Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Jika kau memintaku sesempurna itu.


__ADS_3

Selesai melakukan aktivitas seperti biasa, Nai mengantarkan Benji kedepan pintu rumah untuk berangkat kerja. Namun ia tak langsung kembali ke kamar seperti biasa, ia malah masuk ke kamar mertuanya. Lebih dari 2 jam, entah apa yang mereka bicarakan. Tak berapa lama Nai sudah turun kembali dengan pakaian rapi, bersiap untuk pergi.


"Nai, mau kemana?" Sapa Bi Nuni.


"Hai bi, aku mau kedepan sebentar, boleh titip papi? Kabari aku jika ada sesuatu hal." Ucap Nai.


"Baiklah, segera pulang jika sudah selesai." Kemudian dijawab dengan anggukan Nai.


************


Di sebuah tempat kopi ditengah pusat kota, terlihat seorang wanita dan pria sedang berbincang, saling berhadapan.


"Terimakasih ya."


"Untuk apa?"


"Karena denganmu, aku tau bahwa sesuatu akan ada balasannya."


"Lupakan. Berapa bulan sekarang kehamilan istrimu?"


"Jalan 3 bulan."


"Bagaimana rumah tanggamu? Kamu sudah menjadi nyonya?"


"Ya begitu saja."


"Kini kamu sangat cantik."


"Sejak dulu aku cantik, kamu yang tidak bersyukur."


"Bagaimana kontrakmu?"


Degggggggg


Kontrak? dia bilang kontrak? darimana dia tau ?


"Kontrak apa?" Nai pura - pura tidak mengerti.


"Pernikahanmu dengan lelaki kaya. Itu hanya kontrak."


"Siapa bilang?" Nai mencoba tenang, padahal kakinya gemetar.


"Kamu lupa akupun bisa melakukan apa saja yang aku mau, termasuk mengetahui kehidupanmu saat ini."


"Jika aku mengatakan ini bukan kontrak, kamu akan tetap tidak percaya."


"Jelas. Aku tidak akan percaya, orang kepercayaanku yang lebih meyakinkan. Kamu pintar Nayanika, kamu lupa bahwa akupun mengetahui kuncianmu. Bahkan dulu tentang apapun kamu pernah jujur sejujur - jujurnya padaku. Bukan hal sulit mengetahui kelicikanmu."


"Kamu tidak pernah mengerti aku sedikitpun, tidak pernah. Buktinya kamu menikah dengan wanita lain, bukan denganku."


"Aku tau, aku masih ada didalam hatimu, dan kamu berhasil membuat aku menangis. Sudahi sandiwaramu."


"Kamu menemuiku hanya untuk menuduh?"


"Bukan menuduh, memperjelas semuanya."


"Dharma, 1 hal yang mungkin kamu lupa, bahwa sedalam apa cintaku padamu, sanggup aku bunuh mati. Jadi jangan teralu percaya diri. Benjamin adalah lelaki yang ada dalam setiap doaku saat aku menangis setiap hari karena ulahmu. Tuhan mengabulkannya."

__ADS_1


Kamu mencintaiku setelah kukejar lebih dari 3 tahun Apa sekarang semudah itu kamu mencintai Benjamin? hanya beberapa bulan? Dharma mengernyitkan dahi pertanda kurang setuju dan meragukan jawaban Nai. Dia menatap mantan kekasihnya, mencari kejelasan.


"Kamu fikir aku mengenalnya setelah denganmu? Jauh sebelum aku mengenalmu, aku sudah mengenalnya. Jangan fikir aku sejujur itu padamu. Tidak semua kunci milikku kamu pegang." Nai berkata seolah mengetahui apa yang sedang Dharma pertanyakan di benaknya.


"Kamu akan tau bagaimana dia sebenarnya."


"Sebenar - benarnya Benjamin adalah suamiku, lelaki yang menggilaiku setengah mati. Lelaki terbaik yang Tuhan sandingkan untuk aku. Wanita baik."


"Seperti apa Benjamin dimatamu?"


"Dia lelaki perhatian, penuh kasih sayang, hangat, mengerti setiap perlakuanku, memberikan apapun yang aku mau, menyayangi keluargaku, mengisi kekosongan hatiku, mengobati segala lukaku, selalu berdiri dibelakangku saat aku melakukan apapun, melindungiku, menjagaku, mendukungku, menjadikan aku ra..." Belum selesai, Nai kembali dipatahkan.


"Lelaki yang setiap siang membawa wanita ke ruangannya? Banyak wanita. Apa kamu tau apa yang Benji katakan pada semua rekan bisnisnya? Kamu itu hanya wanita bayaran, semua yang dia lakukan hanya untuk kekayaan, jika tidak percaya, silahkan tanyakan pada pengusaha - pengusaha yang mengenalnya. Dimatamu dia sempurna, sayang, dimatanya kamu hampa. Sama sekali tak berharga."


Wanita bayaran? apa setega itu dia berkata demikan? kalaupun benar, apa maksudnya semua ini?


Sahabatku harus mengadakan tumpengan setelah menikah, karena dipastikan dia akan disahkan menjadi pewaris semua kekayaaan ayahnya.


Sialan,, itu benar dan aku malah sakit hati mendengarnya lagi. Karena tuan ingin semua kekayaan papi, seharusnya aku tidak perlu kaget. Tapi mengapa tidak jujur dari awal?


"Itu masa lalu." Nai masih berusaha menepis semuanya.


"Hahahahahahaa kamu bodoh Nai. Masa lalu? Kamu hanya salah satu mainannya. Property. Dia menikahimu agar image nya terjaga dan mendapatkan semua harta kekayaan ayahnya. Kamu tau seberapa kaya suamimu itu. Dia sanggup menutup mulut siapapun yang berani menentangnya."


"Apa kamu fikir suamimu sedang bekerja sekarang? Paling dia sedang diluar. Diapartemen kekasihnya." Tambah Dharma.


Nai memutar bola matanya,, dia kembali santai mengambil sebatang rokok. Dia lalu mengambil ponselnya, mencari nama Roni dan mengetik pesan.


"Dimana Benjamin?"


"Nona, Bos sedang keluar sejak 3 jam lalu."


Pipinya memerah mencoba menahan amarah.


"Kamu pasti segera mengumpulkan bukti. Silahkan." Dharma meninggalkan meja, dia melangkah mendekati Nai sambil mengelus rambut Nai. "Jika kamu mau memperbaiki semuanya, datanglah padaku. Berapapun uang yang sudah Benjamin beri, akan ku ganti. Termasuk rumah dan jaminan untuk Caca."


Nai terdiam dikursinya. Dia menutup wajah dan menangis. Tak ada suara, namun derai air mata tak lagi bisa ditepis. Dia sesekali menyeka air matanya, seperti anak kecil, Nai menangis sesenggukan.


Pa, ma, mengapa hidup sesakit ini? mengapa demi uang dan masa depan aku harus sampai mengalami ini. Aku tidak menampik jika disebut wanita bayaran, karena memang aku dibayar, tapi mengapa aku harus serendah ini? apa menikah juga sesakit ini? apa yang sedang aku rasakan sekarang? kenapa aku sakit hati?


Terdengar suara ricuh dari kejauhan namun Nai mengacuhkan. Dia merasa sakit sesakit sakitnya. Cinta ? Kecewa? merasa dibohongi? atau merasa ditipu oleh ekspektasi sendiri? Bahkan Nai pun tidak tau kenapa rasanya sangat sesak mendengar Benjamin tak sebaik yang dirinya tebak.


"Kau menangis. Kau mengingkari janjimu." Benjamin dibelakang Nai. Berdiri tegap. Suaranya cukup kencang seperti hampir membentak.


Segera Nai menghapus air matanya."Ti tidak tuan."


"Matamu mengeluarkan air dan kau bilang tidak? PULANG!!!!!!!"Benji membentak, menarik tangan Nai, setengah menyeret. Nai hanya mampu mengikuti sembari tangisannya berusaha ia sudahi.


Didalam mobil.


"Kenapa tangan tuan?" Nai tertuju pada tangan suaminya, memerah.


"Tidak apa - apa." Jawab Benji dingin.


"Kemari." Nai menarik jas Benji mendekat ke hidungnya, dia mengendus setiap inci tubuh kekar suaminya itu. Sekejap Nai lupa bahwa tadi dia menangis, kini dia kembali menjadi Intelijen, mencari bukti dari tuduhan Dharma.


"Apa? Hei ada apa?" Benji kaget istrinya berubah perlakuan.

__ADS_1


*K*au kambuh lagi, dulu jadi preman, lalu jadi monyet, sekarang menjadi anjing pelacak. Mengapa kebiasaanmu seperti persatuan dari satwa - satwa langka Nai?


Tidak ada wangi parfum wanita. Dia berkeringat???? apa yang dia lakukan ? kenapa mukanya merah sekali? ah itu memar?


"Aku tidak berbuat dengan wanita manapun." Ucap Benji dingin.


"Mana aku tau tuan, dan lagi, maling akan lebih hati - hati jika sudah melakukan kejahatan."


"Maksudmu?"


"Tidak ada maksud apa - apa."


Maksudku tuan bisa saja mandi setelah bercinta. Jadi tidak meninggalkan barang bukti.


"Kau hanya merasa cemburu ketika Dharma mengatakan aku main perempuan. Benar, habis logikamu jika menyangkut perasaan."


"Maksud tuan?"


Siapa yang memberitaumu tentang percakapan tadi? kenapa tuan tau ?


"Tidak ada maksud apa - apa juga. Tapi, entahlah. Aku marah pada Dharma karena dia berusaha mempengaruhimu, tapi aku bahagia melihat kau seperti ini. Ini bukti kau mencintaiku, tapi aku malah membencimu.


Kau bebas. Memang tidak ada peraturan yang menuliskan kau tidak boleh bertemu lelaki sialan itu." Secepat kilat mimik wajah Benji berubah, menjadi dingin namun penuh amarah.


"Iya memang tidak ada, dan akupun tidak melarang tuan bertemu dengan gadis manapun. Buktinya tuan sudah pergi dari kantor sejak 3 jam lalu." Merasa didzolimi, Nai membalas ucapan pedas lelaki disampingnya.


Benji menutup matanya beberapa detik, kemudian dia menatap tajam sembari memegang tangan Nai sedikit keras, "Kuperingatkan sekali lagi padamu, aku memberimu kendaraan agar kau bisa mewujudkan mimpimu, bukan artinya memberi fasilitas agar kau bisa bertemu dengannya."


Agar aku tidak mengetahui bagaimana busuknya dirimu tuan. Makanya kau melarangku mendapatkan informasi meskipun informannya adalah mantanku sendiri. Begitukan sesungguhnya?


"Kenapa semua orang boleh curang tapi aku tidak? Tuan bebas bertemu dengan wanita manapun, tuan bebas pergi setiap jam istirahat ke tempat wanita tuan, kenapa aku yang hanya bertemu Dharma saja sampai diseret dan diberi peringatan dengan bentakan? tadi malam tuan bilang jangan sampai ada yang tau ini hanya kontrak tapi tuan malah memberitau pada semua teman tuan, lalu menyebut aku wanita bayaran. Aku tidak pernah tau bagaimana tuan diluaran sana, sedangkan tuan, sepertinya jam saat aku mulas saja bisa dimonitor. Aku tetap seperti ini tuan, tidak ada ingkar janji, tidak ada berbohong padamu, kenapa tuan curang padaku??? " Mendengar kepolosan Nai, Benji tersenyum sinis. Terbesit dikepalanya ucapan Nai. "dia lelaki perhatian.....


"Nai, benarkah dimatamu aku seperti apa yang kau katakan padanya tadi? jika kau minta aku sesempurna itu, Demi Tuhan dan demi Dirimu aku sanggup."


Sebelumnya di kantor.


"Apa agenda kita hari ini?"


"Tidak ada pak, hanya berkas - berkas saja yang perlu ditandatangani."


"Baiklah."


"Oh iya pak, proyek pembangunan gedung NB sudah mulai berjalan, bisa bapak kondisikan kapan akan mengecek ke lokasi?"


"Itu urusan Roni. Terimakasih Ismi, kamu boleh kembali keruanganmu."


"Baik pak."


"Apaan???? Kenapa jadi gue? Ya Tuhan, kenapa nona Nai gak kesini lagi? Seenggaknya dia lebih bijak daripada suaminya."


"Ron.."


"Gue tau gue tau.. tapi seenggaknya jangan semua tugas penting elu bebanin ke gue dong, apalagi gue kudu ngecek bangunan, itu serahin aja sama kuproy sekalian."


"Ron.."


"Astaga Benjamin, iya gue paham, tapi tolong ,,,,,, eh elu mau kemana? Ko gak dengerin gue !!!! Sialan."

__ADS_1


"Hanya Nayanika yang penting." Benji berlalu, segera menuju titik dimana mobil milik Nai berjalan perlahan. Meninggalkan Roni yang lagi - lagi frustasi.


__ADS_2