
Malam ini adalah malam yang menjadi catatan bagi keluarga besar Wijaya. Pasalnya, tepat malam ini penyerahan seluruh harta kekayaan pak Wijaya diserahkan sepenuhnya pada Benjamin dan Bhramsy, namun karena Bhramsy belum menikah, bagian miliknya untuk sementara dipegang oleh kakaknya.
Benji yang sudah siap lebih dulu turun kebawah, dia meninggalkan Nai yang sedang bersiap ditemani oleh Laras.
"Nona, nona akan menggunakan gaun yang mana?"
"Entahlah Laras, akupun bingung, menurutmu?"
Laras beranjak menuju lemari pakaian yang super besar itu, setelah meminta ijin, Laras mencari gaun yang dirasa pantas untuk majikannya. Terpilihlah satu gaun yang menurutnya cocok.
"Bagaimana jika ini?" Tunjuk Laras.
"Apa aku pantas memakainya?"
Apa tuan Benji tidak akan marah? Ah biar saja. Lagi pula kemarin dia sudah menegaskan bahwa aku harus pergi setelah satu tahun, itu tandanya dia tidak serius menjagaku. Terserah padaku mau pakai baju apa.
"Pasti nona terlihat sangat cantik. Nona kan pemilik acara, harus berdandan lebih cantik dari tamu undangan." Jawab Laras.
"Baiklah, coba pakaikan."
Nai dibantu Laras memakaikan gaun itu. Setelah selesai, Nai berdandan dan meluruskan rambutnya. Terkesan simple, namun elegan.
"Apa aku terlihat lebih baik dari sebelumnya ?" Tanya Nai pada Laras, dia sendiri merasa risih dengan pakaian itu.
"Nona, nona terlihat sangat cantik, tuan Benji akan menyukainya. Sungguh."
"Benarkah?" Ucap Nai sambil tersenyum karena sanjungan. Tak lupa dia berikan beberapa lembar uang pada Laras.
"Nona, terimakasih. Semoga nona selalu diberkati Tuhan." Tambahnya setelah menerima uang.
Nai hanya mengangguk, dia bersiap turun ke bawah untuk menemui Benji.
Selalu terlihat berbeda dari siapapun. Nayanikaku. Batin Benji saat melihat Nai berjalan menuruni anak tangga. gaun hitam berlengan panjang namun terbuka bagian belakang dan dada sangat menonjolkan lekuk tubuh Nai yang indah, ditambah belahan gaun yang sangat tinggi. Benji tak bisa berkedip melihatnya.
"Permisi, ada yang salah?"
"A.. e.. tidak. Kau cantik."
"Terimakasih. Ayo, maafkan aku lama sekali."
"Tidak apa - apa. Sebentar, aku rasa ada yang kurang." Ucap Benji sembari membuka papper bag disebelahnya.
"Akan ku pakaikan ini." Tambahnya sambil membuka kotak beludru besar. Tanpa fikir panjang Benji segera memasangkan kalung, gelang, cincin dari berlian itu. Tak lupa dia mencium mesra tangan istrinya. Sedangkan Nai, Nai hanya bisa terpaku melihat perhiasan sangat indah dan berkilau didepan matanya.
"Kau lebih dari sempurna Nai, aku merasa ditemani oleh bidadari."
"Tuan, apa harus pakai ini? Aku tidak seperti tukang daging sapi di pasar? Berat sekali. Ini berapa kilo?" Tanya Nai tanpa menggubris gombalan suaminya.
Maafkan aku, tidak ku gubris karena aku tau bicaru manismu itu mengiris kalbu sewaktu - waktu. Kuat Nayanika, jangan sampai terlena hanya karena pujian.
Benji hanya cekikikan sambil menarik tangan Nai keluar rumah dan segera memasuki mobil.
Sepanjang perjalanan, Nai terus menerus melihat jari manisnya. Meskipun jiwa menolak, tapi rasa bahagia tidak bisa disembunyikan. Ini kali kedua setelah menikah Benji menyematkan cincin di jari manis itu kemudian menciumnya . Nai merasa dia sangat dihargai.
"Kau menyukainya, bidadariku?" Goda Benji.
"Sangat. Terimakasih Tuan."
"Aku yang harusnya berterima kasih, kau membuat mataku segar setiap hari karena kecantikanmu. Kau tau Nai? Pernah kudengar katanya jika aku taat beribadah, ketika meninggal, aku akan ditemani oleh bidadari di syurga. Bantu aku masuk syurga Nai, aku akan meminta pada Tuhan agar bidadarinya itu dirimu."
"Ah tuan jangan serakah. Di dunia aku dibayar untuk menemanimu, masa di akhirat aku juga yang harus menemanimu. Apa tidak bosan???" Protes Nai diiringi renyah tawa mereka.
Hampir 40 menit, pasangan serasi itu tiba di sebuah hotel bintang 5. Setelah memarkirkan mobil, Benjamin turun dan menggandeng tangan istrinya menuju Ballroom yang sengaja disewa untuk acara ini. Wartawan yang menunggu segera menghampiri keduanya, namun sayang, sejak keluar mobil, Benjamin sudah diikuti 8 bodyguard kesayangannya itu, membuat wartawan kesulitan mewawancarai.
__ADS_1
"Maaf permisi. Minggir - minggir tuan Benjamin harus segera masuk ruangan." Ucap beberapa bodyguard yang melindungi mereka.
"Nona, Nona Naya, boleh minta waktunya sebentar?" Wartawan tak kehabisan tenaga untuk berusaha mengejar mereka. Nai dengan hak tingginya terpaksa berjalan sedikit cepat karena tangannya ditarik oleh Benji. Sepintas melihat kerumunan wartawan, dia tertuju pada wartawan yang umurnya mungkin tak jauh dari ayahnya, terlihat lusuh dan lelah."
"Aku mau masuk TV sambil di wawancara, biar tetangga di Bandung tau aku sekarang kaya. Tolong. Ini permintaanku. Aku mohon." Bisik Nai pada Benji. Benji melirik Nai tajam, seakan mencari penegasan, namun lagi - lagi Nai memakai jurus tatapan memelas, membuat Benji tak berkutik. Sepersekian detik Benji menghentikan langkahnya.
"Baiklah, ada waktu 10 menit." Katanya dingin. Mau tidak mau para bodyguard membiarkan wartawan mendekati keduanya.
"Nona Naya, apa yang anda rasakan setelah menikahi pengusaha sukses?"
"Jelas sangat bahagia. Dia lelaki terbaik dari Tuhan untukku." Jawab Nai.
Akhirnya kau menyadarinya Nai.
"Apa rencana kedepannya setelah penyerahan seluruh perusahaan ini dilaksanakan?"
" Itu sepenuhnya menjadi urusan suamiku, mungkin akan membuka beberapa lapangan pekerjaan lagi."
Nai kemudian menujuk pada salah satu wartawan yang dilihatnya tadi. Tepat di sisi kirinya. "Hai pak, apa yang mau bapak tanyakan pada saya?" Suara lembut itu membuat semua mata tertuju pada si wartawan yang dalam name tag nya tertulis nama Deni.
"Nona, apa nona memiliki kembaran? Apa nona pernah memberikan bantuan bagi korban bencana dulu? Saya pernah meliputnya, mirip seperti nona."
Nai hanya tersenyum sambil menganggukan kepala. " Saya tidak punya kembaran, iya, itu saya. Terimakasih telah meliputnya beberapa tahun lalu."
"Nona sangat baik hati, keluargaku ditolong semua olehnya. Tuhan membalas kebaikan nona, semoga nona selalu bahagia." Ucapnya.
"Semoga Tuhan membahagiakan kalian semua, keluarga kalian, keluarga bapak semua ya. Jangan berhenti menjadi orang baik, Tuhan akan balas semuanya. Baiklah, 1 pertanyaan lagi saja untuk suami saya." Tutup Nai.
Ketika semua wartawan fokus pada Benji, Nai mengeluarkan semua uang di tas kecilnya, dengan cepat dia memasukan pada saku wartawan tua itu tanpa ada yang menyadari.
Selesai diwawancarai, Nai menebarkan senyum pada semua wartawan diselingi lambaian tangan. Dia segera memasuki Ballroom itu.
Pak Wijaya bersama Bhramsy dan Bianca yang berada diatas podium segera menyambut Benji juga Nai untuk memberikan sambutan.
"Pertama, saya mengucap syukur pada Tuhan yang maha kuasa telah memberikan amanat besar dalam hidup saya. Seperti anda ketahui, saya terlahir dari keluarga berkecukupan, saya dan adik saya di didik oleh kedua orang tua saya hingga bisa sesukses ini. Ini semua hasil jerih payah mereka. Semoga kedepannya, saya dan Bhramsy bisa membanggakan kedua orang tua saya, bermanfaat bagi semua orang, khususnya bagi cinta pertama yang saya miliki, papi dan mami, juga cinta kedua saya, Nayanika Ezra Jameela." Riuh tepuk tangan dari semua tamu yang ada. Pak Wijaya memeluk Benjamin dengan bangga. Acara penyerahan seluruh perusahaan pun berjalan dengan sukses.
Selesai acara puncak, mereka menikmati hidangan yang ada diiringi alunan musik. Tiba - tiba Nai dikagetkan oleh suara lelaki yang tak asing dan mengajak Nai untuk bernyanyi bersamanya.
I can show you the world
Shining, shimmering, splendid
Tell me, princess, now when did
You last let your heart decide?
I can open your eyes
Take you wonder by wonder
Over, sideways and under
On a magic carpet ride
A whole new world
A new fantastic point of view
No one to tell us, "No"
Or where to go
Or say we're only dreaming
__ADS_1
A whole new world
A dazzling place I never knew
But when I'm way up here
It's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
(Now I'm in a whole new world with you)
Unbelievable sights
Indescribable feeling
Soaring, tumbling, freewheeling
Through an endless diamond sky
A whole new world (don't you dare close your eyes)
A hundred thousand things to see (hold your breath, it gets better)
I'm like a shooting star, I've come so far
I can't go back to where I used to be
A whole new world
With new horizons to pursue
I'll chase them anywhere
There's time to spare
Let me share this whole new world with you
A whole new world (a whole new world)
A new fantastic point of view
No one to tell us, "No"
Or where to go
Or say we're only dreaming
A whole new world (every turn, a surprise)
With new horizons to pursue (every moment, red-letter)
I'll chase them anywhere, there's time to spare
And then we're home (there's time to spare)
Let me share this whole new world with you
A whole new world (a whole new world)
That's where we'll be (that's where we'll be)
A thrilling chase (a wondrous place)
__ADS_1
For you and me
Seperti dongeng yang jadi kenyataan, Nai tak kuasa menahan tangis bahagianya. Lirik lagu yang Benji nyanyikan dirasa benar, dia menunjukan dunia baru dan berbagi dunia baru itu bersama dirinya. Namun, hal yang masih menjadi perdebatan tersendiri dalam batin Nai, bagaimana jika setelah satu tahun dia harus kembali ke kehidupannya semula.