Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Jualan dompet??


__ADS_3

"Tuan, benar ucapanmu, aku harus belanja.." Nai memulai percakapan saat memasangkan dasi di leher suaminya. Pagi hari.


"Aku meminta ijin dulu, takut aku disusul lagi seperti tadi malam. Yaaaa..aku mau belanja. Hihihi." Sambungnya lagi.


"Ada apa kau segembira ini?" Benji


mengernyitkan dahi.


"Aku ingin belanja." Jawab Nai lagi seperti memaksa.


"Yakin?"


Jangan sampai alasanmu belanja tapi malah bertemu lelaki brengsek itu.


"Yakin."


Aku yang tidak yakin Nai.


"Ya sudah. Hati - hati. Beritahu aku dimana tempatnya, kirim foto, telepon aku atau kita video call."


Aku ini tahanan kota sepertinya.


"Baiklaaaaah.. baiklaaaaahhh." Ucap Nai sembari tersenyum. Terpaksa.


"Sarapan dulu, aku minta bi Nuni mengantarkannya kesini." Sembari menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Benji.


"Kau tidak sarapan juga?" Tanya Benji sambil mengunyah nasi goreng. Nai hanya tersenyum sambil terus menyuapi Benji.


"Aku gampang, tuan saja dulu, tuan kan mau pergi bekerja."


Semanis ini jika kau sedang mengurusku, anggun, penuh kasih sayang. Apa kau sudah mulai membuka hatimu untukku?sampai kapan kau terus berpura - pura menerima semua ini Nai?


Benjamin terus menatap wajah Nai.


Cleeeeek!!!Nai menjentikkan jari, menyadarkan Benji dari lamunannya. Benji sontak tersenyum sambil memalingkan wajah.


"Kebiasaan, tuan selalu melamun jika menatapku, kenapa? tuan tidak sedang merencanakan membunuhku?" Tanya Nai sambil cemberut.


"Membunuh? melihat kau luka tempo hari saja rasanya aku yang hampir mati, bagaimana bisa aku terfikir untuk membunuhmu Nai? ada - ada saja fikiranmu itu." Benji beranjak setelah ia lihat nasi goreng di piringnya habis. "Aku pergi ya, tidak usah diantar, kau bersiap - siap saja." Tambahnya lagi.


"Baiklah." Nai mengangguk. Ia hanya mengantarkan Benji hingga pintu kamar.


"Mau ku bawakan apa nanti?" Tanya Benji.


"Bawa senyuman manis dan pelukan mesra bagaimana?" Goda Nai sambil tersenyum nakal pada Benji. Tak disangka, Benji dengan cepat menarik dagu Nai dan menciumnya cukup lama. Nai hanya sanggup memejamkan mata.


"Jangan memancingku Nai. Lagi pula, jika kau meminta, setiap hari akan kuberikan pelukan mesra dan ciuman hangat untukmu." Benji tersenyum sambil melangkah keluar kamar, meninggalkan Nai yang masih mematung.


Sialan, jantungku hampir saja copot, padahal dia sering menciumku dan aku selalu saja merasa deg - degan. Bisa bahaya ini.


Keluh Nai dalam hati.


***************


Pertama bagi Nai setelah menikah mengunjungi pusat perbelanjaan sendiri tanpa didampingi Benji. Dengan mengenakan kemeja lengan pendek dan overall dibawah lutut, Nai masih terlihat seperti gadis belia. Sorot mata para pemuda tak lepas memandangnya. Mungkin mereka tak tau bahwa pemilik mall besar ini adalah suami dari gadis yang dipandangnya.


"Selamat siang nona Nayanika." Sapa karyawan disebuah toko baju bermerk terkenal.


"Siang."


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau pilih beberapa baju, semoga ada cocok denganku disini."


"Baiklah nona, mari saya bantu."


Nai mengambil beberapa potong pakaian untuknya dan untuk Caca.


Caca pasti suka baju yang sama dengan bajuku.


Sekilas Nai menengok kesamping tepat rak pakaian pria berderet rapi. Ia pun memutuskan membeli beberapa pakaian untuk suaminya.


Berpindah dari 1 toko ke toko lainnya cukup menghabiskan waktu. Papper Bag sudah berjajar penuh dijinjingnya.


"Baru 2 jam aku disini tapi lelah sekali. Aku ingin merokok, tidak mungkin juga aku merokok disini, tuan bisa malu." Dalam hati ia berkata. Akhirnya Nai memilih keluar dari mall itu. Sebelumnya, ia mampir membeli 4 cup kopi susu gula aren kesukaannya.


Nai berjalan cukup jauh berharap menemukan warung yang lokasinya tersembunyi.


"Itu dia. Disitu sepertinya aman." Batinnya.


Nai melihat dari kejauhan, ada warung mie instant yang posisinya memungkinkan untuk sekedar merokok. Ia terus berjalan menuju warung itu.


"Ezra!!!!!!!" Ditengah perjalanan ia dikejutkan dengan suara yang memanggil nama tengahnya. Nai berbalik, ia menatap lelaki yang cukup tampan dihadapannya.


"Kamu?" Nai mengernyitkan dahi, mencoba mengingat kembali. "Ya Tuhan, Haaaaaiiiii.. apa kabar?" Tanya Nai, ia memeluk lelaki itu tanpa aba - aba. Dan pelukan itu disambut gelak tawa mereka berdua.


Eh apa itu??? kenapa banyak sekali??????


"Kamu di Jakarta sekarang ?cantik sekali kamu, sudah sukses yah.. syukurlah.." Ucap lelaki berjaket kulit ditengah terik matahari itu. Ia tak henti menatap Nai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lelaki itu terlihat kagum, wanita dihadapannya kini berubah 360 derajat.


"Kamu sedang apa disini?" Tanya Nai.

__ADS_1


"E.. em.. berjualan." Lelaki itu gelagapan.


Nai yang tak bisa begitu saja dibohongi, mencecar dengan banyak pertanyaan. "Berjualan? Jualan apa?" Tanyanya lagi sembari matanya terus mengamati.


"Em.. dompet."


"Dompet?"


"Iya.."


"Bukannya berjualan dompet itu biasanya pakai dus yah? Kamu jualan dompet atau jadi c..."


"Ssssssstttttttt.. diam!" Pria itu menarik tangan Nai, membawa Nai jauh kedalam gang yang sangat sepi. Ia akhinya mengiyakan dugaan Nai.


"Aku sedih melihatmu begini. Faktor ekonomi? Kamu dekat dengan Tuhanmu, kenapa memilih jalan pintas? Kopi dulu." Protes Nai sambil menghisap sebatang rokok dan menyodorkan 1 cup kopi yang ia beli pada teman lamanya itu. Akhirnya dia bisa merokok dan minum kopi meskipun ia harus duduk dijalan tanpa alas.


Flashback


"Hai, siapa namamu?" Anak lelaki berumur 8 tahun mendekati sebayanya, anak perempuan yang membungkuk, duduk dibawah pohon. Sesekali tangannya memainkan tanah. Jam Istirahat.


"Nayanika Ezra Jameela."


"Hai, aku Reyhand. Aku mau memanggilmu Ezra saja. Kenapa kamu disini? Kamu tidak jajan?" Dijawab dengan gelengan polos dan wajah lesu Nayanika kecil.


Anak lelaki itu membuka tasnya yang sudah bolong dibeberapa sisi, ia mengeluarkan 1 roti dengan bungkus plastik kemudian membagi 2 roti itu dan disodorkannya didepan wajah Nai. " Ini, aku bekal ini, tadi aku beli di warung. Cobalah." Nayanika kecil tersenyum, ia mengambil roti itu dan dimakannya berdua, sangat cepat. Setelah itu giliran Nai yang menyodorkan botol minum sangat kusam berisi air. Anak lelaki itu meneguknya.


"Terimakasih. Rotinya enak. Berapa harganya?"


"Itu seribu rupiah."


Nai membulatkan mulutnya.


"Kenapa kakimu? Tanya Nai lagi."


"Ini?" Tunjuk anak lelaki itu ke lukanya. "Oh kemarin dipukul ayah, sakit sekali sampai luka." Jawabnya sambil duduk disamping Nai, memainkan benalu kecil yang tumbuh dibatang pohon.


"Hah?"


"Aku kemarin tidak mencuci piring, jadi ayah memukulku." Jelasnya lagi.


Nai membuka tasnya, dia mengambil beberapa plester "Aku bawa ini!!!" Tanpa aba - aba Nai menempelkan plester itu ditempat yang luka. "Setidaknya, kamu terlihat seperti jagoan. Hihihi.."


*********


"Kamu masuk ke sekolah ini juga?" Tanya Reyhand saat berpapasan dengan Nai. Mereka kini berseragam putih abu.


"Hahahaha kita bertemu lagi. Kelasmu dimana?" Basa basi Nai.


"Eh apa yang kamu bawa ?"


"Ini kue ini keripik." Nai membawa satu kantong plastik besar berisi belasan keripik singkong pedas, di tangan kirinya, dan 1 box cukup besar berisi kue basah disebelah kanan.


"Sepertinya enak. Semoga jualanmu laris."


Tanpa menunggu jawaban, Rey berlari ke lapangan bola, ikut bermain dengan teman - temannya.


Sepulang sekolah.


"Kue nya masih ada?"


"Masih, tapi ini sisa, sudah dingin."


"Aku mau."


"Untukmu saja."


"Jangan, itu kan barang jualanmu."


"Yasudah setengah harga."


"Baiklah." Rey memberikan uang lusuh disakunya. Nai tersenyum melihat temannya itu dengan lahap memakan kue jualannya.


*******


"Kamu masih jadi jagoan?" Nai membuka obrolan saat acara perpisahan SMA itu berakhir. Kini hanya tinggal Nai dan Reyhand duduk ditengah taman menatap jauh ke langit.


"Kamu masih suka membawa plester ?" Jawabnya menggoda.


Nai mengambil plester dan menempelkannya ditangan Rey yang terlihat luka. Pakailah.


"Ayahmu selalu memukulimu dari sejak kita kecil." Gerutu Nai sembari memberikan sebox plester pada Rey. "Nih bawa, buat jimat." Ceplos Nai.


"Kamu mau kuliah? Aku lihat namamu ada di urutan atas siswa yang masuk tanpa test ke universitas negeri itu."


"Iya. Kamu?"


"Aku akan kuliah jika ada uang, aku harus bekerja dulu."


"Sampai jumpa dilain hari Ezra.." Rey menatap Nai.


"Jadi laki - laki kuat ya. Kamu kan jagoan." Pungkas Nai sembari menepuk bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


Flashback Off.


"Kamu pernah makan 1 roti harga seribu dan kamu bagi dua denganku, kamu bercerita ayahmu selalu memukulmu hingga luka, kamu selalu membeli makanan yang aku jual dulu lalu setelah itu kita selalu bercerita sepulang sekolah. Kenapa sekarang kamu jadi tertutup?" Nai mulai menaikan nada bicaranya.


"Itu masa lalu."


"Tapi kamu tetap sahabatku."


Rey menatap Nai, menarik nafas panjang. "Istriku..."


"Kenapa dengan istrimu?"


"3 hari yang lalu dia melahirkan. Anakku sungsang dan setelah diupayakan, tetap tidak bisa normal, akhirnya di caesar. Aku terhimpit, bukan mauku. Rencana melahirkannya di bidan.. rumah sakit sangat mahal disini... Namun karena peralatan terbatas, istriku dipindahkan ke rumah sakit."


"Anak dan istrimu belum boleh pulang jika belum lunas." Nai mencoba mengurai masalah.


"Itu kebijakan rumah sakit." Jawab Rey lemah.


"Dan kamu mencuri." Tatapan tajam bersama 1 kali anggukan sebagai penegasan yang dilakukan Nai. Meskipun suaranya pelan, terlihat tekanan didalamnya.


"Aku harus mendapatkan uang dengan cepat, aku tidak punya pekerjaan, kemarin aku diberhentikan karena ada pemangkasan karyawan besar - besaran, semakin hari biaya rumah sakit semakin mahal dan..."


"Dan kamu mencuri." Katanya lagi lebih lembut.


"Aku bisa apalagi ? Gelap mataku."


"Sudah kamu dapat uangnya ?"


"Entahlah, belum ku buka semua dompet ini."


"Ikut denganku, tunjukan dimana istrimu dirawat." Tanpa mendengar jawaban Rey, Nai menyeret tangan temannya itu ke parkiran mobil yang terbilang jauh. Langkah Nai sangat cepat. Ia bahkan tidak menggubris pertanyaan - pertanyaan Rey.


"Masuklah." Titah Nai saat sampai didepan mobil Hardtop miliknya.


"I ini mobilmu?"


"Masuk!!!!!!!"


"Tunjukan arah rumah sakitnya." Perintah Nai saat mobil mulai melaju. kini wajahnya memerah. Entah karena marah atau kepanasan.


"Aku tidak menyangka kini kamu memiliki apa yang kamu mau sejak kecil."


"Maksudmu?"


"Dulu saat kita jajan es teh, mobil serupa ini lewat, dan kamu bilang kamu ingin punya mobil penculik itu. Tuhan mendengar doamu. Kamu ingat tidak?"


"Sebentar lagi Tuhan juga akan membantu dan mengabulkan doamu. Tenang saja." Jawab Nai sambil tersenyum. Ia menepuk bahu temannya yang terlihat tersenyum perih.


Hampir 45 menit perjalanan, mereka kini tiba di depan rumah sakit tempat istri Reyhand dirawat. Nayanika mengernyitkan dahi, ia hafal betul tempat ini.


Inikan rumah sakit milik tuan Benji.


Nayanika memarkirkan mobilnya dan segera berjalan mengikuti Reyhand. Sesaat langkahnya terhenti, ia menyunggingkan senyuman curang di bibirnya.


Kali ini, namamu akan aku jadikan tumbal. Ucapnya dalam hati. Nai kembali mengikuti langkah temannya.


Kamar 203.


"Hai.. aku Ezra.." Nai mengulurkan tangan sambil tersenyum pada wanita yang baru saja selesai menyusui bayi mungil disampingnya.


"Aku Rania istrinya Rey. Rey pernah menceritakanmu." Sambut Rania ramah.


"Bayi yang lucu." Nai langsung menggendong bayi itu,, namun tak lama ia memberikannya lagi pada Reyhand. "Eh ini bawa lagi bayimu, aku mau ke belakang sebentar."


*************


"Ya tuan, nona sekarang ada dirumah sakit, dia bersama lelaki yang ditemuinya di mall." Ucap seseorang di balik ponselnya.


"Ikuti terus."


BRAAAAAAAKKKKKK!!!!!!


Kenapa harus selalu ada lelaki lain dalam kehidupanmu, Nai!


Benjamin memukul jendela ruangannya hingga retak.


"Astaga Benjamin, ada apa lagi sih?" Tanya Roni yang kebingungan melihat sahabatnya uring - uringan.


"Nai."


"Kenapa lagi dengan nona Nayanika?"


"Dia jalan sama laki - laki lain."


"Yang bener?"


"Laporan masuk."


"Ah cape gue ngurusinnya, tapi saran gue, jangan langsung elu murka, cari info dulu. Dan lagi menurut gue, nona Nayanika gak mungkin macem - macem, dari data yang gue dapet, dia kan cuma cinta mati sama si Dh.."


"RONIIIIIIII!!!!!!!!!!"

__ADS_1


Roni pun lari terbirit - birit keluar ruangan. mengantisipasi dilempar oleh sahabatnya yang sedang dikuasai amarah.


__ADS_2