
Flashback On.
"To..tolong.. maa..aff.. tooloooong.!" Mahisa bernafas dengan susah payah meskipun oksigen dengan udara yang cukup besar terpasang di hidungnya "Iya, aku mendengarmu kak. Tenanglah."
Beberapa detik sekali, bahkan selalu diulang - ulang, hanya kalimat tolong dan maaf yang keluar dari mulut Mahisa, kesadarannya jelas terganggu, obat dengan kandungan morfin selalu diberikan saat dia meringis kesakitan."Tolong....to..long.. maa..aaf.. maaa.aaafff." Katanya lagi.
Nai hanya mampu pasrah, ditengah gelap fikiran, dia hanya mampu menggenggam tangan kakak kandungnya yang terbaring tak berdaya."Kak, aku memaafkanmu. Segala kelakuanmu aku maafkan. Maafkan juga aku, maafkan aku yang memarahimu, membentakmu, maafkan, aku tidak membencimu, aku membenci kelakuanmu." Tak ada air mata, Nai hanya takut kakaknya pergi selamanya, bagaimana dengan semua masalah ini?
"Too..looong.." Lagi - lagi Mahisa berceracau. Nai coba menenangkan sambil mengusap kening kakaknya. "kak, aku akan menolongmu, apapun itu, jangan khawatir, Caca anakku, kakak tenang saja. Aku akan menolongmu aku janji, tapi kakak tolong aku juga ya? Kakak harus sehat, kakak harus bantu aku, aku tidak sanggup menanggung ini sendiri. Kakak harus sehat ya. aku janji bantu kakak, semua masalahmu akan kuselesaikan, jangan khawatir, aku bisa menghadapinya asal kakak sehat." Mahisa akhirnya tersenyum dan mengangguk lemah. Dia terdiam sekejap.
Denyut nadi yang semakin melemah, Nafas yang semakin terengah, mengiringi kepergian Mahisa. Nai menyadari itu.
Nafasnya? apa dia sudah tidak sesak? kenapa ini? mana detak di tangannya?
Kakkkkkk? Kakak?????
Flashback Off.
"Sejak saat itu tak lagi ku dengar rintihannya meminta tolong. Tak kudengar lagi tarikan nafasnya yang sulit. Kini dia bisa bernafas lega, tidak lagi sakit. Betapa Tuhan menyayanginya, dia selamatkan kakakku. Dan kini perjuanganku yang belum berakhir."
"Karena janjimu padanya?"
"Jelas. Aku harus tepati janjiku padanya. Ku urus semua masalah semasa hidupnya. Apalagi? Saat itu Semua seperti mimpi, aku menjalani kehidupanku seperti tidak menapak kaki. Meskipun sebelumnya sudah ku prediksi, namun faktanya aku masih tetap merasa terbebani. Hmmmmmmmmm" Nai menarik nafas panjang. "Penyesalan terdalam adalah ketika aku tau ada yang tidak beres, malah aku biarkan. Jika saja saat itu aku bertindak, mungkin tidak akan begini." Sesal Nai.
"Kau menyesali hidupmu hingga saat ini juga?"
"Entahlah, mungkin dengan aku yang dulu, ya, tapi dengan yang sekarang, sepertinya tidak."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saat aku tersadar, aku ada di altar pernikahan yang mewah, disampingku pemuda kaya, dingin dan gagah. Aku menempati rumah impianku, aku tidur dikasur empuk, aku dimanjakan dengan uang, perhatian, kejutan besar yang bahkan sejak kecil sudah ku yakini itu tidak akan pernah jadi kenyataan. Tuhan punya rencana, aku saja yang tolol, bahkan dari semua kejadian itu, aku bisa membuat papa dan mama tersenyum, membanggakanku. Hal yang paling aku mimpikan sepanjang hidup."
"Kau merindukan kakakmu?" Tanya Benji ikut mengiba.
"Tentu. Kenapa aku selalu tersenyum ketika melihat tuan dan mas Bhramsy bercanda, saling pukul, atau bertengkar? Aku mengingat itu, kita pernah seperti itu, namun sejak dia pergi, aku sendiri. bahkan teman sekedar untuk berbagi, aku tak punya lagi." Nai kini menunduk, bahkan untuk menaikan dagu pun sepertinya dia tidak sanggup.
"Aku harus berterimakasih pada kakakmu. Meskipun akhir cerita hidupnya mengantarkanmu pada suatu ujian hidup terberat, tapi itulah jalan yang membuatku menemukanmu. Nai, kau menepati janjimu padanya Nai, sudah kau tepati, Caca menjadi anakmu, semua masalah yang kakakmu tinggalkan sudah kau selesaikan, uang yang hilang sudah Tuhan ganti, kakakmu sudah bahagia disana, ikhlaskan, percaya padaku, kau sudah menepati janjimu sebaik - baiknya. Kini kebahagiaanmu yang kau impikan dulu, akan jadi kenyataan. Percaya padaku. Semesta itu adil."
"Semesta sudah adil tuan, aku saja yang tidak tau diri."
Benji menggelengkan kepala, mengusap kristal bening yang keluar tanpa aba - aba. Hanya dengan cerita, Benjamin tau bahwa kehidupan istrinya dulu, jauh dari kata sempurna. Mungkin ini jalan Tuhan, pantas saja, saat aku pertama melihatnya bernyanyi, bukan tergoda, malah aku iba. Padahal saat itu aku tak tau bagaimana ceritanya. Senyumu itu tak bisa menutupi lukamu yang teralu menganga.
Dia mengusap lembut bahu wanita disampingnya, "Kau teralu kuat untuk jadi seorang wanita. Bahkan bahumu sepertinya sudah terbiasa menanggung derita. Saat ini, aku yang bertanggung jawab atasmu, kutepati janjiku. Apapun yang menjadi bebanmu, berikan padaku sebagian, seluruhnya bila perlu. Kita hadapi bersama. Kau boleh tidak percaya padaku, tapi aku bisa menjadi tempatmu berbagi, katakan padaku semua keluh kesahmu, ketakutanmu, mimpi burukmu, aku milikmu Nai, aku tempatmu bercerita, kau aman bersamaku,"
"Kau berniat pergi?" Tanya Benji.
Kupastikan itu tidak akan terjadi.
"Jalanku tidak sampai disini tuan."
"Maksudmu?"
"Ini hanya pernikahan sementara, meskipun kita menikah resmi, suatu hari aku harus pamit pergi, sesuai ucapanmu, aku hanya menemanimu mencari wanita terbaik yang nantinya akan jadi pendamping tuan selamanya. Saat itu terjadi, aku masih harus terus berjalan. Tapi percayalah tuan, bebanku tidak akan berat lagi seperti dulu. Tuan tidak usah memintaku membagi semua itu, tuan sudah menjamin orang tuaku dan Caca, apalagi? Aku hanya perlu fokus memperbaiki kehidupanku. Percayalah, tidak akan lagi ada Nai si pembantu atau Jameela si penyanyi malam."
"Jadi aku..."
__ADS_1
"Jadi tuan adalah malaikat penolongku. Tanpa tuan, mungkin aku masih harus menyanyi setiap malam. Semua yang tuan berikan lebih dari cukup."
"Apa suatu hari kau ingin menikah?"
"Menikah lagi maksudmu tuan? Jangan bercanda, aku sudah menikah denganmu. Dengan lelaki yang diidamkan semua wanita. Pernikahan megah, bahkan megahnya lebih dari yang ku bayangkan dalam hidup. Sepertinya jika kontrak kita selesai, seleraku akan naik tingkat."
"Maksudnya?"
Tidak munafik, aku yang hanya orang biasa, dijadikan seperti ratu dirumah ini. Kekayaan, uang, segala kemewahan aku dapatkan. Jika nanti aku mencari pria lain, itu harus yang lebih kaya, lebih tampan lebih perhatian darimu tuan."
"Kenapa?"
"Karena aku nyaman dengan ketampananmu dan perhatianmu. Bagaimana bisa aku lupa? Bahkan membuka botol minum saja tuan yang membukakan."
"Bagaimana dengan dia?"
"Dia? Dharma? Ahahahahaha. Jika memang jodoh, Tuhan akan menyatukan, tapi jika tidak, suatu hari aku akan mengikhlaskan."
"Hatimu seluas itu?"
"Sejak menikah denganmu, aku menyadari, Tuhan bukan merampas, dia mengganti. Ketika dia mengambil sesuatu dariku dengan paksaan, itu tandanya dia membuatku merentangkan tangan, dan tak beberapa lama, dia mengganti dengan sesuatu yang berkali lipat lebih sempurna"
"Maksudmu? Aku?"
"Ya, Tuan. Dilihat menggunakan logika, tuan jauh lebih tampan, lebih kaya, lebih perhatian, semua dilipatgandakan. Perihal dibandingkan, Tuan selalu juara tanpa tandingan. Dan jika menggunakan akal, aku bisa berkata persetan dengan perasaan. Bukankah pepatah mengatakan bahwa cinta bisa tumbuh dengan kebersamaan? "
"Kau yakin? Boleh ku buat ucapanmu menjadi kenyataan, Nayanika?"
__ADS_1
Benji menarik dagu Nai, menyentuh lembut bibir itu dengan kecupan. Kali ini, berlangsung cukup lama.