Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Kau Akan bahagia.


__ADS_3

Benji sedikit kesal, mengapa Nai tidak peka padanya. Sekarang dia harus menjadi pria manis, agar Nai tidak takut. Apapun akan Benji lakukan yang terpenting wanita jinak - jinak merpati ini baik dulu padanya.


"Nai, Apa kau trauma untuk menikah lagi? Apa status janda menurutmu lebih baik?"


"Tidak juga tuan."


Anda tidak tau saja bagaimana sebenarnya!


" Jika aku menerima penawaranmu, bagaimana? apa aku masih boleh bekerja tuan?"


" Lakukan sesuka hatimu Nai, apapun untukmu boleh."


Sebenarnya tidak, tapi untuk promosi, biar kukatakan boleh saja dulu.


"Hanya 1 tahun kan? setelah itu? Tapi kan itu semua percuma tuan, dulu tuan mengajakku pura - pura menikah karena tuan akan dijodohkan dengan Almeera, sekarang kan sudah tidak dijodohkan."


DEEEEEGGGGGGG


Iya juga, aku lupa.


"Ya, sekarang memang tidak dijodohkan dengan Almeera, tapi dengan yang lain."


Sebaiknya aku bilang seperti itu sajalah. Sebagai alasan.


"Setelah 1 tahun itu terserah apa maumu. Akupun mungkin dalam setahun sudah menemukan calon ibu dari anak - anakku. Kau boleh pergi jika memang merasa tak cocok denganku."


"Tapi apa kau tau? Jika kau menikah denganku, kau hanya tinggal duduk manis, belanja, beli apapun yang kau mau. Tidak usah banyak tingkah. Banyak hal yang pernah ingin kau beli, belilah, manfaatkan kesempatanmu. Tidak usah repot- repot melamar pekerjaan. Aku yang mencukupi semua kebutuhanmu, bahkan lebih." Rayuan maut.


Nai tersenyum, dia menatap tuannya yang setengah mati memberika jaminan, kemudian dia berkata, "Maaf tuan, aku harus bertumpu pada kakiku sendiri. Dan sejak sekolah, aku berusaha mencari uang sendiri, jika dalam 1 tahun kemudian aku pergi, aku tetap harus mencari pekerjaan karena ada keluarga yang perlu kuhidupi."


"Kau melupakan imbalan yang ku berikan? Kau ingin berapa Nai? Semua hartaku akan kuberikan, salah satu Perusahaanku akan ku berikan padamu jika kontrak kita selesai. Selama 1 tahun pun anggap saja kau sedang bekerja berpura pura menjadi seorang istri." Jawab Benji sambil memberhentikan mobilnya ditepi jalan. Dia menatap ke arah Nai, tangannya memegang wajah Nai agar mereka saling menatap.


"Dengar aku Nai, kau hanya tinggal menurutiku. Diam dirumah. Menurut apa kataku. Demi tuhan Nai kau akan bahagia. Demi Tuhan."


"Tetap saja tuan, aku harus punya uang sendiri. Aku memiliki anak dan orang tua. Aku harus membiayainya." Tolak Nai lagi. Benji kecewa mendengarnya, kemudian dia kembali melanjutkan menyetir dengan menahan marah.


Nai, dalam pernikahan tidak ada batasan uang. Uangku uangmu juga. Pakailah uangku." Nada bicara Benji mulai Naik. Nai yang mengetahui hal itu kemudian tersenyum dan mencoba mengembalikan suasana.


"Tuan.. Apa tinggal serumah dengan orang yang tidak benar-benar menjadi suami, membuatmu bahagia? Ah iya tuan aku lupa. Wajahmu teramat tampan. Bagaimana jika aku sampai mencintaimu?"


"Itu justru bagus. Kita menikah betulan!"


"Tuan kau jangan mengada ngada. Dilihat dari sisi manapun, kita bagaikan langit dan bumi."


"Sssstttt ,,,Nai.. Rumah tangga tidak seperti apa yang kau fikirkan. Asalkan kita benar - benar berniat melakukannya sebagai ibadah, itu cukup."


"Maaf tuan. Jangan bicara perihal ibadah. Ini pernikahan pura - pura."


"Jika tidak pura- pura apa kau setuju Nai?"


Belum sempat Nai menjawab, mereka telah sampai di parkiran sebuah Mall besar.

__ADS_1


Ayo antar aku menepati janjiku padamu Nai.


Tanpa menunggu, Benji keluar dan membukakan pintu untuk Nai.


"Hai tuan putri, turunlah." Rayu Benji sembari mengulurkan tangannya.


Nai tertawa, dia meraih genggaman tangan Benji. Dua insan ini berjalan memasuki pusat perbelanjaan. Tak nampak pernah ada berbagai tragedi diantaranya. Yang terlihat hanya seorang lelaki tampan yang membawa wanita cantik disampingnya. Sepanjang jalan, setiap mata memandangi mereka berdua, jelas, lelaki tampan itu terkenal sebagai pemilik Mall besar yang mereka datangi.


"Sepertinya aku harus membeli ini semua, untuk persediaan makanku. " Ucap Benji saat mereka ada di pertokoan. Sambil memasukan semua makanan, camilan, dan apapun yang dilihatnya.


"Kan bi Nuni juga masak tuan, tapi tuan memang sedikit terlihat lebih kurus, apa tuan jadi jarang makan ?Ah apa kabar bi Nuni tuan? Aku merindukannya."


Karena aku stres memikirkanmu Nai. Kenapa kau pura - pura bodoh. Aku tak mau makan masakan bi Nuni, lidahku terbiasa makan masakanmu.


"Temuilah. Bi nuni selalu ada dirumah. Itu Rumahmu juga." Benji bicara berbisik dikuping Nai. Nai hanya memberikan senyuman sembari memegang lengan tuannya itu.


"Suatu hari akan aku temui bi Nuni tuan." Nai melepaskan genggamannya, kemudian berlari kecil menuju etalase makanan kucing. Dia memilih beberapa makanan kucing, kemudian sibuk melihat harganya. Nai berdiri dan merogok sakunya, ada 2 lembar pecahan seratus ribu, Nai seperti berfikir, kemudian mengembalikan beberapa makanan kucing ke tempatnya. Dia hanya membeli 2 bungkus makanan kucing dengan harga murah.


Tak berubah, kau tetap jadi wanita yang ku kagumi karena kebaikanmu.


Dari kejauhan Benji memerhatikan Nai kemudian berjalan mendekat hingga berada dibelakang Nai.


"Kenapa kau kembalikan?"


"Ah tidak apa - apa tuan. Ini saja cukup." Jawab Nai.


"Ambilah semuanya, semua disini milikmu." Benji menatap Nai sambil tersenyum.


"Tadi kau dibayar berapa?" Tanya Benji sembari berjalan ikut memilih makanan kucing.


"Lalu 50 ribu lagi?"


"Itu untuk simpananku barangkali aku membutuhkan sesuatu. Sebab aku baru ada acara bernyanyi lagi minggu depan."


Benji berbalik kemudian merangkul Nai. Dia berkata, " Setelah ku fikir - fikir, aku tidak akan memaksamu lagi menikah denganku, tapi, jangan tolak pemberianku, bukankah menolak rejeki itu pamali?" Ucap Benji.


Tanpa sadar Nai ikut melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Benji. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang mabuk cinta. Tangan Nai tak lepas dari genggaman Benji.


Benji berhenti di depan bungkusan makanan kucing berukuran besar, Dia mengambilnya kemudian dimasukan kedalam troli.


"Tuan itu kebesaran." Protes Nai.


"Kebesaran? Ya sudah kita bagi dua saja. Biar akupun bisa memberi makan setiap kucing jalanan yang kutemui, sama sepertimu."


"Tuan, benarkah?" Secara spontan Nai memeluk tuannya.


"Terimakasih tuan karena sudah mau menyayanyi kucing - kucing liar itu." Nai tersenyum lepas. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi kesedihan, sepintas, Nai menjadi terlihat sangat bahagia.


Puas memborong makanan kucing, mereka berdua kini ada di tempat buah - buahan. Benji sibuk memilih berbagai macam buah, kemudian mengakhiri pencariannya saat didepan matanya ada durian. Dia mengambil banyak sekali durian yang terkenal mahal itu.


Saat kemarin dirumah sakit, kau meminta durian. Kubelikan semua untukmu. Saat itu, sehari sebelum kegagalan pernikahan kita.

__ADS_1


"Kau ingat Nai? Saat dirumah sakit, kau sadar dan meminta durian, ku penuhi janjiku untuk membelikannya."


"Tuan, kalau soal durian atau seblak, aku tidak akan menolak. Terimakasih ya." Nai sangat gembira.


"Tuan,, bolehkah aku meminta sesuatu?" Ucapnya lagi.


"Katakan.. apapun.."


" Aku ingin membeli eskrim ini, 2 boleh?" Sambil membuka lemari es krim yang sangat besar, Nai menunjuk es krim coklat.


" Kenapa tidak semuanya?"


"Tuan, es ini terbilang mahal, tapi anakku sangat menyukainya, mungkin sebulan sekali pun jarang aku membelinya. Kalau ku beli semuanya, anakku pasti kaget, dan lagi, kulkas dirumah kecil, tidak seperti di istanamu tuan. Boleh?" Dijawab dengan senyuman, Kemudian Benji mengambil seluruh es krim yang Nai mau.


" Aku fikir sepertinya besok harus membeli kulkas baru. Bersiaplah, anakmu akan bahagia setiap hari karena makan es krim. Dan untukmu, besok gerobak seblak akan ada dirumahmu, jadi setiap aku menemuimu, kau akan terlihat ceria."


" Kenapa seblak terus sih tuan?"


"Karena bahagiamu pada seblak ."


Nai hanya mengglengkan kepala dan berdoa agar itu hanya menjadi guyonan, sebab dia paham betul majikannya ini.


" Tuan, ini troli besar dan sudah kepenuhan, apa kau mau berbelanja untuk 2 tahun?Protes Nai lagi ketika Benji memborong coklat yang ada di etalase. Namun Benji tak menjawab. Nai mengikuti Benji hingga pembayaran selesai.


"Ini semua untukmu Nai!!!"


"Hah? Bukannya untuk kebutuhanmu tuan? Tuan ini teralu banyak."


"Hei, tadi aku bilang apa?"


"Tuan, terimakasih, bagaimana aku membalasnya?"


"Membalasnya ? Emhhhhh,, Benji seperti sedang berfikir."


"Aha.. aku tau."


"Bagaimana tuan?"


Benji kemudian berbalik menghadap Nai, menangkupkan kedua tangannya di pipi wanita cantik yang masih ber make up itu.


"Berjanjilah jangan ada lagi kesedihan dimatamu, berjanjilah jangan mengeluarkan air mata lagi untuk lelaki yang tak menghargaimu."


"Tuan, belanjaan ini mahal, sepertinya tidak setimpal de...."


"Sssssttt,, didunia ini yang mahal hanya ucapan ya darimu saat aku mengajakmu menikah. Sepertinya aku harus membeli 10 gerobak seblak sebagai mahar untuk membuatmu luluh."


"Hahahahahahahaha.. tidak begitu tuan."


"Nai kau tau? Kau sangat cantik saat sedang tertawa. Tetaplah seperti itu dengan atau tanpa aku disampingmu,, apa setiap hari kau harus makan seblak agar ceria?"


"Aku sepertinya bisa tertawa terus setiap hari jika belanja seperti ini." Ceplos Nai.

__ADS_1


"Beres." Jawab benji sembari memberikan tatapan tajam diselingi senyuman mesra.


Malam menjelang, waktunya Nai pulang, dengan Benji disampingnya.


__ADS_2