Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Jebakan!


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Selamat pagi tuan." Sapa Nai.


Pagi Nai.. Saya kerja dulu ya. Oh iya ini uang buat belanja hari ini." Benji membuka dompetnya.


"Eh masih ada yang kemarin tuan." Tolaknya.


"Takut kurang. Belanjakan saja. Beli ayam, ikan, telur, sama bahan untuk sayur sop."


Naipah kebingungan.


Ini dia lapar atau kesurupan? Kenapa semua dibeli?


"Eh,, baik tuan.. Dimasak bagaimana?"


Naipah bertanya lagI.


"Terserah. Semua masakanmu aku suka."


"Baik tuan." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Nai. dia tidak berani bertanya lagi sebab dia sangat mengetahui tuannya yang satu itu.


"Hai Nai, selamat pagi. " Sapa si tampan Bhramsy.


"Pagi mas Bhrams.. Kerja juga?"


"Enggak Nai, mau kerjain tugas kuliah. Bisa bantu aku sebentar? setelah Bianca datang, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu. Dan lagi, masak buat kak Benji untuk makan malam kan?"


Nai serba salah. Beberapa bulan disela waktu kosong Nai belajar bersama Bhramsy, dia mengerti bahwa Bhramsy mengajarkannya agar Nai dapat membantu saat Bhramsy membutuhkan bantuan, namun disisi lain Nai mengingat ancaman Benji yang mengatakan bahwa Nai tidak boleh teralu dekat dengan Bhramsy. Akhirnya Nai memutuskan membantu Bhramsy karena mungkin Bianca akan segera datang.


Dikantor.


"Pagi pak."


"Pagi. Jadwal saya apa hari ini?" Tanyanya pada sekertaris.


Jam 1 siang rapat dengan CEO Gemilang Group pak."


"Ada lagi?"


"Hanya itu pak."


"Ok. Kamu boleh kembali ke mejamu."


"Terimakasih pak."


Benji langsung memeriksa berkas berkas yang menjadi pekerjaannya hari ini. Namun fokusnya hanya pada gadis itu, yang memuntahkan isi perutnya karena mabuk, yang hanya makan sayur sop, yang dikhawatirkan oleh managernya sendiri.


Aaaahhhhh kenapa otakku ini. apa sebaiknya aku pulang saja? perasaanku tidak jelas. Apa gadis itu baik - baik saja setelah kejadian semalam? Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa. kenapa perasaanku tidak enak?


******


Hari ini Almeera mendatangi rumah Benji lagi. Pemandangan yang cukup membuat Almeera kaget karena saat ia datang terlihat Nai akrab dengan Bhramsy.


Sudah ku duga gadis itu bukan perempuan baik baik. Hanya karena cantik dia tidak menyadari statusnya apa. Batin Almeera.


"Hai Bhrams. kamu tidak ke kantor hari ini?" Tanyanya. basa - basi.


"Hai calon kakak ipar. Ah, tugas kuliahku banyak sekali. Ini saja aku minta bantuan Nai. Papi ditaman belakang, barangkali mau berbincang. Oh ya, kak Benji masih dikantor." Jawab Bhramsy mencegah ditanya berulang - ulang. Sebetulnya jika hanya melihat fisik, Bhramsy pun tertarik pada Almeera, namun ketika ada Nai dihadapannya, Bhramsy hanya fokus memperhatikan setiap gerak - gerik Nai. Ya, sedikitnya Bhramsy berubah. Sedikit.


"Yayaya aku tau. Nai boleh buatkan aku minum ? Sepertinya udara sangat panas." Perintah Almeera.

__ADS_1


"Baik nona, saya permisi sebentar."


Tak lama berselang, Bianca pun datang. Kini para gadis cantik berkumpul di kediaman Pak Wijaya. Almeera kaget saat menatap gadis yang datang. Gadis itu bukan gadis asing baginya.


"Kamu Bianca kan? Lama sekali tidak bertemu. Apa kabar ?" Tanya Almeera.


"Hai, kabarku baik. Sedang apa disini?" Jawab Bianca sinis dengan tidak menatap wajah Almeera.


"Aku sedang berkunjung ke rumah masa depanku. Oh ya apa kamu tidak tau? Sebentar lagi Benji akan menikahiku. Dan kau,ada keperluan apa disini?" Ketus Almeera seolah tau Bianca tak menyukainya.


"Dia lebih dulu sering kesini dibanding denganmu kak." Bhramsy memotong.


"Oh ya? Aaahh, aku tau, kau kekasih Bhramsy ya?"


Bianca hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Sayang, apa Nai didapur? Aku haus. Aku susul Nai ke dapur dulu ya." Ucap Bianca pada kekasihnya.


"Eh biar aku saja, aku lupa beritahu Nai bahwa aku ingin es jeruk. Kamu mau minum apa Bian?" lagi - lagi Almeera bersikap seolah baik.


"Air putih saja."


Almeera pun bergegas ke dapur, dia melihat Nai sedang membuatkan minuman.


"Kau sedang membuat teh untuk siapa Nai?" selidiknya.


"Ini untuk tuan Wijaya." jawab Nai sembari tersenyum.


"Ada Bianca didepan, dia meminta air putih dingin segera. Sepertinya dia kehausan. Kedepan saja dulu, biar minumku aku yang membuat sendiri. Kemana para pembantu disini? Kenapa sepi sekali." Tanyanya lagi.


"Ah baiklah nona. Oh, mereka sedang dipanggil semua oleh tuan Wijaya ditaman belakang."


"Kau tidak dipanggil juga?"


Naipah pun segera mengambil air dingin dan gelas kemudian pergi ke ruang depan. Tak lama dia kembali, Almeera sudah membuat minumnya sendiri dan teh manis untuk pak Wijaya sudah tersaji.


"Duh non, saya jadi merepotkan. Maaf.."


"Tidak Nai. Tidak merepotkan. Dan lagi hanya teh manis. Aku tinggal menambahkan gula saja. Aku kedepan lagi ya." Almeera bergegas pergi.


Naipah pun mengantarkan teh manis tersebut pada pak Wijaya. Setelah itu Naipah kembali ke ruang depan untuk membantu Bhramsy.


********


"Tuaaaaaannnn.. tuaaaaan Bhramsy,, Tuan besar sesaaaaaaak!!!!!!!!!!."


Terdengar teriakan bi Nuni sambil berlari menghampiri Bhramsy.


"Papi???Telepon Ambulans!!!!!"


Bianca dengan segera menelpon ambulans.


Bhramsy berlari ke taman belakang. Dilihat ayahnya yang sudah tak sadarkan diri dengan darah di hidungnya. Para pekerja disana semua panik. Beruntung ambulans segera datang dan pak Wijaya segera dibawa kerumah sakit.


********


"Bhramsy, sepertinya om keracunan."


"Keracunan?"


"Maksudku, ada yang sengaja memasukan racun pada makanan atau minumannya. Itu membuat tekanan darah om tak terkendali. Pembuluh darahnya ada yang pecah. Jika terlambat sedikit saja, nyawa ayahmu melayang." Terang Rio, Dokter yang memeriksa Pak Wijaya.

__ADS_1


"Maksudnya? Siapa yang tega meracun papi?" Bhramsy semakin tidak mengerti.


"Nanti kita bicarakan dengan kakakmu. Yang terpenting ayahmu selamat meski belum sadarkan diri. Harus kubersihkan semua yang ada di dalam perut ayahmu itu. Saranku sebaiknya kalian lapor polisi." Tandas sang Dokter.


Wajah Bhramsy kebingungan. Begitupun dengan Almeera dan Bianca yang sejak tadi hanya menunggu diluar. Sedangkan Nai, wajahnya pucat pasi, badannya gemetar, dia terlihat sangat ketakutan.


"Tenanglah Nai, semua akan baik - baik saja." Ucap Bianca yang sedari tadi merangkul Nai karena tiba - tiba Nai menangis.


Tak lama, terlihat dari kejauhan Benji berlari dan langsung menghampiri Nai.


"Mana papi? Papi kenapa? Nai??????Nai jawab!! Benji hanya bertanya pada Nai sambil mengguncang bahu Nai.


Karena tak mendapat jawaban, Benji kemudian mencari ruang dokter dan menerobos masuk.


"Kenapa papi? " Terlihat dari raut wajahnya Benji sangat khawatir.


"Duduklah."


Dan Rio pun menceritakan semuanya.


Wajah Benji tak bisa menyembunyikan amarah. dia terlihat beberapa kali mengepalkan tangan saat Rio menjelaskan.


" Nanti dulu kak, jangan dulu main sangka. Dirumah banyak orang, jangan sampai kita salah menuduh." Bhramsy berusaha menenangkan kakaknya padahal fikirannya pun kalut. Dia sangat mengkhawatirkan Nai. Dia takut kakaknya tidak terkendali.


Ah,,nampaknya dia sedang ingin bermain. Batin Benji.


Benji kemudian menjauh dari adiknya dan Rio, terlihat dia menghubungi seseorang tapi tidak terdengar apa yang dia bicarakan.


Benji yang emosi kembali ke depan dan menghampiri Nai kemudian menggusur Nai sedikit menjauh dari Bianca.


"KAU TAU? SEJAK AWAL AKU MENCURIGAIMU, KENAPA WANITA SEPERTIMU MAU MENJADI PEMBANTU, DAN ITU PERNAH KUTANYAKAN PADAMU JUGA BUKAN???? APA MAKSUDMU? SIAPA YANG MENYURUHMU??? Teriak Benji hampir memecah gendang telinga.


"Maaf tuan, saya tidak tau, dan lagi tadi nona...."


"DIAAAAAAMMM!!"


"Aku hanya menambahkan gula saja, sejak aku datang ke dapur pun Nai sudah membuatkan teh terlebih dahulu." Ucap Almeera seolah membela diri tanpa dipinta penjelasan.


"DIA AYAHKU NAI, KAU TAU SEMUA TENTANGKU, KAU TAU AKU MENYAYANGI AYAHKU."


"APA KAU TIDAK PUNYA AYAH?APA KAU TIDAK MENYAYANGI AYAHMU? DULU SAAT KAU BERCERITA DENGAN AYAHKU KAU BILANG KAU SANGAT MENYAYANGINYA, APA INI DIDIKAN ORANGTUAMU? SERENDAH ITU ORANG TUAMU MENDIDIKMU NAI? ORANG TUA MACAM APA YANG MENDIDIK ANAKNYA MENJADI SEORANG YANG HAMPIR MEMBUNUH!!!"


"Cukup tuan. Saya terima apapun yang tuan katakan. Tapi tidak dengan orang tua saya." Nai mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada majikannya. Tatapan yang tidak kalah tajam dari tatapan Benji yang hampir menjadi makanan sehari - hari Nai.


"LALU APA BUKTINYA? BUKTINYA SUDAH JELAS DAN KAU YANG MEMBUATKAN MINUMAN ITU." Benji mengangkat tangan ingin menampar Nai namun sekuat tenaga dia menahannya dan menjatuhkan kembali tangannya.


"KALAU KAU BUKAN PEREMPUAN, SUDAH KUHABISI KAU DISINI." Lanjut Benji.


"Kenapa tidak diteruskan tuan? tamparlah. Tuan meyakini saya yang melakukannya? tampar. Jika memang menurut tuan dengan memukul dapat sedikit meredakan emosi tuan, lakukan. Kenapa tidak diteruskan tuan? apa mungkin, tuan pun masih ragu tentang tuduhan yang tuan berikan?" Nai kini berubah menjadi dingin dan berani. Tidak ada lagi Nai yang menunduk tersenyum dan hanya menganggukan kepala. Tatapannya yang tajam membuat Benji memalingkan wajah. Masih terlihat jelas mata sembap Nai yang memerah.


"BERESKAN SEMUA PAKAIANMU.JANGAN PERNAH KEMBALI MENGINJAKKAN KAKI DIRUMAHKU LAGI. ATAU MUNGKIN, AKU HARUS LAPOR POLISI?" Ancam Benji.


"Sebaiknya kita memang lapor polisi saja. Biar aku telepon polisi." Almeera mengambil telepon genggamnya kemudian menelpon kantor polisi.


"Dan kau diam. Ini urusanku."


Benji pun berlalu masuk dan menemui ayahnya yang masih terbaring lemah.


Tanpa aba - aba, Bhramsy yang tidak tahan melihat Nai berdiri dipojok rumah sakit dengan bentakan keras dari kakaknya segera menarik Nai menjauhi Benji. Suasana rumah sakit menjadi sangat ricuh karena teriakan Benji.


"Kau keteraluan kak!" Bhramsy menatap kakaknya tak kalah tajam. Bukan tak mau membela Nai, namun jika dia menentang kakaknya yang sedang marah, kemungkinan mereka yang akan bertengkar dan baku hantam.

__ADS_1


Bhramsy dan Bianca segera membawa Nai pulang karena khawatir kakaknya atau Almeera benar - benar menelepon polisi.


__ADS_2