Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Hadiah untukmu.


__ADS_3

Sehabis sarapan Benji dan Bhramsy pergi ke kantor karena ada rapat yang harus didatangi oleh pemilik perusahaan. Sedangkan pak Wijaya pergi kerumah sahabat lamanya.


Siang hari di kantor.


Toktoookk..


"Masuk.."


Wanita berparas cantik itu memasuki ruangan dengan membawa beberapa bungkus makanan.


"Hai calon suamiku, apa kamu sudah makan siang? Aku membuatkan ini spesial untukmu." Almeera dengan pakaian sexynya mendatangi kantor Benji.


"Maaf tapi hari ini aku sedang puasa." Ucap Benji dingin.


"Lalu gelas kopi itu?"


"Aku puasa makanan selain makanan buatan Nai. Kenapa kamu kemari? "


"Aku ingin mendatangi calon suamiku. Apa salah?"


"Siapa yang mengijinkanmu masuk?" Benji tak sedikitpun menatap Almeera, namun dengan kelakuannya yang dingin, hampir semua wanita menjadi tambah penasaran.


"Semua mengijinkanku masuk saat aku bilang aku calon istrimu. Termasuk sekertarismu. Roni." Dengan gaya manjanya Almeera terlihat sangat manis.


"Sekertarisku? Mantan kekasihmu mungkin."


Sindir Benji.


"Kamu tau tentangku Benji? Sudah ku duga kamu menyimpan rasa juga padaku."


"Hey, percaya diri sekali? Bukankah kamu meninggalkan Roni saat dia sedang menjadi tukang ojeg online dulu? kenapa? Kamu tidak mau menemani saat lelaki itu hidup susah?" Dengan suara keras Benji bicara pada Almeera.


"Itu dulu, lupakan. Jadi kapan kamu melamarku? Orang tua kita sudah saling setuju kan?"


"Nanti, jika wanita di dunia habis. Itupun jika aku mau."


"Jangan teralu sombong sayangku, kamu akan bertekuk lutut dibawah kakiku." Almeera mendekatkan wajahnya ke wajah Benji.


Benjamin menahan marah dan kesalnya, dibalik meja tangannya terkepal. Dia berkata, "Sejengkal lagi kamu maju, lihat saja."


Bukan takut, Almeera malah mendekatkan wajahnya lebih dekat dan menciun bibir Benji.


PLLLAAAAAAKKK!!!!


"Aku tau kamu sangat berani, tapi akupun bukan orang yang suka mengancam. Aku buktikan semua apa yang aku katakan." Tangan Benji melayang ringan saat menampar Almeera.


Almeera memegangi pipinya, ada darah segar yang mengalir dari ujung bibir. Dia kaget ternyata lelaki idamannya itu kasar.


Dengan terengah - engah Almeera menatap Benji.


Benji duduk di kursinya lagi, sambil menyalakan sebatang rokok, "Bahkan aku di didik untuk menghargai wanita. Namun kamu tidak menghargai dirimu sendiri. Jangan salahkan aku. Dan jangan teralu murahan. Pembantuku saja harga dirinya mahal sekali." Tambah Benji.


"Ah baiklah.. aku sepertinya harus belajar pada pembantu itu. " Almeera pergi meninggalkan Benji di ruangannya. Segera ia menuju kediaman Benji.


Tak lama Almeera pergi, sekertaris Benji masuk.


"Dharma Dikara. Pengusaha sukses di bidang tekstil itu memiliki 3 perusahaan yang terbilang cukup maju. Tinggal dengan ayah dan 1 adik. Sering keluar masuk tempat hiburan malam. Entahlah, berita yang gue dapet kemungkinan besar kekasihnya seorang penyanyi di tempat itu. Oh ya garis bawahi,, tempat milik lu juga." Tanpa mengetuk pintu Roni masuk ke ruangan Benji.


"Siapa wanitanya ?" Tanya Benji.


"Lu suruh gue buat cari tau laki- lakinya. Besok kalau lu nyuruh lagi, bilang sepaket sama wanitanya. Baru gue ngerti." Roni sangat kesal.


"Besok malam minggu, kita ke tempat kemarin yu Ron? kepala gue pusing lagi kayaknya." Pinta Benji.


"Pusing ko malem minggu. Yaudah ayo, kabarin ya. "


Roni pun kembali ke ruangannya.


*********


Rumah Benji.


Tokkkk tooook


Naipah membukakan pintu dan yang dia lihat adalah Almeera. Dengan sedikit lebam dipipinya. Almeera menerobos masuk rumah sebelum dipersilahkan.


Wanita cantik ini habis dipukuli masyarakat? Kenapa pipinya lebam. Laaah,, dia masuk tanpa permisi? Beginikah tingkah wanita yang bergelimang harta ?


"Buatkan aku teh dingin. Oh ya, om Wijaya kemana ? "


"Baik nona. Tuan Wijaya sedang pergi kerumah sahabatnya, mungkin sore sudah kembali. Maaf nona,, pipi nona bengkak, perlukah saya membawa es batu untuk mengompresnya?"


"Boleh."


Kamu berpura - pura baik? Kenapa Benji selalu mengaitkan kamu dengan semua obrolan? Tidak ada yang boleh menjadi sainganku. Baiklah, aku akan berguru padamu .


Naipah kembali dengan teh dingin dan es batu ditangannya.


"Kamu sudah lama disini?" Tanya Almeera.

__ADS_1


"Baru beberapa bulan nona."


"Kamu melakukan apa hingga Benji menyukaimu?"


" Tidak mungkin nona, tuan Benji tidak mungkin menyukai gadis seperti saya." Meskipun kesal, Nai tetap membantu Almeera mengompres memar di pipinya.


"Dia menyukai masakanmu, dia minta kamu temani dikamarnya ? Apa yang kalian lakukan? Oh ya, bisa ajari aku memasak?" Dengan nada sarkas Almeera bicara.


"Baik nona mari saya ajarkan. Sekarang?"


sebenarnya saya keberatan nona, masa depan saya disini, jika masakannya tidak enak dan tuan Benji marah, nanti sore saya jamin saya pensiun dini dari rumah ini.


Tanpa jawaban Almeera langsung melangkahkan kakinya ke dapur. Didapur Almeera diajarkan memasak oleh Nai. Ya sesuai prediksi, Almeera bukan belajar, dia malah berimprovisasi dengan masakan buatannya itu.


Hai nona, kamu minta diajarkan atau mau mengacak ngacak dapur? Mengapa dirumah ini semua orang sepertinya menguji kesabaran.


Hari sudah sore, tidak terasa kini waktunya Benjamin pulang kantor. Setibanya dirumah, Benji disambut hangat dengan senyuman Almeera yang sedang menyiapkan makan malam.


"Wah wah, calon kakak ipar nampaknya benar - benar sedang belajar bagaimana menjadi istri yang baik ya." Sindir Bhramsy.


"Tadi kakakmu bilang bahwa dia menyukai masakan Nai, jadi aku berinisiatif belajar dengan Nai."


Nona, kamu tidak belajar. Aku menjadi asistenmu dan kamu memasak seenak hatimu nona.


"Semirip apapun, rasanya pasti beda. Bukan soal cara memasak, tapi tangan siapa yang memasak. Nai, aku mau mandi, siapkan air untukku." Ujar Benji sembari menaiki tangga."


"Permisi nona, saya keatas dulu." Bergegas Nai mengikuti tuannya.


Apakah tugasku bertambah menjadi asisten pribadinya sehingga mandi saja butuh dipersiapkan oleh orang lain? Hai tuan tampan, naikkan gajiku seratus ribu.


Nai kemudian masuk ke kamar mandi, menyalakan keran dan mengisi bathub


untuk tuannya. Dia mencampurkan beberapa tetes aroma terapi yang sudah tersedia di kamar mandi


"Sejak kapan mayat hidup itu disini?" Tanya Benji ke Naipah.


"Nona Almeera tuan?" Tak sanggup Nai menahan tawa, dia menutup mulut.


"Kenapa kau tertawa? Dia seperti mayat hidup. Kau lihat kulit putihnya? Dulu dia tidak seputih itu. Sepertinya klinik kecantikan teralu banyak memberikan obat suntik putih. Terlihat pucat pasi. Seperti bengkuang. Lebih mirip jenazah. Tinggal di kremasi." Benji nyerocos.


Nai lalu melihat kulitnya sendiri.


Kulit semulus itu dia hina juga. Apa kabar dengan kulitku ?


" Kulitmu itu tidak seperti bengkuang Nai. Jangan membanding-bandingkan." Timpal Benji seperti tau apa yang Nai fikirkan.


"Kulitmu putih normal Nai. Mungkin sedikit merah. Jika terkena panas juga akan memerah. 5 smester aku kuliah kedokteran. Lalu pindah jurusan. Jadi aku tau."


Naipah hanya membuatkan mulutnya.


"Apa dia anarkis tadi saat memasak?"


"Tidak tuan."


Iya tuan,, dia mengacak - ngacak semuanya. Aku lagi yang harus membereskan semuanya juga. Dia memasukan segala macam bumbu. Dia bilang dia pernah kursus memasak tapi aku baru tau merebus ayam 1 kilo menggunakan jeruk lemon dengan berat yang sama. Dengan dihangatkan pun, aku yakin ayam itu tetap asam .Tolong tambah gajiku 100 ribu lagi tuan. Anggap saja biaya mengasuh.


"Benarkah? Dengan dingin dia berlalu memasuki kamar mandi.


"Siapkan bajuku. Yang mana saja.


"Baik tuan."


Nai pun menuju lemari milik tuannya yang berada di pojokan. Lebih tepatnya kamar didalam kamar. Khusus baju milik Benji. Nai masih dengan rasa yang sama. Kagum.


Hebat sekali rumah ini. Sepertinya arsitek ternama yang membuat rumah sebagus ini. Mereka terfikirkan membuat kamar didalam kamar. Sempurna.


Selang beberapa lama Nai memilihkan baju untuk tuannya, akhirnya terpilihlah kaos polos berwarna hitam dengan celana pendek. Kesukaan Benji memang menggunakan celana pendek jika dirumah.


"Naaaaiii, kau sudah selesai? Kemarikan bajuku." Teriak Benji dari kamar mandi.


Nai mengetuk pintu, tak lama tangan Benji keluar, Nai segera memberikan bajunya. Tanpa sengaja tangan Benji menyentuh tangan Nai.


"Tuan masih ada yang harus saya siapkan?" tanya Nai.


"Tunggu sebentar. Saya sedang berpakaian."


Benjamin keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah ia kenakan. Rambut acak - acakannya membuat dia tetap terlihat tampan.


Dia berjalan menuju lemari sangat besar dipinggir pintu balkon dan membuka kuncinya.


"Kemari Nai." Dia melambaikan tangannya tanda memanggil.


"Kau suka pakai parfum kan? Pilihlah. Sepertinya aku harus membagi - bagikannya. Aku tau, setiap pagi selain aroma makanan yang kau buat, aku juga mencium wangi parfummu. Namun ketika sore hari, parfummu hilang menguap terkena sinar matahari."


Sontak Nai mencium kedua ketiaknya bergantian kemudian tersenyum cengengesan .


"Boleh tuan?" tanyanya tidak percaya.


"Ambilah. Pilih yang kau suka."

__ADS_1


Naipah mengangguk dan memilih ratusan parfum yang ada dihadapannya. Hampir 15 menit Nai memilih, membuka setiap tutup botol parfum dan sedikit menghirup aromanya.


"Hey kenapa memilih hanya di rak bawah? Yang atas belum kau pilih?"


"Tuan, maaf, saya kate tuan. Hehehhe. dan lagi, inipun sudah sangat banyak." Naipah asyik memilih ratusan parfum yang ada didepan matanya.


Benji menarik kursi kerjanya dan dihadapkan pada lemari.


"Naiklah."


Naipah membulatkan matanya tanda tak percaya.


"Ayo naiklah cepat."


Naipah pun menuruti titah tuannya.


Cukup lama naipah memilih parfum dilemari itu mengingat jumlahnya yang lebih dari stok toko parfum. Yang membedakan adalah dibagian lemari atas, ternyata parfum parfum sisa yang tinggal setengah botol bahkan ada yang tersisa beberapa mili saja. Naipah tidak mempermasalahkan dia diberi parfum sisa. Yang penting wangi.


Naipah tersenyum ketika mencium 1 aroma parfum yang mungkin hanya tersisa kurang dari setengah botol. Dengan bungkus yang unik, Naipah melihat tuannya kemudian turun dari kursi.


" Ini boleh tuan?"


Benjamin tersenyum. Auranya terlihat jelas. Gagah, maskulin, tatapan tajam dibalik senyumannya tidak bisa disembunyikan.


"Kenapa kau memilih itu?" Seperti ingin tau alasan Nai, Benji melihat senyuman Nai seperti orang yang mendapatkan lotre saat mencium 1 dari banyaknya parfum. Sangat bahagia.


"Wanginya kuat tuan. Entah kenapa sejak dulu saya jatuh cinta pada wangi ini. Saya sempat membeli tapi yang kw tuan. Di toko bibit parfum." Naipah menunduk. Dia kembali khawatir dia akan salah.


"Versace red jeans. Parfum pertama yang kubeli, dulu. Dan aku harus susah payah mengumpulkan uang agar aku sanggup membelinya. Segar, bergairah, wanginya menempel diotak. Kau tau Nai? Dari ratusan parfum yang ku punya, aku tetap jatuh cinta pada wanginya. Sama sepertimu."


"Tuan, jika begitu, aku akan memilih yang lain." Nai merasa tidak enak karena ternyata pilihannya adalah parfum kesukaan tuannya. cepat - cepat dia naik ke kursi untuk mengembalikannya namun bahunya ditahan oleh Benji.


"Sssttttt.. pakailah. Itu untukmu sebagai hadiah. Jangan khawatirkan aku, 10 detik dari sekarang aku bisa memborongnya lagi." ucap Benji menenangkan.


Naipah memegang botol parfum itu didadanya seperti seolah dipeluk, lalu mencium botol parfumnya. Dia sangat senang mendapatkan parfum yang asli. jika dengan uangnya sendiri, entah kapan Nai sanggup membeli.


"Benarkah tuan? Terimakasih."


"Ya." Benjamin tersenyum.


hanya dengan memberinya sesuatu yang sederhana, bahkan barang bekas, aku merasa ikut senang. Dan kenapa melihat senyumnya saja seolah aku ingin terus menerus melihatnya?


" Nai, kau senang ? kau terlihat sangat bahagia padahal itu parfum sisa. Lebih anehnya lagi, kenapa aku juga seperti ikut bahagia ya?" Benji yang sudah tidak bisa menjawab pertanyaan diotaknya spontan bertanya pada Nai.


" Senang sekali tuan. ah, itu namanya tuan ikhlas. Ketika kita ikhlas memberi, hati kita akan ikut senang." Jawab Nai dengan jujur dan masih dengan senyum manisnya.


"Sebentar ," Benji mengambil kembali parfumnya dan menyemprotkan ke tubuhnya sendiri.


"Terakhir kalinya Aku memakai ini. Sebagai tanda perpisahan. Besok ku beli teman temanmu. 7 lemari jika perlu." Lawaknya sembari menyodorkan botol parfum tersebut.


"Pakailah."


Nai menuruti perintah benji. Dia menyemprotkan sedikit parfum ditangan dan lehernya. Dengan sedikit saja, wanginya sudah memenuhi kamar.


"Oh ya Nai, benji membuka dompet dan menyerahkan 10 lembar uang ratusan.


"Ini untukmu, bawalah."


"Tapi tuan.."


"Anggap saja bayaran lebih karena kau sudah menyiapkan air dan biaya penitipan jenazah hidup itu."


Tuan, kamu cenayang lagi. Sama seperti adikmu. Lain kali aku tidak boleh meminta uang lebih walau dalam hati.


"Jangan menolak. Ambilah. Belikan kebutuhan untuk anakmu."


Naipah menerima uang itu.


"Terimakasih tuan. Semoga kebaikan selalu menyertaimu." Ucap Nai lirih.


"Aamiiin. Beristirahatlah. Aku mau makan malam. Kalau besok pagi atau tengah malam nanti aku keracunan, kuharap kau mau menjengukku, atau, tengah malam tolong datangi kamarku dan cek apakah aku masih hidup atau sudah mati gara - gara masakan si bengkuang.


"Baik tuan." Naipun keluar kamar.


Disisi lain Almeera yang telah menunggu dimeja makan hampir 2 jam memutuskan untuk menyusul Benji ke kamarnya.


Saat menaiki tangga dia berpapasan dengan Nai. Terlihat Nai membawa uang di tangannya. Nai menganggukan kepala sambil berjalan ke menuruni anak tangga.


Wangi sekali seorang pembantu ini. Apa itu ditangannya? Uang?


Almeera menaiki tangga lagi dan mendatangi kamar Benji. Bertepatan saat Benji keluar kamar


"Hai, aku menunggumu lama sekali. Ayo kita makan, kamu harus coba masakanku." Almeera meraih tangan Benji dan meletakan kepalanya ditangan Benji.


"Jangan berlebihan. Ku tampar lagi pipimu." Ancam Benji.


Dengan kesal Almeera melepaskan genggamannya. Kemudian berjalan dibelakang Benji menuruni tangga.


Tunggu, wangi ini seperti? Apa jangan jangan mereka ???????? Keterlaluan.

__ADS_1


__ADS_2