
Pagi hari Nai sudah sibuk membantu ibunya membereskan rumah dan cuci piring. Ya, semalam Nai tidak menjawab apa yang Benji tanya, karena waktu sudah malam, Benji memutuskan pertanyaannya dipendam.
"Jam 9 mama sama papa mau pergi kerumah tante intan. Titip Caca ya. Dia ada PR menggambar, tolong kalau Caca lapar, goreng telur atau apa saja yang ada di kulkas." Ucap ibu Nai.
"Iya ma."
"Yang tadi malam siapa Nai?Tampan itu." Goda sang ibu.
"Hahahahaha orang kaya ma, Nai takut. Dan lagi, siapa di dunia ini yang tidak memiliki niat ketika dia berbuat baik? "
"Dharma? Dia kan baik. Tapi dia sudah tidak pernah lagi kesini. Kamu masih ada kontak sama dia?"
Nai terdiam, dia menguatkan diri dan menatap ibunya.
"Dia sudah nikah ma. Kemarin aku bernyanyi di pernikahannya."
"Astagfirulloh, yang benar Nai? Kenapa bisa? Ya allah" Ibu Nai mengetahui bagaimana rasanya. Dia memeluk Nai.
"Mungkin bukan jodoh. Kuat ya, nanti ada yang terbaik buat kamu. Mama gak sangka kenapa Dharma seperti itu, padahal keluarga kita kurang sayang apa sama dia pas dia lagi susah, setiap hari makan disini. Dia juga sayang sama caca, Ya Allah padahal mama sudah restui kalian, Allah maha Hebat, dia punya rencana lain. Kuat sayang kuat." Perasaan ibu yang mengerti tanpa perlu diberi tau.
" Tidak apa - apa ma, sudah jalannya. Doakan saja semua."
Setelah saling mengobati, Ibu Nai berjanji untuk tidak dulu memberitahu ayah Nai terkait Dharma sebab ayah Nai sangat menyayanginya. Mereka berdua pergi kerumah tante intan. Kini dirumah hanya Nai dan anaknya. Keponakannya lebih tepat.
"Caaa, kamu mau mangga, itu lihat?" Nai menunjuk 3 rumah disampingnya yang memiliki halaman luas, ada pohon mangga dan sawo yang sangat tinggi. Pohon tua itu bahkan menjadi saksi Nai tumbuh besar. Tidak berhenti berbuah Meskipun sering dipetik. Sejak dulu.
"Tante mau?" Tanyanya balik.
"Mau gak? Aku mau naik nih. Ucap Nai sambil menyeringai." Mereka terlihat seperti anak dan ibu namun keakraban yang Nai ciptakan seolah mereka seperti teman sebaya. Nai paham cara mendidik anak.
"Mau sawo." Ucap caca
"Okeeeeyyyyy. Tunggu disini ya, nanti aku butuh bantuan."
"Ya, teriak aja, aku ngegambar diteras ko."Tangan caca penuh dengan 1 pack krayon berisi ratusan warna, dan buku gambar. Pemberian Nai.
********
Nai kini sedang dalam proses memanjat pohon. Si empunya rumah sangat senang ada Nai kembali karena suasana menjadi ceria. Dia tidak keberatan buahnya diambil Nai, Nai malah selalu memberikan buah itu lebih banyak ke pemilik rumah, tak jarang, si pemilik rumah menyuruh Nai jika ingin memakan buah yang tumbuh di pohon tinggi itu.
Nai sedang asyik merangkai pijak ketika si penggemar sejati sedang berjalan tegap, lengkap dengan satu kantong plastik berukuran besar yang didalamnya berisi berbagai macam cemilan, untuk Caca.
Benji menghampiri dengan senyuman manis, dilihatnya anak itu tak sedikitpun bergeming ketika dia ada dihadapannya, dia sangat fokus pada gambar yang sedang diwarnai.
"Hai Ca, ini sambil makan cemilan ya, om bawa banyak buat Caca." sapa Benji sembari memberikan kantong plastik itu
__ADS_1
"Eh om, hai, waaaaahhhhh terimakasih, yang kemarin belum habis om, masih banyak sekali, sekarang sudah bawa lagi makanan." Seru polos anak itu.
"Tidak apa - apa Ca, buat Caca, kalau ada teman, boleh dikasih juga ke temanmu. Nenek ada?" Tanyanya.
"Nenek sama kakek sedang kerumah nenek intan. Masuk aja dulu om, tunggu didalam, sebentar lagi PR ku beres." Caca kemudian tersenyum dan kembali menggambar.
"Kalau tante?"
"Ada diatas. Susul aja om" Jawabnya singkat. Sumringah Benji mendengarnya, pagi hari dia akan bertemu wanita itu.
"Dikamar atas?" Tanya Benji mencari kepastian
"Atas pohon om." Caca menjawab seenaknya. Dia tak melihat pada Benji saat mengeluarkan suara, membuat Benji sedikit kesal melihat kelakuan anak ini.
Kenapa anak ini cuek sekali? Hebat sekali Nai mendidik anak hingga begini, tapi seharusnya mungkin dia bisa lebih sopan sedikit pada yang tua. Ah biarlah, ketika aku dan nai menikah, akan ku urus Caca sebaik - baiknya.
Benji langsung masuk, dan sesuai arahan, dia menaiki anak tangga lalu mencari Nai.
"Naiiii? Nai?"
Rumah ini tidak terlalu besar, apa mungkin tidak terdengar ? Bahkan dirumahku saja Nai langsung mendengar ketika aku berteriak dari kejauhan.
Lebih dari 30 menit Benji berkeliling di ruang atas mencari Nai. Kamar hampir semua pintunya terbuka dan dipastikan Nai tidak ada didalamnya. Benji berlari menuruni anak tangga, menahan kesal dan mencoba bertanya baik - baik pada Caca.
"Ca, tantemu tidak ada diatas. Dia dimana?" Setengah mati Benji menahan nafas kasarnya karena lagi - lagi merasa dijahili oleh anak itu.
"Om sudah keliling dikamar atas, tidak ada tantemu." Kini mereka berdua seperti anak kecil yang saling ngotot menyatakan dirinya paling benar.
"Kan aku bilang, tante diatas pohon, tuh!!!!!??Kenapa naik ke kamar atas?" Caca menunjuk pohon tinggi dan benar saja, dengan celana jeans sangat pendek dipadukan t - shirt warna hitam, rambut yang digulung ke atas sekenanya, Nai yang dia cari sedang bertengger diatas pohon sembari asyik memakan sawo yang ia pilih langsung dari pohonnya.
Benji memelas merasa berdosa kemudian melihat wajah Caca
"Apa om? Hehehehe. Om mau menuduh aku bohong lagi? Aku tidak boleh bohong sama tante. Kata tante jadi orang harus jujur."
Maafkan aku anak kecil, kali ke dua aku selalu salah menilaimu, aku berjanji kamu akan ku kuliahkan hingga lulus, tapi jika boleh menawar,, bisakah hilangkan wajah dingin dan jawaban dingin itu? Jangankan aku, kelak dosenmu pun akan ragu jika kamu menjawab benar namun dengan mimik wajah dan intonasi seperti itu.
"Aduh.. maafkan om,, lagi - lagi om tidak jelas bertanya padamu." Benji kini menahan malu.
"Tanteee, turun, ini ada yang cari!!!!!!"
Nai yang sudah berada jauh diatas pohon samar mendengar ada yang memanggilnya.
"Iya." Nai berbalik, melihat Benji dari kejauhan yang sedang tajam menatapnya sambil menggeleng - gelengkan kepala. Nai tersenyum, dia berusaha turun dengan beberapa kantong plastik berisi buah didalamnya.
"Perlu bantuan ?" Benji sedikit mengeraskan suaranya
__ADS_1
"Tidak usah, tuan bantu aku nanti saja ketika aku menaiki tower atau tiang listrik. Jika hanya pohon aku masih sanggup." Setengah berteriak Nai menjawab kekhawatiran Benji dengan cekikikan yang renyah.
Nai turun dengan selamat sentosa, memberikan sebagian buah pada pemilik pohon lalu berjalan mendekati Caca dan Benji.
"Nih Ca, manis. Sudah aku cek diatas pohon barusan." Ucap Nai sembari menyodorkan buah yang ia dapat.
"Hai tuan, semalam menginap dimana ? Sudah sarapan? Kopi? Masuklah, akan aku buatkan." Karena masih banyak bahan makanan yang Benji berikan kemarin, Nai berinisiatif untuk kembali memberikannya pada Benji.
"Hai nai, kemarin kamu jadi preman, sekarang jadi monyet, sebenarnya apa cita - citamu?"
Tak habis fikir kenapa kau seperti ini Nai? Pulang ke bandung malah semakin membuat bingung, tiba tiba kutemukan digedung, sekarang kulihat diatas pohon,jangan sampai besok kau ada didalam gorong - gorong.
Nai tidak menjawab. Ia hanya menyeringai disusul dengan menarik tangan Benji dan caca untuk masuk kedalam.
DEEEEEGGGGGGG
Dia menarik tanganku, ah indahnya cinta. Pucuk dicinta ulam tiba, dengan perlakuan kecilpun Benji membesar - besarkannya jika yang melakukan adalah Nai.
"Ca, kamu mau makan apa?"
"Apa aja, gimana tante."
"Tuan, mau makan apa?"
"Boleh ayam yang pertama kali kau buat? Sayur sop?"
"Apa lagi?"
"Udang tepung, dan perkedel. Boleh? Ayo kita belanja dulu sebaiknya nai."
"Hanya itu? Baiklaaaah. Tuan, pemberianmu kemarin tidak habis dalam satu malam, semua masih utuh. Akan kumasak semua. Tunggulah disini."
Dengan segera Nai menuju dapur, membuka kulkas dan mulai menyiapkan bahan yang ia butuhkan. Sedangkan Benji? Dia diruang tengah sedang bermain game online bersama Caca.
Waktu berlalu, Benji menghampiri Nai yang asyik memasak.
"Butuh bantuan ?"
"Tidak tuan, sepertinya semua bisa kukerjakan sendiri. "
"Masaklah yang cukup banyak Nai, bapak dan ibu juga pasti belum makan."
"Aku sudah telepon, mama papa makan di rumah tante intan katanya sedang ada syukuran, jadi aku masak untuk siang ini saja, sore katanya mau membawakan makanan dari tante intan."
"Baiklah. Oh ya, bisa kau jawab pertanyaan semalam ?"
__ADS_1
"Yang mana tuan ?"