
Jakarta
Rumah megah itu hanya ramai oleh para pembantu ketika pak Wijaya sedang berbincang di ruang tengah dengan anak bungsunya. Bhramsy, sore hari.
" Paman - Pamanmu, Wiliam, Anton dan Andra beserta keluarganya akan tinggal disini beberapa waktu." Ucap pak Wijaya disela obrolan mereka.
Bhramsy terkejut mengingat para pamannya itu memiliki rekam jejak yang tidak baik sama sekali. Berpuluh kali memaksa ayahnya untuk memberikan beberapa proyek, meskipun tidak berhasil, mereka tetap mencoba berbagai cara. Itulah alasan terbesar Benji dan Bhramsy menempatkan ayahnya di daerah yang cukup tersembunyi, untuk melindungi, lengkap dengan banyak penjaga.
"Kenapa mendadak pi? Apa tidak sebaiknya tanya dulu kak Benji?" Jawab Bhramsy mencoba mencegah.
"Nanti papi bicarakan ketika Benji kembali, dia sangat sibuk, dan lagi dia sedang bertugas di Bandung, kasihan dia jika harus ikut campur masalah keluarga juga."
"Tapi kan papi bilang rumah ini untuk kak Benji?"
"Itu jika papi sudah mati Bhramsy, saat ini papi merasa papi sudah mau mati, papi ingin berkumpul dengan saudara papi, bagaimanapun kelakuan mereka, mereka tetap bagian dari keluarga papi. Papi ingin merasakan kehangatan keluarga, berkumpul, seperti saat papi kecil. Rumah ini masih sangat luas meskipun ditinggali oleh beberapa keluarga."
"Papi membawa semua anak - anak paman?" Tanya Bhramsy lagi.
"Jelas, biar suasana dirumah ini kembali ramai."
Melly adalah istri dari William, adik pertama pak Wijaya, mereka memiliki anak bernama Arsila dan Ramona, sedangkan Anton merupakan adik kedua, istrinya bernama Erlyn. Mereka memiliki anak semata wayang yang diberi nama Helen. Yang terakhir adalah Andra, istrinya bernama Ernesta. Mereka memiliki anak kembar bernama Carlos dan Diego.Semua anak adik pak Wijaya hanya berbeda beberapa tahun saja, sejak kecil mereka sering bermain bersama hingga dewasa, hanya Benji dan Bhramsy yang tidak bergaul dengan mereka, mereka bertemu hanya saat - saat tertentu saja. Dulu pak Wijaya dikenal sebagai Ayah yang cukup keras, Benji dan Bhramsy tidak diperbolehkan banyak bermain, mereka harus fokus belajar.
"Sudah, mereka sudah baik sekarang, kondisi keluarganya sudah cukup memadai, papi yakin tidak akan ada lagi kasus seperti dulu, biarkan papi berkumpul dengan keluarga papi." Ucap pak Wijaya menenangkan Bhramsy.
Bhramsy yang tidak tega terpaksa mengiyakan dulu permintaan ayahnya, sambil diam - diam mengetik pesan pada kakaknya.
Selamaaaat!!!!!! Rumah kita akan diisi oleh orang - orang jahat terdahulu ditambah dengan turunan - turunannya yang tak beda jahatnya. Sebaiknya kita memperkuat penjagaan kak. Segeralah pulang, papi tidak bisa dicegah.
"Pi, kapan paman datang?" Tanya nya lagi.
"Mereka sedang dalam perjalanan. Mungkin nanti malam."
"Baiklah, kalau begitu, tapi jika nanti diantara mereka ada yang membuat masalah, urusannya akan panjang pi." Ucap Bhramsy lembut namun mengancam.
"Hahahahaha, kamu ini sepertinya tertular kakakmu, apa - apa main ancaman. Sudah - sudah, papi mau mandi sore dulu." Pungkas pak Wijaya sambil melangkah menuju kamarnya.
********
"Sayang, sepertinya rumah ini akan jadi neraka baru." Ungkap Bhramsy saat Bianca baru saja datang.
"Ada apa ?"
"Semua saudara papi akan tinggal disini."
__ADS_1
"Semua?" Bianca melotot tanda tak percaya.
"Iya semua. Termasuk temanmu yang jadi teman Almeera juga."
" Ramona ????" Tebakan Bianca.
"Persis."
Bianca berfikir sejenak, kemudian dia menemukan benang merah dari obrolan ini. Dia berkata, " Kamu khawatir?"
"Jelas!!! Kak Benji berkata padaku dia akan membawa Nai kesini bagaimanapun caranya. Kamu tau bagaimana semangat kakakku berusaha untuk menaklukannya. Jika mereka...."
"Sayang, Aku tidak begitu mengenal Ramona, tapi aku mengenal Nai, jangan khawatir, jangankan melawan wanita, kakakmu yang jelas penuh kuasa saja masih kecolongan kan?" Sindir Bianca sambil tersenyum, seolah menyombongkan kemampuan sahabatnya itu.
"Ku akui ya, tapi Nai sendiri, sedangkan mereka berkomplotan. Huh!!! Apalagi jika kak Benji kambuh penyakit usilnya, Nai yang akan dia kerjai habis - habisan lagi. Kasihan!" Gerutu Bhramsy.
"Jika Nai kembali kesini, Nai tidak akan pernah sendiri, ada aku, ada kita, apa kamu akan diam? kau fikir aku akan diam? apa kak Benji akan diam jika melihat Nai sedikit saja tersentuh orang lain? Kakakmu itu jahil karena memang tidak ada yang jahat pada Nai disini, jika ada yang jahat, dapat kupastikan dia akan menyelamatkan Nai. Kamu tau kenapa? karena aku rasa kakakmu itu cinta mati pada sahabatku, dia akan melakukan apa saja untuk melindungi Nai, jika kakakmu mengetahui akan ada yang jahat pada Nai, mungkin Nai akan di laminating agar tidak tersentuh sedikitpun, atau akan diungsikan ke Alaska, Untuk mengurus kepiting. Hahahahaha." Bianca berusaha menenangkan Bhramsy, dia tau sahabatnya itu tidak sepolos saat pertama kali ditemui.
Tawa renyah terdengar dari pasangan itu, mereka semakin dekat, bahkan beberapa kali ada obrolan pernikahan, namun Bhramsy tidak mau mendahului kakakknya. Belum selesai obrolan hangat mereka, terdengar bunyi bel pintu tanda sang tamu sudah datang.
"Wah wah waaaaaaah, genk huru hara sudah sampai semua ternyata. Ayo masuk om, tante." Sapa Bhramsy, Bianca ikut tersenyum disampingnya.
Salah satu gadis yang ikut masuk langsung berkata, "Waaaaaaaahhh, ini rumah yang sangat besar sekali ya pa!!! Eh kamu ??????" Wanita itu seperti mengingat sesuatu.
"Ya, aku Bianca, kamu mengenalku saat aku masih berteman dengan sahabatmu kan?" Jawab Bianca seolah menantang.
"Papi, apa aku boleh melihat lihat ke atas ? Tanya Helen.
" Ya tentu, sekalian saja pilih kamar yang mau kalian tempati. Bi Nuni akan mengantar kalian." Jawab pak Wijaya. Semua memanggilnya papi karena pak Wijaya yang sebagian besar membiayai hidup mereka sehingga dia sudah dianggap ayah oleh semua saudara.
"Kak, sepertinya kita semua akan betah disini." Ucap paman Andra sambil berjalan beriringan dengan pak Wijaya.
"Anggap saja rumah kalian sendiri. Berkumpulah dirumah ini, kita kan keluarga, apalagi sudah sama - sama berumur, mari kita nikmati masa tua sambil melihat kesuksesan anak - anak kita." Jawab pak Wijaya sambil tersenyum. Hatinya bahagia bisa berkumpul kembali dengan adik - adiknya.
"Kak, Anak sulungmu mana?" Tanya Erlyn.
"Dia sedang di Bandung, ada perusahaan baru yang harus diurusnya, mungkin akan kembali secepatnya."
" Ajaklah Helen belajar memegang perusahaan papi, papi banyak sekali perusahaannya, jika hanya mengandalkan jadi model, dia tidak akan sukses, apalagi Helen anak semata wayang kami pi, kami ingin melihat Helen sukses juga seperti anak - anakmu." Rayunya.
Hey Nyonya tua, aku model dan aku sukses keliling dunia, Kesuksesan itu hasil dari kerja keras, bukan kerjasama. Apalagi hasil meminta. Kalau anakmu tidak sukses, mungkin karena anakmu badannya seperti kecambah. Bianca.
***********
__ADS_1
"Ayo berkumpul semuanya, kita makan bersama." Ajak pak Wijaya.
Semua sudah berkumpul di meja makan, mereka fokus menyantap makan malam, tak ada yang bersuara hingga makan malam itu selesai.
"Pi, apa dia istri kak Bhramsy? kenapa aku tidak mengenalnya?" Arsila mulai bertanya karena dia tidak mengenal Bianca.
"Calon, sebentar lagi mereka menikah." Jawab pak Wijaya. Bianca yang merasa diakui tertunduk dan tersipu malu, Bhramsy menatapnya sambil mengedipkan mata. Menggoda.
Namun Melly langsung berkata, "Tapi sebaiknya jika memang belum menikah, harus jaga jarak, jodoh kan tidak ada yang tau, jangan teralu dekat, tak baik dipandang mata, apa omongan orang jika melihat perempuan hingga malam masih dirumah lelaki? Ah iya, aku rasa kakak pernah berniat menjodohkan anak sulungmu dengan teman Ramona kan?" Lanjutnya.
"Siapa? Almeera? jangan sebut nama dia lagi." Tegas pak Wijaya.
"Memang ada apa kak? Almeera kan gadis yang sangat baik, pendidikannya juga tinggi, dia dari keluarga terpandang, cantiknya pun tidak tertandingi, sepertinya dia sangat cocok dengan Benjamin."
Pak Wijaya terlihat kesal, dia seperti menahan marah, Bianca yang mengetahui hal itu dengan berani berkata,"Maaf tante, tapi Almeera tidak sebaik yang tante bicarakan. Almeera pernah membuat masalah dirumah ini, untung saja keluarga ini masih baik untuk tidak memenjarakannya, jadi saya mohon jangan ungkit lagi tentang dia." Bianca mengatakannya sembari tersenyum.
Makan malam pun berakhir dengan dingin, tidak ada lagi obrolan hangat, mereka meninggalkan meja satu per satu hingga kosong.
*********
Arsila yang pergi ke dapur untuk mengambil minum bertemu dengan pembantu muda, dia berkata," Hey, siapa namamu?" Sapa Arsila.
"Saya Laras nona." Jawab Laras sambil tersenyum.
"Laras, sepertinya aku membutuhkan satu pembantu untuk melayaniku ekstra, apa kamu mau?" Tanyanya.
"Sebisa mungkin saya usahakan."
"Tenang saja, aku akan memberimu uang lebih." Rayu Arsila sembari membuka dompetnya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada Laras.
"Baiklah nona."
"Oh iya, apa semua pembantu disini masih muda sepertimu? Ngomong - ngomong, ada masalah apa papi dengan kak Almeera?"
"Tidak nona, ada bi Nuni, dia pembantu paling tua disini. Kalau soal itu, setau saya dulu mantan pembantu disini memberikan racun pada minuman tuan besar, namun nona Almeera yang disalahkan." Jawab Laras memprovokasi.
"Pembantu? siapa? apa dia masih ada disini?"
"Namanya Naipah nona, dia sudah pergi dari sini sejak kejadian itu. Dia ditangkap polisi nona, dia pandai menggoda, sepertinya tuan Benji dan Tuan Bhramsy menyukainya, saya sering mendengar tuan Benji bertengkar dengan tuan Bhramsy hanya karena si Naipah." Laras menjawab polos seolah sedang bertemu dengan teman menggosipnya.
"Ah dia jahat sekali. Apakah dia sangat cantik?"
"Tidak nona. Hanya saja dia masih muda, dia bertahan dirumah ini, saya pun tidak tau maksudnya apa."
__ADS_1
"Oh baiklah kalau begitu. Terimakasih. Besok buatkan aku sarapan sup ayam jamur ya, tolong antarkan kekamarku, diatas, kamar kedua dari tangga." Pungkas Arsila sambil berjalan.
*******