
"Haiiiiii selamat sore!!!" Sapaan renyah Benji saat masuk kamar, dilihatnya Nai sedang duduk di sofa sambil menonton film komedi.
Sederhana sekali hidup wanita ini, mungkin setiap aku bekerja dia hanya didalam kamar, padahal dia bisa pergi jalan - jalan kemanapun yang dia mau.
Aku nyaman dikamar ini.
dirumah ini.
dikamar ini tuan..
ah iya, dia pernah mengatakannya padaku.
Bergegas Nai meninggalkan tontonannya, Ia menghampiri Benji dan membantu suaminya itu melepaskan jas. "Kau sudah mandi?" Tambahnya lagi sambil mencium kening Nai.
Harus sehangat mungkin. Ya aku harus bersikap hangat padanya agar dia nyaman dan percaya padaku.
"Su.. Sudah tuan."
"Coba aku minta dipeluk sedikit." Pinta Benji sembari merentangkan tangan.
"Eh????" Nai terlihat bingung.
"Ya sudah ya sudah kalau tidak mau, aku saja yang memelukmu." Tanpa persetujuan, Benji mendekap tubuh Nai beberapa saat.
Jangan memaksa. Aku harus baik dan manis pada Nai.
"Tu.. tuan.. mau aku siapkan air hangat sekarang? maafkan aku, aku fikir tuan akan pulang seperti biasanya, tidak secepat ini."
"Tidak usah, nanti saja." Benji tersenyum menatap Nai dihadapannya. "Tebak aku bawa apa?" Katanya lagi.
"Apa tuan?"
Benji membuka bungkusan plastik yang ia beli diperjalanan pulang. "Waaaaaaaah seblak!!!!!!!! Ini es cekik?waaahhhhh...Terimakasih tuan." Nai terkekeh kegirangan sembari memeluk Benji.
"Tapi.." Sela Benji. "Seblaknya tinggal satu.."
"Tidak masalah, ayo kita makan berdua.." Nai segera membuka bungkusan itu kemudian mengajak Benji untuk sama - sama menyantapnya.
"Minumnya juga.." Timpal Benji lagi.
"Satu berdua juga." Jawab Nai sambil tersenyum.
Tak lama merekapun menyantap makanan favorit Nai itu hingga habis tak bersisa.
"Tuan, wajah tuan merah dan tuan jadi sangat berkeringat, apa menurut tuan ini teralu pedas?"
"Cukup pedas bagiku Nai."
"Maaf..." Nai merasa bersalah, segera memasang muka memelas agar dimaafkan.
"Bukan salahmu cantik, aku suka ini, kalau mau besok sepulang kerja aku belikan lagi untukmu." Jawab Benji sambil mencubit lembut pipi Nai.
Bisa tidak kau berhenti memasang wajah seperti itu Nai? kau sangat lucu, rasanya aku ingin terus memeluk dan menciumimu. Tahaaaaan.. tahaaaaan..
"Horeeeeee... Terimakasih tuan.."
"Tuan, istirahatlah dulu, jangan langsung mandi, perut tuan masih penuh." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Iya. Eh tadi kau menonton film apa?"
"Ini, film komedi legend. Berpuluh - puluh kali ditonton masih lucu saja." Nai kembali ke sofa, melanjutkan film yang beberapa saat ia jeda.
Benji menghampiri Nai, "Ada baiknya aku ikut menonton sambil menunggu seblak didalam perutku dicerna."
"Sini,, duduk disini tuan, kita nonton film." Kata Nai sambil menepuk - nepuk tempat yang kosong disampingnya.
Benji tak menggubris, ia malah mengarahkan kamera ponsel ke arah Nai, sontak Nai menoleh pada Benji, "Foto Nai.." Ucap Benji. Ia mendapat gambar Nai yang sangat polos, tentu, dengan mata sayu yang indah. Candid. Benji segera memposting foto itu dan memberikan caption "Kamu lebih manis dari madu."
"Mana hpmu?" Ujar Benji. Ia menengadahkan tangan kirinya tanda meminta.
"Ini tuan.." Nai mau tak mau menyerahkan ponsel yang sedang ia pegang.
"Coba sini." Ia membuka menu kamera kemudian mengajak Nai foto bersama. "Kita coba kameramu, bagus tidak? kalau jelek, beres film yang kau tonton kita beli hp." Tambahnya.
Nai segera memasang senyum paling manis disamping Benji, beberapa foto dengan gaya yang berbeda akhirnya didapatkan. Benjamin sibuk memilih foto sedangkan Nai hanya sanggup menarik nafas panjang, pasrah dengan kelakuan tuannya yang tak seperti biasanya. "Ini lucu." Celetuk Benji ketika melihat foto mereka dimana Nai bersandar pada bahunya sedangkan Benji tersenyum ceria. "Menghabiskan waktu bersama suami tampanku." posting.
"Aiiiiihhhh,, tuan membajak!" Nai mengerutkan dahinya.
"Yasudah biar kuhapus lagi." Ucap Benji kesal.
Nai kemudian tersenyum sambil mengambil ponselnya dari tangan Benji."Tidak usah, ayo kita lihat bagaimana fansku berkomentar." Ucapnya lembut.
Shilya :Tampan sekali suamimu Nai..
Rani : Wah bagaimana kamu bisa mendapatkan suami seperti dia?
Keisha : Kamu kan anak baik, pantas Allah berikan jodoh yang sepadan. Bahagia sampai akhir hayat ya Nai.
Bianca : Nai kamu sehat? tumben pasang foto dengan kak Benji? apa aku bilang, lambat laun kamu akan mencintainya juga.
Aria : Bagaimana caranya aku merebutmu? suamimu setampan itu.
Albi : Tiba - tiba menghilang dan membawa lelaki yang cukup tampan, diakui suami. Kamu benar - benar memberikan kejutan Nai.
"Netizen menyebalkan. Berikan hpmu." Benji kesal, ia merebut ponsel ditangan Nai kemudian dengan cekatan memblokir lelaki - lelaki yang membuatnya emosi meski hanya dengan berkomentar.
"Awas kalau kau berani membuka blokiran." Dengan pandangan tajam ia menatap Nai.
Astaga aku tidak boleh mengancam.
" Ma.. maksudku, bolehkah kau menjauhi mereka? aku cemburu." Sepersekian detik wajah Benji berubah manis kembali.
Dasar lidah, kenapa jujur sekali?
"Baiklah tuan tampan, dan lagi, mereka tidak berpengaruh dihidupku." Jawab Nai santai.
"Kalau aku?" Benji penasaran.
"Tuan? tuan itu hidupku. Hihihihi."
"Manis sekali. Cuuuuuup!" Benji mencium kening Nai. Nai dibuat kaget lagi oleh kelakuan Benji.
"Tuan.."
"Hmmm?"
__ADS_1
"Aku ingin jalan - jalan."
" Singapore? Paris? Dubai? Amerika? Belanda?"
"Kedepan jalan sajaaaaa.. kenapa harus jauh - jauh?"
"Hahahahahahahahaha.. Nayanika, kau itu istri pengusaha kaya, kenapa keinginanmu selalu sederhana? kau tau? bahkan uang jatah per bulanmu masih utuh, kenapa tidak kau pakai untuk berbelanja, main, bersenang - senang?"
"Ah disini saja semuanya sudah tercukupi, aku bisa tidur, bisa makan, bisa merokok, sudah aman."
"Sesimpel itu?"
"Iya."
"Kau selalu membanggakan Nai, tapi ada baiknya sesekali keluar rumah. Agar kau tidak jenuh."
"Sejak jadi istri tuan, aku selalu ditatap oleh banyak orang, saat acara kemarin malah kita dikejar - kejar wartawan... ak..."
"Kau keberatan?"
Nai hanya menunduk, seperti memikirkan sesuatu.
"Maaf tuan.." Lirih, ia seperti menyesali sesuatu.
"Besok jika ingin keluar rumah, kau pakai masker dan bilang padaku, akan kusuruh beberapa orang untuk menjagamu."
"Maaf, tapi sepertinya tidak usah."
"Kau kenapa cantikku?" Tangan Benji meraih tangan Nai, sambil menunduk, Nai menyambut genggaman itu, sama eratnya.
"Aku rindu kehidupanku yang dulu. Meskipun aku tidak pernah dipandang oleh orang lain, tapi aku bebas melakukan apapun, tidak ada yang memperhatikan, aku bisa bebas memberi makan kucing, aku bebas memanjat pohon, aku bisa jajan dipinggir jalan, jajan telur gulung, jajan cakwe mini didepan SD. Maafkan aku, bukannya aku tidak bersyukur, namun aku fikir aku harus menjaga etika saat keluar rumah karena jika tidak, nama tuan akan terbawa buruk."
"Memang ada yang melarangmu?" Nai segera menggelengkan kepala.
"Aku hanya takut salah bertindak."
"Aku bukan artis Nai, media hanya meliput hal - hal penting dan itupun sesekali saja."
"Iya sih tuan, aku memang tidak penting, aku kan hanya takut. Maafkan aku teralu percaya diri."
Astaga salah lagi aku bicara.
"Ya, bagi sebagian orang kau tidaklah penting Nai, tapi bagiku, kau lebih penting dari apapun."
Ayolah rayuan,, berhasil untuk kali ini saja.
Nai tersipu malu mendengarnya.
"Jadi lakukan apa yang kau inginkan cantik." Nai menyeringai sambil menganggukan kepala tanda setuju.
"Jadi aku boleh ambil uang di atm untuk jajan?" Tanya Nai lagi.
"Semua milikmu Nai, beli apapun yang kau mau."
Seratus kali lebih aku katakan uang itu milikmu namun kau masih saja takut untuk menggunakannya. Wanita hemat.
"Aku mau mandi dulu,, Cuuuuupppp." Lanjut Benji sembari mencium kening Nai.
__ADS_1
"Baiklah tuan."
Benjamin masuk ke kamar mandi bersamaan dengan Nai yang membuka lemari, mempersiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia pun mengambil dompet kemudian bergegas keluar kamar.