berlapang dada menerima sandiwaramu. Cobalah lagi, hingga kau lupa kau sedang bersandiwara, aku akan menunggu, jangan khawatir."


"Inimah namanya asas manfaat." Ceplos Nai.


"Nai."


"Ya tuan?"


"Lusa acara penyerahan semua aset papi padaku. Kau jangan dandan teralu cantik. Aku khawatir kakek - kakek seumuran papi akan jantungan melihatmu."


"Hahahahahah tuan, jangan begitu."


Benji bangkit dari duduk lalu merogok saku celananya,"Ini.." Katanya sambil memberikan sesuatu.


"Sekarang mutlak milikmu. Maafkan aku baru memberikannya. Baru selesai ku pasang CCTV, GPS dan segala yang diperlukan untuk keamananmu, anggap saja ini hadiah kecil setiap minggu. Hati - hati jika menggunakannya, meskipun berat untukku memberikan ijin, namun kebahagianmu itu segalanya untukku."


"Tuan, tidak usah, jangan memberi jika tidak ikhlas. Dan lagi aku bisa menggunakan ojek online jika ingin berangkat, supirpun ada, bawa lagi saja."Jawab Nai santai sambil tersenyum, mendorong tangan Benji yang sedang menyodorkan kunci."


"Apa yang kau fikirkan Nayanika? bukan masalah mobilnya. Aku masih takut kau celaka karena ulah mereka. Kau tidak merasakan bagaimana gilanya aku kehilanganmu saat itu. Aku belum sanggup dan sampai kapanpun aku tidak sanggup kehilanganmu." Tegas Benji tanpa sadar apa yang ia lontarkan. Mata Nai berbinar. Hanya satu pertanyaan dibenaknya, mengapa segala urusan menyangkut tuannya bisa semanis ini. Hal yang selalu Nai impikan sejak masih menjalin kasih dengan Dharma, namun semua Nai tepis, dia tidak mau masuk dalam kebodohan yang lebih dalam. Semua laki - laki itu sama, bicara manis hanya menggunakan bibir, jadi tidak boleh didengar oleh hati. Prinsip wanita yang dulu habis - habisan disakiti.


"Bawa Nai." Titah Benji lagi. Nai tak kuasa menolak, mobil yang ada di mimpinya sejak kecil kini dia miliki. Lagi - lagi, Tuhan seperti menumpahkan segala kekayaan duniawi pada Nai. Balasan kesakitan seumur hidupnya sebelum menikah.


"Tuan aku boleh berbicara sesuatu?"


"Tentang ?"


"Tentang kontrak kita." Nai memberanikan diri mengatakannya.


Benji hanya tersenyum licik, dia tau wanita didepannya meragukan sesuatu. "Katakan." Ucapnya.


"Suatu hari aku harus pergi tuan, saat kontrak kita berakhir. Apa tuan tidak memikirkannya?"


"Maksudmu?"


"Tuan memberikan segalanya, padahal ini hanya simulasi, apa tuan tidak rugi? lebih baik tuan simpan saja semuanya untuk istri betulan tuan nanti." Nai tersenyum, seolah menasehati.


"Aku tidak akan pernah rugi memberikan apapun pada orang yang ku sayangi. Dan tutup mulutmu, jangan berani memancing emosiku dengan mengungkit kontrak kita. Jangan sampai orang lain tau ini hanya kontrak. Jika sudah waktunya, kau tinggal pergi, kau tau apa yang harus kau lakukan setelah 1 tahun bersamaku."


DEGGGGGGG


Hati Nai terasa sesak mendengar kebenaran dari ucapan tuannya. ya, benar perasaannya, tuannya itu orang kaya, memberikan hadiah yang terbilang mewah bukan hal tak mudah, bahkan seratus wanita pun sanggup dibiayainya jika dia mau. Nai menarik nafas, mencoba mencerna dan menenangkan air matanya yang hampir keluar. Dia merasa teralu hanyut dalam buaian hadiah, perlakuan, serta ucapan mesra lelaki disampingnya. Dia lupa bahwa satu tahun ini perkara kerja, bukan cinta.


"Iya tuan, aku tau, aku mengerti arti perjanjian dan kontrak. Aku hanya ingin bilang terimakasih, aku membantu tuan hanya setahun tapi upah dari tuan cukup untuk seumur hidup aku dan keluargaku. Terimakasih telah menyelamatkanku. Menyelamatkanku dari amukan orang tua, menyelamatkanku dari cinta yang salah, menyelamatkanku dari kemiskinan dan kelaparan. " Ucap Nai parau. Tak lagi dapat berbicara tenang, suaranya seperti tersangkut di kerongkongan.


Benji mendengar perbedaan suara Nai, namun dia hanya tersenyum sambil mencoba menatap wanita disisinya. " Itu semua hadiah dari Tuhan, aku hanya menjadi pemeran."


Maafkan aku Nayanika, terpaksa aku harus membungkam mulutmu dengan kata - kata yang menyakitkan, tapi jika tidak ku katakan, bagaimana kerasmu bisa aku kalahkan ?

__ADS_1


__ADS_2