Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Bandung bukan tempat berlindung!


__ADS_3

Ragu menggebu, penuh asa Nai mengetuk pintu rumah didalam gang kecil itu. Rumah yang sejak dulu menjadi saksi gelombang kehidupan seorang Nayanika.


"Assalamualaikuuuum"


"Waalaikumsalam!!!!!" kamu pulang? Ko gak bilang - bilang. Seru ibu Nai. Ibu Sri membuka pintu, dilihatnya seorang anak yang sangat ia rindukan.


"Kejutan dong ma. Mama sehat? Mana caca ?" Celingukan Nai mencari anak gadisnya.


"Masuk dulu. Ada diatas sama kakeknya." Lanjut sang ibu.


Nai berlari menaiki anak tangga.


"Caaaaaaaaaa aku pulaaaaang!!!!!" teriak Nai memeluk anak yang beranjak dewasa itu.


"Tanteeeeeeee!!" Si anak kegirangan, dipeluk wanita dihadapannya itu.


"Alhamdulillah kamu pulang, papa kangen, ingat terus." ucap pak Gunawan, ayah Nai.


" Gimana kerja kamu?" Pak Gunawan membuka obrolan sambil melepas pelukan yang sedari tadi dia berikan pada putri bungsunya.


Ya tuhan aku harus berkata apa ?untuk jujur aku tak mungkin.


"A - aku berhenti kerja pa." Nai ketakutan, hanya bisa menunduk.

__ADS_1


"Aduh kenapa ?" Terlihat samar, wajah Pak Gunawan seperti khawatir, kecewa.


"Sudah tidak betah, dan lagi, gajinya kecil." jawab Nai asal - asalan.


" Iya tapi kan kamu kerja lumayan, bisa membantu papa sedikit - sedikit. Kamu coba melamar ke perusahaan baru itu yang ada di TV, masuk BUMN atau CPNS coba lihat jadwalnya kapan testnya ada lagi. semoga saja rejekimu."


yayayaya selalu CPNS, BUMN pangkat yang dia fikirkan. Aku mengamininya Tuhan, namun aku jengah selalu ditekan seperti ini. Apa papa tidak paham bahwa setiap orang memiliki rejekinya masing - masing?


" Iya pa, nanti dicoba. Tenang saja, rejeki kita pasti ada, sembari menunggu panggilan, aku bisa kembali menjahit sambil menyanyi, aku bisa jualan keripik lagi pa, tenang." Nai berusaha menerima keadaan.


" Iya papa tau, tapi kan tidak ada jaminan masa tua, nyanyi kalau ada, jahit baju juga, duh.. sayang ijazahmu." Sekarang nampak jelas raut kecewa dari wajahnya.


"Disetiap pekerjaan, pasti ada masalah, kamu jangan mundur, hadapi saja, kalau kamu seperti itu, pasti akan selalu tidak betah bekerja dimanapun. Makanlah dulu lalu istirahat, kamu pasti capek." pungkasnya.


Siapa yang mau menjadi penyanyi malam? siapa yang mau menjadi pembantu dan berpura - pura kerja di kantor. Siapa yang mau menjadi anak durhaka yang terus menerus berbohong pada orangtua? aku benar - benar berusaha untuk mewujudkan mimpimu pa, entahlah, Tuhan belum mengabulkan doaku padahal lamaran pekerjaan sudah berpuluh ku kirimkan. aku harap papa sabar, akupun berusaha. Aku membenci kebohongan ini, kebohongan yang ternyata ku butuhkan dalam hidupku. Mengapa selalu pekerjaan yang diutamakan? Jika hanya uang, aku bisa mencarinya, tapi tolong jangan terus - terusan memberikan beban mental.


Nai membuka jendela kamarnya. Dia menatap jauh. Sekali lagi, Nai muak terus ditanya pekerjaan. Siapa yang harus disalahkan? Belum lama Nai menatap jendela, suara pintu terketuk didengarnya.


tooookkktoook


"masuk."


"Belum tidur ?"

__ADS_1


"Belum pa.."


" Besok kamu coba kirimkan lamaran ya ke perusahaan ini, alamatnya ini sudah papa tulis." Ucap ayah Nai dengan bersemangat.


"iya pa."


" Semoga saja ada rejekimu. Papa selalu mendoakan kamu Nai. oh iya, itu hebat sekali anak pak Solihin, dia S2 ke Amerika, dibayar semua oleh tempat kerjanya. Si Asri juga teman sekolahmu, sekarang enak dia di Kementrian Keuangan. Uh hebat, sudah pakai mobil."


Lihatlah, bahkan anakmu yang sejak smp berjualan tak pernah dipandang baik dimatamu. Anak temanmu, anak tetangga, yang punya mobil yang punya pangkat, semua bagus dimatamu. Ya Tuhan, sejak kecil aku selalu dibanding - bandingkan, bukannya tambah kuat malah aku hampir gila.


"Doakan Nai ya pa, Nai juga ingin seperti mereka, doakan." Nai sudah habis kata untuk sekedar membalas ucapan ayahnya itu.


" Iya selalu papa doakan, tidak dipinta juga papa doakan Nai. Papa bingung Nai, uang sudah habis. Kemarin juga papa puasa karena hampir tidak makan, papa bingung harus bagaimana lagi. Hilang semua uang papa. Bagaimana kedepannya, listrik belum dibayar, papa takut dimatikan listriknya." tangisnya tak bisa ditahan, pria paruh baya yang Nai kenal seumur hidup ini memiliki luka baru yang sangat menyakitkan.


Ayah Nai adalah pensiunan salah satu BUMN di Bandung, karena yang dia dapat adalah uang pesangon, maka dia tidak mendapatkan pensiun setiap bulan, uangnya diberikan secara langsung, kurang lebih 400 juta. Naas, ayah Nai yang sangat mempercayai kakak Nai, menitipkan sebagian besar uangnya pada anak sulungnya itu, karena anak sulungnya mengaku bekerja di Bank, uang rencananya akan di depositokan dengan keuntungan yang cukup banyak, tanpa diketahui faktanya kakak Nai tidak bekerja di bank, dia mencoba peruntungan di dunia saham online, tanpa dasar. Alhasil semua uang raib. Setelah raib, sang kakak masih berusaha sekuat tenaga memberikan keuntungan yang dijanjikan, entah bagaimana caranya. Yang penting kesalahannya tertutup.


Nai yang sangat mengenal kakaknya, sejak awal merasa curiga. Nai paham benar siapa kakaknya itu dan bagaimana mulut manisnya merayu kedua orang tua untuk mendapatkan uang. Berkali dan bertahun - tahun Nai memperingatkan dengan halus kedua orangtuanya, namun yang didapat ternyata bukan kepercayaan, melainkan cemooh, amarah dan tuduhan bahwa Nai juga ingin mendapatkan uang. Habis akal Nai, akhirnya dia pasrah pada keadaan, dia tau akhir cerita ini adalah mimpi buruk baginya.


Nai berbeda, maka dari itu hampir semua keluarga enggan menyapa. Sejak kecil Nai berdandan urakan, beranjak dewasa dia menjadi wanita yang sangat keras, karena bentakan, pukulan, menjadikan Nai seseorang yang keras hatinya. luka mentalnya.


Namun Tuhan selalu memberikan 2 sifat kepada ciptaanNya, layaknya 2 sisi mata uang yang berbeda. Nai pekerja keras, dia tidak gengsi bekerja apapun selama itu halal dan menghasilkan uang. Sejak smp Nai sudah bernyanyi, sudah keliling berjualan keripik, susah mulai menjahit pakaian, Padahal saat itu ayahnya sedang berjaya. Hal ini Nai lakukan semata hanya karena lelah selalu dibandingkan dengan kakaknya yang mendapat beasiswa dan sekolah gratis. Nai merasa teralu banyak menghabiskan uang orangtuanya jika harus dibayarkan sekolah dan diberi bekal uang setiap hari.


Nai yang mungkin kurang beruntung, tidak pernah ada cita - cita seperti teman sebayanya, dia hanya ingin dianggap anak dan disamakan perlakuan seperti pada kakaknya. Tak ada masa kecil penuh dengan permainan, bertahun - tahun hal yang ia tau hanyalah sepulang sekolah harus mendapatkan uang untuk bekal esok hari. Dia harus mengerjakan PR, mengambil keripik ke pedagang, kemudian menjualnya kembali. Berbanding terbalik dengan kakaknya, yang bisa fokus belajar karena tidak harus memikirkan uang. Wajar Nai sedikit terpuruk dalam nilai akademik saat itu meskipun lambat laun Nai mampu membungkam semuanya, lulus Sekolah Menengah Atas, Nai masuk Universitas Negeri favorit di Bandung tanpa test, yang bahkan kakaknya pun tidak lulus test ketika mencoba masuk Universitas itu. Sungguh Tuhan maha Adil.

__ADS_1


__ADS_2