Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Kebersamaan, Hadiah untuk Bianca.


__ADS_3

Malam semakin larut, diatas tempat tidur Benji melihat Nai main ponsel di sofa, selimut sudah dipakai dikakinya."Kau mengantuk? Kau kedinginan?" Tanyanya.


"Belum tuan, sedikit dingin, tapi aku menyukainya." Jawab Nai lalu menyimpan ponsel yang sedari tadi ia pegang.


Benji yang tiduran kemudian bangun dan duduk ditepinya, "Bagaimana maksudmu? suka dingin tapi pakai selimut."


"Aku suka dingin seperti ini, karena aku bisa nyaman pakai selimut. Sejak kecil aku ingin merasa nyaman pakai selimut tapi seringnya tidak bisa. Aku tidak kuat cuaca panas, aku akan marah - marah jika berkeringat. Hehe .. penyakitku saat kecil." Nai menjawab dengan cengengesan.


"AC nya teralu dingin?" Benji bangkit hendak mengambil remote AC.


"Cukup, aku malah suka jika lebih dingin, seperti kandang penguin."


Mendengar itu Benji meraih remote AC di meja kerjanya kemudian menurunkan suhunya hingga sangat dingin, "Nai, kemarilah, temani aku sebentar." Ucapnya sembari melambaikan tangan, menepuk bagian tempat tidur yang kosong disebelahnya. Nai hanya melotot, terlihat ragu, Benji yang paham hal itu kemudian tersenyum lalu berdiri, menarik bagian bawah tempat tidur.


"Ini tempat tidur bawahanya bisa kau tarik dan aku bisa tidur dibawah. Tenang saja, jangan teralu optimis akan ku peluk." Katanya lagi.


Nai sedikit tenang, dia melangkahkan kaki lalu duduk di tempat tidur bawah. "Aku dibawah saja tuan."


"Kau ratu disini, jangan membantah."


"Baiklah baiklah." Nai pun naik, mereka bertukar posisi. Diatas, Nai menempati tepi tempat tidur, memasang selimut dan tiduran kembali, Benji di bagian bawah menyamai posisi Nai. Berada tepat dibawah Nai. Mereka sangat dekat, hanya berbeda tinggi beberapa puluh centi, kemudian Benji memiringkan tubuhnya ke arah Nai.


"Empuk sekali, nyamannya." Gumam Nai sambil memiringkan tubuhnya ke arah suami tampan yang sedang memperhatikannya itu.


"Kau bebas disini Nai. Nyaman ?"


"Jelas, aku nyaman tinggal dikamar ini." Untuk sesaat mereka saling menatap.


"Dirumah ini."


"Dikamar ini tuan." Jawab Nai menegaskan.


'Dulu bagaimana?" Tanya Benji lagi.


"Aku dulu juga senang diam dikamar, saat dirumah atau saat kost. Memang mau kemana lagi? Aku hanya bekerja."


"Tidurlah kapanpun kau mau, kau tidak akan sakit badan."


"Eh kenapa tuan tau?"


"Bianca menceritakannya."


Mendengar Nama Bianca, Nai bangun lalu duduk, posisinya masih menghadap Benji sambil terbahak, "Hahahahah dasar ember bocor. Bisa bisanya dia menceritakan pada tuan."


"Dia menceritakan segalanya tentangmu. Oh ya, aku lupa memberitau, bagaimana menurutmu jika aku beri dia mobil?" Benji ikut bangun dari posisi semula. Kini mereka sama - sama duduk.


"Tepat tuan tampan. Tuan tau? Saat aku dipenjara di..." Nai belum menuntaskan ucapannya, Benji langsung memotong.


"Yayayayaya pada akhirnya aku mengetahuinya. Mobil yang mana menurutmu?"


"Yang pendek kecil itu tuan, yang pintunya dua." Kata Nai memberikan saran.


"Itu mobil sport."


"Bianca menyukainya." Jawabnya mantap.


"Darimana kau tau?" Benji menatapnya, melihat Nai yang antusias menceritakan sahabat baiknya.


Manis sekali dirimu, bahkan tidak sedikitpun cemburu.


"Saat aku dengannya, dia pernah bicara, dia ingin mobil seperti punyamu, namun uangnya belum cukup. Tabungannya saja habis digunakan untuk mengurusku. Suatu hari jika aku sudah kaya, aku akan membelikan seisi dunia untuknya." Jelas Nai, raut wajahnya berubah sedikit sendu. Seperti merasa bersalah karena selalu merepotkan Bianca.


Flashback On


"Nai apa cita -citamu sekarang?" Tanya Bianca sambil duduk disebelah Nai, diatas tempat tidur.


Nai merebahkan badannya sambil meluruskan kaki dan tangan, "Jadi orang kaya."


"Hahahahahaha."


"Kalau kamu?" Tanya Nai.


"Aku? Aku ingin mobil impianku!!!"


"Mobil? Bianca mobilmu kan ada."


"Aku ingin mobil seperti kak Benji, Lamborghini Aventador. Aku harus bekerja lebih keras, mobilnya mahal sekali, apa yang harus aku jual? Harganya selangit." Bianca menarik nafas panjang.


"Keegoisanmu pada Tuhan!!!! Jual itu, dan tuhan akan membayarnya dengan harga fantastis. berdoa, dan criiiiiiiiiing, akan Tuhan kabulkan. Tanpa harus susah payah." Nai memberikan pesan namun diutarakan dengan lagak lelucon.


"Sepertinya itu juga yang harus kamu lakukan Nai."


"Hahahahahahahaha benar juga."


Flashback Off.

__ADS_1


Benji mengambil kunci di lemari. "Sudah jarang ku pakai, bahkan hampir tak pernah lagi. Kau tidak cemburu aku memberikan sesuatu pada Bianca??"


"Tidak." Jawab Nai polos.


Benji kemudian duduk disamping Nai, sambil menatap dalam, "Kenapa?" Tanyanya.


"Kenapa cemburu? tuan menganggapnya adik." Nai menjawab seperti anak kecil.


"Kau tau darimana lagi?"


"Dari sejak aku bekerja disini. Kalau tuan baik padanya karena tuan mencintainya, tuan pasti mengejarnya." Nai menatap mata Benji tak kalah dalam.


"Tepat. Gadis pintar. Jadi kau tau kenapa aku mengejarmu?" Seringai kini muncul dibalik mata tajam Benji.


Mati aku, salah ucap, aku harus jawab apa? Tuan kalau tuan memang mencintaiku, jangan begini.


"Eh tuan, aku jadi ingat mau menelepon bianca tadi." Nai mengalihkan pembicaraan.


Benji bangkit dari duduknya, mengambil ponsel Nai lalu memberikan pada Nai, "Teleponlah."


"Terimakasih Tuan." Ucap Nai. Tak lama Nai menunggu Bianca menjawab telepon, "Haloooo" Nai tersenyum girang.


"Hai Nai"


"Hai, apa kau tidak merindukanku?"


"Rindu, tapi aku tidak mau mengganggu."


"Kapan kau ada rencana kemari?"


"Malam ini"


"Ah yang benar ?"


"Iya benar, buka pintunya dong, asyik sekali dikamar berdua." Nai yang tau sahabatnya ada didepan pintu langsung berlari membukakan pintu kamar Benji. Saat membuka pintu, terlihat Bianca dan Bhramsy sudah menunggu, Nai yang merindukan sahabatnya itu memberi pelukan hangat. " Masuklah." Kata Nai.


"Wah, baru disini aku melihat Nai menjadi artis, fotonya ada di sepanjang dinding. Pantas saja."


Kata Bhramsy yang ikut masuk bersama Bianca.


"Apa?" Tanya Benji menantang.


Bhramsy tersenyun, dia membuka kelakuan kakaknya, "Pantas saja kakak sampai berbicara dengan kucing saat mencari Nai."


Bhramsy sialan, Bisa - bisanya dia membongkar kartuku.


"Berbicara 1 kalimat lagi, tidak akan ku bagi perusahaan." Ancam Benji.


"Upsss.. maaf Nai, Aku beritau nanti, kalau ku beritau sekarang, nanti aku tidak kebagian."


"Kakak berguling hingga kebawah atau bagaimana ? Kenapa tempat tidur acak - acakan begini." Tambah Bhramsy.


"Itu keinginan Nai, aku ikuti saja."


"Ehmmmmmmm.." Nai menatap sinis pada Benjamin namun Benjamin hanya memalingkan wajah sambil tersenyum.


"Nai kamu agresif yah." Goda Bianca.


"Tolong sapu otakmu Bianca,"


Bianca duduk disebelah Nai, diatas kasur, sedangkan Benji dan Bhramsy duduk di sofa, menonton para wanita pujaannya bercengkrama.


"Jika ingin sesuatu,makanan atau minuman, buka disana." Tunjuk Benji pada lemari besar sebelah lemari parfum, Lemari itu selalu terkunci rapat, Nai yang lama bekerja disana pun tak tau tempat penyimpanan apa itu.


"Lemari? memang ada apa? aku baru tau." Nai beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kaki menuju lemari itu sambil menggerutu, "Tuan seperti orang tua jaman dulu, simpan makanan dilemari, kenapa tidak dikolong kasur saja" Ucapnya asal.


"Eh ini lemari es????siapa yang buat ide ada lemari didalam lemari??????" Nai terkejut saat membuka pintu lemari karena dibalik lemari kayu ada lemari es yang sangat besar.


"Tuan, biasanya yang didalam lemari itu brangkas, isinya uang, emas ,saham, perhiasan, bukan buah naga atau buah kiwi bahkan aneka minuman dan eskrim." Nai mengambil beberapa botol minuman dingin, Benji berjalan mendekat ke arah Nai kemudian memandang Nai, dengan cepat menarik dagu Nai dan mencium bibirnya, sekejap.


CUUUUPPPP


"Apa lagi?"Kau seperti burung tweety." Seringai Benji tak bisa disembunyikan, dia terlihat puas pamer kemesraan dihadapan adiknya dan Bianca. Dia tau Nai tidak akan anarkis didepan adik ipar dan calon adik iparnya.


Oh Tuhan? apa barusan? dia mencium bibirku? astaga!!!!!! malu aku maluuuuuuu!!!kenapa didepan orang lain ?


Nai terlihat sangat malu, dia menunduk namun tak bisa berbuat apa - apa. Nai berusaha seperti tidak terjadi apapun, "Lucu yah?" Tanya Nai sambil menunduk. Secepat kilat dia memberikan minuman pada Bhramsy dan Bianca. Sedangkan satu lagi, minuman soda untuknya sendiri.


"Bawel. Wek wek wek wek wek. Bateraimu kuat sekali dari pagi." Sambil mengikuti Nai, Benji mengulurkan tangan, mengambil kaleng minuman itu dan membukanya, setelah terbuka, kaleng itu diberikan lagi pada Nai.


Kak Benji berubah drastis. Sangat manis. Dulu mana ada dia bisa bercanda. Perhatian kecil yang berarti, aku saja adiknya tidak pernah diperhatikan seperti itu.


Bianca merebahkan badannya di tempat tidur, setengah badannya diberdirikan dan diganjal oleh bantal, di tempat tidur bagian bawah. Sedangkan Nai? dia disamping Bianca, ikut merebahkan badan sambil memainkan ujung rambut sahabatnya. Nai terdiam sejenak kemudian berkata, "Bi, apa kamu ingat? Kita pernah ada diposisi tepat begini."


Iya, saat aku mabuk." Jawab Bianca terkekeh.

__ADS_1


"Kamu bisa mabuk Bian?"


"Bisa tuan, dia merepotkan, aku harus memapahnya, aku yang pendek membawa dia yang seperti tiang listrik kan jelas susah." Nai menjelaskan dengan antusias, mereka tertawa lepas, begitu pula Benji dan Bhramsy.


"Kalian tidur berdua terlihat lucu, bagaimana jika aku dengan kak Benji? Ayo coba kak." Bramsy bangun dari sofa dan menarik tangan kakaknya.


"Jangan ngarang." Benji mendelik sambil melemparkan genggaman tangan adiknya.


"Yah kakak, biar lucu." Paksa Bhramsy.


"Kepalamu lucu." Mereka kembali tertawa melihat perangai kakak beradik yang tidak pernah akur. Benji yang dikenal sebagai kakak galak dan dingin kini tertawa lepas bersebelahan dengan adiknya.


TOOOOOK TOOOOOKKK


Terdengar ketukan pintu yang cukup keras, Nai bangun kemudian berlari, mengintip dari kaca kecil ditengah pintu.


Sontoloyo!!!!! Nenek sihir. dengan berat hati Nai membuka pintunya.


"Hei ini sudah malam, kenapa berisik sekali, apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun untuk tidak menganggu orang tua yang sedang istirahat." Melly langsung memarahi Nai.


Nai yang tidak mau kalah dan merasa diganggu kebahagiannya melawan, "Ini sudah malam tante, kenapa tante teriak - teriak, apa tante termasuk orang tua yang memiliki sopan santun?"


Bianca yang mendengar itu segera melirik ke arah Benji, mengisyaratkan "bantu temanku." Namun bukan berjalan ke arah Nai yang sedang bertengkar, Benji malah berjalan mendekati Bianca, mengambil sebatang rokok diatas meja kemudian membakar ujungnya.


"Biarkan saja, Nai senang berdebat, senang mencari kericuhan, pembuat huru - hara, pembangkang, selalu melawan, selagi dia benar, dia tidak akan diam apalagi menyangkut orang tuanya. Aku saja yang berkuasa sanggup dia lawan, apalagi hanya wanita itu. Kau tau Bian? saat migrain dia bisa berbicara tajam, apalagi saat tidak migrain. Lucu sekali." Benji duduk diatas meja kerjanya sambil tersenyum dan menggelengkan kepala membayangkan wajah Nai yang sedang marah - marah.


Begini jika orang yang tak pernah serius menjalin hubungan tiba - tiba menemukan tambatan hati? kasmaran? Seperti bocah. Kak Benji mencintai sahabatku. Tatapannya, ucapannya, sunggingan senyumnya, sangat hangat ketika membicarakan Nai. Bahkan kakak bisa sesantai ini berbincang denganku, padahal sebelum ada Nai, sangat kaku.


"Kak bagaimana jika Nai dijahati?" Tanya Bianca sedikit berbisik.


"Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya. Percaya padaku."


"Naii Nai,, kau memang perwujudan dari ucapan papi." Bhramsy ikut nimbrung sambil mendekat dan duduk disamping Bianca.


"Maksudmu apa Bhrams?" Tanya Benji.


"Saat papi bilang mereka semua akan datang, alasan papi adalah agar rumah ini ramai. Ternyata saat Nai datang, ramai sekali hingga malam, dengar saja baik - baik." Mereka pun terdiam, pertengkaran yang semula suaranya normal kini naik volume ketika Nai bicara.


"Mau diam atau angkat kaki malam hari? Ingat, tante hanya menumpang. Sana bilang papi, papi akan membelaku. Apalagi sebentar lagi semua harta papi akan jatuh ditangan suamiku, asal tante tau, suamiku sangat mencintaiku, tidak sulit aku memintanya untuk mengusir tante. Mari kita hidup di istana ini dengan aman damai sentosa."


BRUGGGGGGG! Nai membanting pintu meninggalkan Melly yang mematung.


Nai kembali membuka pintu dan dilihatnya Melly masih ada, " Aku lupa, 1 hal lagi, tawa kami lebih renyah daripada teriakanmu. Selamat malam." Nai membanting lagi pintunya, kemudian berjalan menuju tempat semula.


BRUUUUUUUUUUGGGG!


"Bantingan ke dua." Bisik Benji sambil menaikan alisnya. Mereka bertiga sontak menutup mulut masing - masing, mencegah tawa terbahak keluar dari mulutnya.


Nai berjalan menghampiri Bianca, ingin duduk lagi, Namun tangan Benji segera menarik Nai untuk berdiri didepan meja yang didudukinya, dengan sadar Benji memeluk Nai dari belakang sambil memberikan kotak kecil. " Berikan pada sahabatmu itu." Titah Benji. Nai melepaskan pelukan suaminya, dia menghampiri dan memberikan kotak kecil pada Bianca dengan senyuman manis.


"Bukalah. Aku bersumpah kamu akan senang." Kata Nai.


"Apa ini?" Tanya Bianca.


"JANGAN BANYAK TANYA BIANCA, BUKA SAJA. Hahahahahahah, tuan Benji akan berkata demikian, jadi aku wakilkan."


Bianca segera membukanya, dia terkejut, kemudian mengambil kunci yang ada didalamnya." Inikan kunci..."


"Ya." Benji mengangguk sambil tersenyum.


"Nai?" Bianca berpindah jadi memandang Nai.


Nai yang melihat wajah bingung sahabatnya dengan ringan menjawab, "Dari tuan Benji. Aku mana ada uang, bayar taksi saja uangnya aku curi di dompetmu." Sambil terbahak.


"Itu hadiah karena kamu telah menjaga Nai


Dan hadiah untuk ini." Benji menunjukan ponsel Nai, pemberian Bianca. " Terimakasih untuk semuanya hingga detik ini, kasih sayangmu, semua yang kamu lakukan untuk Nai, tugasmu selesai Bianca, kini biar aku yang menjaga istriku, kamu bisa jalan - jalan sekarang." Pungkas Benji.


Bianca loncat kegirangan, "Aaaaaaaaaahhhhhh Kak terimakasih" Dia refleks memeluk erat Benji, dan Benji membalas pelukan itu sebentar, "Sama sama" Katanya.


Bhramsy mengerutkan dahi kemudian menepuk bahu Nai, "Nai peluk aku" Direntangkan kedua tangannya.


Benji langsung turun dari meja dan memukul tangan Bhramsy "Heh awas kau!!!!!!" Ancamnya.


"Kakak memeluk kekasihku, kenapa aku tidak boleh memeluk kakak iparku?" Bhramsy memajukan bibirnya, cemberut.


************


Malam itu dilewati dengan canda tawa hingga dini hari.


CUUUUPPPPPP.


Sebuah ciuman hangat di kening Nai.


"Tidurlah. Aku menjagamu." Gumam Benji yang tersenyum, sambil menyelimuti Nai yang tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2