
"Siaaaaaaal!!!!!!!! Kenapa hitam? Kenapa aku hanya melihat bayangan?" Nai melempar sebatang rokok ditangannya, lagi - lagi, karena apa yang dia harapkan tidak sesuai kenyataan. Dia masih berusaha, membuka CCTV disudut lain, semuanya terlihat jelas, hanya dikamar itu saja yang sepertinya tidak terlihat.
Nai menekan ponselnya, menelepon seseorang.
"Mas???"
"Ya Nai,"
"Mas apa CCTV disini ada yang tidak diaktifkan atau mungkin tertutup cat?"
"Sepertinya tidak Nai, ada apa?"
" Tidak mas."
"Kamu dimana Nai?"
"Dikamar mas, ya sudah, terimakasih ya mas."
Tuuut tuuuuuut.
"Bagaimana ini??????" Nai berdiri, meletakan tangan di pinggang sambil mondar mandir tidak jelas. Beberapa menit sebelum Nai diam dan tersenyum.
"Hallo." Terdengar kembali Nai menelepon.
"Ya nona, ada yang dibutuhkan?"
"Kamu kekamarku."
**********
"Toook tooook."
"Masuklah."
"Nona, apa yang bisa saya bantu?" Laras sudah cengengesan dihadapan majikannya.
"Aku ingin kamu membereskan seluruh rumah ini. Tolong yang lain juga ikut membantu." Perintah Nai.
Maaf nona tapi kemarin sudah dibersihkan."
"Kemarin?"
"Iya."
"Seluruh isi rumah ini?"
"Iya nona."
"Tanpa terkecuali?"
"Hanya kamar ini dan kamar tuan Anton yang tidak dibersihkan, nyonya Erlyn berkata biar dia bereskan sendiri."
Nai menarik nafas seolah harus kembali berfikir. Sejenak dia terdiam kemudian kembali memerintah.
"Tolong ambilkan minyak kelapa."
"Nona mau memasak?"
"Jangan banyak tanya."
"Baik nona tunggu sebentar." Laras segera pergi ke dapur untuk mengambil minyak perintah majikannya. Dia berlari karena takut Nai akan marah. Sesampainya di dapur, dia langsung mengambil minyak kelapa dan membawanya kembali ke kamar.
"Ini nona."
Nai tersenyum lebar menandakan puas akan pekerjaan Laras. Dia mengeluarkan 10 lembar uang ratusan lalu diberikan pada Laras. "Ini untukmu." Katanya.
"Nona, terimakasih."
"Sama - sama. Jangan buka mulut jika ada yang bertanya apapun."
"Baik nona, tapi apa nona merencanakan sesuatu?"
"Ya, dan itu upahmu untuk menutup mulut, diam dan cukup gelengkan kepala. Paham ?"
"Baik nona. Tapi nona, maaf, ada yang ingin saya tanyakan." Laras ragu, namun setelah melihat Nai yang mengangkat dagu sepertinya Nai pun tidak keberatan jika ditanya."Kenapa nona bisa kecelakaan?" Ucap Laras.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Jika sudah kata Tuhan aku harus celaka ya celaka." Jawab Nai.
"Tidak nona, saya mendengar sedikit obrolan tuan William dengan yang lainnya, mereka seperti membahas kecelakaan nona, dan...."
"Dan apa?"
"Dan mereka sepertinya kesal karena nona selamat."
"Ya, aku rasa mereka yang merencanakan ini. Entahlah."
"Nona, nona harus bertahan. Nona yang pantas dirumah ini, saya akan keluar bekerja jika nona tidak lagi dirumah ini."
Nai terenyuh mendengar ucapan itu, ia bangkit kemudian merangkul Laras, "Hai, suatu hari aku juga harus pergi, tetaplah disini, keluarga ini membutuhkan tenaga kalian." Nai tersenyum.
"Nona, nona harus kuat. Jika saya bisa membantu, apapun akan saya bantu."
"Ah kamu membuatku terharu. Benarkah?" Tiba - tiba Nai seperti menemukan angin segar.
"Tentu nona."
"Aku ingin menyiramkan minyak ini didepan kamar om Anton. Kamu bisa membantuku ?"
"U untuk apa nona?"
"Aku harus masuk kekamarnya. Kamu akan tau jawabannya mungkin beberapa minggu lagi. Jangan banyak bertanya, aku hanya menagih ucapanmu." Kata Nai menegaskan.
"Baiklah nona."
Nai segera duduk di kursi sembari menyalakan laptop lagi, memantau setiap sudut rumah, mengamankan Laras yang sedang diperintahnya. Dia berjaga - jaga jangan sampai ada yang melihat perbuatannya.
"Akan ku beritahu jika ada yang keluar. Ingat, siram tepat didepan kamarnya. Kamu tau kamarnya kan? Dijawab dengan anggukan Laras." Setelah itu Laras segera berjalan mengendap - ngendap dengan ragu dan sedikit takut. Beruntungnya, keadaan rumah sedang sepi. Beberapa pembantu sibuk mengerjakan pekerjaan rumah sedangkan yang lainnya sibuk melakukan aktifitasnya di kamar. Selesai tugasnya, Laras kembali ke kamar Nai dengan segera.
"Terimakasih. Itu untukmu. Sudah ku pisahkan semuanya." Nai menunjuk tumpukan baju yang sangat banyak.
"Nona, baju ini masih sangat bagus, dan ah.. banyak sekali." Laras nampak kegirangan, terlihat jelas, Laras adalah wanita muda yang berambisi tinggi ingin memiliki barang mewah namun tak mampu membeli, maka dari itu dia sangat senang jika diberi barang oleh Nai.
"Ambilah. Dan ini tambahan untuk kesetiaanmu padaku." Pungkas Nai sambil kembali memberikan 5 lebar uang ratusan.
Benji mengunci ponsel dan menaruhnya sambil tersenyum. Dia sedari tadi memantau apa yang Nai lakukan.
"Aaaaaaaaaaaaahhhhhh!!!!!!!!!" Tidak lama setelah Laras pergi, terdengar teriakan diluar kamar Nai.
"Ada apa ini ?"
"Ini, kakiku terkilir.."
"Aduh, kepalanya pun berdarah, ayo cepat angkut bawa kerumah sakit."
Nai mendengar percakapan dibalik pintu, dia sama sekali tidak keluar kamar. Beberapa saat setelahnya, Nai melihat keluar dan ternyata orang - orang yang tadi sibuk menolong Anton sudah pergi ke rumah sakit. Nai segera melancarkan aksinya.
*******
"Astaga, sudah sore. Aku lupa ada janji." Nai yang baru sampai dikamar setelah menjadi detektif segera mencari ponsel dan menelepon Benji.
"Hallo"
"Ya."
"Maafkan aku"
"Ya."
"Tuaaaaaan.."
"Tuuut... Tuuuuuut...."
Oh Tuhan urusanku akan panjang ini, sebaiknya aku segera berganti pakaian dan menyusulnya ke kantor.
Dengan jalanan yang cukup macet akhirnya kurang lebih 45 menit Nai sampai di kantor Benji menggunakan ojeg online, dia setengah berlari ke ruang kerja suaminya itu. Namun belum juga bersuara, Benji segera menarik tangan Nai dan membawanya kembali ke parkiran.
Di Jalan.
"Tuaaaaan maafkan aku.." Rengek Nai.
Muka Benji memerah seperti menahan marah, "Aku tau kau sibuk Nai tapi setidaknya beri kabar, kau tau aku menunggu!"
__ADS_1
"Iya aku salah, maafkan aku." Ujar Nai sedikit memaksa.
"Kau tidak bisa seenaknya seperti itu Nai, kau harus menepati janji, bukan hanya denganku, dengan semua orang. Manusia itu dinilai dari bagaimana dia menepati janji." Benji bicara dengan Nada yang lebih naik sembari memacu mobilnya lebih kencang dari biasa.
"Maafkan aku, tapi aku juga punya alasan." Nai memberanikan diri membela dirinya sendiri, namun tak lama dari situ Benji malah menepikan mobilnya dipinggir jalan, ia lalu keluar dan membanting pintu. Entah kemana tujuannya berjalan lurus.
"Tuan tunggu." Nai mencoba mengejar Benji yang berjalan sangat cepat. Nai tau tuannya kini benar - benar marah, bahkan dulu saat dia menolaknya pun, Benji tidak pernah semarah ini.
"Tuaaaaaaan aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Nai masih mengikuti langkah Benji dari belakang dengan terengah - engah. Namun Benji tak sedikitpun berbalik, dia terus saja berjalan.
"Tuan maafkan aku.." Nai terlihat lelah berjalan mengikuti Benji. sore itu masih dapat dikatakan cerah. Sinar mentari belum juga surut, tak seperti biasanya. Nai yang hampir putus asa masih menyeret kakinya untuk meminta maaf.
"Hei Benjamin!!" Ucapnya nyaring. Dia sudah lelah, belum makan sejak pagi, mengerjakan semuanya, sekarang harus berjalan. Biarlah. Dia paling akan memarahiku karena aku lantang menyebut namanya.
Tapi tak disangka, cara ini berhasil membuat Benji menghentikan langkahnya dengan segera. Sejenak dia diam kemudian berbalik menatap tajam Nai yang berjalan ke arahnya."Apa kau bilang?" Tanyanya.
"Maafkan aku." Nai bicara sambil menatap wajah Benji. Memasang wajah iba agar tidak terjadi huru -hara.
"Bukan itu, tadi kau bilang apa?" Tanyanya lagi.
"Aku minta maaf." Nai menunduk.
Terus sajaaaaaaaaaaaaaa introgasi. Terusssss. Suruh aku ingat apa yang sudah ku ucapkan bahkan akupun lupa aku berkata apa selain maaf.
"Setelah itu." Benjamin tambah kesal.
"Iiiiihhh, aku bilang aku minta maaf dan aku tidak akan mengulanginya." Nai menekankan suara tanda dia juga sama kesalnya karena bingung.
"Astaga, bukan. Tadi kau panggil aku siapa?"
"Emhhhh.." Nai tersenyum namun memalingkan wajah, dia mati kutu saat Benji tiba - tiba melingkarkan tangan dan mendekatkan tubuhnya hingga nyaris menempel satu sama lain.
"Kenapa baru kali ini kau memanggil namaku dengan lengkap?" Tanya Benji. Nai hanya bisa berusaha sedikit untuk melepaskan pelukan karena takut ada orang yang melihat. "tolong lepaskan, nanti ada yang lihat."
"Kau istriku, lalu kenapa?" Benjamin mencium kening Nai lalu mengajaknya berjalan kembali ke mobil."Ayo pulang." katanya. Akhirnya mereka berjalan bersama dan masuk ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan, tangan Benji tak henti mengelus rambut dan wajah Nai. "Nai, wanita itu se......"
"Terserah!!!!!" Potong Nai.
"Kau masih kesal padanya?"
"Tidak, namun dia tidak mendengarkan segala ucapanku. Besok ku ancam pakai golok."
"Kau cemburu." Benji tersenyum melihat wajah Nai.
"Tidak."
"Lalu kenapa marah?"
"E.. entahlah tuan,,,, Mungkin saja, aku tidak ikhlas merelakan jika tuan bersanding dengannya."
"Kenapa?"
"Rekam jejaknya buruk."
"Kau mengetahuinya?"
"Suatu saat ku buka kartu matinya. Jadi intinya, selama belum ada wanita yang memang teruji baik, tuan tidak boleh menikah lagi." Tegas Nai.
"Hahaha, kenapa jadi kau yang mengurusiku?"
"Karena aku ingin tuan mendapatkan yang terbaik."
"Aku sudah menemukannya." Jawab Benji tenang.
"Benarkah?"
Sepertinya aku harus angkat kaki. Ya Tuhan. Harusnya aku bahagia. Tapi kenapa sepertinya berat.
"Ya."
Orangnya disampingku.
"Syukurlah." Ucapan terakhir dari mulut Nai hingga mereka tiba dirumah.
__ADS_1