
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keesokan paginya Naipah merelakan tangannya diborgol oleh polisi. Sebelum melangkahkan kaki dia menatap Bhramsy dengan dalam kemudian menggerakan matanya ke arah tumpukan buku kuliah milik Bhramsy. Terlihat mata sembabnya karena menangis habis habisan semalam. Semua orang yang ada dirumah itu kaget. Terlebih Bianca, bi Nuni dan Bhramsy.
Bhramsy tidak kuasa membendung air matanya. Tak habis fikir mengapa kakaknya tanpa basa basi begitu cepat mengambil keputusan yang belum tentu kebenarannya. Nai menuju kantor polisi untuk diperiksa. Dia menjadi tersangka karena diduga meracuni ayah dari majikannya. Berita segera tersebar. Seluruh acara tv memberitakan kasus ini. Beruntung wajah Nai selalu ia tutupi saat diliput wartawan.
"Kau diam saja, tidak usah ikut campur masalah ini. Biar aku yang selesaikan. " Ucap Benji saat ditanya alasan mengapa dia menjebloskan Nai ke penjara.
Disisi lain, Nai hanya terdiam. Benar - benar diam. Otaknya seperti berhenti berfikir. Kali ini dia berada di suatu tempat yang pintu bahkan seperempat dinding dari kamar yang ia tempati adalah besi. Lantai menjadi satu - satunya alas tidur Nai. Tapi jangankan tidur, bahkan untuk meratapi diri dengan menangis saja Nai seakan tidak mampu.
Silahkan bercanda semaumu Tuhan. Aku pasrahkan semuanya. Sepertinya tidak ada guna lagi aku bertanya masalah apa yang kini menimpaku. Apa kurang ibadahku kepadamu? Apa tidak ada sedikit kebaikan yang kulakukan mendapat nilai darimu ? Apa doaku tidak sampai padamu? Tuhan, aku memang bukan manusia baik, namun bagaimana aku bisa menjadi baik jika yang kuterima hanya tuduhan. Semua mengatakan kau Maha Mengetahui. Apa kali ini sengaja kau membuat hambamu berlaku tidak adil kepadaku?
Tuhan, jika memang aku pernah melakukan suatu kebaikan, ini saatnya kau memberikan hadiah kepadaku. Jaga orang tua dan anakku Tuhan, kembalikan kehidupanku. Jika kau tidak mengabulkan doaku, mungkin aku harus menghadapmu secara langsung.
Ucapan Nai sepertinya sangat memojokkan Sang Pencipta.
Dirumah.
Bhramsy kebingungan. Dia bolak - balik mengecek tabungannya secara online untuk melihat berapa saldo yang dia miliki di seluruh tabungannya. Sesekali dia menatap Bianca untuk memberikan isyarat bahwa dia meminta bantuan. Niatnya hanya 1, mengeluarkan Nai bagaimanapun caranya. Sedangkan Bianca? Ah, wanita baik itu akan ikhlas - ikhlas saja jika Bhramsy yang meminta.
Almeera? Dia sedang bersantai dikamar Benji. Sedangkan Benji lebih memilih tidur dikamar tamu dan hanya sesekali ke kamarnya jika membutuhkan sesuatu. Itupun tanpa bicara dengan Almeera. Sejak kejadian itu, Almeera menginap dirumah Benji dan belum pulang.
********
"Akhirnya kamu mau menemuiku. Apa hari ini libur ? Kamu bisa meliburkan diri untuk sejenak menemaniku. Kita bisa banyak bercerita. Tak usah memikirkan pembantu sialanmu itu, biarkan dia mati didalam penjara. Sungguh dia sangat jahat." Ucap Almeera ketika Benji tiba - tiba memasuki kamar.
" Aku harus kekantor untuk menandatangani beberapa berkas penting. 2 Perusahaan papi terpaksa ku ambil alih sementara selama papi sakit karena banyak kontrak kerjasama. Dan lagi aku harus kerumah sakit. Sebaiknya kamu pulang. Bukan wanita baik - baik menginap ditempat lelaki. Dan aku malas untuk selalu menamparmu." Ketus Benji.
Almeera mendekati dan memeluk Benji dari belakang.
"Aku calon istrimu sayang, apa salahnya ?" Jawabnya manja.
Namun kali ini Benji tidak menolak. Dia hanya sibuk memilih jas untuk ia kenakan hari ini. Setelah dapat, Benji kemudian berlalu keluar.
Hidupku tanpa si bengkuang itu sudah sangat repot. Ditambah si bengkuang itu. Naas.
Sore hari sepulang dari kantor dan rumah sakit, Benji menuju kantor polisi, dia tidak menemui Nai. Dia bertemu beberapa anggota polisi yang terlihat sangat akrab dengannya.
Namun, matanya seperti penasaran untuk melihat keadaan Nai. Akhirnya dia melangkahkan kaki untuk melihat kondisi Nai.
Kini Benji terdiam tepat didepan sel yang diisi oleh pembantu cantiknya itu. Tak bergeming, Nai hanya duduk menatap kosong, pandangannya jauh entah kemana. Miris, dia terlihat sangat lelah dengan pakaian yang belum diganti sejak ia ditangkap. Tak lama Benji pun meninggalkan Nai.
Maafkan aku. Tapi kini aku ada dihadapanmu dan kau sama sekali tidak mengemis untuk minta dikeluarkan dari tempat ini? Apa lagi permainanmu Nai? Bahkan kau sama sekali tidak melihatku.
Kini rumah menjadi dingin. Tak ada lagi gelak tawa Nai dan bi Nuni. Bi Nuni pun lebih fokus pada pekerjaannya saja. Setiap hari bi Nuni berdoa untuk Nai. Diapun mnangis sejadi - jadinya ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri saat si lugu Nai diborgol. Dia mengetahui cerita hidup Nai maka dari itu dia amat merasa sedih. Pun semua pembantu seperti tidak berani mengeluarkan suara. Ya.. rumah ini baru saja tertimpa musibah hingga keadaan menjadi sangat tidak baik.
********
" Sayang kamu pulang? Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Ayo mandi. Sambut Almeera yang melihat kedatangan Benji.
Tak menolak Benjipun membuka jasnya dan bersiap mandi.
__ADS_1
"Oh ya, kamu tidak memasukan racun pada air mandiku kan?"
"Apa maksudmu sayang?"
"Ah tidak, siapa tau saja kau memasukan racun pada air mandiku dan terserap oleh pori - pori ditubuhku. Lalu aku mati dikamar mandi. Sungguh memalukan." Ucap Benji sekenanya.
" Itu tidak mungkin sayang."
Setelah mandi Benji kembali mengambil beberapa barang yang ia butuhkan untuk kemudian dibawa ke kamar bawah.
"Sayang, Kamu bilang kamu mengambil alih sementara perusahaan ayahmu, tadi ayahku telepon dan dia bertanya tentang kontrak kerjasama yang dia ajukan.. oh iya, ada permintaan maaf dari ayahku karena belum bisa menengok. Ayahku masih di London."
" Akan ku fikirkan. Sampaikan padanya tidak usah repot - repot menengok. Aku sangat senang jika dia tidak datang."
Almeera terdiam mencerna ucapan Benji. Belum selesai ia berbicara Benji sudah berlalu keluar.
*******
" Kita harus keluarkan Nai, tapi bagaimana caranya. Aku tidak yakin Mai yang melakukannya." Bhramsy berbicara didepan Nai dan Bianca. Ya, tengah malam menengok tahanan hanya bisa dilakukan oleh orang yang bukan sembarang.
Bianca merangkul Nai sedangkan Nai hanya bisa menunduk.
" Bagaimana kalau kita sogok saja semuanya?" Bianca memberikan saran.
" Berapapun akan aku bayar!!!!! " Tegas Bhramsy
" Mungkin ini ujian Tuhan, jika memang ini salah saya, biar saya yang menebusnya. Tapi jika memang terbukti bukan saya yang melakukannya, kepolisian pun pasti akan membebaskan saya."
" Lalu kamu mau disini terus Nai? Lihat keadaan kamu Nai, bahkan kardus untuk alas tidur pun tidak ada. Kamu bisa sakit." Dengan nada tinggi Bhramsy sedikit membentak Nai.
Bianca kemudian memberikan tas besar yang dia bawa dan melepaskan jaket yang dia gunakan.
"Untuk sementara Nai. Ganti bajumu. Ada beberapa bajuku didalam. Ada selimut juga. Kamu pakai jaketku ya. Minimal badanmu tidak teralu menempel dengan lantai. Kita akan berusaha membebaskanmu secepatnya."
Nai hanya mengangguk dan berterimakasih pada Bianca.
Deeeeegggg.
Bhramsy lalu menatap Bianca
kenapa dia tidak marah bahkan dia berlaku sangat baik pada Nai. padahal dia tau aku sedang mati - matian mengkhawatirkan Nai. Nai tidak salah bercerita tentangmu padaku.
"Sayang, waktu kita tidak lama, ayo."
Bhramsy pun meninggalkan Nai yang tidak terlihat membaik sejak kejadian itu.
*******
Ini adalah malam kedua Nai menginap di hotel pro deo. Nai bersimpuh sembari menangis sekeras - kerasnya. Emosinya sudah tidak bisa dia bendung lagi. Air mata selalu memaksa mencari jalan keluar. Terlintas kembali wajah kedua orangtua Nai dan wajah anak Nai.
__ADS_1
Nai meraung. Meratapi garis nasibnya yang menurutnya sejak dia dilahirkan tidak pernah mujur. Semua seperti petir. Menyambar tiba - tiba. Beberapa hari lalu dia berada diatas awan saat mendapatkan hadiah kecil dari tuannya, penawaran menikah, perlakuan baik dari Bhramsy, namun semua berbalik secara cepat. Banyak pertanyaan terlintas dikepalanya namun Nai sendiri tak pernah bisa menalarnya.
Tak ada sedikitpun dendam dalam hati Nai kepada semua keluarga Pak Wijaya termasuk Bianca dan Almeera. Nai justru menyalahkan dirinya sendiri. Takdir, jalan hidupnya, Tuhannya.
Dia memukul dan membentur - benturkan kepalanya di tembok, mencakar tangannya sendiri hingga terluka, memukul - mukul wajahnya, sambil berceracau, " aku benci diriku sendiri!!!!!!" Dia melakukannya hanya untuk meluapkan emosinya yang tertahan sejak beberapa hari lalu. Tak terasa darah mengalir dari hidungnya. Depresi. hanya itu yang mungkin dapat menjelaskan keadaan Nai.
"Hey, apa kamu tidak bisa diam? kamu membuat kegaduhan malam hari." Ucap seorang pria paruh baya yang gagah dan berseragam rapi. Tampak wajahnya sangat lelah. Kerutan sudah terlihat di dahinya namun tidak mengurangi wibawanya.
Nai sama sekali tidak menghiraukan ucapan itu. dia terus saja membentur - benturkan kepala belakangnya ke tembok sambil terus menangis.
"Nak, sebut nama Tuhanmu. ilIngat, Tuhan tidak hanya untuk orang baik." Kata bapak tersebut sebagai ucapan pembuka.
*Y*a, aku memang bukan orang baik. Setidaknya semua orang memandang begitu. Tapi anda tidak mengetahui apapun pak. Bahkan jalan hidupku anda tidak mengetahuinya. Setidaknya diamlah.
" Kamu merasa dunia sepertinya tidak adil. Kamu tidak melakukan kesalahan namun kamu dituduh sehingga kamu ada disini? begitu?" timpalnya lagi.
" Jangan teralu sombong anak cantik. Kamu merasa dirimu paling tersiksa dan kamu merasa bahwa kamu tidak pantas tersiksa dan seharusnya bahagia? siapa dirimu. Lihatlah nak. Tuhanmu menyuruh untuk tetap rendah hati, perbaiki diri, bukan mengutuk keadaan. Jangan rusak dirimu sendiri, Tuhanmu telah menciptakan seluruh tubuhmu sebaik - baiknya."
Ucapan bapak tadi ternyata membuahkan hasil. Nai perlahan berhenti membenturkan kepalanya meskipun dia masih terisak.
"Terhadap semua yang menimpamu, terimalah. Jika masih terasa menyesakkan, berdoalah meminta hati seluas - luasnya. Sebab masalah besarpun akan terlihat kecil jika ada didalam hati yang luas, sebaliknya masalah sekecil apapun akan terasa besar dihati yang sempit."
"Tapi pak,," suara Nai terdengar lirih. Nai menundukan kepalanya. Bapak tersebut membuka jeruji besi yang terkunci. Dengan seragamnya yang masih terlihat rapi dia duduk disamping Nai.
" Nak, sedikit banyak saya tau tentang kamu. jadilah anak yang baik. Bukan hanya kamu, amat sangat banyak orang yang mengalami hal serupa. Kamu merasa hidupmu seolah selalu ditimpa bencana, belum selesai sampai disitu sekarang kamu tiba - tiba berada dibalik jeruji besi, kamu menganggap semuanya beban. Bersyukurlah nak, Tuhan sangat menyayangimu. Dia selalu mendengar semua keluh kesahmu."
"Nak,, bukan sebuah keharusan kamu menanggung beban dan cobaan yang bahkan kamupun merasa pundakmu tidak sanggup memikulnya, jangan anggap itu beban. Jadikan itu sebuah amanat dari Tuhan, lakukan sebaik - baiknya. Itu semua titipan Tuhan, jaga baik-baik. Mungkin kamu tau, setiap penitipan, yang menitipkan akan memberikan upah jika kita menjaga titipan itu sebaik - baiknya kan? Bersabarlah sedikit lagi nak, Tuhan akan memberikanmu upah yang bahkan kamu tidak akan sanggup membendung kebahagiaan yang kamu dapatkan dari sebuah makna ikhlas. Bersabarlah nak. Sedikit lagi.
"Tapi pak, orang tua saya..." Nai tidak melanjutkan ucapannya.
" Orangtuamu akan mengerti, mereka akan bangga memiliki anak sepertimu. Yang rela berkorban apapun demi keluarga. Kamu akan mengangkat harkat derajat orangtuamu "
"Aamiiin." Lirih terdengar suara Nai mengaminkan ucapan bapak tersebut.
" Pak, kenapa harus saya yang mendapat cobaan sekeras ini?" Nai memberanikan diri bertanya meskipun dengan suara pelan dan tertunduk.
" Tuhan tau siapa hambanya yang kuat. Tuhan tau kamu kuat. Bukankah mobil Land Cruiser idamanmu dari sejak kecil, diciptakan untuk mendaki gunung dan jalan terjal?" Jawabnya ringan sembari tersenyum.
" Tuhan tidak akan memberikanmu jalan terjal jika mentalmu seperti mobil-mobilan remote. Bersyukurlah. Kamu memiliki mental baja. Jika hal ini menimpa orang lain, mungkin 5 menit setelah ditimpa musibah, mereka akan bunuh diri. Tapi kamu, dari sejak dilahirkan saja, kamu terjun, kaki duluan, umur 3 tahun kamu tenggelam dan saat diangkat kamu tidak bernafas beberapa detik kemudian bangun dan hanya meminta eskrim, kamu sudah berkali - kali hampir diujung maut, namun lagi - lagi Tuhan menunjukan kuasanya dengan membuat kamu tetap hidup dan kuat." Bapak tersebut berdiri sembari mengeluarkan bungkusan disakunya.
" Jadilah pribadi yang bijak. Yang pandai bersyukur dan pandai membaca segala sesuatu. Kendalikan emosimu. Tuhan bersamamu nak. Obati lukamu, orang tuamu terlebih ayahmu akan menangis darah jika melihat anak bungsunya terluka seperti ini." Bapak tersebut memberikan obat luka dan beberap perban sembari berdiri untuk kembali keluar.
" Tunggu, kenapa bapak tau.." Nai kebingungan.
" saya melihatmu saat kamu masih sebesar ini." sambil menunjukan kedua tangannya memberikan isyarat beberapa puluh cm. Bapak itu melangkah keluar.
siapa dia? Land Cruiser? sumsang? tenggelam. Mengapa dia mengetahui secara rinci masa kecilku?
Dalam gelap masih terlihat tulisan di dadanya saat dia kembali memasangkan gembok. Krisna Cahya.
__ADS_1