Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Inilah sifat asli Nayanika.


__ADS_3

Pagi harinya Nai memesan susu kepada Bi Nuni untuk sarapan, dia berkata akan ikut menyusul sarapan dibawah bersama semuanya. Benji, pak Wijaya, Bianca juga Bhramsy sudah di meja makan lebih dulu, berkumpul dengan semuanya, namun mereka tak bicara apa - apa. Mereka ikuti kemauan Nai.


"Hingga saat ini Nai belum ditemukan Benji, fokuslah mencari istrimu, biar om saja untuk sementara yang mengurus perusahaan, om tau perusahaanmu sekarang sedang butuh pemimpin, jika kamu seperti ini, perusahaan akan terbengkalai. Om mengerti perasaanmu." Kata William.


"Ada Roni."


Jika tidak ada pun, aku tidak sudi memberikannya padamu. Tak sulit mengusir kalian, namun istriku sangat bahagia jika bertengkar. Biarkan istriku puas bermain, jika dia bosan, aku yang turun tangan.


"Bocah itu, tau apa dia soal perusahaan, om mu kan sudah lebih berpengalaman." Kata Melly memanasi.


"Akan ku fikirkan." Pungkas Benji.


Sarapan pagi seperti biasanya, tanpa ada yang bicara. Tak lama bi Nuni terlihat berjalan dari kejauhan membawa nampan."Bi Nuni, aku suruh kau membawa jus lemon, bukan susu!!!!!!!!" Protes Ramona dari meja makan. Bahkan bi Nuni belum sampai di meja.


"Maaf nona, ini bukan untukmu."


"Lalu?"


Bi Nuni melewati tangga bersamaan dengan Nai yang menginjak tangga terakhir. Masih terlihat jelas banyak perban membalut lukanya. Diambilnya susu itu kemudian ditenggak sekali habis.


"Untukku! Ada masalah? Bi Nuni adalah pembantu yang dipekerjakan untukku. Jadi yang lain jangan ikut - ikutan." Nai menghampiri mertuanya, dia mencium tangan pak Wijaya yang terlihat bahagia melihat Nai kembali. Kemudian dia dengan angkuhnya duduk dipangkuan Benji. Tak tinggal diam, Benji memeluk erat Nai dari belakang.


"Nai bukankah kamu..." Ramona kini mengeluarkan suara. Suasana menjadi ricuh, semua mata terbelalak melihat Nai ada dihadapan mereka.


"Kak Nai selamat? Alhamdulillah." Kata Helen.


"Apa? Kamu mendoakanku mati? Ayah dan Anak sama jahatnya." Nai menatap Ramona. Dia kemudian menyuapkan semangka yang tersaji di meja lalu berjalan menghampiri Ramona. "Aku tidak akan mati dulu sebelum tugasku selesai. Jadi berfikir keraslah untuk melakukan hal lain untuk mencelakaiku selanjutnya." Dengan nada lembut Nai menantang.


"Aku tidak sejahat itu, kamu bercanda, aku dan keluargaku tidak menyukaimu, bukan berarti aku akan mencelakaimu, tapi lebih bagus kalau kamu mati." Ramona memberikan jawaban.

__ADS_1


"Bercanda? Apa kamu bilang? Bercanda? Apa semua luka ini candaan? Bercanda seperti apa yang kamu maksud?" Nai lalu meraih pisau dihadapannya, ditodongkan pisau itu tepat ke arah Ramona "Sampai kamu dan keluarga besarmu merencanakan sesuatu lagi, ku congkel matamu."


"Nai." Anton mencoba meraih tangan Nai namun pisau itu dilemparkan Nai ke sembarang arah. Dia berjalan ke arah pak Wijaya, menarik tangan mertuanya itu.


"Masuk kamar pi." Pinta Nai, tapi belum lama Nai malah berbalik arah, dia berjalan kembali ke meja makan lalu mendekati Tessa yang sedari tadi hanya menunduk.


"Ah dan kamu warga ilegal," tunjuk Nai pada kening Tessa sambil mendorong kepala tesa dengan 1 jari, " Sedikit kamu melangkah mendekati suamiku LAGI, ku pastikan aku akan menjadi ibu tirimu. Akan ku rusak rumah tangga orangtuamu, ku rusak karirmu dan hidupmu sekalian ku buat seperti didalam neraka jahannam. Harus kamu tau Benjamin Ryshaka Natanael adalah milikku, hanya milikku sepenuhnya!!!!!!! dan segala sesuatu yang sudah jadi milikku tidak akan bisa dirampas dari tanganku sekuat apapun dan oleh siapapun. Tidak boleh ada yang berani mencobanya karena kupastikan gagal!!!Untuk mimpi bersamanya pun kamu DILARANG! ingat dikepalamu baik - baik, dia milikku. Seutuhnya milikku. Jangan fikir aku rela berbagi. Aku tidak sudi!" Pungkasnya sambil tersenyum.


Nai melangkah menggandeng tangan mertuanya kembali , Bianca yang melihat pemandangan dihadapannya menyenggol tangan Benjamin lalu berbisik " Inilah sifat asli Nayanika, kasar, nekat, egois, keras, apapun yang dimilikinya tidak boleh dimiliki orang lain. Sampai mati Nai akan mempertahankan semua yang dia anggap miliknya. Sungguh terpuji kelakuan istrimu." Benjamin hanya tersenyum bahagia mendengar itu.


Nai takut kehilanganku!!! ya, dia menjagaku. Dia mengancam, apa katanya?aku hanya miliknya? Apa artinya dia mulai mencintaiku? kenapa aku sangat bahagia mendengarnya.


Bianca, Benjamin dan Bhramsy berdiri, lalu meninggalkan meja makan, mengikuti Nai dan pak Wijaya.


***********


DIKAMAR.


"Baik pi, suamiku menjagaku sepanjang malam, dia mengompres keningku, mengganti perbanku, menenangkanku saat aku mengigau. Sepertinya harus diberi penghargaan." ucap Nai sambil melirik Benji yang sedang senyum - senyum sendiri.


"Kak sudahlah, mukamu sudah ceria lagi sekarang, jangan disembunyikan. Beda dengan kemarin yah pi? lihatlah anak sulungmu itu, kemarin mengamuk saja aku hampir kena tonjok, padahal aku menenangkannya." Sindir Bhramsy. Benji menyeringai sambil menatap adiknya.


"Siapa yang merawat lukamu?" Tanya pak Wijaya.


"Pi, aku sudah sembuh, nanti aku beritau siapa yang merawatku, nanti kita kerumahnya. Tapi sebelum itu aku mau bertanya, apa papi senang aku selamat?" Tanya Nai manja.


"Tentu, kamu mau apa? papi belikan sekarang." Pak Wijaya seperti anak kecil yang menemukan mainan hilang, dia terus tersenyum.


"Ah jika hanya barang, anak papi memberikan semua, aku tidak kekurangan barang atau makanan, aku mau yang lain pi." Rengek Nai.

__ADS_1


"Lalu apa maumu nak coba katakan?"


"Aku mau mas Bhramsy dan Bianca menikah. Aku butuh Bianca disini. Papi tau semua orang disini seperti memusuhiku." Nai memasang wajah sedih sambil duduk di lantai." hampir setiap hari aku menangis kesepian, aku membutuhkan Bianca pi." Tambahnya.


Bianca yang melihat itu kembali berbisik di telinga Benji," Lupa ku katakan kak, dia jago akting."


"Baiklaaaaah jika itu permintaanmu. Itu mudah, besok juga bisa menikah bila perlu." Nai meloncat kegirangan, dia memeluk mertuanya kemudian memeluk Benjamin, sambil mengedipkan sebelah matanya saat menatap Bianca.


Benji tersenyum melihat adiknya dan Bianca melotot seperti tidak percaya. Terpancar wajah bahagia diantara keduanya. Tak disangka, jalan menikah mereka semulus ini.


Nai, Terimakasih. Bahkan dibalik lukamu, kamu masih berusaha membuatku bahagia. Batin Bianca.


"Bhramsy, kalian harus segera menikah, biar papi persiapkan semuanya dan jangan menolak, ini permintaan menantu kesayanganku." Kata pak Wijaya sambil merangkul Nai.


"Papi, terimakasih."


"Sama - sama Nai. Kamu senang?"


"Sangat senang."


Mereka pun bercengkrama dengan hangat hingga siang hari. Melepas kerinduannya pada Nai. Setelah itu Benji memaksa Nai untuk kembali kekamar dengannya agar Nai bisa beristirahat.


********


"Kenapa dia masih hidup?"


"Kamu salah menilainya, dia pintar." Ucap Andra tertawa.


"Dia mengancam, apa dia tau rencana kita?" Anton seperti ketakutan.

__ADS_1


"Entahlah, dia bahkan berani menodongkan pisau ke wajahku, dia mengancam temanku. Kelakuannya seperti preman." Ucap ramona.


"Kita masih punya banyak cara." Erlyn sepertinya masih berambisi untuk menguasai harta.


__ADS_2