
Pagi hari Nai terbangun, malah sebelum matahari berjalan menunjukan sinarnya. Nai melirik meja lampu tidur disampingnya, ada secarik kertas bertuliskan:
" Jika tidak keberatan, buatkan aku bekal sarapan.
NB: suamimu yang tampan."
Nai tersenyum, dilihat lelaki yang tidur di ranjang bagian bawah dengan selimut tebal menggulung tubuhnya.
Setidaknya walaupun aku tetap disuruh - suruh, tapi dengan kalimat yang lebih baik, tidak dengan telunjuk dan bentakan.
Nai lalu beranjak dari tempat tidur, mandi, lalu pergi ke dapur.
"Selamat pagi."
"Pagi nona, apa yang nona butuhkan? kenapa tidak menelepon saja?" Ucap Wati yang takut diamuk juragan karena nona mudanya malah pergi ke dapur.
"Tidak apa - apa, aku hanya ingin membuatkan sarapan untuk tuan Benji, dia memintaku, jadi mau tidak mau aku harus membuatkannya. Kemana bi Nuni? Laras?"
"Bi Nuni ke pasar dan laras sedang ada dikamar nona Arsila dan nona Ramona, sepertinya mereka membutuhkan bantuan."
"Baiklah baiklah. Tanpa banyak bicara Nai langsung membuat roti selai coklat dengan parutan keju, ditambah buah dan semangkuk kecil kacang almond beserta yoghurt, Lengkap bekal sarapan untuk Benji. Nai memasukannya pada kotak bekal untuk dibawanya lagi ke kamar.
"Nona, apa nona tidak sarapan? Atau akan ikut sarapan bersama?"
"Aku gampang Wati, nanti saja, dan lagi sepertinya aku harus melihat kondisi, jika terjadi huru - hara, sebaiknya aku sarapan dikamar saja. Eh, ada apa dengan kepalamu?" Nai melihat kening Wati sedikit membiru." Kamu mengalami KDRT?"
"I Ini nona, eh saya terbentur kemarin, tidak apa - apa."
"Kamu berbohong." Ucap Nai sambil tersenyum. "Kamu lupa kalau aku pintar. Kenapa? Apa perlu kerumah sakit? Atau nanti aku bilang pada tuan Benji agar kamu diberi cuti."
"Jangan jangan nona. Maafkan saya." Wati tertunduk takut.
"Ada apa ?" Nai membawa Wati menjauh dari dapur.
"Nona, saya takut, nona harus hati - hati."
"Kamu yang takut kenapa aku yang harus hati - hati?"
"Kemarin saya tidak sengaja menguping pembicaraan tuan William dan tuan Anton, mereka seperti merencanakan sesuatu, saya ketauan dan dilempar asbak rokok. Nona tolong jangan katakan ini pada siapapun."
"Ya ampun Wati, obati dulu memarmu. Tenang aku tidak akan bicara pada siapapun." Nai iba melihat Wati yang ketakutan.
"Nona apa nona tidak takut dicelakai? Sebaiknya nona hati - hati, atau lebih baik nona mengamankan diri dari sini."
Dicelakai? apa separah itu mereka bercanda denganku?
"Tugasku belum selesai disini Wati, mau tidak mau aku harus menyelesaikannya dulu, setelah itu baru aku bebas pergi. Hmmmmmm" Nai menarik nafas panjang. " Aku juga takut, tapi mau bagaimana lagi?"
Bagaimana lagi, aku disini dibayar, setahun lagi, mungkin aku akan sama denganmu, menjadi pembantu kembali. Dan dalam setahun, apapun yang terjadi padaku itu semua konsekuensi.
"Nona, mereka masih seperti dulu, rumah ini tidak aman."
"Doakan saja aku aman. Obati memarmu ya, aku ke atas dulu."
Hanya doa yang merubah takdir. Semoga Tuhan melindungiku.
Nai berjalan menyusuri rumah, seperti biasa, jarak yang cukup jauh. Nai celingukanaaaa sendiri sambil membawa kotak bekal ditangannya.
Aduhhhhhh seram juga, seperti rumah hantu. Dulu mimpiku punya istana begini, minimal tinggal dirumah besar, taunya seperti di kuburan. Ke kamar susah sekali sampai sih.
"Sssssttttt... Stttttttttt!!!"
Aduhhh kan benar, setan subuh - subuh baru pulang nih. Aduh.. Nai mematung, mencoba mencari darimana sumber suara.
"Kak, kakak.. kak Nai!!!"
"Astagaaaaaaaa Helm, jangan buat kaget." Nai membalikan badannya, terlihat Helen yang cengengesan.
"Helen kak!!!!! Aku tidak mengagetkanmu, aku hanya memanggilmu."
"Ada apa cepat katakan, waktumu 10 menit."
"Aku disuruh untuk mencari kamar kosong, apa masih ada? Rumah ini besar sekali, aku malas berkeliling."
"Siapa yang menyuruhmu?"
"Kak Arsila dan kak Ramona."
"Ada tuh didepan!" Nai menunjuk ke arah pintu.
"Depan mana kak?"
"Depan jalan. Tidur saja di emperan sana." Nai menjawab ngasal. "Untuk siapa? Mereka kan satu kamar berdua." Meskipun ngasal, Nai penasaran.
"Kak aku serius."
"Suruh Ramona yang bertanya padaku, kamu mandi saja sana tuntut ilmu modelmu."
"Huuuuuh!" Arsila berjalan meninggalkan Nai.
Ketika Nai menaiki tangga, dia berpapasan dengan Ramona, yang sudah rapi dengan pakaiannya. Nai mengabaikan Ramona dan kembali berjalan namun Ramona menahan tangan Nai.
Sebelum aku dibantai, ku bantai duluan.
Nai merubah wajahnya seceria mungkin, "Ah, gadis cantik yang sudah menorrrrrr pagi - pagi bahkan akupun belum sempat sikat gigi! Informasi terkini yang bisa aku sampaikan padamu dan tolong sampaikan pada adikmu juga bahwa yang kosong hanya kamar pembantu dan kamar mandi. Jadi silahkan pilih. Sekian informasi yang dapat aku berikan." Nai menepis tangan Ramona sambil berjalan cepat menuju kamar.
Sialan, apa maunya wanita itu? Melunjak sekali padahal hanya bekas pembantu. Aku tau wanita seperti itu pasti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hati papi dan kak Benji. Lihat saja, sebentar lagi posisimu terganti. Ucapnya dalam hati.
Nai masuk ke kamar dan segera menguncinya. Dia melihat ke tempat tidur namun tidak melihat Benji. Mungkin mandi.
Segera dia merapikan tempat tidur kemudian duduk di sofa.
Benji keluar kamar mandi hanya dengan handuk, tanpa pakaian. Rambut yang acak - acakan dan basah membuat Nai tak bisa memalingkan wajah.
Tampan sekaliiiiiiiiiiii.. apa aku mimpi? Apa aku baru menyadari dia sangat tampan?
"Aku tau aku tampan, sudah jangan menatapku terus." Kata Benji menyadarkan Nai yang terpaku sedari tadi.
"E eh iya iya tuan. Hari ini mau pakai pakaian yang mana ?" Nai kelabakan.
"Seperti biasa yang kau lihat."
"Baiklah." Nai menuju lemari, dipilihkannya jas dengan kemeja, tak lupa dasi.
"Bagus juga seleramu." Benji membuka handuknya dan memakai celana kerjanya, Nai yang melihat itu langsung menutup mata.
"Tenang tenang, aku pakai celana pendek. Percaya diri sekali dirimu." Godanya.
"Aaaaah pakai dulu celananya jangan banyak ceramah." Kata Nai sambil masih menutup mata.
__ADS_1
"Sudah Nai."
"Eh hanya celana saja?"
"Tugasmu memakaikan aku kemeja , jas dan dasi."
"Baiklah."
Nai mulai memakaikan kemeja, terlihat seperti pasangan suami istri yang romantis. "Istri yang sempurna. Apa aku tampan?" Tanya Benji sambil tersenyum.
"Apa perlu aku jelaskan tuan? Orang buta pun tau ketampananmu tidak diragukan." Sambil mengancingi kemeja, Nai mencubit gemas pipi Benji.
Benji melingkarkan tangan dipinggang Nai, kemudian medekatkan tubuh Nai hingga menempel pada tubuhnya "Benarkah? Jadi apa kau sudah mulai mencintaiku?"
Nai mendorong pelan sambil tersenyum, lalu berkata, "Belum, mungkin besok atau lusa, coba konfirmasi lagi esok hari." Diraihnya kotak bekal lalu diberikan pada Benji " Ini bekal tuan, mau aku buatkan apa untuk makan siang?"
"Tidak perlu, Kita makan dikantorku, jangan terlambat."
"Baiklah."
"Kau ikut turun ke bawah?"
"Jika tidak ikut? emh aku harus membereskan kamar dulu." Nai menjawab ragu.
Bukan tidak mau tuan, maafkan aku, dibawah sedang sarapan bersama, akupun lapar tapi tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan mereka. Apalagi dengan perut kosong.
"OK." Benji keluar dengan wajah masam.
Sudah dipuji istri sempurna, malah tidak mengantarkan aku kedepan pintu. Minus.
**********
"Selamat pagi." Sapa Benji pada Ayahnya.
"Pagi, kemarilah, ikut sarapan dengan kami.
Kamu akan pergi ke kantor ? Tidak nanti saja, kasian istrimu."
"Aku maunya begitu, Namun aku ada rapat penting. Aku sarapan di kantor pi, Nai membuatkan bekal."
"Hati - hati."
Benji mengangguk kemudian berjalan keluar. Dia menunggu sahabatnya. Roni.
*******
Nai berlari kencang, menuruni anak tangga dan menghampiri mertuanya dengan nafas yang terengah - engah. "Pi tuan Benjamin sudah berangkat?" katanya panik.
"Barusan, mungkin masih didepan." Tanpa menjawab Nai berlari lagi, dia takut dimarahi jika teledor.
"Tuaaaaaaan, dasimu!!!!!" Syukurlah Roni belum menjemput, dilihatnya Benjamin yang masih berdiri didepan pintu. Bersamaan dengan Roni yang datang dan mobilnya berhenti menghampiri dua sejoli.
Nai memasangkan dasi, diiringi tatapan tajam dan senyuman Benji yang tak berhenti, saksinya, Roni.
Temen gue bisa senyum. Pantesan, istrinya kayak bidadari begitu.
"Eh tuan."
"Ya?"
"Aku lihat disinetron, harus begini." Nai meraih tangan Benji lalu menciumnya, Benji yang berbunga dengan hal itu langsung mencium kening Nai. Diberi bonus, cium bibir. Benji sumringah segera masuk mobil dan berangkat kerja. meninggalkan Nai yang kebingungan.
Nai melangkahkan kaki, menyusuri jalan panjang hanya untuk menghampiri mang Ujang.
olahraga. Besok betisku akan bahenol karena berjalan jauh terus.
"Non Nai? Ada yang bisa dibantu Non?" Ucap para penjaga sambil membungkuk.
"Kalian kenal aku?" Nai heran.
"Kami penjaga rumah ini."
"Kalian jin?"
"Bukan, maksudnya mereka penjaga yang disuruh tuan untuk menjaga rumah dan non." Jelas mang Ujang. Nai mengangguk - nganggukkan kepalanya kemudian pamit masuk kedalam rumah lagi.
Seperti tahanan kota. Kemana - mana diikuti.
********
DIPERJALANAN.
"Berhenti senyum Benjamin!!!!!" Roni yang memperhatikan sahabatnya sedari tadi tersenyum sendiri tanpa henti.
"Kenapa emangnya?"
"Lu senyam senyum dijalan dari tadi." Gerutunya.
"Ron coba elu nikah, rasain gimana rasanya. Dikasih bekel sarapan, dipakein kemeja, dipakein dasi, dicium tangan, gue ngerasa hidup gue sempurna." Benji menyunggingkan senyumannya lagi, mengenang kejadian manis tadi pagi.
"AAPAAAAA? BUDEG KALI KUPING GUE COBA ELU BILANG LAGI????" Roni frustasi melihat kelakuan sahabatnya yang berubah drastis. "Lu nikahin dia bukan karena pengen harta papi?"
"Gila!!!!" Benjamin memukul ringan kepala Roni. "enggak lah Gue suka sama dia dari sejak gue tau dia penyanyi dan pembantu."
"Jadi mereka itu orang yang sama? " Roni kaget, "ko bisa?"
"Lu tanya sendiri sama Nai."
Sesampainya di gedung Wijaya Group, Benji berjalan dengan Roni dibelakangnya. Mereka langsung disapa oleh satpam, resepsionis, dan sekertarisnya.
"Selamat pagi pak"
"Pagi semuanya, Ismi, Ikut masuk ke ruangan saya." Perintah Benji. Ismi mengangguk dan berjalan dibelakang Roni, mereka menaiki lift ke lantai 21. Senyum Benji masih terlihat, dia sangat ceria.
"Pagi ini cerah sekali senyum anda pak Benjamin, apa yang membuat anda secerah ini?" Ismi memberanikan diri bertanya.
"Hidupku memang bahagia, kamu belum menikah Ismi? Makanya menikah, coba rasakan, kamu akan bahagia sejak bangun tidur hingga kembali tidur." Kata Benji bangga.
Ismi heran melihat bos nya yang dulu kaku, galak, dingin, tidak pernah tersenyum selama dia menjadi sekertarisnya, kini berubah menjadi bos yang sangat ramah. Dia kemudian melirik Roni, Roni menunjuk Benji lalu mengangkat jarinya kemudian menggariskan di kening memberikan isyarat " dia sudah gila" pada Ismi. Ismi hanya tertunduk menahan tawa.
Jangan sampai aku tertawa. Nanti aku dipecat.
"Apa jadwal saya hari ini?" Ucap Benji saat sampai di ruangannya.
"Rapat dengan Gemilang Group lagi pak."
"Setelah itu?"
"Tidak ada, hanya menandatangani berkas yang cukup banyak, berkasnya sudah saya simpan disini pak."
__ADS_1
"Baiklah."
"Ismi, tolong siapkan berkas kepemilikan saham, Roni akan membantumu."
"Baik pak"
"Lalu untuk makan siang, tolong pesankan ayam goreng tepung dan seblak."
"Seblak pak?" Ismi kebingungan, dimana dia harus mencari seblak.
"Iya seblak. Istriku sangat menyukainya." Lagi - lagi Benji tersenyum.
"Ba.. baik, ada lagi?"
"Cukup. Kamu boleh kembali."
"Baik pak."
Memiliki istri itu merubah duniaku. Aku jadi tidak mau kerja. Apa boleh aku cuti satu tahun agar bisa menghabiskan waktuku dengannya setiap hari? persetan dengan kontrak yang ku janjikan, aku akan selalu bisa menjebak Nayanika agar dia terus bersamaku. Benji menyadarkan diri dari lamunan, kemudian menelepon Roni.
"Ron, masuk ke ruangan gue."
Tak lama Roni masuk, "Ada apa?" Tanya nya.
"menurut elu, gue bawa Nai kemana hari ini?"
"Nanti malem?" Roni menegaskan pertanyaannya.
"Nanti siang."
"Benjamiiiiiiiiiiiiiiin, siang kerjaaaaaa, elu bisa bawa istri lu kemanapun, nanti sore pulang kerja atau hari minggu, stop kebucinan elu ke istri lu, gue ampir gila dititipin perusahaan, ngurus perusahaan, ngurusin masalah, tandatangan sana sini, gue makan aja gak sempet, dan elu, sempet - sempetnya nanya mau bawa istri elu kemana!" Roni frustasi, dengan jujur dia protes. Protes yang sudah sering Benji dengar ketika mereka masih sama - sama sekolah dan ketika Benjamin sering menyusahkannya. Benji mendengarnya hanya tersenyum.
"Waktuku untuk Nayanika." Katanya lagi.
Roni menghela nafas, mengambil tas Benji dan menarik tangan sahabat yang kini menjajahnya. "Kambuh deh sewenang - wenangnya. Ayo berangkat, rapat 30 menit lagi."
Benjamin melihat wajah kesal Roni malah sengaja tidak mau berdiri, dia hanya duduk dikursinya. "Males begini ya."
"Sambil nunggu siang, kan nona Nai kesini nanti."
Semoga namamu bisa kujadikan ajian nona.
"Oh iya bener. Ayo ayo." Benjamin mendengar nama istrinya disebut, dengan segera berdiri, merapikan dasi, bersemangat menjalani pekerjaan hari ini.
********
Nai tiba di kantor Benji menggunakan mobil Hardtop milik suaminya itu. Dia mengenakan atasan kaos polos warna putih yang dilipat bagian tangan, dipadukan dengan overall jeans robek - robek pada bagian lutut, dikaitkan sebelah talinya, dan hanya memakai sendal sepatu berhak 4 cm. Penampilan yang jarang dilihat sebelumnya, dengan rambut yang diikat acak menampakan telinga kiri penuh anting beragam, tindikan sejak Nayanika masih menjadi mahasiswa. Nai terlihat sangat berbeda, seperti wanita yang teralu gagah. Tak ada kesan feminim sedikitpun ia tampilkan. Baginya, inilah Nayanika yang sesungguhnya.
Dia berjalan memasuki gedung.
"Selamat siang nona, ini benar nona Nayanika?" Ucap resepsionis yang tersenyum ramah.
"Hai cantik, ya aku Nayanika."
"Mari saya antar ke ruang pak Benjamin."
Resepsionis itu mengantarkan Nai hingga lantai atas.
"Permisi." Nai mengetuk pintu ruangan besar dihadapannya.
Benji langsung bangun dari duduknya dan membukakan pintu. "Masuklah."
Dialah sebenar - benarnya Nayanika yang ku cintai. Benar kata ayahnya, kadang dia error perihal berdandan, dia malah terlihat manis namun garang. Benar perkiraanku, jika aku melihatnya sebagai gadis pemberani dan pintar namun tersembunyi, itu hanya saat dia menggunakan daster atau piyama. Ketika dia berdandan seperti ini, semua akan tau kalo Nayanikaku tidak pernah "biasa saja."
" Duduklah." Nayanika duduk di kursi persis depan meja Kerja Benji, diliriknya sebentar, ada Roni dan Ismi dipojok yang sibuk mengetik, namun masih sempat menganggukan kepala tanda menyapa.
"Kau tau? aku bahagia melihatmu siang ini, kau menjadi dirimu yang sesungguhnya." Kata Benji sambil mencium kening Nai. Nai tersenyum senang " akupun senang bisa menggunakan baju favoritku."
Lihatlah, dia seperti menganggapku arca. Dia memuji dan mencium istrinya dimana saja dia mau. Batin Roni.
"Aku tau kau jenuh dirumah, kuberi sesuatu untukmu. Mana berkasnya Ron?" Pinta Benji.
"TUNGGU SEBENTAR BENJAMIN, LU NGERUBAH DATA DAN NYURUH GUE KAYAK LU NYURUH BIKIN KOPI, GUE SAMA ISMI NGETIK KAYAK DIKEJAR BABI HUTAN, SABAR." Gerutu Roni.
"Berkas apa tuan?" Nai masih sedikit terbahak melihat wajah stres Roni dan Ismi.
"51 persen saham perusahaan Wijaya miliku, ku berikan padamu. Sisanya untuk Bhramsy ketika dia sudah menikah. Tapi masih dalam pengawasanku saat ini." Ucap Benji tenang.
"Kenapa diberikan padaku?"
"Karena aku percaya padamu, bijaklah mengaturnya."
"Terimakasih."
"Kantor ini jadi milikmu sekarang. Termasuk mereka, Roni dan Ismi, mereka juga karyawanmu. Mereka adalah orang yang dapat dipercaya dan tidak suka membantah."
"Benarkah?" Nai mencari keyakinan.
"Ralat, hanya Ismi yang tidak membantah, Roni selalu membantah, namun dia akan tetap menurut. Dia bisa apalagi?" Ucap Benji sambil tertawa melihat sahabatnya bersungut - sungut meledek Benji.
Mereka menyantap makanan hingga habis tak bersisa tanpa menghiraukan 2 orang yang sedang mengotak - atik laptop dihadapannya. Ketika makan berdua tadi, diam - diam Nai memesan makanan.
Tooooktoooook
Nai keluar ruangan, memberikan uang dan mengambil bungkusan 2 plastik besar berisi makanan dan minuman yang dijamin mengenyangkan.
"Ada apa satpam kemari?"
"Dia mengantarkam makanan." Kata Nai.
"Kau masih lapar cantik? kau dengar itu Ismi? lain kali pesannya double porsi." Ucap Benji sedikit kesal.
"Hey, aku tidak serakah." Nai mengantarkan bungkusan itu ke hadapan Roni dan Ismi. "Tinggalkan pekerjaan kalian dan makanlah dulu. Kalau kalian sakit, kasihan suamiku nanti tidak bisa menjajah kalian. Jangan membantah, kalian tidak dengar tadi? aku juga atasan kalian." Ucap Nai memaksa namun terlihat menggemaskan.
Tak berakhir disitu, Nai mengeluarkan 2 gepok uang pecahan seratus ribuan, dalam gepokan yang dibatasi oleh kertas tertulis nominal Rp 10.000.000,- pada masing masing gepokan. lalu diberikannya pada Roni dan Ismi. "Ambilah, sebagai hadiah lemburmu di jam makan. Jangan menolak lagi, aku bosmuuuuu,...bosmuuuuuuu" Nai terbahak sambil menatap keduanya.
"Nona terimakasih, nona sangat baik sekali." Ismi lantang memuji istri atasannya itu.
"Kau anak perempuan yang bekerja, aku tidak melihat cincin dijarimu, itu artinya kamu belum menikah, pakai untuk keluargamu ya."
Nona, semoga Tuhan melindungimu, nona seperti malaikat, aku akan pakai ini untuk berobat ibu. Batin Ismi.
Tatapannya beralih ke Roni yang sedang menciumi aroma khas uang baru itu. "Non Nai, kalau setiap kerja di jam makan upahnya segini, jangankan mengganti berkas kepemilikan, gali septiteng juga saya mau non." Roni bangkit dari kursinya kemudian menghadap Benjamin. " Booooos." Katanya.
"Hhhhhhmmmmm."
"Bos mulai saat ini gue sudah menentukan hidup gue, demi kemajuan kehidupan gue dan emak bapak gue, gue mengundurkan diri jadi asisten elu dan gue memilih nona Nai sebagai bos baru, ternyata dia lebih mengerti." Ucapnya sambil menyeringai. Benji tak tinggal diam, dia melempar pulpen ke arah Roni namun berhasil ditepis. " Sialan lu." Katanya.
Nai hanya tertawa terbahak - bahak melihat itu.
__ADS_1