Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Buah kalengan.


__ADS_3

"Nonaaa.. nonaaaaaa..tolong buka pintunya!!" Ketukan keras dibalik pintu, Laras berusaha membangunkan Nai yang terlelap.


Ada apa sih?


Dengan mata berat Nai membuka pintu, Ia terbangun.


"Ada apa Laras? Kepalaku masih pusing." Kata Nai.


"Tuan Benji nona... " Ucap Laras ketakutan.


"Tuan Benji kenapa?"


"Di.. dia mengamuk dibawah. Memukul Nona Ramona, Tessa dan tuan William."


Tak banyak bicara, Nai berlari menuju ruang tengah untuk menemui Benji. Namun saat Nai menuruni 5 anak tangga, Nai menahan Laras karena mendengar Benji yang sedang marah - marah dengan suara yang sangat menggelegar.


"KUBILANG INI RUMAHKU, KALIAN HANYA MENUMPANG, SELURUH KEKAYAAN DAN KEKUASAAN PAPI SEKARANG DITANGANKU, AKU BILANG AKU BISA MENGUSIR KALIAN JIKA KALIAN TIDAK MENGHARGAI ISTRIKU!!! APA KALIAN TIDAK MENDENGARNYA? KAU, RAMONA,, KENAPA TIDAK BERHENTI MENYAKITI NAI? APA SALAH NAI? KAU MAU TEMANMU INI MENGGODAKU? AKU MASIH BERBAIK HATI TIDAK MENGUSIR KALIAN KARENA AKU SIBUK MENGURUS NAI, TAPI LAMBAT LAUN KALIAN SEMAKIN TIDAK MENGHARGAI ISTRIKU!!!


Istri katanya? kenapa dia selalu mengakuiku? apa seperti ini namanya pernikahan sementara? kenapa dia membelaku terus - terusan? Ah mungkin dia hanya akting.


"Adegan pukul - pukulan sudah selesai?" Bisik Nai pada Laras.


"Sepertinya terlewatkan nona."


"Sayang sekali Laras, kamu terlambat memberitauku." Ucap Nai saat mendengar teriakan Benji.


"Tuan Benji kesurupan apa ? Dia kan sedang sakit juga.." Lanjutnya lagi.


"BESOK AKU TIDAK MAU MELIHAT WAJAH KALIAN DIRUMAH INI LAGI!!!!"


" Tapi Benjamin, dengarkan dulu...."


Benjamin bergegas menaiki tangga tanpa menggubris rengekan mereka. Tertegun sejenak, Benji melihat Nai dan Laras sedang berdiri seperti menguping, Nai hanya mampu menyeringai padahal bingung, ia fikir episode marah - marah akan berlanjut, tapi nyatanya dia malah ketauan menguping.


"Nai? kenapa kau keluar kamar? ayo masuk, kau sedang sakit." Benji mengusap pipi Nai sesaat, kemudian mengarahkan tatapan tajamnya ke Laras. Laras sudah menunduk ketakutan.


Nona, selamatkan aku, jangan sampai tuan Benjamin tau aku ikut menguping, aku menguping pun karena nona yang menahanku untuk turun.


"Aku lapar, aku melihat tuan tidak ada disampingku, jadi aku memutuskan menelepon Laras, dan lagi, Laras tidak tau dimana aku menyimpan buah kaleng kesukaanku yang memang ku sembunyikan, jadi sekalian saja aku kebawah, saat turun aku mendengar petir yang sangat kencang, jadi aku putuskan menguping saja dulu." Nai bicara seperti anak kecil dengan seringai manis menggoda.


"Oh ya??? Tidak bohong?" Sindir Benji.


"Tidak,,"


"Buah apa?"


"Buah leci dan buah peach kalengan."


"Itu tidak ada dikulkas."


"Aku menyembunyikannya, bukan dikulkas,, sini jika tidak percaya." Nai menarik tangan Benji menuruni tangga. Seketika amarah Benji hilang melihat Nai bertingkah seperti itu. Dengan langkah yang cukup cepat Nai berjalan melewati William, Ramona, Tessa yang masih terpaku diruang tengah. Tanpa sapaan.


"Sebentar ya." Kata Nai sembari membuka gudang perabot yang pintunya ada dipojok dapur.


Benji yang penasaran, berjalan mengikuti Nai, sedangkan para pelayan didapur semua menunduk, tidak ada yang berani menyapa karena takut sang majikan masih diliputi amarah.


Nai menggeser beberapa dus besar berisi aneka perabot. Hingga dia menemukan dus seukuran dus mie instant berjejer 4 bertuliskan INI GUCI EROPA, JANGAN PECAH!!!!


Dengan antusias dan susah payah Nai membuka dus itu, ternyata benar, isinya puluhan kaleng buah leci dan buah peach.


"Apa lemari es dikamarku dirasa kurang besar sehingga kau harus menaruh makananmu di gudang?kapan kau membelinya?" Selidik Benji.


"Sudah lama,, saat aku pindah kemari, aku membawa ini, aku fikir aku akan disiksa dan tidak diberi makan disini, jadi aku membelinya, dan lagi, ini diskon 50 persen, aku untung besar. Tadinya mau aku bawa ke atas, pernah kumakan 1 tapi papi melarangku katanya banyak pengawetnya, daripada jadi fikiran papi karena aku ketauan makan buah kalengan ini, aku simpan saja disini dan aku melupakannya. Hihihi" Ucap Nai polos.


Aku jadikan kau ratu di istana ini, sejak awal sudah kuyakinkan padamu, kenapa kau masih berfikir akan disiksa? sulit sekali mendapatkan kepercayaanmu.

__ADS_1


"Tuan.."


"Hmmmmm.."


"Jangan lapor papi.."


"Hmmmm.. Suruh yang lain angkut keatas." Perintah Benji tanpa basa - basi.


"Nanti papi tau."


Benji menatap tajam, "Bilang saja itu guci eropa!"


Nai menahan tawanya. Ia mengambil beberapa kaleng lalu ia masukan kedalam saku celana Benji.


"Kutitipkan ini di saku tuan, jika ada yang bertanya, bilang saja kaleng sarden. Oke tuan?"


"Hmmmm.." Benji membalikkan badan, berjalan diikuti Nai dibelakangnya, tak lupa Nai meminta bantuan beberapa pembantu untuk mengangkut 4 dus itu ke kamar Benji.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Nai bernyanyi kecil, bertingkah seperti anak kecil yang berlari - larian ditaman, sesekali dia bersiul dan melayangkan tangannya seirama langkah kakinya.


Bahagiamu sederhana sekali Nai, tak pernah kufikirkan sebelumnya jika ternyata setelah memiliki uang yang cukup banyak, kau masih tetap bahagia hanya karena buah kalengan.


KAMAR


"Bagaimana kondisimu?"


"Aku? Baik tuan, tuan yang perlu istirahat."


"Akupun baik setelah melihatmu riang seperti tadi."


"Tuan, aku rindu caca.."


"Setelah sehat kita ke Bandung, teleponlah dulu untuk saat ini. Pakai hp ku."


"Nomornya di hpku tuan."


"Ah baiklah." Tak mau lama - lama berdebat, Nai meraih ponsel yang disodorkan Benji kemudian membukanya. Pemandangan unik, melihat foto pernikahan mereka menjadi wallpaper ponsel itu. Nai menatap Benji seketika seperti bertanya, Benji tau hal itu, dia hanya membalas tatapan Nai dengan senyuman.


Sebangga itukah tuan menikah? ah difoto itu aku sangat cantik sekali.


Apa ini? Banyak sekali panggilan keluar pada caca, video call,,


"Eh tuan menelepon caca?"


"Hmmmm..."


"Sering sekali..." gerutu Nai.


Apa kau lupa? Aku berjanji akan menjaganya, ketika kau tidak meneleponnya, mungkin anak itu merasa kehilangan sosokmu, aku harus menggantikannya, setidaknya, anak itu akan merasa memiliki ayah lagi. Dan lagi aku harus memastikan didikanmu tetap menempel pada otaknya, aku harus memastikan papamu tidak memarahi caca.


"Hmmmm.."


"Yasudah,,, ham hem teruuuuussss,, aku telepon dulu."


Menghadapi batu sepertimu sepertinya bahasa Hmmmm adalah yang paling aman agar kau tidak mendebatku.


"Tanteeeeeeeeee!" Seru Caca, suaranya menegaskan dia sangat senang mendapat telepon dari wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri.


"Hai cantik, aku kangen sekali, apa kabar? Maaf aku sibuk sekali, aku sampai tidak meneleponmu."


"Aku sehat, aku sekarang banyak main, kakek kasih ijin aku buat main, aku senang sekali.."


"Bagus..."


"Tante sudah sehat? Kemarin kata om Benji tante sakit."

__ADS_1


"Sehat cantik.."


"Om Benji selalu telepon aku, lebih sering daripada tante."


"Iya iya maaf, nenek sama kakek kemana?"


"Lagi kerumah nenek Intan."


"Kamu sendiri?"


"Aku ditemani om Daffa dan tante Gema."


"Eh siapa itu?"


"Mereka teman om Benji, mereka rumahnya sekarang tetangga sama kakek, anak mereka juga suka main sama aku." Nai kembali melihat Benji dengan tatapan penuh tanya. Dan masih dengan ekspresi yang sama, Benjamin hanya senyum tipis.


"Tante kalau sudah sehat kesini ya, aku kangen. Kata om Benji mau ke Bandung."


"Iya, tante nanti kesana.. tante juga kangen sekali sama kamu.. bilang sama nenek sama kakek aku kangen mereka juga.. sudah dulu ya cantik, nanti tante telepon lagi. Jadi anak baik ya, kalau ada apa - apa telepon tante.."


"Iya. Tapi kata om Benji kalau ada apa - apa telepon om Benji atau bilang tante Gema. Aku jadi bingung."


"Hahahahahha boleh,, tapi jangan lupa kabari tante yaaa,, dadah cantikku.."


Tuuuut...tuuuuut


"Heiiiiiii.."


"Hmmmmm..."


Tuan merampas kepercayaan caca padaku, tuan ambil alih. Dasar."


"Dia anakku juga dan aku bertanggung jawab penuh padanya."


"Hmmmmmm.. siapa Daffa dan Gema?"


"Suami istri, psikolog anak dan polisi. Temanku."


"Kenapa mereka jadi tetanggaku di Bandung?"


"Karena aku yang atur semua. Kau keberatan?"


"Ah tidak tidak, aku malah berterima kasih."


"Kau teralu sibuk menyayangi keluarga ini, mengurus papi, menyelesaikan prahara yang terjadi dirumah ini, sampai kau sedikit melupakan anakmu. Lalu apa yang harus kulakukan? Kemewahan yang aku berikan padamu sepertinya tidak cukup membalas semua kebaikanmy, dan lagi, aku menepati janjiku padamu terkait Caca."


"Tuan..."


"Jangan bilang terimakasih, dia anakku juga.."


Nai memeluk erat Benji, dia terharu, lelaki yang dia fikir hanya memanfaatkannya ternyata sangat peduli pada Caca.


"Suatu hari , anak tuan akan bangga memiliki ayah seperti tuan.."


"Dia juga akan bangga memiliki ibu sepertimu. Layaknya caca."


"Maksud tuan?"


"Maksudku siapa tau kita benar - benar berjodoh dan punya anak lucu.. tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak."


"Dan akan sangat menjadi mungkin jika kehendak Tuhan sama dengan keinginan tuan, tuan pasti akan habis - habisan mengusahakannya. Hihihihi... Sudah ah, aku mau menikmati senja dulu diluar.." Nai berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju balkon.


"Nai...Kalau ternyata aku mencintaimu sungguh - sungguh kau mau apa?" Teriak Benji saat Nai melangkah keluar.


"Mau bersyukur pada Tuhan atas segala ketidakmungkinan yang ternyata jadi kenyataan." Ucap Nai lantang menjawab dengan suara yang cukup kencang agar terdengar dari luar.

__ADS_1


Benar dugaanku, saat kemarin dikamar mandi, dia masih menganggap pengakuanku itu omong kosong. Bagaimana meyakinkannya? Otaknya tidak terbuka.


__ADS_2