
Hari pernikahan tiba. Waktu yang Benji tunggu kini terlaksana sesuai dengan apa keinginannya, susah payah dia meyakinkan Nai, tapi pada akhirnya Nai sendiri yang mendatangi Benji. Sulit di duga. Berbanding terbalik dengan Nai, pernikahan yang seharusnya menjadi idaman setiap wanita, tidak berlaku untuk Nayanika. Padahal jelas lelaki yang duduk disampingnya kini adalah lelaki kaya, berwibawa, tampan, semua perempuan ingin bersanding dengannya, tapi apa daya, dia masih tertaut pada laki - laki yang menghantam palung terdalam hatinya. Dharma.
Nai mengenakan kebaya modern berwarna putih ciri khas pengantin wanita dengan potongan yang menjiplak lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul lengkap dengan siger dan melati yang menambah kesan anggun. Aroma pengantin sangat kental dibuatnya. Nai didandani oleh penata rias terkenal, sengaja Benji pilihkan untuk calon istrinya.
"SAYA TERIMA NIKAHNYA NAYANIKA EZRA JAMEELA BINTI GUNAWAN DENGAN MASKAWIN TERSEBUT TUNAI."
"Bagaimana saksi?sah?"
"Sah!!!! Alhamdulillah." Ucap beberapa pria yang yang menjadi saksi di pernikahan mewah itu. Air mata tak henti membasahi pipi kedua orang tua Nai. Terlebih ayahnya. Mesjid terkenal di kota Bandung menjadi saksi Benji mengucapkan janji sucinya dihadapan Tuhan
Tuan, bagaimana tuan bisa lancar mengatakan semuanya? latihan sejak kapan? Tanya Nai berbisik saat ijab kabul baru saja diucapkan.
"Sejak aku melihatmu sebagai perempuan kuat yang bekerja siang malam. Aku sudah mulai latihan untuk ini." Jawab Benji sambil mencium kening Nai. Sontak para fotographer langsung membidik momen indah dimana seorang pengusaha sukses bergelimang harta bisa langsung menikah, padahal tak pernah ada kisah cinta sebelumnya.
Hidup baruku, masa depanku, semua dimulai dari hari ini. Apa tuan akan menyuruhku mengepel lagi kamarnya setiap hari? Astaga. Aku jadi pembantu yang dikontrak satu tahun
lagi.
***********
"Tersenyumlah. Banyak tamu yang harus kita salami." Perintah Benji ketika matanya menangkap Nai sedang melamun. Bagaimana tidak? Pesta besar - besaran yang Nai impikan kini tanpa persiapan bisa Nai dapatkan. Hotel bintang lima yang terkenal mahal digunakan untuk acara pernikahan Benji, tak tanggung - tanggung, vendornya pun milik salah satu artis ternama. Ballroom hotel dihias sedemikian rupa menggunakan dekorasi yang hampir semua bernuansa biru dan silver. Kesukaan Nai. Ditambah lagi lampu - lampu penerang ruangan yang memberikan kesan manis, dan klasik.
Resepsi pernikahan diadakan malam hari, Nai kini mengganti kebayanya dengan gaun semi vintage. Bukan gaun berekor panjang dengan diameter besar, hanya gaun sederhana tapi membuat Nai terlihat seperti noni Belanda. Hari itu Nai benar - benar menjadi putri raja yang sesungguhnya. Mimpinya untuk menggunakan gaun ala negeri kincir angin itu dikabulkan Benji tanpa konfirmasi.Tapi bukan bahagia, Nai malah merasa ini bukan dunianya.
Sedangkan Benji terlihat sangat gagah menggunakan jas berwarna biru tua dengan rambut yang disisir rapi. Senyuman tak hilang sedikitpun dari bibirnya.
"Tuan kau dan keluargamu berbohong, kenapa nikah secara negara? Cerainya susah." Jawaban Nai ketika Benji menepuk pundaknya.
"Tidak ada yang susah. Tenang saja. Mainkan dulu peran ini. Hanya satu tahun."
Bagaimana bisa kau jadi secantik ini Nai? Astaga. Aku tidak mengenalimu. Bagaimana juga aku bisa selalu menatap tamu ketika aku menyalamimlnya sedangkan mataku selalu ingin melihatmu??? Nai kau sangat cantik.
__ADS_1
Sepasang pengantin ini terus saja berbisik ditengah kesibukannya. Sedangkan orang tua Nai sedang bercengkrama dengan beberapa teman yang turut diundangnya, Ayah Nai terlihat sangat bangga menerima berbagai pujian dari kawan lamanya, pun dengan ibunya Nai.
Para tamu bergantian menyalami mereka. Semua terlihat bahagia, kecuali Nayanika. Dia terlihat bingung dan tak mengerti bagaimana laju kehidupannya esok hari. Kaki yang menapaki lantai bertolak belakang dengan fikiran yang mengawang. Senyum palsunya selalu dia sematkan di bibir, setidaknya, mereka tidak perlu tau jika bahwa pada kenyataannya, jalan hidup Nai getir.
"Tante!!!!!!!!!!" Suara nyaring memecah lamunan.
Nai memeluk erat Faza. Tumpah sudah bendungan air mata yang selama ini Nai tahan, didepan anak angkatnya itu, Nai terlihat sangat lemah. Senggukan keras dari tangis yang keluar di bibir Nai membuat bahu Nai berguncang.
Apalagi jalan hidup yang harus ku lalui? baru saja aku bertemu dan menghabiskan waktu denganmu, kini aku harus terpenjara dengan lelaki yang hanya memanfaatkan keadaanku dan keluargaku.
"Tante janji bakal pulang ca tante janji, maafin tante. Maafin tante." Isak tangis Nai tidak berhenti, malah semakin menjadi, kekhawatiran Nai pada didikan ayahnya yang keras, dia tidak mau itu terjadi pada anaknya kini. Nai mengencangkan peluknya pada anak malang yang selalu terlihat lebih kuat dibanding Nai sendiri.
"Tante jangan nangis, aku baik - baik saja. Kakek nenek akan menyayangiku. Tante telepon aku nanti yah. Jangan sedih, tahun depan aku sama tante."
Tante aku takut, siapa yang akan membelaku ketika aku dimarahi? tante jangan selalu menangis.
Disela senggukan tangisan Nai dia menatap wajah anak itu lalu berkata ,"Tahun depan adalah tahun kebebasan kita ca. Kamu bebas dari aturan kakek nenekmu, aku bebas dari belenggu ini. Caca mau tunggu kan? Tahun depan uang tante banyak, kita pindah kerumah dimana kakek nenek gak bisa marahin caca lagi. Caca percaya tante kan? Tante sayang Caca, Caca anak tante, inget kalau caca dimarahin lagi Caca telepon tante, Caca mau apa? ayo beli sekarang, ayo kita pergi beli semua yang Caca mau tante ada uang banyak, Caca gak perlu takut lagi tante gak punya uang, sekarang tante jadi orang kaya, ayo Caca mau beli apa? beli semua asal Caca tunggu tante ya." Nai tak henti membelai wajah anak itu, dia menyceracau seperti kehilangan kendali, dengan tangisan, isi hati Nai masih bisa ia suarakan. Teringat bagaimana Nai harus banting tulang saat sekolah untuk membeli susu, kini dia harus meninggalkan anak itu.
Benji ikut menunduk, menyetarakan tinggi badannya dengan Caca, dia merangkul Nai yang tak henti mengeluarkan air mata.
"Caca lihat? Tante sayang sekali sama Caca, Caca sekarang anak om juga, kalau Caca ada apa - apa, Caca bilang sama om ya." Ucap Benji disusul dengan memeluk keduanya. Anggukan dari Caca merupakan persetujuan terakhir sebelum Caca kembali ke meja prasmanan dimana banyak makanan tersaji, dia kembali tertawa bersama teman -teman sebayanya. Kini tinggal Nai yang matanya masih memerah.
"Kau lupa bagaimana aku berkuasa?" Tanya Benji dingin. Nai yang mendengar suara itu kemudian menatap suaminya. Nai masih terlihat sangat cantik meskipun habis menangis.
"Aku hanya takut, sepeninggalku ke Jakarta, Papa sering memarahi Caca, aku takut..." Nai tak menyelesaikan ucapannya.
"Ku ulangi lagi, demi kebahagiaanmu, apapun akan ku lakukan, siapapun yang menghalangiku akan ku bungkam, termasuk orang tuamu. Tunggulah, jangan berfikir aku acuh." Pungkas Benji, Nai hanya menatap dengan tidak mengerti.
Tangisan itu terhenti ketika Bianca datang, pelukan hangat dari sahabat yang sangat Nai rindukan.
"Sudah kubilang, jangan melawan Tuhan, kamu tetap saja teguh pendirian, coba menikah dari kemarin, mungkin sekarang kamu sudah jadi sosialita." Canda Bianca sambil mencubit hidung Nai.
__ADS_1
"Ini kuasa Tuhan Nai, jangan selalu menentang, terima saja, percaya padaku, kamu menikah dengan orang yang tepat." Kata Bianca lagi.
Aku tau semua Nai, tapi aku lebih jauh mengenal kak Benji, dia menikahimu itu artinya dia menjebakmu dalam cintanya yang sangat kuat. Kau fikir kau bisa lepas darinya? kurasa tidak mungkin, malah kemungkinan besar, kau akan mulai mencinta atau bahkan sama dalamnya. Lihat saja. Terimakasih Tuhan, rencanamu sungguh indah, Kau mengabulkan doaku untuk merubah hidup sahabatku ini.
"Berisik kamu nyai ronggeng, nanti kuceritakan. Sana makan, ijinkan hari ini timbanganmu naik satu kilo." Mereka tertawa.
Kamu tidak tau saja kalau aku terpaksa melakukan ini semua. Besok kuceritakan padamu.
"Nai..." Bhramsy langsung memeluk erat Nai, begitu pula dengan Nai.
Jika ada kesempatan, jika mas Bhramsy bukan kekasih Bianca, jika aku dipaksa memilih, aku lebih memilihmu mas. Kamu stabil perihal emosi, sedangkan kakakmu seperti pendidik di sekolah Militer. Apa - apa main bentak.
"Kamu cantik sekali. Selamat menjadi kakak iparku yang tercantik didunia. Beruntungnya si es batu ini." Ucap Bhramsy. Benji yang melihat istrinya dipeluk kemudian menarik dasi Bhramsy.
" Dia menikah denganku, kenapa kau hanya memeluk dan menyalaminya? bahkan kau melewatiku, apa aku tembus pandang?" Kata Benji dengan kesal.
"Ah kak, kita serumah, kalau kakak ingin aku peluk, bisa dirumah, tapi ah sekarang sajaaaaaaa!!!!!" Bhramsy memeluk erat kakaknya itu dengan penuh kasih sayang terlihat rona bahagia diwajah keduanya. Benji menyambut pelukan adiknya tak kalah hangat. Mereka menyadari, tidak ada keluarga yang bisa mereka andalkan lagi kecuali mereka berdua, sejak kecil bersama, bertengkar, sekolah, mengurus perusahaan, mereka sangat dekat namun tidak terasa, kini hanya haru yang ada didalam dada.
Semoga kakak bisa benar - benar menjaga Nai.
"Tak usah banyak bicara, akan kujaga baik-baik wanita incaranmu dulu. Namun, aku titip juga Bianca, jaga dia baik - baik" Ucap Benji sambil menepuk bahu adiknya.
"Sepertinya jika buket bunga kudapatkan, seminggu lagi aku menikahi Bian kak!" Jawab Bhramsy sambil tertawa.
Semarak pesta pernikahan Benjamin dan Nayanika terdengar hingga ke pelosok Negeri. Para wartawan sibuk mencari cara bagaimana bisa meliput pernikahan si pengusaha ini. Disisi lain, Seorang pria tampan berjalan menaiki altar dengan mata yang membengkak. Dimana bukan hiburan musik dan lagu yang dibawakan para artis ternama, melainkan tangisan Dharma yang Nai anggap sebagai puncak acara.
"Kamu tidak perlu berkata ya ketika aku mengajakmu menikah, jika ternyata kamu lebih memilih kekayaan seseorang. Jiwa materialistismu terkuak juga." Dharma langsung menghampiri Nai, Benji yang berdiri sebelum Nai ia lewati. Benji hanya menarik nafas panjang, menahan amarah ketika Dharma menjatuhkan pelukannya ditubuh Nai, bukan hanya pelukan, tapi karena Nai malah ikut memeluk dan hampir menangis. Untungnya Nai kuat dalam sandiwara ini.
Ini mimpiku bersanding denganmu, mimpi kita, ada di Altar megah, menyalami tamu, berbagi suka duka bersama, Dharma, aku mau kamu yang berdiri disampingku. Bukan Tuanku.
Tak membutuhkan waktu lama, sepersekian detik wajah Nai berubah licik, " Maafkan aku, tapi sejak saat itu, aku hanya mengingat ucapanmu yang memberiku selamat karena telah dikejar oleh pengusaha kaya. Jadi ku realisasikan fikiranmu. Maafkan aku, tapi ini rasanya jadi aku kemarin. Kamu masih beruntung Dharma, kamu bisa memelukku, sedangkan saat kamu menikah, aku hanya bisa menanti kamu melihatku di panggung acara. Ini tak lebih sakit dariku kemarin." Ucap Nai sambil tersenyum, dagunya sedikit naik menandakan kesombongan karena telah berhasil membalas dendam.
__ADS_1
Kau sangat pintar bersandiwara. Ditengah cintamu yang begitu dalam, kau mampu menukar air matamu dengan kesombongan. Piawai sekali merubah kondisi. Aku tau hatimu hancur sehancur- hancurnya Nai. Benji.