
lelaki yang setiap siang membawa wanita ke ruangannya?banyak wanita.
"TIDAAAAAAAKKIII!!!!!! TIDAAAK.. " Nai menggelengkan kepala.
Kemudian ombak besar secepat kilat mendatangi Nai, menenggelamkan wanita yang sedang duduk ditepi pantai.
"TIDAAAAAK, TOLOOOONG!!!!!!!" Teriakan itu memekik telinga, belum satu jam Benjamin merasakan ketenangan menatap wajah Nai yang sedang tertidur, kembali ia dikejutkan dengan igauan wanita disisinya.
"Naiiiii? Nayanika????? Nayanika kau kenapa?" Benji segera memeluk Nai yang sedang mengigau, dia mencoba mengguncang badan Nai agar terbangun.
"Tuan.. airrr.." Ucap Nai sambil memeluk erat Benji. Nai bangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran.
"Tidak ada air Nai."
"Ada,, dia mengejarku,, selalu mengejarku, setiap hari setiap minggu, aku dikejar air terus...."
"Tenanglah Nai,, kau aman."
Kau takut air? Dulu aku membuatmu menerobos hujan menemuiku, apa kau melawan semua ketakutanmu itu?
Benji mempererat pelukannya, ternyata dia sama paniknya, tak tega melihat Nai ketakutan.
Kau ingin berenang?
"Dingin."
Aku baru ingat wajahnya langsung berubah ketika melihat kolam.
"Minumlah dulu Nai." Benji memberikan gelas air putih miliknya.
"Tuan aku tidak gila, aku dikejar air. Tuan jangan pergi, untuk malam ini saja aku mohon,, aku takut air itu." Mata Nai menatap kosong, mencoba memutar ulang atau mungkin mengembalikan ingatan, saat ia tenggelam.
TOOOOKKK TOOOOK!!!!
"Permisi."
"Kau datang tepat waktu, masuklah." Sapa Benji. "Dia mengigau malam ini sangat parah, biasanya dia mengigau tapi tidak sampai seperti ini."
"Biasanya? apa aku selalu mengigau?"
"Biar kuperiksa dulu."
"Kondisinya baik, mungkin butuh banyak istirahat. Baiklah, aku beri beberapa obat ditambah obat penenang, namun ini digunakan saat - saat tertentu saja." Jelasnya. Tanpa menunggu, Nai langsung meminum beberapa obat pemberian Rio.
"Hai nona cantik, segera membaiklah. Benjamin, boleh kita bicara diluar sebentar ?"
"Aku tidak mau meninggalkan istriku, ada yang penting? bisakah kau tulis di pesan singkat saja?"
" Baiklah jika begitu, aku permisi pulang." Jawab Rio sambil menahan tawa. Benjamin menyadari itu, ia lantas mengantarkan Rio hingga kedepan pintu kamarnya.
"Seumur hidup baru aku lihat orang sepertimu jatuh cinta." Bisiknya. Benji hanya mendelik sesaat kemudian menutup pintu.
"Tuan tetap disini kan?" Nai menatap suaminya, takut ditinggal.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Aku sepertinya ingin dipeluk sekali lagi, Maafkan aku merepotkanmu."
"Tidak merepotkan." Tidak mau melewatkan kesempatan emas, Benji segera merebahkan diri disamping Nai sambil memeluknya.
"Sepertinya merepotkan, tuan tidak senyum sedikitpun." Jawab Nai asal.
"NAYANIKA EZRA JAMEELA!!!! Bagaimana aku bisa tersenyum melihat kondisimu seperti tadi, berhenti membuatku khawatir."
"Eh, berapa jatah tuan tersenyum dalam satu minggu?" Nai menggoda Benji, menarik kedua pipinya agar terlihat seperti tersenyum.
"Kau sudah merasa membaik?"
"Cukup tenang, tapi aku mengantuk."
__ADS_1
"Tidurlah, aku dengan senang hati akan memelukmu, gratis. Tanpa dipungut biaya sepeserpun."
"Tuan menyindirku? Tidak apa - apa. Berapa yang harus kubayar untuk pelukanmu ini?"
"Hmmmmm,, 2 milyar. Bagaimana?"
"Ah itu mudah." Katanya menyepelekan."Tuan.. tuan.."
"Ya cantik.."
"Aku boleh meminta sesuatu????"
"Katakan. Apapun untukmu."
"Aku minta uang 2,1 milyar."
" Untuk apa?"
"Untukku. Boleh?"
"Sekarang? Tunggu sebentar."
" Tuan mau kemana?"
"Mengambil kartu atm ku."
"Baiklah, setelah itu, simpan kembali di Atm mu, dan 100 jutanya berikan padaku. Jadi hutangku saat dipeluk tuan lunas dan aku mendapatkan untung."
"Kau ini. Bisa saja menjebakku!! Tidak sia - sia aku menikahimu. Kau sangat pandai, sedikit picik."
"Hahahahahahahah."
*************
Nai terbangun karena merasa keningnya cukup panas. Pemandangan yang pertama kali ia lihat saat membuka mata adalah Benjamin, dengan muka pucat karena semalaman tidak tidur, fokus mendampingi Nai.
"Tuan?"
"Badanmu panas sekali Nai.. jadi aku berinisiatif untuk mengompresmu."
Aku tepati janjiku untuk menjagamu. Tenang saja. Jika bukan dirimu, mungkin aku sudah pergi ke kantor karena hari ini ada rapat penting.
"Aku baik - baik saja, hanya kepalaku sedikit sakit." Jawab Nai.
"Kau tidak baik - baik saja. Makanlah dulu, biar kusuapi." Benji segera mengambil semangkuk bubur yang sudah disiapkan bi Nuni.
"Aku bisa sendiri tuan.."
"Ini perintahku, Nayanika." Tegas Benji sambil tersenyum.
Kau sudah sepanas ini namun kepalamu masih batu. Kau merasa kau selalu kuat padahal tubuhmu minta istirahat. Keras kepala.
"Baiklah, baiklah, ayo suapi aku " Nai tertawa riang, dia sangat senang mendapat perlakuan baik, terlebih dari lelaki yang membuatnya tak mengerti apa yang ia rasakan dihatinya.
"Segera membaik ya Nai," Pinta Benji sembari menyuapi bubur, dijawab dengan anggukan dan senyuman dari Nai.
"Tuan, tidak pergi ke kantor ?"
"Libur."
"Libur apa tuan? perasaanku ini bukan hari libur?" Nai meragukan jawaban Benji, ia mengernyitkan dahi, bicara sembari mengunyah bubur yang memenuhi mulutnya.
"Meliburkan diri cantik. Puas?"
Susah membohongi anak hukum, ada saja huru - haranya jika bicara tak sesuai fakta.
"Terima kasih tuan..."
"Untuk?"
__ADS_1
"Untuk semuanya, untuk malam yang tuan lalui dengan penuh kepanikan, dan untuk pagi ini, tuan mengurusku."
"Jangan percaya diri begitu Nai, kau fikir aku mengurusmu karena aku peduli dan menyayangimu?"
astaga, kepalamu terbentur apa tuan? bukannya tadi malam tuan bilang menyayangiku. Benar kan, lelaki buaya buset seperti dia berbicara lalu melupakan. dasar!!!!
"Memang tidak?"
"IYA!!"
"Iya apa tuan?"
"Harus sejelas itu? kepalamu terbentur apa tadi malam?"
E**h itu perkataan hatiku barusan. Kenapa dibalikan padaku lagi???
"Aku lupa,, bisa tolong ulangi sekali lagi?"
"Agar???"
"Agar ku balas tenang marahmu, tuan Benjamin." Rayuan maut Nayanika.
Tak kuasa menahan senyum, Benjamin menaruh mangkuk bubur yang isinya sudah habis, kemudian mendekati Nai sambil mencubit pipinya.
"Kau istriku, kau ratu diistana ini, dihatiku, bagaimana bisa aku tidak menjagamu sedangkan kau sedang dalam kondisi kurang sehat? kau lupa? dunia pun akan kuberikan untukmu Nai. Apalagi sekedar perhatian penuh, kau akan mendapatkan itu semua utuh dariku."
"Aaahhhh terimakasih tuan." Nai tersenyum, dia melepaskan pelukan Benji kemudian meraih telepon rumah yang ada disampingnya.
"Kau mau apa?"
"Mau menelepon bi Nuni. Diam dulu tampan."
"Halo? bi Nuni? bi, tolong buatkan nasi goreng komplit jumbo pakai udang yang banyak, bumbunya menggunakan bumbu yang aku buat itu ya. Maaf tolong antar ke kamar."
"Kau masih lapar?"
"Tentu, bubur hanya menambah jigong di gigiku, hihihihi. Eh tuan, boleh aku meminta rokok 1 batang? sepertinya rokokku habis." Ucap Nai tanpa merasa bersalah.
"Kau sakit! tidak boleh merokok!!!!!!!" Benji beranjak menuju meja kerjanya, mengambil sebatang rokok lalu ujungnya ia bakar.
"Ah tuan curang. Itu tuan merokok!!!!!"
"Bagaimana jika berbagi sebatang rokok berdua?" Tawar Benji, Nai mengangguk antusias, " Ini.." Benji memberikan rokok yang sudah ia hisap sebelumnya, dan Nai menerima dengan senang hati.
Melihat Nai yang asyik menghisap rokok, Benjamin menggelengkan kepalanya, "Badanmu panas tapi masih sanggup menghisap rokok, preman sekali." Ucapnya, dijawab dengan seringai bangga dari bibir Nayanika.
Tak perlu menunggu lama, terdengar suara ketukan dibalik pintu.
TOKKKK...TOOOOOOKKKK..
Nayanika beranjak dari tempat tidur, menuju pintu dan membukanya.
"Ini Nai,,Nai, cepat sembuh.." Lirih bi Nuni yang terlihat sangat khawatir.
"Aamiiin bi, terimakasih ya." Ucap Nai sambil membawa nampan berisi nasi goreng. Nai kembali ketempat tidur, ia duduk kemudian mulai menyuapi Benji.
" Ayo buka mulut!" Titahnya.
"Kau yang lapar, makanlah untukmu.."
"Tuan fikir lambungku sebesar apa? aku memesan ini untuk tuan. Tuan tidak makan apapun semalaman, ayo, aku suapi."
Saat sakit dia masih mempedulikanku, bahkan dia memperhatikanku hingga hal sekecil ini.
"Tuan pasti sama, pusing, badan tuan pun hangat, tuan juga mungkin tertular dariku, ayo habiskan, setelah itu kita makan obat berdua. Tuan, jangan sakit ya aku mohon, aku tidak tega melihatnya." Nai merengek seperti anak kecil lagi membuat Benji gemas melihatnya, tanpa bantahan, Benjipun membuka mulut dan membiarkan Nai menyuapinya.
"Tidak tega melihat atau tidak mau mengurus, lebih tepatnya?"
"Eh sembarangan!!!!"
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan merasakan sakit, apalagi jika diperhatikan seperti ini." Jawab Benji memancing.
Aku yang sakit duluan, aku lebih butuh perhatian, tuan. Baru kali ini ada yang sakit mengurus yang sakit juga.