Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Tangisan Jameela


__ADS_3

Benji duduk dikursi pojok. Tak berubah saat dia pertama kali menginjakkan kaki ditempat hiburan yang menjadi miliknya.


Segala macam minuman keras tersaji didepan mata.


Buat makanan gue punya ajian sapu bersih. Buat alkohol? Ya Tuhan lembutkan hatinya untuk malam ini saja. Aku mohon. Jangan buat dia sewenang - wenang dengan menyuruhku ikut menghabiskannya juga. Roni.


" Lu tunggu disini. Gue ada perlu. Kalo perlu abisin aja minumannya." Ucap Benji sambil berdiri.


"Apa Jameela tidak masuk hari ini?" Benji memasuki ruang Manager dengan pertanyaan yang dia ucapkan, bukan salam atau permisi.


"Silahkan duduk tuan Benjamin." Sang Manager kaget, kemudian bertingkah seperti tidak terjadi apa - apa.


"Jadwal Jameela malam minggu tuan. Namun sabtu kemarin dia tidak masuk juga. Ada kabar dia sakit. Tapi dia tadi saya rasa ada disini tuan, coba tuan cari di depan, atau didapur. Biasanya jika dia tidak bernyanyi, dia membantu karyawan didapur menyiapkan pesanan." Jawab si Manager.


"Aku minta berhentikan dia bekerja disini. Aku sudah memiliki pekerjaan yang tepat untuknya. Jangan banyak bertanya dan jangan jawab apapun yang ditanyakannya. Kuberi uang, tolong berikan padanya. Bilang saja uang pesangon. Nampaknya semua karyawan disini butuh liburan. Aku akan merenovasi tempat ini atau mungkin akan menggantinya, dan jangan khawatir, semua karyawan disini akan tetap mendapatkan gaji. Bersiaplah." Ucap Benji sambil menuliskan cek. Tanpa mendengar sanggahan apapun, Benji keluar ruangan dan kembali ke tempat duduknya.


Itu dia.!!!!!!! apa dia sakit? kenapa pucat sekali.


Mata Benji terbelalak melihat wanita yang dia cari membawa sepiring makanan dari luar kemudian membawanya kedalam. Jameela terlihat pucat. Tidak terlihat seperti Jameela si penyanyi cantik nan sexy yang ia lihat tempo hari. Kini berganti menjadi wanita polos, dengan celana jeans robek, kemeja pendek serta sandal jepit dikenakannya. Rambutnya dia gulung keatas dan diikat sekenanya. Tak ada riasan wajah. Depintas dia terllihat seperti Nai saat dibelikan baju oleh Bhramsy dulu.


Benji kemudian menunduk. otaknya kembali memutar memori saat kali pertama Nai menginjakkan kaki. Otaknya dipenuhi Nai, dia sangat merasa bersalah.


Lamunannya terpecah saat dia mendengar teriakan Jameela. Bar itu menjadi sangat ramai karena ada beberapa pria berbadan besar memaksa Jameela menemaninya. Jameela menolak dengan perlahan namun orang tersebut terus memaksa. Beberapa karyawan berusaha menahannya namun orang besar tersebut malah menarik tangan Jameela hingga Jameela kesakitan.


"Tuan maafkan saya, saya sedang tidak enak badan, dan ini bukan jadwal saya. Dan ini tolong tangan saya sakit." Dengan sekuat tenaga Jameela menarik lagi tangannya, namun kondisi badannya yang kurang sehat membuat dia tidak bertenaga.


Benji kemudian segera menggunakan masker dan topi lalu berjalan menuju keributan itu. Ditariknya tangan Jameela kemudian tanpa aba - aba Benji memukul pria besar itu.

__ADS_1


"Aku pemilik tempat ini dan kau membuat kerusuhan. Jangan dulu beranjak tuan, polisi sebentar lagi kesini." Ucapnya sembari mengamankan Jameela dalam rangkulan sebelah tangannya.


Pria besar itu sepertinya ketakutan, dia menatap dalam wajah Benji kemudian pergi keluar bersama teman - temannya.


"Tuan terimakasih, tapi ngomong - ngomong tolong tuan ini tanganmu lepaskan." ucap Jameela sembari berusaha lepas dari Benji. ya, tubuh Jameela kecil jika dibandingkan dengan tubuh Benji yang tinggi kekar.


Mata Benji melihat tangan Jameela yang terus berusaha melepaskan rangkulannya itu.


" Dasar brengsek, melukai perempuan hanya karena pengaruh minuman. Biar ku obati. Apa dia mencakarmu ? lihatlah tanganmu terluka begitu banyak. Duduklah sebentar." Ucap Benji lembut.


Jameela kembali kaget mendengar suara itu. Dia kemudian melangkah sedikit menjauh dari Benji.


" M- maaf, aku tidak apa - apa. Ini hanya luka kecil." Ucap Jameela gelagapan.


" Kecil bagaima..." Ucapan Benji terpotong oleh karyawan yang memanggil Jameela untuk keruangan Manager.


Terimakasih tuhan, dengan sekejap aku diselamatkan dari lelaki - lelaki itu. Syukurnya dalam hati.


1 jam kemudian Jameela keluar ruangan dengan mata sembap. Langkahnya gontai menyusuri anak tangga yang ia tapaki. Dia diberhentikan karena menurut pengakuan Managernya, tempat ini akan ditutup besok.


Putus harapan Jameela untuk kembali kerumahnya membawa kebahagiaan bagi keluarga. Dia harus kembali mencari pekerjaan di kota yang terkenal sangat sulit meskipun memiliki ijasah sarjana.


Tanpa bicara Jameela keluar bar. Hanya menunduk membayangkan bagaimana keesokan hari ia harus mencari sesuap nasi baginya dan keluarganya. Air mata saat ini menjadi sahabat yang menemani sepanjang Jameela melangkahkan kaki.


Tiiiin..Tiiiin


Si Pria tampan mengklakson Jameela yang berjalan ditengah jalan. Namun tak sedikitpun Jameela bergeming.

__ADS_1


"tiiiiiiiinnnnnnnnnnnn"


" Hey nona cantik, apa kau sengaja mau aku tabrak?" Suaranya keluar dibalik masker.


Jameela yang mengetahui suara itu kemudian segera berbalik dan menggebrak kaca jendela yang setengah terbuka. Lantang Jameela mencecar Benji dengan berbagai macam pertanyaan juga makian.


" Saat kau menyelamatkanku tadi kau bilang kau pemilik tempatku bekerja itu kan? lalu jika benar, kenapa kau mau menutup tempat itu? apa kau tidak tau semua karyawan punya keluarga untuk dihidupi termasuk aku? yang benar saja. Jangan mentang - mentang kau kaya kau bisa seenaknya, apa kau sengaja juga membuatku menangis?" Ucap Jameela tak tertahan, padahal dia kenal jelas siapa pria dihadapannya itu. Suaranya parau. Terlihat air mata masih terus bercucuran saat dia memarahi Benji.


"Hey tenanglah. Aku kan memberikanmu pesangon." Jawab Benji sembari terus melajukan mobilnya perlahan. Disusul oleh langkah Jameela. Benji iba melihat Jameela sepertinya sangat terpukul.


"Aku bukan pegawai BUMN atau PNS, jadi sepertinya aneh pekerja malam mendapat pesangon. Tidak ku ambil uang itu. Aku takut terjadi sesuatu. Bisa saja aku ditumbalkan. Di era modern seperti ini, hal gaib bisa saja masih terjadi." Dengan menyusut sisa air matanya, Jameela menggerutu kemudian berlari kecil meninggalkan Benji, dia buru - buru mendatangi pangkalan ojeg kemudian menaiki ojeg yang ada dihadapannya. Jauh berlalu meninggalkan Benji.


" Ditumbalkan? dia fikir mobilku ini juga hasil pesugihan? Hey.. sebentar. Dimana rumahmu? mari kita bicara baik - baik. Aku berjanji membahagiakanmu dan tidak ada lagi air mata seperti itu. Hapus. Aku membencinya.


Ingin rasanya Benji mengucapkan itu namun lidahnya kelu. Dia hanya menunduk dan menarik nafas panjang kemudian membuangnya secara kasar. Dilihat teman disebelahnya. Sedang meraih mimpi karena teralu banyak alkohol yang disuguhi.


*******


"Darimana? mencari solusi atau sudah bersenang - senang dengan wanita yang lain lagi?" Sapa Bhramsy setengah menyindir.


"Kakak tidak serius mencari Nai. Malah keluyuran. Sadar kak, kakak salah. Kakak tidak berfikir panjang, main lapor polisi. Sekarang hanya untuk meminta maaf saja kita sepertinya sulit. Apa Nai sudah makan? Apa dia tidak kehujanan? Dimana dia kak? Apa dia baik - baik saja?" Dari nada bicaranya, jelas terlihat Bhramsy mengkhawatirkan Nai.


"BHRAMSY, SIMPAN TENAGAMU UNTUK ESOK HARI!" Bentakan keras Benji memecah keheningan malam.


"Apa kita lapor polisi saja kak?" Tak menggubris bentakan kakaknya, Bhramsy kembali memberikan saran.


"Bocah!!!!! kamu menyalahkanku karena aku lapor polisi, sekarang kamu mengikuti jejakku." Sambil menaiki anak tangga Benji berjalan dengan santai.

__ADS_1


Bhramsy frustasi. Kemana lagi dia harus mencari Nai. Seseorang yang telah mengetuk hatinya dengan kepolosan yang dia miliki. Sedangkan Benji? dia pun sama. Sibuk memutar otak bagaimana menemukan Nai. Namun bukan Benji namanya jika tidak melakukan ide gila. Dan lagi, Dia tidak main - main dengan ucapannya. Keesokan harinya Bar itu dihancurkan perlahan. Ah, direnovasi besar - besaran lebih tepatnya. Entah akan dia apakan tempat barunya nanti dan apa rencana kedepannya.


__ADS_2