
Pagi hari Benjamin sudah dipasangkan dasi kembali oleh istrinya. "Kau diam dikamar. Jika butuh apapun telepon bi Nuni dari sini. Aku tak ada dirumah hingga sore, aku tidak bisa memastikan kau aman." Ucapnya sembari membelai wajah Nai.
"Ada apa tuan? Biasanya tdak bicara seperti itu."
"Emh, aku hanya takut Arsila mengajak ribut lagi, karena kau memberikan baju pada Laras."
"Aku harus pergi menjemput Caca, aku janji padanya tadi malam."
"Hati - hati. Telepon aku jika ada apa-apa. Segera setelah beres rapat aku akan menyusulmu."
"Tidak akan ada apa - apa." Pungkas Nai sambil tersenyum. Setelah pamit Benji pergi kerja dan Nai bersiap - siap juga.
*********
Nai menuruni tangga sambil bernyanyi kecil, rasanya tak sabar menemui anaknya itu.
"Nai mau kemana?" Sapa pak Wijaya yang sedang duduk di meja makan. Dikelilingi adiknya yang menatap sinis.
"Mau ke Bandung pi, aku janji bertemu caca."
"Dengan Benji?"
"Tuan sedang sibuk pi, mungkin malam baru menyusul."
"Kenapa tidak menunggunya?"
"Teralu malam pi. Biarlah, aku bisa sendiri."
"Hati - hati Nak"
Nai menghampiri pak Wijaya, meraih tangan dan menciumnya. "Papi yang hati - hati."
"Papi jelas akan aman bersama kami, keluarganya sendiri." Ucap Anton.
"Yayayaya, aku yang tidak aman karena aku ada dikeluarga orang lain? begitukan maksudmu om?" Nayanika hanya tersenyum tanpa membalikan wajah, dia berjalan menyusuri luasnya rumah itu menuju ke garasi mobil.
"Hai mobil, semoga kamu benar rejekiku, antarkan aku ya." Kata Nai sambil mengusap - ngusap mobil barunya. Nai menaiki dan menyalakan mobil itu, sungguh bahagia, mimpinya selama ini tekabul begitu saja. Mobil gagah keluaran terbaru kini dikendarainya.
"Hallo??? Permisi tuan, nona Nayanika pergi, dan dia meminta kami untuk tidak mengikutinya." Ucap salah satu pengawal yang ikut membungkuk ketika Nai keluar gerbang.
"Ikuti." Titah pemilik suara.
"Baik tuan."
Tak lama mobil yang dulunya terkenal dengan "mobil penculik" berisi 2 orang penjaga suruhan Benji mengikuti mobil Nai. Sudah 2 jam perjalanan,semua sesuai perintah, tidak ada kendala sama sekali, yang disayangkan adalah Nai tidak memasuki jalan tol dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi lalu terus - terusan menyalip mobil yang ada didepannya. Dia memilih mengikuti jalan biasa untuk sampai ke Bandung.
__ADS_1
Para penjaga menepuk keningnya, mau tidak mau dia harus melapor lagi." Hallo, Tuan, mobil kami tertinggal, Nona tidak masuk jalan tol, saat ini kami kehilangan nona, dia mengebut dan ada mobil box yang menghalangi."
"Jangan kau bilang kau tidak menyimpan GPS dimobilnya?"
dasar anak balap liar, diberi mobil bagus malah dipakai kebut - kebutan.
GPS nya tidak aktif tuan."
"Tidak aktif?" Benji mulai khawatir.
"Saya sedang berusaha menyusul."
Ditengah perjalanan Nai tidak bisa mengendalikan mobil yang ia kendarai. Mobilnya oleng. Ban mobil tidak ikut berputar ketika stir diputar, rem tidak berfungsi, gear pun demikian. Ditengah kepanikan hanya 1 yang Nai fikir, loncat dari mobil dengan kemungkinan patah tulang, atau diam didalam menunggu keajaiban saat mobil menabrak, kemungkinan besar, mati.
Tuhan, apa ini caraku untuk menghadapmu? Nai panik, segala upaya dia lakukan untuk mematikan mobil dengan paksa, hingga mencabut kunci, namun upayanya tidak memberikan hasil. Mobil hanya maju tak berarah dengan kecepatan tinggi.
Aku pernah beberapa kali hampir mati dan Tuhan menyelamatkanku, setidaknya jika Tuhan tidak menyayangiku, dia menyayangi Caca, dia tidak mungkin membiarkan anak itu jadi yatim piatu ke duakalinya.
Tanpa fikir panjang Nai membuka pintu mobil, mengambil tas dan membantingkan badannya keluar. Badan Nai tergelincir, berputar, dia masih sempat bergerak menepikan badannya yang terasa remuk, dengan susah payah, Namun karena tenaganya yang melemah, dia pasrah, membiarkan raga tergerak mengikuti gravitasi bumi, penuh luka karena dia jatuh dan terseret. Secara cepat, semua berubah gelap.
Mobil yang menabrak pohon terporosok masuk jurang, hancur dan terbakar. Mendengar ledakan, warga sekitar segera mendatangi tempat kejadian, saat tau ada kecelakaan warga segera menelepon pihak kepolisian.
*********
Benji tidak fokus rapat, diotaknya kini hanya memikirkan istrinya. Menunggu kabar dari para penjaga sama menjengkelkan, tidak ada kabar lebih lanjut setelah kabar terakhir didengarnya.
"Mohon maaf, bisakah rapat ini dipimpin oleh Roni?" Ucapnya sambil berdiri, membuat Roni yang masih setengah sadar terkejut. "Saya ada keperluan mendadak, mohon maaf." Benjamin segera meninggalkan ruangan tanpa menunggu jawaban.
Ada apa lagi ini? kenapa sejak menikah, tingkat kesewenang - wenangannya menjadi sangat akut?
Diruangannya Benji berusaha menelepon Nai, berkali - kali bahkan puluhan kali, namun nihil, tak satu panggilannya pun dijawab. Kini dia hanya duduk termenung sambil melakukan panggilan berulang - ulang.
Saju jam lebih berlalu, Benji masih dengan posisi seperti itu ketika Roni datang dengan tidak mengetuk pintu terlebih dulu "Astaga, elu kenapa ? seenaknya aja mindahin pimpinan rapat. Gue gak tau apa - apa. Gue bingung." Kata Roni bersungut -sungut.
"Istri gue ke Bandung, dia gak kasih kabar." Ucap Benji lemas.
"Dia lagi nyetir, gimana bisa angkat telepon? mau celaka ?"
"Dia ngebut."
"Yang penting selamet." Timpal Roni.
Semakin tidak karuan hati Benji. Dia sangat terlihat tidak tenang.
Triiiiiiing
__ADS_1
"Ya, bagaimana?kenapa lama sekali? apa kalian tidak becus kerja? mau pensiun dini?" Cerocos Benji.
"Maaf bos, tadi ada kecelakaan didepan dan macet sekali, kami mencoba mencari jalan alternatif, sepertinya jika nona memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi kemungkinan dia sekarang sudah hampir sampai di Bandung.
"Bodoh!!!!!!! kalian disuruh mengikutinya, bukan ku suruh janjian dirumahnya. Cari sampai dapat dan pastikan istriku selamat."
"Ba..baik bos."
Benjamin membanting ponselnya ke tembok. Dia mengacak rambutnya.
"Yang bodoh lu atau mereka? lu nunggu kabar istri lu, tapi handphoneya elu banting, rusak. Gimana elu bisa tau kabarnya?"
"Ah iya, tolong beliin hp baru. Eh hp elu aja siniin. elu besok beli lagi." Benji merampas ponsel Roni dan segera mengganti kartunya.
Kenapa lu jadi kurang waras cuma karena wanita sih? kadang elu semanis madu, tapi tiba - tiba gila. Gue kira kelakuan lu saat belum nikah itu udah paling parah, nyatanya gue salah.
Benji tak melirik Roni, dia langsung pergi keluar.
********
Hari sudah semakin larut, Benji yang sudah sampai dikamar sedari tadi masih tidak enak berdiam diri, dia hanya mondar mandir sambil sesekali melirik ponsel yang tak juga memberikan bunyi. "Sudah hampir malam, Nai tidak ada kabar, tidak mungkin belum sampai dan tidak mungkin dia tidak meneleponku. Aku susul saja." Bulat tekad Benji menyusul Nai, Dia bersiap untuk pergi ke Bandung.
Ketika Benjamin membuka pintu, tepat saat 4 orang berseragam coklat hendak mengetuk pintunya pula.
"Selamat malam"
"Malam, ada keperluan apa ya pak,?"
"Bapak Benjamin?"
"Iya saya sendiri. Ada apa?"
"Kami dari kepolisian ingin mengkonfirmasi apakah mobil Jimny bernopol B 9372 NN benar milik bapak?"
DHUARRRRRR!!
Seperti disambar petir, Benjamin menarik nafas panjang meskipun dengan debaran jantung tak karuan. "I... itu mobil istri saya pak. Ada apa?"
"Mobil itu hancur terbakar karena kecelakaan menabrak dan jatuh ke jurang. Sekarang masih dalam proses evakuasi karena tempat kejadian cukup sulit dijangkau.
"Nai?" Kini Benji tak berdaya, tidak ada lagi yang ia fikirkan selain istrinya itu. Tubuhnya terlihat memaksakan diri untuk tetap kuat berdiri. "Pak apa istri saya selamat?" Tanyanya lagi.
"Hingga saat ini istri anda belum kami temukan dan belum ada laporan lebih lanjut, dengan berat hati harus saya katakan bahwa kemungkinan jika istri anda ada didalamnya, mungkin ikut terbakar, karena kondisi mobil pun memprihatinkan."
"Kita kesana sekarang pak!!!!!!!" Tanpa fikir panjang Benji bergegas menuju tempat kejadian itu. Dengan linangan air mata.
__ADS_1