
Seminggu kini Nai berada dirumahnya, Bukan betah, malah jengah. Selalu pertanyaan kapan bekerja yang ia dengar. Yang paham dirinya hanyalah Rasmika Faza Aisha. Yang akrab dia panggil caca. Anak itupun jika dilihat seperti Nai dahulu, seperti tertekan, dia tidak sama seperti teman sepermainannya, karena hal itu, Nai berusaha membetah - betahkan diri supaya sedikitnya bisa merubah caca menjadi kembali ceria . Caca lah satu - satunya hal yang membuat ia bertahan dalam rumah.
"Hai cantik!" Pagi ini Nai menyapa anak angkatnya itu dengan ciuman dan pelukan hangat.
"Hai tante."
" Libur sekolahmu ca ?"
" Iya libur, kemarin aku habis bagi rapot."
"Oh iya iya. Ca nenek kemana?"
Katanya belanja dulu sama kakek kedepan." Anak itu terkesan acuh, padahal dia terlihat sangat menyayangi Nai. dia asyik main hp karena memang hanya hp teman setianya dari dulu.
Belanja? Bukannya tadi malam katanya uangnya hampir habis?
"Oh gitu. Aku mau kedepan boleh? Kunci pintu ya."
"Tante lama perginya?"
"Enggak sayang, sebentar, beli rokok aja, mau es krim ?" Ucap Bai sembari terus memeluk anak yang tingginya hampir sepantaran dengan Nai. Entah Nai yang pendek atau Caca yang gizinya terlalu bagus.
"Boleh, tante ada uangnya?" Anak sekecil itu sudah mengerti bahwa terkadang tante kesayangannya tidak memiliki uang sepeserpun.
"Ada dong, aku kan banyak uang.. hahahahahahahah... Ya sudah sebentar ya. Kunci pintu." Nai pun pergi setelah puas mencium anak cantiknya.
15 menit setelah Nai pergi, pintu rumah diketuk oleh sang tamu. Benji.
"Siang! Om siapa? Cari siapa?" Jawab Caca sembari mengeluarkan kepalanya saja di pintu.
Benjamin kemudian tersenyum pada anak cantik yang dia lihat didalam foto tempo hari. Kini ada dihadapannya.
"Sini.. om boleh duduk?" Ramahnya pada anak itu.
"Boleh om."
"Kamu Caca yah?" Tak sabar Benji langsung Bertanya.
"Iya om." anak itu menjawab polos, sambil terus menunduk memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Om teman mama kamu."
"Oh." Wajah caca berubah sedih.
"Om boleh tanya? Mama Caca ada?" Berharap bisa kembali menemui gadis yang sejak lama bersemayam di hati.
"Mama udah meninggal om." Jawab Caca. Matanya berkaca - kaca menahan air mata.
Dhuaaaaaarrrrrr
Bagai petir disiang hari ketika Benji mendengar ucapan itu. Sesaat dia membayangkan mata dan senyuman Nai.
Tuhan, aku bersyukur padamu karena kau selalu baik padaku. Tapi apa ini Tuhan? Teralu cepat kau merenggut kebahagianku, aku tidak percaya lagi padamu. Nai selalu berkata bahwa kau adil Tuhan, ini bukti bahwa kau tidak adil. Untuk sementara waktu aku setuju, namun hari ini kau membuktikan padaku bahwa seharusnya aku tidak pernah mempercayaimu. Permainan apa lagi ini Tuhan?
Benjamin menatap anak itu, sekuat tenaga menahan tangisnya, tanpa bertanya lagi, tanpa ingin lebih dalam menggali, yang dia ketahui bahwa anak kecil tidak pernah berdusta. Pupus sudah harapannya, dimatikan oleh kematian. Kini dia hanya ingin kembali pulang, menangis dikamarnya dengan kencang.
Bergetar tangan Benji meraih dompet dan amplop disakunya.
"Om titip ini dompet. Uang didalam amplop buat caca sekolah ya. Sekolah yang tinggi biar pintar. Nanti om sering temui Caca, Caca jaga diri baik - baik ya, jika kamu sudah besar, jadilah orang baik seperti ibumu. Itu hp Caca?" Caca pun mengangguk.
" Ini kartu nama om, jika suatu hari, kamu butuh bantuan, kamu bisa telepon om."
***********
Nai berjalan menuju mini market yang sedikit jauh dari tempat tinggalnya.
Tiiiiin...tiiiiiinnnn..
"Masuklah." Suara yang ia kenal seolah memecah perasaan yang tertahan untuk beberapa waktu. Tanpa basa - basi Nai memasuki mobil itu.
" Kenapa pulang ke Bandung tak mengabariku?" Ucap Dharma, pria yang Nai cinta sepenuh hati.
" Tidak apa - apa. Kamu juga bilang bahwa kamu akan sibuk, bukankah kamu juga yang bilang aku tinggal menunggu saja kabar darimu." Nai masih menyempatkan untuk tersenyum.
" Ah iya, bagaimana persiapan pernikahanmu? Aku melihatnya, Pertama di mimpiku, kedua, dengan mata kepalaku. Tempo lalu." lanjut Nai.
Pria itu kaget, kenapa Nai bisa mengetahui semuanya ?
" Darimana kamu tau?" Tanyanya menyelidik.
__ADS_1
" Entahlah, sejak aku di Jakarta aku selalu bermimpi buruk tentangmu. Beberapa kali. Yang pertama, kedua, ketiga, hingga 8 hari dalam mimpiku. Aku melihat jelas wajahnya. Dan ternyata itu cara Tuhan memberikan tanda, aku saja yang tidak peka, kamu ingat saat memarahiku karena aku teralu mengekangmu? Benar kan apa ketakutanku? " Nai mulai tak bisa menahan emosinya.
" Kamu selalu begitu Nai, selalu berfikir buruk tentangku. Aku kurang apa? Sejak dulu aku selalu mengalah atas keegoisanmu yang terlalu. Kamu memarahiku, mengekangku, kamu selalu memilih jalan sendiri padahal aku ingin berbagi. Kamu membuntukan jalanku." Cerca Dharma tak mau kalah.
" 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Aku mengenalmu, sebelum jauh tau isi hatimu. Aku mempercayaimu, kenapa kamu tidak menyudahi ini sejak dulu? Kamu masih ingat berapa puluh kali aku menangis meminta perhatianmu? Bagaimana aku mengiba meminta kamu seperti dulu? Apa alasanmu? Kamu sedang fokus pada pekerjaan, dan jika sudah cukup uang, kita akan menikah. Mungkin lebih tepatnya kamu menikah, aku yang jadi tamu undangan."
"Jika dulu kamu tidak teralu mengekangku, mungkin ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, aku salah." Dharma seperti kebingungan untuk menjawab ucapan Nai.
"Sudah takdirNya, berbahagialah dengan dia yang kamu mau. Kamu merasa bersalah? Tak usah. Jika memang ini akhir dan aku harus merelakanmu, aku sudah." Nai menegaskan ucapannya.
" Oh iya, kita masih bisa berteman baik kan? Kapan hari pernikahanmu? Aku bisa bernyanyi di pernikahanmu jika kamu mau." Tawar Nai seolah dia tidak merasa sakit hati.
"Huuuuh.." Dharma menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Jika itu memang permintaanmu, baiklah. Minggu depan." Ucapnya.
" Maafkan aku, semoga kamupun bahagia dengan Benjamin. Jika dia menyakitimu, aku takkan pernah rela. Meskipun kenyataannya sekarang aku yang paling menyakitimu, jujur aku masih khawatir. Benjamin tidak seperti kelihatannya." Jawabnya sedikit pilu.
"Kamu mengenalnya? Kamu tak perlu khawatir atasku lagi Dharma, suatu hari, aku akan jatuh hati lagi."
" Siapa yang tidak mengenalnya? Aku akui kehebatanmu menaklukannya. Naasnya lagi, dia adalah salah satu pemilik perusahaan yang menjadi incaran perusahaan ayahku untuk menjalin kerja sama."
"Dharma, boleh aku bertanya? Kenapa kamu mempertahankanku selama ini? Aku tau rasa sayangmu sudah hilang sejak dulu." Nai tertunduk lesu, dia harus menguatkan hatinya lagi dan lagi. Kesekian kali.
" Aku tidak pernah tega membiarkanmu menangis pada setiap kenyataan yang kamu terima dalam hidupmu. Aku mencoba menemanimu, sayangnya, jalan berkata lain, aku malah fokus pada ucapnmu dahulu yang berkata bahwa aku boleh mencari wanita lagi."
" Jadi hanya sekedar kasihan padaku diselingi mengisi waktu? Bukan hanya jalan yang berkata lain, bahkan sejak dulu, selatanmu tidak pernah searah dengan selatanku. Sudahlah, anakku menunggu." Nai keluar dengan undangan pernikahan yang Dharma berikan. Pilu.
Nai kemudian memasuki mini market dan segera membeli rokok juga 3 buah es krim permintaan anaknya. Dia kembali pulang dengan kandasnya harapan bersanding dipelaminan bersama Dharma. Entah kenapa bahkan untuk menangisinya, nai seolah tak bisa lagi.
Dia hanya bisa menatap jauh, memutar ulang memori saat pertama kali mengenal Dharma, teduh.
*******
Bagaimana bisa dia menemukan rumahku? semudah itukah orang kaya? mampu melakukan apa saja yang diinginkan? dan lagi, mengapa dia memberikan uang banyak pada anakku?
Nai melihat dompetnya yang sudah kembali. Dia membukanya, mengeluarkan foto pria yang dia cintai, lalu membakarnya.
Tuhan, harus berapa kali lagi? kenapa dia mempertahankanku selama bertahun - tahun? jika memang dia tidak menyayangiku, kenapa securang itu dia berlaku baik sehingga aku menyayanginya. Aku sangat menyayanginya Tuhan, sejak bertemu, hingga saat ini. Aku mencintainya setengah mati namun dia memberikan kenyataan yang membuat aku hampir mati. Tuhan berikan jalan, aku ingin bersamanya. Aku lelah jika harus bertemu orang baru, belum tentu dia bisa menerima dan mencintaiku, kelakuan burukku, semua hanya dia yang tau.
__ADS_1