Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Membuat Nai cemburu.


__ADS_3

Seperti pagi sebelumnya, Nai mempersiapkan pakaian untuk Benji, dia sibuk mondar mandir memilih warna mana yang cocok untuk dikenakan suaminya itu. Dia tak menyadari Benji sudah bangun dan kini berdiri dibelakangnya.


"Sangat bandel sekali, bukannya istirahat malah mengacak - acak lemari." Kata benji.


"Hai, selamat pagi tuan tampan. Aku sudah lebih baik, maafkan aku semalaman rewel." Ucap Nai sambil cengengesan.


Benji mencium Nai kemudian pergi ke kamar mandi. Tak lama bi Nuni datang membawakan sarapan, Nai memintanya agar tidak turun kebawah. Bukan tak berani, namun adu argumen dengan orang tak tau diri tak mau ia lakukan teralu pagi.


30 menit berlalu, Benjamin keluar kamar mandi kemudian segera merapikan diri.


"Aku ke kantor sebentar tidak apa - apa? Roni meneleponku, katanya dia sudah menginterview sekertaris baru, dia meminta persetujuanku. "


"Ismi kemana?"


"Ada, namun dia terlihat kewalahan, maka dari itu Roni membuka kembali lowongan. Untuk menemani Ismi."


"Hmmmm begitu. Tidak apa - apa." Ucap Nai asal seperti tidak peduli. " Sarapan dulu tuan, aku mau mandi sebentar." Tanpa menunggu jawaban, Nai segera menutup pintu kamar mandi. Benji tersenyum melihat kelakuan istrinya.


Aku bersumpah jika kau cemburu, aku akan menjadikanmu satu - satunya didalam hidupku.


Tak sampai 10 menit, Nai sudah keluar kamar mandi dan mengganti baju juga beberapa perban di tangannya.


"Cepat sekali, kau mau kemana?"


"Aku harus menghadapi mulut pedas saudara-saudaramu tuan, minimal aku sedikit terlihat segar. " Nai mengatakannya sambil merapikan dasi Benji. "Ayo aku antar ke depan." Ucapnya lagi.


Benji berjalan menuruni tangga dengan Naipah dibelakangnya, namun belum sempat sampai, Benji mengingat kunci mobilnya tertinggal, dia kembali ke kamar sedangkan Nai mau tak mau duluan turun ke Bawah.


"Eh pembantu baru terlihat batang hidungnya!!!" Suara penyambutan dikeluarkan oleh Ramona.


"Eh penumpang, baru berani bicara." Ucap Nai sambil celingukan karena hanya ada Ramona dan adiknya dimeja itu.


"Lagi - lagi sombong sekali. Ingat derajatmu sebelumnya."


"Kamu pun, ingat ini rumah siapa. Mau ku usir atau berlaku manislah disini."

__ADS_1


"Menurutku kamu yang akan terusir dari rumah ini SEBENTAR LAGI." Arsila menimpali.


"Keyakinan yang patut diacungi jempol, cobalah." Nai menantang.


"Kamu fikir Benjamin benar mencintaimu? Dia hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan warisan yang dijanjikan papi, kamu bukan seleranya, sadar diri Nayanika. Jika ada yang lebih cantik dan setara, kupastikan Benji akan memutar hati. Dan kamu tak akan dia tengok lagi."


ya, apa yang kamu bicarakan untuk kali ini benar sekali. Jika harus jujur, mendengarnya saja aku sakit hati. Batin Nai.


"Coba saja!!"


Semoga tidak terjadi, tapi ah bodo amat. Biar saja aku sombong dulu.


"Tidak usah menantang begitu, sebentar lagi posisimu akan tergeser."


"Hanya karena model jalanan itu?" Ucap Nai sambil tersenyum. "Dia tidak sepintar aku. Aku tidak perlu menggesernya, dia yang akan bergeser sendiri. Lihat saja. Aku juga penasaran apa yang akan dilakukannya." Nai melihat Benji sudah dibawah, dia kemudian berjalan keluar mendahului Benji yang menatap tajam pada kedua saudarinya.


"Kakak, bolehkah aku ikut menumpang di mobilmu? Aku daritadi mencoba menggunakan taksi online namun tak ada yang mau." Suara didepan pintu. Tessa yang memakai blazer dan rok super mini itu terlihat sangat menggoda.


"Aku akan pergi ke kantor." Jawab Benji tanpa menatapnya.


Nai hanya terpaku. Berani juga wanita ini padahal sudah diancam. Nai setengah mati menahan emosi, namun tarikan nafas dan hembusannya tak bisa berbohong. Nai hanya diam sambil membuang pandangan.


Aku tau Nayanika, aku tau. Namun dirimu tidak mau mengaku. Mari kita bermain - main sebentar. Benji menyunggingkan senyuman di bibirnya.


"Baiklah, ayo masuk. Kita ke kantor bersama." Tanpa aba - aba Tessa segera masuk mobil dengan duduk dikursi depan. Terlihat sumringah wajahnya.


Sudah kukatakan, semua lelaki tak ada yang bisa menolakku.


Benji segera mengambil tas kerjanya yang dipegang Nai, dia mencium kening istrinya itu kemudian berjalan menuju mobil. Tatapan Nai tak kalah tajam. Dia tak bergeming untuk sekedar melambaikan tangan atau berkata dadah, hanya sorot mata kesal dan dendam dibalik delikan matanya yang tak berpaling sedikitpun hingga Benjamin masuk mobil.


Benjamin yang penasaran lalu membuka kaca jendela kursi disampingnya, dia tersenyum sambil menatap Nai, namun yang dia dapat tetap hanya tatapan Nai. Benjamin sejenak menunduk menahan tawa. Dia membuka pintu mobilnya dan berjalan untuk membuka pintu Tessa.


"Istriku tidak mengijinkannya. Jadi lebih baik kamu keluar sebelum aku bertindak kasar."


"Tapi kak..."

__ADS_1


"KELUAR." Benji menegaskan suaranya.


Sepersekian detik mata dan raut wajah Nai berubah 360 derajat. Nai menahan tawa sambil memalingkan wajah. Tatapan yang semula tajam kini tumpul dengan sendirinya. Nai seperti bahagia namun juga malu. Benji yang melihat hal itu kemudian berjalan kembali menghampiri Nai dan melingkarkan tangannya dipinggang Nai.


"Aku hampir mati, ternyata tatapanmu lebih tajam dari belati. Kau fikir aku sebodoh itu untuk membawa wanita lain ? kenapa tidak kau akui????? kau cemburu????" Godanya.


"Tidak, aku tidak cemburu." Jawab Nai manja.


"Kau cemburu." Benji mempererat pelukannya.


"Tidak tuan, aku hanya kesal, kenapa yang duduk disampingmu bukan aku." Nai mengangkat alisnya.


"Baiklah, temani aku ke kantor. Tidak usah ganti pakaian." Ajak Benji.


"Tuan yakin?" Nai memastikan, dan dijawab dengan anggukan Benji. " Tapi aku tidak mau naik mobil ini, bekas dia." Nai berkata dengan manja yang dibuat - buat, hingga Tessa yang melihat menjadi semakin muak.


"Tentu cantik, ayo pilih mobil mana yang kau mau." Nai melepaskan pelukan Benji, dia berjalan ke arah Tessa dan menarik tangannya memasuki mobil.


"Aku sedang baik, sana pergi ke kantor pakai mobil sendiri." Ucap Nai sambil membanting pintu mobil. Tessa yang kesal mau tidak mau menjalankan mobil itu untuk pergi ke kantor, sendiri.


Benji melihat kelakuan Nai hanya mampu tertawa sambil mengusap wajahnya.


"Pergi kerja tuan, aku tidak akan ikut." Nai tersenyum.


"Ada yang harus kubereskan sebentar."


"Kukira kau akan ikut. Tapi janji setelah urusanmu beres, kau ke kantorku."


"Baiklaaaaah. Kabari saja jika ingin ku buatkan makanan."


Benji mengangguk, sekali lagi dia cium kening istrinya kemudian masuk ke mobil.


Setelah dipastikan Benji menghilang dibalik gerbang, Nai segera berlari menuju kamar lalu membuka laptop.


Aku harap semua yang aku butuhkan ada. Ayolah takdir, untuk sekali saja berpihaklah padaku. Aku lelah menjadi Intelijen yang Independen dan sukarela seperti ini. Lebih baik setiap hari aku memasak untuk tuan Benji!

__ADS_1


__ADS_2