Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Dan, nyalakan lagi listriknya!


__ADS_3

Tengah malam Nai terbangun, dengan Benjamin yang tertidur lelap disampingnya. Jelas terlihat dia lelah, sejak tadi Benji fokus menjaga Nai yang tak tenang memejamkan mata.


Gelap?apa tuan mematikan semua lampu?apa tidak ada yang bangun dan menyadari? ah ini sudah jam 2 malam. Semua pasti sudah tertidur. Gumam Nai.


Nai mencoba menghidupkan lampu namun tidak bisa. " Benar listriknya mati." Gumamnya. Akhirnya ia memutuskan turun ke bawah lalu pergi ke dapur mengambil lilin meskipun setengah takut. Ya rumah ini jika sedikit penghuni dengan lampu menyala saja sudah cukup menakutkan, apalagi dengan lampu yang mati. Nai mengambil ponsel dan dinyalakannya senter di hp.


Benarkan ini rumah seram sekali. Langkahku sepertinya lama sekali untuk sampai didapur.


Sekian lama berjalan, Nai hampir sampai di dapur, nyaris dia membalikan badan lalu berlari sekencang - kencangnya karena mendengar bunyi pintu lemari yang terbuka bergantian. Jantungnya berdegup tak karuan. Meskipun tanpa pencahayaan, dia melihat sosok yang lebih gelap dari kegelapan itu sendiri. Dengan tiga perempat rasa takut, dia mengarahkan senternya ke sosok itu.


"Tante ??? Tante Ernes kan? Ya Tuhan. Kenapa malam - malam ada disini????? gelap ini." Ucap Nai yang sedikit lebih tenang karena yang ia temui bukan setan.


"Tidak apa - apa, hanya sedikit pusing, sepertinya masuk angin." Kata Ernesta.


"Tante cari apa?"


"Cari bawang merah, mau dikerok pakai bawang merah. Apa bi Nuni masih bangun?" Tanyanya lagi sambil terus membuka pintu lemari. " Disini rupanya. Sudah kutemukan. " Ernesta berbalik sambil membawa bawang.


"Wah sudah tidur tante. Biar aku saja. Aku bisa." Tawar Nai.


"Nanti suamimu marah."


"Nanti aku marahi lagi kalau dia memarahiku. Eh ada om andra ?"


"Ada. Ya sudah jika memang kamu mau, ayo ke kamar." Ajaknya. Sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara satu sama lain. Hanya diam sambil terus menyusuri gelapnya jalan dengan bantuan senter.


Sesampainya dikamar Ernesta membuka pintu, bersamaan dengan suara Andra dibalik kegelapan."Nai, om mau bicara."


Nai berdegup jantungnya, belum selesai rasa takut, kini dia dihadapkan dengan suara lelaki yang mungkin sama benci padanya. "Ada apa ini? Tante masuk anginnya tidak jadi?" Nai kebingungan.


"Duduklah."Kata Andra. "Om tau kamu bukan orang sembarang."


"Maksudnya?" Nai duduk disamping Andra, dengan rasa takut.


"Kamu pintar Nai, om hanya ingin menitipkan ayah Benji dan semua harta kekayaannya padamu."


"Aku?"


"Ya, mereka punya rencana buruk. Bukankah kamu mengetahuinya?"


"Soal tadi pagi? Aku hanya berkata perasaanku saja, mengarang."


"Itu benar."


"Dulu aku bekerja sama dengan mereka, namun setelah kejadian ini, aku berhenti untuk berkomplot dengan yang lainnya. Jangan lengah, mereka bisa jahat seperti iblis. Tak kusangka mereka berani mencelakaimu." Jelasnya.


"Rencana apa om?" Tanya Nai lagi.

__ADS_1


"Beberapa minggu lagi semua harta kekayaan kakak akan diberikan pada Benjamin, apa yang harus kita lakukan."


"Aku akan membawa temanku kemari, jika kak Benji mencintai temanku, itu bagus untuk kita, kak Benji akan menjadi baik dan kita akan lebih mudah meminta perusahaan."


"Sepertinya itu sulit, tapi coba saja."


"Menurutku lebih baik kita singkirkan dulu wanitanya, atau sekalian kita culik kakak. Benji akan melakukan apa saja untuk keselamatan ayahnya itu."


"Kenapa tidak Benjamin yang kalian singkirkan? Kita lebih mudah memaksa kakak daripada meminta pada Benjamin."


"Kamu bodoh, Benjamin pasti memiliki penjagaan yang ketat."


"Hancurkan saja dulu keluarganya satu per satu, jika diantara mereka ada yang tidak beres, Benjamin pasti tidak akan memikirkan perusahaan, dia pasti meminta orang lain untuk membereskannya, disitu kesempatan kita."


"Ide bagus."


Andra menceritakan semua dengan panjang lebar.


"Kami hanya takut kamu lagi yang jadi sasaran." Ernesta menimpali.


Apa maksudnya semua ini? Kalian berpura pura baik untuk menjebakku atau?


"Tanten dan om yakin?"


"Kami hanya ingin melindungi keluarga ini. Dan dirimu."


"Yayayayaya aku bukan bagian dari keluarga ini." Nai menghela nafas. "Jadi aku harus bagaimana ?"


"Entahlah."


"Jika bisa, kami minta benji jangan tau."


"Kenapa?"


"Karena Benji akan langsung bertindak."


"Bukankah bagus?"


"Bagus untuk sementara, tapi ketika dia pergi? Apa jaminan papi akan selamat? Yang ada mereka tambah dendam."


Benar juga.


"Tante dan om bisa membantuku?"


"Kami hanya bisa memberikan informasi, berpura - pura ada di pihak mereka. Jika kami membangkang, kami yakin mereka akan nekat, kami khawatir."


"Papi?" Tebak Nai.

__ADS_1


"Selain papi, anak kami sedang kuliah diluar negeri, jaringan mereka luas, kami takut mereka mencelakain anak kami."


"Jadi harus aku yang bertindak? Kenapa tidak yang lain?"


Ternyata jadi orang kaya ada masalah juga. Saat miskin bingung mencari uang untuk makan, saat bebas makan, saudara malah rebutan uang.


"Akan aku fikirkan, dan.. ah iya, aku tidak akan bilang pada suamiku, tapi jika ada sesuatu, beritahu aku secepatnya. Tante jadi masuk angin tidak?" Nai seperti menggoda. Tak disangka wanita pendiam bisa juga menjebak Nai agar ikut ke kamarnya.


"Tidak."


"Yasudah, aku kembali ke kamar, jika dia terbangun pasti akan mencariku." Nai beranjak dari duduknya kemudian berjalan. Namun dia membalikkan badan lagi.


"Dan, nyalakan lagi listriknya." Pungkas Nai.


"Maksudmu ?"


"Ini pekerjaan om andra, om mematikan listrik agar cctv tidak merekam, jadi suamiku tidak akan tau percakapan ini. Dia tidak bisa memantauku, begitupun dengan saudaramu yang lainnya. Mereka akan mengira om sedang melakukan sesuatu. Termasuk saat mobilku dirusak mesinnya oleh om Anton, semua tidak terekam karena ulahmu. " Jelas Nai yakin.


"Kamu pintar." Andra tersenyum


"Om lebih pintar, om tau saja aku selalu dimonitor oleh keponakanmu."


"Karena dia mencintaimu." Mendengar itu Nai kembali membalikkan badan menuju pintu. Tak digubris siapapun yang berkata bahwa Benji mencintainya, yang ada di fikiran Nai, dia harus membuat papi dan keluarga ini aman, lalu dia mendapatkan uang dan pergi sejauh mungkin.


FLASHBACK ON.


"Halo dengan PT. Listrikxsx?"


"Saya dengan Putra, ada yang bisa saya bantu? Dengan siapa saya bicara."


"Saya Nayanika. Apa rumah No. 2 di jalan xxxxx kemarin kena pemadaman listrik?"


"Saya cek dulu sebentar."


"Tidak nona, informasi yang tertulis dini kemarin rumah itu listriknya konslet cukup lama, petugas sudah kesana membetulkannya."


"Oh baiklah. Terimakasih."


FLASHBACK OFF


******


Nai kembali menyusuri jalan didalam rumah, seorang diri. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai dikamar. Tak lama Nai dikamar, lampu kamarnya menyala kembali. Dilihat jelas suaminya kini tertidur pulas,


Tuan sangat tampan. Dulu aku pernah berucap bahwa aku tidak mau diduakan, tapi nyatanya aku jadi korban para lelaki buaya. Dulu aku pernah berucap aku tidak mau belajar hukum, kuliah ternyata masuk hukum juga, dulu aku menghina profesi pembantu, malah aku mengalaminya, dulu aku sempat juga berkata tidak sudi mempunyai lelaki tampan karena kebanyakan lelaki tampan itu hanya membuat sakit hati, nyatanya lelaki yang teramat tampan ini malah ada dihadapanku, naasnya lagi dia suamiku. Benar ya, kalau benci jangan sebegitunya, nanti malah mengalami.


Nai menarik panjang nafasnya, diusap wajahnya dengan kasar, jalan apa yang sedang aku jalani sekarang ? aku terjebak keadaan. Lagi dan lagi aku tidak berkutik. Kalau aku terus satu kandang dengan lelaki ini, ada kemungkinan aku malah menaruh hati!!!!!Siaaaaaal.. siallllll.. selepas ini jika sampai aku jatuh padanya tentu lama lagi bagiku untuk pulih. Tuhan kuatkan aku, jangan sampai aku jatuh cinta. Kejaranku hanya uang karena uang yang bisa menenangkan keluargaku, itu cukup. Biarkan aku bahagia dengan bekerja.

__ADS_1


Nai mulai ragu dengan pendiriannya sendiri. Dia bisa memperkirakan kejadian - kejadian yang kemungkinan akan terjadi dikemudian hari. Tentu, karena Nai paham dirinya, dia paham apa kelemahannya, dengan segala macam logika dan pengalaman hidupnya. Dia kini takut semua tak sesuai rencana.


Tak menemukan jalan, Nai memutuskan untuk tidur menunggu pagi datang.


__ADS_2