
Gedung Wijaya Group
Pagi ini Benjamin datang ke kantor dengan senyuman yang menawan. Tadi malam ia tertidur sangat nyenyak memeluk sang istri.
"Selamat pagi pak Benjamin." Sapa Ismi sang sekertaris.
"Selamat pagi Ismi. Apa jadwal hari ini?"
"Hanya tanda tangan berkas pak, oh iya, ada yang ingin bertemu bapak."
"Siapa?"
"Sepertinya yang akan melamar pekerjaan."
"Memang kita sedang membutuhkan karyawan?"
"Sepengetahuan saya tidak pak, namun orang itu membawa map dan bilang ingin bertemu bapak."
"Ah ada - ada saja." Benjamin melihat ponselnya yang tiba - tiba bergetar karena ada pesan masuk.
Bos, pria yang bersama nona Nayanika kemarin ada di kantor, dia membawa map dan sepertinya ingin bertemu dengan bos.
Pandangan Benjamin berubah seketika menjadi sedingin es.
Besar juga nyali lelaki itu. Biar kuhabisi saat ini juga.
"Ismi, suruh orang itu masuk!!"
"Baik pak." Ismi berlalu pergi dan tak lama suara ketukan pintu terdengar lagi.
"Masuk."
Lelaki itupun masuk keruangan dengan sangat sopan. "Perkenalkan, saya Reyhand." Ucapnya sambil mengulurkan tangan namun dibalas dengan tatapan sinis dari Benjamin.
"Duduk." Titah Benjamin dengan nada dingin."
DRRRRTTTTTTTTT.
Ponsel Benjamin bergetar, dilihatnya ada panggilan dari istrinya, Nayanika.
"Hallo" Sapa Nai.
"Hai. Pantas cuaca cerah, ada bidadari yang meneleponku pagi - pagi."
"Aku akan mengadakan kuis dadakan untuk tuan." Misi dimulai.
"Aku menyimaknya cantik."
"Pertanyaan pertama, apa yang akan tuan lakukan jika aku mati?"
"Aku akan bunuh diri." Spontan Benji menjawab.
"Dan ketika aku hampir mati lalu ada orang yang menyelamatkanmu, apa yang akan tuan lakukan?"
"Memberikan apapun yang orang itu inginkan sebagai ucapan terimakasih telah menyelamatkanmu."
"Jadi,, lakukan itu sekarang. Tuuuut.. tuuuut.." Tanpa menunggu jawaban, Nai langsung mematikan ponselnya.
__ADS_1
Rupanya dia sedang menjalankan rencana yang ada diotaknya. Gadis pintar.
"Apa yang kau butuhkan?" Benji berubah kembali ramah.
"Saya mau melamar pekerjaan." Jawab Rey penuh harap.
"Kamu diterima."
Rey kebingungan, "Mak..maksud tuan?"
"Kau boleh bekerja mulai besok, sekertarisku akan menunjukan ruanganmu." Jawab Benji sambil tersenyum.
Aku cemburu padamu, tapi aku tau Nai membalas kebaikan yang pernah kamu tanamkan padanya.
"Tuan.." Keheranan, Rey masih memasang wajah penuh tanya.
"Terimakasih telah menolong istriku dulu."
"Ezra?" Rey bertanya untuk meyakinkan.
"Nayanika Ezra Jameela. Ya, dia istriku."
"Tuan, terima kasih." Ucap Rey.
"Ya. Sama - sama. Sejak kapan kamu mengenalnya?" Selidik Benji. Rey pun akhirnya menceritakan semuanya tanpa terkecuali.
"Rumah sakit Harapan Indah?"
"Iya tuan, sepertinya, Ezra akan kesana lagi hari ini. Kemarin dia berkata akan menengok lagi bayiku."
"Baiklah, kamu boleh kembali kerumah sakit, jaga istrimu. Besok kamu mulai bekerja disini." Jawab Benji. Kembali ia terharu mendengar cerita Reyhand tentang istrinya."
Senyum merekah tersungging di bibir lelaki itu. "Baiklah."
"Tuan, saya titip Ezra, dia gadis yang sangat baik. Tolong jaga dia." Pinta Rey saat Benjamin terpaku menatap surat yang ia terima sambil tersenyum. "Saya permisi tuan."
"Akan ku jaga dia sepenuh hidupku. Jangan khawatir."
Rey berlalu dan Benjamin langsung membuka surat itu.
"Aku tau tuan lebih bijaksana dari aku. Selalu lebih. Terimakasih telah memberikannya pekerjaan. Aku tau pasti tuan akan menerimanya.
Dia pernah memberikan sepotong roti saat aku 3 hari tidak makan. Kemarin aku melihatnya mencuri, aku tidak mau dia terus berada di jalan yang salah. Dia pintar, aku bersumpah untuk itu. Dia akan membantu perusahaanmu tuan.
Pulanglah lebih cepat, kita bercerita. Sepertinya gara - gara motor mogok tempo hari, aku jadi ingin selalu dekat dengan tuan."
"Kau berhati malaikat Nai. Kau menggunakan uang yang kau miliki untuk membalas siapapun yang pernah membantumu. Aku bangga padamu." Lirih Benjamin.
Tak lama Benjamin membereskan mejanya, dia bersiap mendatangi rumah sakit miliknya karena ia merasa Nai akan pergi lagi kesana.
Sementara itu, di rumah sakit..
"Mana kepala rumah sakitnya????" Nai mendatangi sebuah ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Semua yang ada di dalam ruangan itupun terpaku melihat Nai, beberapa orang yang mengetahui bahwa Nai adalah istri dari pemilik rumah sakit ini tertunduk tak bergeming, mereka takut.
"Tolong bawakan seluruh peraturan dirumah sakit ini." Titahnya pada salah satu lelaki berpakaian perawat. Lelaki itupun bergegas mengambil setumpuk peraturan yang ada dalam lemari berkas. Diberikannya pada Nai dengan tangan gemetar.
Sementara lelaki yang berada dipojokan ruangan sepertinya tidak mengetahui siapa Nai, "Maaf anda siapa???" katanya.
__ADS_1
Tak menggubris, Nai membaca cepat setumpuk kertas yang ada ditangannya kini, "Apa ini??????? UANG UANG UANG UANG UANG! SEMUANYA UANG. MASIH MENDING JIKA SUDAH MEMBERI UANG, NYAWA BISA DISELAMATKAN. SIAPA YANG BUAT PERATURAN INI?" Ucapnya membentak.
"Maaf nona, kami hanya menjalankan peraturan yang sudah ada." Kata lelaki itu yang terlihat mengenakan name tag bertuliskan Alfredo. Kepala rumah sakit ini.
"Kamu tau? Temanku sampai mencuri gara - gara tidak ada keringanan dirumah sakit ini. Tadi aku melihat ada lansia yang duduk dikoridor gara - gara belum membayar biaya pendaftaran jadi dia tidak diberikan kamar. Kamu gila atau tolol? Kamu lahir dari batu? Kalau ibu atau ayahmu yang begitu kamu mau bagaimana ?" Telunjuk kini berada tepat didepan matanya, Nai yang diluar kendali berani membentak siapapun yang menurutnya salah.
"Itu peraturan disini nona mohon maaf." Jawabnya sambil terus menatap Nai sinis.
"Tidak ada!!!!!!!! Peraturan itu harus diganti." Nai menekankan ucapannya.
"Nonaa tenang dulu." Kata salah satu perawat wanita yang menghadiri pernikahan Nai dan Benji tempo hari.
"Tidak punya otak kamu ya! Kalau kamu pimpinan dirumah sakit ini, tolong yang bijak, jangan memeras ke orang kecil, peras saja pemilik rumah sakit ini, dia kaya 7 turunan 7 tanjakan." Sambung Nai sembari tertawa menyindir.
"Nona, hati - hati anda bicara, anda tidak tau siapa pemilik.."
"SAYA TAU!!!!!!!!KAMU YANG TIDAK TAU SAYA."
"Tolong panggilkan satpam." Katanya lagi. Beberapa orang keluar ruangan sambil berbisik satu sama lain, satpam yang kebetulan melewati ruangan itupun dipinta untuk mengamankan Nai.
"Sekali kamu maju aku jamin kamu akan jadi pengangguran!" Tegas Nai saat satpam hendak meraih tangannya. Satpam itupun tertegun, mengurungkan niat dan terdiam disamping Nai.
"Kamu sombong sekali baru jadi kepala rumah sakit, mau kamu dipindahkan ke Rusia untuk berternak belut dan kecebong? mau?" Ceracau Nai tak henti, tak disadari sedari tadi suaminya sudah ada di depan pintu.
Alfredo yang menyadari kedatangan si pemilik rumah sakit segera mengalihkan perhatian, "Benjamin, maaf ada sedikit kericuhan disini, mari.."
"Tidak, ini keindahan." Ucap Benji sambil tersenyum.
Alfredo pun kebingungan, "Maksudnya?" tanyanya lagi tak paham.
"Nah ini juragannya datang!" Nai membalikan badan, melihat sosok suaminya yang menatap Nai dengan tatapan hangat penuh cinta, terlihat Benjamin seperti menahan tawa.
"Kuis dadakan kedua tuan, bagaimana jika aku punya permintaan yang menurut kebanyakan orang, sedikit kurang masuk akal?" Tanya Nai.
"Dunia akan kuberikan padamu. Apalagi hanya permintaanmu." Jawab Benji santai.
"Aku mau peraturan disini semua diganti bagaimana aku saja!! Semua harus ikut aturan mainku." Pinta Nai tegas sambil terus menatap mata Alfredo.
"Semua yang ada disini milikmu Nai, lakukan sesukamu."
"Benja..."
"Haiiitsssssss.. diam kamu. Dengarkan dengan seksama atau?"
"Hahahahahaa, aku dengar itu, ikuti saja kemauannya daripada kau dikirim ke Rusia untuk berternak belut dan kecebong." Tak sanggup manahan tawa, Benjamin merangkul pundak istrinya.
"Dia istriku." Terangnya pada Alfredo.
"Kapan kamu menikah?"
"Saat kau masih di Amerika."
"Jadi, mulai besok sampai peraturan selesai ku buat, gratiskan saja dulu rumah sakit ini! Gaji kalian akan tetap, tak ada yang aku potong. Eh akan ku potong jika kalian tidak ramah dan tidak senyum. Awas galak - galak pada pasien siap - siap kalian pengangguran. Dadah!!!!!" Nai tak menunggu jawaban, ia keluar ruangan sambil menarik tangan Benji. Merekapun berjalan berdua.
"Kau sangat manis saat marah." Benji mengusap puncak kepala Nai yang sedari tadi menekuk wajahnya. "Sewenang - wenang yang menakjubkan." sambungnya lagi.
"Tuan, Tuhan memberikan harta berlimpah padamu, tapi rumah sakitmu malah memeras orang miskin, dimana hatimu? Mau keuntungan sebesar apalagi?" Memberhentikan langkah, menatap Benji sambil memelas.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan semua kewenangan padamu, mau apalagi?" Benji malah balik bertanya.