Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Apa semua uangmu sanggup membelinya?


__ADS_3

Dhuaaaaaarrrrrrr


Petir menggelegar, hujan pun turun tanpa aba - aba. Langsung deras. Nai yang sedang fokus berlari otomatis berteduh menghindari air hujan. Dia berteduh didepan kios yang sedang tutup. Jalanan sangat sepi. Terlebih Nai memilih jalan pintas karena menghindari Benji.


Disampingnya ada 2 pemuda yang memakai topi. Tak terlihat jelas wajahnya, Nai buru - buru memeluk tasnya erat - erat , dia takut tasnya dicuri karena pemuda disampingnya itu mencurigakan. Benar saja, pemuda yang satu menaiki motor sedangkan pemuda satunya lagi dengan cepat menarik tas Nai.


Sontak Nai terkejut dan menarik tasnya. Terjadi keributan disana, Nai melawan sekuat tenaga, meskipun kemenangan di pihak Nai tipis, tapi setidaknya pukulan Nai beberapa kali mengenai pemuda itu. Nai bertahan meskipun mendapat hantaman keras dari kedua pencuri yang memaksa mengambil tasnya. Nai yang memiliki dasar bela diri berusaha sekuat tenaga, hingga salah satu dari kedua pemuda tersebut mengeluarkan pisau kecil, naas, perut Nai ditusuk,, mereka meninggalkan Nai dan melempar tas Nai.


Saat Nai ditusuk, Mobil benji sudah sampai ditempat itu, Benji tak sendiri,Roni mengikutinya dari belakang, seperti biasa, 2 sahabat aneh itu sering pulang bersama dengan 2 mobil yang dikendarai masing - masing. Mungkin bagi mereka, 2 mobil berjalan bersama dapat dikategorikan konvoi.


Benji menolong Nai sedangkan Roni mengejar pencuri itu. Tak butuh waktu lama, Benji menggendong Nai dan segera memasukannya ke mobil. Mereka basah kuyup, terlebih Nai, Baju kemejanya bercampur darah, untung masih tertutup blazer. mukanya babak belur, hidungnya keluar darah. Ya, melawan tenaga laki- laki tidaklah mudah.


" Sejak kapan kau jadi jagoan?" Ucap Benji sembari memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terlihat jelas wajah paniknya. Namun dia berusaha santai, dia tidak mengetahui Nai ditusuk, dia menyangka darah yang ada di baju Nai adalah darah dari hidung.


"Aku mampu memberikan seluruh hartaku padamu, berikan saja tasmu, jangan bertengkar dijalan seperti preman. Dan lagi dompetmu ada padaku, aku yakin tidak ada lagi barang berharga di tasmu. Apa handphonemu mahal?" Ucapnya nyerocos. Padahal tangannya gemetar. Dia tidak tega melihat wanita disampingnya dengan keadaan seperti ini.


" Ya mahal sekali." Jawab Nai singkat.


" Apa merknya?" Benji merebut tas Nai kemudian dengan segera membukanya.


" Apa handphonemu diambil mereka ? Aku tidak melihat handphone disini. Jika iya, besok kubelikan pabriknya, tapi jika itu memang sangat berarti, tunggulah, Roni sedang mengejar mereka, percayakan saya padanya. Dia ahli menangkap maling, maka dari itu dia setiap hari kesiangan bekerja, karna setiap hari dia jadwal siskamling." Seru Benji mencoba mencairkan suasana. Padahal dia yang panik.


"Aku menaruhnya dirumah." Jawab Nai lagi.


" Lalu apa barang berhargamu, tidak ada apa - apa lagi disini?" Benji membalikan tas Nai dan menggoyang - goyangkannya. Hanya ada bolpoint dan beberapa permen. Selembar foto pun terjatuh di pangkuan Benji.


Dilihatnya ada gambar seorang lelaki, perempuan, dan anak kecil.


Dia menatap dan mengusap foto itu dengan lembut. Kemudian kembali menatap Nai.


"Itu hartaku paling berharga. Keluarga, kasih sayang. Apa semua uang tuan sanggup membelinya? aku tidak yakin. Seluruh harta yang tuan janjikan kini aku pastikan tidak akan sanggup membelinya. Bahkan dunia dan seisinya pun jika tuan sanggup memberikan padaku, tidak akan sanggup mengganti walau hanya nama mereka, apalagi berikut kasih sayangnya."


Angkuh sekali, tapi memang benar!


Benji terdiam, dia menyadari kesalahannya. Begitu sayang Nai kepada keluarga dan anaknya. Dia tau itu walaupun Nai tidak menjelaskan.


"Kau kenapa?" Benji menatap tangan Nai yang terus - menerus menekan perutnya. Benji semakin panik.


Nai membuka tangannya dan memperlihatkan luka tusukan,, ada darah yang terus menerus mengalir. Nai hanya memberikan senyuman dibalik wayah pucatnya.

__ADS_1


"Aku tidak apa - apa tuan." Nai tersenyum kemudian pandangannya sedikit demi sedikit menjadi kehitaman, hitam, kemudian Nai tak sadarkan diri.


Benji yang mengetahui Nai pingsan menambah kecepatan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya disana Nai langsung dilarikan ke ruang operasi.


Benji semakin panik, baru saja dia melihat kehidupannya kembali, kini dia tidak ingin kembali ditinggalkan Nai.


Setelah menunggu 2 jam, Rio, dokter andalan Benji keluar dengan muka lelah.


" Pasien masih kutangani, dia pingsan karena teralu banyak darah yang keluar. Dan Darah golongan AB sedang kosong. Kita sedang mencari. Tolong bantu cari juga. " Rio kemudian masuk kembali ke ruang operasi.


Benji langsung membuka ponselnya dan membuat story di whatsapp..


Dibutuhkan golongan darah AB segera. Hidupku tergantung darah itu. Tolong.


Karena keadaan yang semakin mendesak, Benji sudah tidak tau lagi harus melakukan apa.


Bhramsy


Kak butuh darah buat siapa? Kakak kecelakaan? Kenapa bisa bikin sw?


Bianca


Aku AB, kemana aku harus pergi?


Tak lama Bianca pun datang, Benji terlihat lusuh dengan kemeja penuh darah karena menggendong Nai. Tanpa banyak bertanya Bianca mengikuti serangkaian pemeriksaan, dan ternyata darahnya cocok. Segera dia mendonorkan darahnya.


"Kak, tenanglah.. semua baik - baik saja." Bianca mencoba menenangkan Benji.


Bagaimana bisa tenang, Nai sedang kritis.


Nai?


Bianca lemas mendengar nama Nai diucapkan. Baru tadi pagi dia menelepon Nai dan mendoakannya, sekarang Nai kembali ditimpa musibah.


Ada apa ini? kenapa Nai sepertinya selalu terkena ujian? Tuhan kumohon sudahi ujian padanya, berilah dia sedikit kasih sayang.


Bhramsy yang menyusul ke rumah sakit berlari kencang mencari kakaknya.


" kakak ketemu Nai dimana ? Nai kenapa kak? kak untuk kali ini saja aku mohon jangan jahat pada Nai." Mengiba. Bhramsy takut ini hasil dari ulah kakaknya lagi.

__ADS_1


"TUTUP MULUTMU BHRAMSY, SEKARANG KITA SAMA - SAMA PUNYA URUSAN YANG HARUS KITA URUS MASING - MASING DENGAN SEBAIK - BAIKNYA. KAU URUS BIANCA, AKU URUS NAI." Benji kemudian pergi meninggalkan Bianca dan Bhramsy.


Bianca dan Bhramsy saling menatap, keduanya sama - sama menahan tawa.


Mereka berdua tidak memberi tau Benji bahwa hubungan diantara keduanya sudah membaik. Sedangkan bagi Benji, Bianca layaknya adik, dia menyesali perbuatan Bhramsy yang dulu seenaknya pada Bianca, karena hal itu, Benji sekuat tenaga membuat Bhramsy menjadi lelaki baik dan menghargai Bianca. Agar mereka bisa serius menuju ke jenjang selanjutnya. Point ke 2 agar saingannya mendapatkan Nai berkurang.


*******


Nai berhasil ditangani oleh dokter Rio, Nai kini ada diruang Pemulihan, namun dia belum sadarkan diri.


"Sakit.. " Nai berusaha membuka matanya meskipun masih berat efek bius yang diberikan.


" Nai kau sudah sadar? Sadarlah, jangan lama - lama seperti ini Nai, jangan membuatku kehilanganmu lagi." Air mata perlahan menetes keluar dari mata Benji.


"Bangunlah Nai, apapun keinginanmu akan kuberikan, bangun.. "


" Duren..."


Bisa - bisanya habis operasi meminta durian. Nai aku menangis karenamu sekarang kau sadar dan meminta durian?


" Bangun Nai ayo, kita beli semua durian, sekebun - kebunnya akan kuberikan untukmu, ayo bangun, kau kuat." Benji sejak tadi terus menggenggam tangan Nai, dia terlihat sangat lelah namun tak sedikitpun beranjak.


Samar mendengar ucapan Benji, Nai membuka matanya dan kembali tersenyum pada Benji. Ada kelegaan sedikit didalam hati Benji, setidaknya bisa kembali menatap mata dan senyuman Nai.


" Nanti kita beli durian ya, kau sehatlah dulu, aku berjanji akan membelikannya untukmu." Benji memeluk Nai.


"Tuan permisi, ini sakit." Nai merintih kesakitan.


Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, Nai kembali disuruh istirahat oleh Benji. Nai yang masih merasakan kantuk pun menurutinya, sedangkan Benji? tak sedikitpun beranjak.


********


"Lu bawa aja Ustadz setempat, bilang mau nikah siri, kalau ditanya alasannya kenapa, karena pengantin perempuan belum sehat, lu harus ngurus itu cewek tapi kan ada batesan, sedangkan cewek itu perlu diurus dengan kondisi kayak gini. Banyaklah alesan mah, elu bilang aja susah kalo nanti mau mandiin, aurat, belom muhrim." Samar terdengar suara dari ponsel Benji.


Nai yang tidak tertidur pulas mendengarkan itu.


Apa lagi mau pria ini? dia kembali membuat taktik. Ya Tuhan aku ingin istirahat sehari saja dengan tenang. Kenapa jika ada dia, semua menjadi runyam sekali.


Benji yang hilang akal sehat, melakukan segala cara untuk bisa hidup dengan Nai. Jalan yang dia gunakan saat ini adalah sesuai rekomendasi Roni sahabatnya. Yaitu nikah siri. Dia memanfaatkan kondisi Nai yang lemas tak berdaya, berharap nai setuju dinikahkan secara agama. Dengan alasan : Agar leluasa mengurus Nai apalagi perihal mandi. Alibi.

__ADS_1


*********


Tengah malam Benji kembali kerumah untuk mengambil pakaian ganti yang akan ia kenakan untuk menikah nanti pagi, karena Bhramsy ditelepon terus - menerus tidak diangkat, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri setelah memastikan Nai tertidur lelap. Padahal sebaliknya, Nai sedang menyusun rencana.


__ADS_2