
Hari yang mendung, hujan deras tak reda sejak dini hari hingga kini, jam 9 pagi. Nai masih sibuk bolak - balik mengganti kain kompres yang ada di kening suami tampannya.
"Ya Tuhan panas sekali." Gumamnya sembari khawatir.
Benji terbangun, sejenak ia mengucek matanya dan menatap wajah panik dihadapannya, "Tidurlah." Nai panik, dia terus menerus memegang kening Benji.
"Jam berapa ini?" Katanya.
"Jam 9."
Sontak Benji bangun, "Aku terlambat."
"Tidak ada terlambat, tuan istirahat." Perintah Nai sambil mendorong perlahan tubuh Benji.
"Aku harus ke kantor Nai."
"Tidak boleh!" Menggelengkan kepala.
"Hey, kenapa?" Tanya Benji.
"Tuan sakit,"
"Aku hanya sedikit pusing." Benji tersenyum, dia tau alasannya mengapa wajah istrinya panik di pagi hari.
Cuuuuuppppp..
Ciuman mendarat di pipi Benjamin, "Jangan bandel." Dengan wajah pucat, Benjamin masih terlihat manis saat tersenyum dan menatap Nai.
"Sudah terus menerus ku kompres tapi panasnya malah semakin meninggi.
Kalau sampai malam masih begini, aku panggil dokter." Putus asa, Nai terlihat kebingungan. sedari tadi dia tak berhenti mondar - mandir memegang handphonenya, mencari cara alternatif untuk menurunkan panas dengan segera.
"Jangan." Benji menolak.
"Kenapa?"
"Papi nanti khawatir, jangan ada yang tau."
Nai berjalan menuju lemari riasnya, membuka beberapa laci, "Aku perasaan punya obat penurun panas. Mau coba?" Tawarnya.
"Boleh." Meskipun lemas, Benjamin tak henti tersenyum melihat kelakuan Nai.
"Aku kebawah sebentar. Tuan jangan beranjak dari tempat tidur."
Panik sekali dia, Dia mengurusiku saat aku sakit. Apa dia benar - benar peduli padaku karena sudah tumbuh rasa dihatinya? atau memang hanya karena dia pada dasarnya wanita baik dan peduli pada siapapun? tapi dia menciumku!!!!
Nai keluar kamar, berjalan menuruni tangga dengan segera.
"Pagi Nai." Sapa mertuanya.
"Pagi pi.." Nai duduk di kursi kosong samping pak Wijaya, sekedar untuk berbincang dengan mertuanya sebentar.
"Kemana Benji? Dia tidak ke kantor?"
Nah kan mati, apa yang harus ku jawab?
Gelagapan Nai mencari alasan, "Eh.. itu, dia bekerja dirumah saja katanya hari ini." Jawab Nai sekenanya.
"Tumben, Apa dia sakit?" Tanyanya lagi.
"Tidak, dia sehat pi."
"Syukurlah, ayo sarapan dulu."
Mencari alasan,"Tuan Benji ingin aku sarapan dikamar bersamanya pi, tidak apa - apa?" Terlihat Nai sudah gusar.
"Ahahahahahha.. semakin mesra saja kalian berdua," Pak Wijaya tergelak.
"Mentang - mentang nyonya, seenaknya sekali." Celetuk Ramona.
"Aku tidak ada waktu meladenimu, lain kali kita bertengkarnya ya." Nai mengacak rambut Ramona sembari berjalan menuju dapur.
Di Dapur.
"Bi." Sapanya pada bi Nuni.
"Apa Nai?"
Dia melambaikan tangan tanda memanggil, kemudian berbisik di telinga bi Nuni, "Tuan Benji sakit."
"Ya Tuhan, sakit apa?" Bi nuni pun ikut berbisik.
"Panas. Aku mau beli bubur. tukang bubur bertengger dimana ? biasanya ada yang lewat kan?"
"Ada tapi di gerbang depan Nai. Mau bibi belikan?"
"Haduh, bagaimana aku bilang ke papi kalau dia bertanya, ah tapi sudahlah, beli saja dulu. Mana mangkok?" Bi Nuni membuka pintu lemari, memberikan mangkok sedang pada Nai. Nai pun segera keluar melalui pintu gerbang belakang, meskipun berjalan cukup jauh, yang penting tidak bolak balik dihadapan papi agar tidak ditanya. Fikirnya.
Beberapa waktu berlalu, Nai kembali setelah membeli bubur namun kali ini lewat gerbang depan dan harus melewati ruang makan. "Kamu beli apa Nai?"
Nah kan di wawancara lagi.
__ADS_1
"Bubur pi."
"Kamu sakit?"
"Tidak, aku ingin bubur saja."
"Pi, aku buru - buru ya, nanti anak papi mencariku kalau aku teralu lama." Nai cengengesan, padahal dia bingung setengah mati.
"Ah sudah mulai betah dikamar nih Nai??" Hardik Bhramsy.
"Mumpung musim hujan mas Bhrams..hihihihi."
Dengan langkah cepat Nai menaiki tangga menuju kamarnya.
CLEEEEK!
"Kenapa lama sekali?" Sapaan Benjamin yang sedari Nai pergi, terus menatap pintu.
"Aku membeli ini." Tunjuknya pada mangkok berisi bubur komplit.
"Ayo aku suapi, habis itu tuan istirahat lagi.
Cuaca sangat mendukung untuk tidur lagi."
Suapan demi suapan Nai berikan, setelah habis, tak lupa ia memberikan obat penurun panas. Nai menemani hingga benji terlelap. Ia yang tidak merasa ngantuk berinisiatif membereskan kamarnya itu setelah memastikan suaminya tertidur nyenyak.
Dengan imajinasi yang tinggi, Nai mampu berfikir sambil langsung bertindak mendekati lemari. "Sebaiknya bajuku geser kesini, baju tuan Benji disini. Oke sip." Ia pun mulai merealisasikan buah fikirnya. Namun ia dikejutkan dengan bingkai foto yang terselip ditumpukan baju Benji, fotonya.
"Eh apa ini? Fotoku?" Nai keheranan.
Untuk apa diselipkan disini? toh dia memajang fotoku di seluruh dinding kamar.
"Ada fotoku lagi?" Kaget beruntun ketika dia berkali menemukan fotonya dibalik pakaian Benji.
"*In*i kan saat aku bekerja disana."
"Buku apa ini??????" Baru tersentuh halaman depan, dia kembali dikagetkan dengan teriakan.
"Nai.. jangan pergi. Nai. Aku sayang padamu, jangan tinggalkan aku mohon. NAIIIIII!!!!!!"
Segera Nai menghampiri Benji dan mengusap lembut pipi suaminya itu."Tuan, hey.."
"Aku mengigau." Kata Benji, dengan nafas yang terengah - engah.
"Tenanglah."
Siang bolong mengigau.
"Tidak. Memang aku mau kemana."
"Aku mimpi buruk!"
"Mimpi apa?" Melingkarkan peluk dan menyandarkan kepala di dada suaminya itu. Nai mencoba memecah haru.
"Mimpi kau menikah dengan orang lain!"
"Ah itu tidak akan mungkin." Kembali seperti awal, Nai memulai obrolan menemani Benji hingga terlelap kembali. Kali ini, dia ikut terlelap. Dasar si hobi tidur.
********
"Ya Tuhan, masih panas." Ucap Nai saat terbangun dan langsung memegang kening suaminya yang lebih dulu membuka mata. Malam hari.
"Aku gerah Nai, tapi dingin."
"Panasmu tinggi sekali." Tanpa fikir panjang, Nai berdiri kemudian melepaskan pakaian yang ia kenakan, matanya masih setengah mengantuk. Hanya tersisa pakaian dalam yang menempel, ia naik ketempat tidur dan melepaskan pakaian Benji. Serupanya. yang disisakan hanya pakaian dalam.
Tersentak melihat perangai istrinya, bukan senang, Benji malah kaget. "Nai.. Nai.. apa yang kau lakukan??????????"
"Ini darurat. Maafkan aku. Aku tak berniat menggodamu tuan, tapi saat caca kecil, ini metode yang aku pakai. Namanya skin to skin contact. Diamlah." Ketusnya sambil memeluk erat tubuh Benji dibalik. selimut
"Badanmu yang akan menjadi panas!"
"Tuan pernah bilang agar kita berdua selalu berbagi kan ?" Wajah Nai berubah lembut, senyuman ikhlas tersungging jelas.
"Cukup diam dan jangan macam - macam." Ancam Nai.
"Ini kan untuk bayi." Benji menahan tawa, namun tak kuasa menolak. Ia malah menikmati pelukan istrinya.
"Bayi dewasa juga bisa. Jangan banyak bicara." lagi - lagi Nai menjawab ketus.
"Kau kepanasan ?"
"Tidak, yang penting tuan sembuh."
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Aku mau tuan sembuh."
"Kau sayang padaku?"
"Istirahatlah tuan."
__ADS_1
"Kau belum jawab!!!"
"Menurut tuan?"
"Tidak."
"Yasudah kalau tidak."
"Kenyataannya?"
"Aku baru menemukan orang sakit yang bawel."
"Pelukanmu teduh sekali Nai. Aku nyaman, aku mau sakit terus agar bisa kau peluk seerat ini."
"Heh, jaga bicara tuan. Jangan sakit."
"Iya maaf."
Beberapa jam berlalu, tak terlepas peluk sedikitpun. Mereka larut dalam percakapan, "Tuan, aku rasa panasmu menurun ..horeeeeeee!!!!" Ucap Nai ketika merasa suhu tubuh suaminya sudah normal.
"Panasku menurun, tapi ada yang meninggi Nai." Benji tersenyum jahil.
"Jangan mesum."
"Ini normal, bukan mesum. Aku lelaki yang sangat normal, bagaimana aku bisa santai dengan kau yang tanpa busana dan kulit kita menempel satu sama lain. Bagaimana kalau aku kebablasan."
"Hahahahahaa.. berhenti tuan, mari kita bicarakan setelah sembuh."
"Selalu berjanji hanya untuk kabur dari masalah atau menenangkan saja, tanpa ditepati."
"Jika aku tepati nanti?"
"Aku ragu, tapi, asal denganmu, semua masih bisa ditoleransi."
"Sembuhlah tuan."
Dia lelaki baik, aku tidak berpakaian dan menggodanya pun dia malah memelukku erat sekali. Bukan melakukan hal yang sebenarnya dia inginkan.
Lihat saja, ketika aku sudah sembuh, aku yang akan melakukannya habis - habisan Nai.
"Katakan padaku ini mimpi Nai."
"Ini bukan mimpi."
Kenapa aku merasa sangat senang..
"Kau tidak menyesal berlaku seperti barusan padaku?"
"Pada suamiku sendiri ?" Nai mengedipkan sebelah matanya.
"Pintar. Kini kau mulai mengakui."
"Memang kapan aku tidak mengakui tuan suamiku." Nai berdiri, satu persatu pakaian mulai ia kenakan lagi. Meninggalkan Benji diatas tempat tidur, sendiri.
"Heh mau kemana?" Keberatan Benji melihat Nai pergi dari sampingnya.
"Panasmu sudah turun,,"
"Hmmmmmmmmmm!!!"
Badanku harus selalu panas terus untuk mendapatkan pelukan seperti tadi. Dan jika aku pura - pura panas, aku bisa melancarkan aksiku.
"Kenapa tuan menekuk wajah?" Nai mengambil air mineral, ia berikan pada suaminya.
"Tidak."
"Kenapa? Masih mau dipeluk atau.."
"Uhuuuukkkk!!!!!" Benji yang sedang minum tersedak dengan sendirinya.
"2 kemungkinan, Memikirkan caranya dipeluk lagi atau memikirkan rencana agar dipeluk aku kembali dan melakukan hal yang macam - macam. Mau tambah minumnya tuan?" Tawar Nai sambil menantang.
Sudah sakit masih saja berfikir macam - macam.
"Setidaknya kan aku boleh mencoba Nai."
"Sebenarnya memang tidak boleh tuan."
"Hmmmmmmmmmmm."
"Mau kemana???"
"Ke kamar mandi."
"Jangan tinggalkan aku!!!!!!!!!!!!"
"Astaga bocaaaaaaaaahhhhhh."
"Iiiiiiiiiiiiih..." Benji memukul - mukul bantal, kesal. Nai hanya mampu menggelengkan kepala melihatnya.
"Ya Ampun.. kenapa tuan merengek seperti itu??!"
__ADS_1
Tidak malu sama umur.