Pernikahan Sementara Nayanika

Pernikahan Sementara Nayanika
Terima Kasih Tuhan, aku bisa membalas budi.


__ADS_3

Rumah sakit yang sangat luas, Nayanika linglung dibuatnya. Ia berkeliling mencari ruang administrasi hingga hampir satu jam. meskipun begitu, akhirnya ia temukan juga. Atas bantuan satpam.


"Total biaya kamar 203 berapa?" Tanyanya langsung pada wanita cantik yang duduk di loket pembayaran.


"Mohon ditunggu nona. Eh nona ????" Penjaga loket itu membulatkan mata, terkejut melihat wanita yang terkenal sebagai istri dari pemilik tempat kerjanya.


"Nayanika Ezra Jameela, istri pemilik rumah sakit ini. Coba mana bonnya ? Aku lunasi semua. Tolong juga 1 kertas kosong, 1 amplop dan pena nya." Pinta Nai sambil menyeringai jahil.


Segera penjaga loket itu mencetak bon pembayaran, kemudian mengambil apa yang dipinta oleh Nai. "Ini nona."


"Terimakasih."


"Ngomong - ngomong, kenapa tidak disuruh pulang? Ibunya sehat kok aku lihat." Nai mulai menyulut benih - benih huru - hara.


"Biaya rumah sakit belum dilunasi nona, jadi belum bisa pulang." Terang si penjaga loket.


"Oh memang begitu yah aturannya?"


setiap hari biaya terus bertambah, bagaimana bisa dilunasi, dan lagi rumah sakit ini mahal sekali, bagaimana orang bisa sembuh, melihat nominal pembayarannya saja sepertinya aku tiba - tiba jadi sakit mata dan sakit jantung.


"Iya nona, peraturan dari kepala rumah sakit."


"Ah baiklah. Ini. Sisanya untukmu beli bakso. Kalau cukup, beli sekalian gerobaknya.Terimakasih yaaaaaa..." Ucap Nai sembari memberikan 3 gepok uang ratusan ribu bertuliskan 10.000.000 di masing - masing gepokannya.


Nayanika berlalu. Ia menuju kursi tunggu dan menulis sesuatu dikertas yang ia bawa. Setelah selesai, ia kembali berjalan menuju kamar Rania.


"Aku pinjam Rey untuk antarkan aku ke kantin boleh?" Ucap Nai saat berjalan masuk kamar.


"Silahkan Nai."


Merekapun berjalan menuju kantin, namun Nai berhenti di lorong yang sangat sepi.


"Rey, kamu mau uang? Butuh uang kan? Ada pekerjaan untukmu." Nai menatap wajah Rey.


"Benarkah? Ayo, aku mau, kerja apapun aku siap."


"Kerjamu berkeliling ke setiap alamat yang tertera dalam ktp di dompet itu. Berikan lagi pada pemiliknya LENGKAP tanpa uangnya kamu ambil. Kamu bisa pakai cara apapun, simpan didepan pintunya pun tidak masalah. Fikirkan saja sendiri bagaimana caranya."


Melihat sekitar sambil menunggu jawaban, Nayanika dengan dinginnya mengambil sebatang rokok kemudian menyalakan dan menghisapnya, padahal, ia tepat berada didepan tulisan "Kawasan Bebas Asap Rokok."


"Tapi Ez.." Rey terlihat keberatan.


"Ini upahmu." Ucap Nai, ditangannya kini ada kwitansi pembayaran biaya rumah sakit yang telah lunas. Ia tersenyum puas.


Rey mengambil secarik kertas bukti pembayaran yang telah di cap lunas oleh rumah sakit. Matanya secepat kilat menatap Nai kembali dengan penuh tanya. "Ya Tuhan,, Ezra...ini serius? bagaimana aku harus membalasnya?"


"Kamu tau? Sepotong roti yang kamu berikan dulu, menolong aku dari rasa lapar yang hampir membuatku pingsan,, uang yang kamu berikan dulu padaku dengan dalih membeli makanan sisa, membantu aku bisa hidup dihari itu. Ini bukan jasaku, ini jasamu yang aku coba balas meskipun tidak terbalas. Tuhan yang memberikannya, bukan aku." Rey meneteskan air mata, ia merasa sangat tertolong. Sedangkan Nai? mengalihkan rasa harunya dengan terus menghisap asap rokok.


"Eh kamu jadi kuliah?" Nai bertanya dingin padahal hatinya ingin menangis. Rey mengangguk.


"Beres?"


"Aku S1 akuntansi."


"Besok datang ke alamat ini, bawa ijazahmu saja dan bilang ingin bertemu dengan tuan Benjamin, setelah menemuinya, akan aku telepon. Oh iya, kamu berikan amplop ini padanya, awas jangan kamu buka sebelum diberikan padanya." Tegas Nai. Lagi - lagi Rey hanya mampu mengangguk. Tenggorokannya terasa tercekik karena menahan tangis.


"Tuhan melimpahkan segalanya padamu Nai, tanpa tersisa. Tuhan melimpahkan kepedihan dan kebahagiaan padamu, tak lupa ia selipkan hatimu yang seperti malaikat. Semoga kamu selalu diselamatkan dan diberi keberkahan sepanjang hidupmu."


"Aamiin. Tuhan pun akan memberikan semua keberkahan padamu juga Rey, percaya padaku. Dia tidak mengijinkan kamu terus ada di jalan yang salah. Dia menyelamatkanmu." Nai memeluk teman kecilnya itu.


Mereka pun memutuskan kembali ke kamar Rania.


"Ini untuk bayi tampan." Ucap Nai sembari memberikan segepok uang pada Rania.


"Ezra,, cukup." Tolak Rey.


"Berisik sekali mulutmu! Diam!!!!! Ini untuk si bayi kecil.. siapa namanya?" Tanya Nai sembari mencubit lembut pipi si bayi.


"Belum ku fikirkan. Jawab Rania."


"Aku titip 1."


"Siapa? Tanya Rey."


Nai tersenyum, menarik nafas panjang, "Benjamin." Katanya.


"Akan ku gunakan nama itu."


"Baiklah. Sepertinya sudah teralu siang, Aku pulang dulu." Nai berpamitan pada keduanya.


Ia keluar kamar dengan senyuman yang merekah. Langkahnya riang, sepanjang langkahnya melaju, berbagai kenangan pahit kini dia tanggapi dengan tawa kecil dan gelengan kepala.


Tuhan, ini mimpiku. Aku membalas satu persatu kebaikan orang yang membantuku. Terimakasih telah memberikanku kebahagiaan ini. Terimakasih telah memberiku berkah yang tiada henti. Terimakasih tuan Benjamin.


*******


"Mang, Tuan sudah pulang?itu mobilnya kan?" Sesampainya di gerbang rumah, Nai melihat mobil Benjamin terparkir.


"Sudah nona daritadi."


Sialan. Aku pasti dimarahi karena tidak meneleponnya. Tuhan, berkahi aku lagi. Selamatkan aku dari manusia yang kadang edan kadang eling itu ya Tuhan.


Ia segera memarkirkan mobilnya dan berlari kecil ke dalam rumah menuju kamar.

__ADS_1


"Nai, sudah pulang." Sapa bi Nuni.


"Sudah bi."


"Minum dulu Nai."


"Ah nanti dikamar, darurat emergency nih.." Ucapnya sembari tersenyum dan meneruskan berlari. Bi Nuni hanya tersenyum karena tau Nai ketakutan.


"Tuan..." Ucap Nai saat membuka pintu. Melihat suaminya masih berpakaian rapi, duduk di sofa seperti menunggunya pulang.


"Hai. Bagaimana jalan jalannya?" Tanya Benji.


Ingin ku cekik dirimu Nai sebenarnya, namun aku masih ingat ucapan Roni.


"Menyenangkan." Nai segera merubah raut wajahnya menjadi se ceria mungkin.


"Syukurlah." Timpal Benji. Benji kemudian melangkah menuju lemari es dan mengambil sesuatu. "Aku bawa ini, untukmu." Katanya.


"Blackforest?" Nai kembali tersenyum riang.


"Kesukaanmu kan?"


Cuppppp!!!! Nai mencium pipi Benjamin dan langsung mengambil Blackforest dari tangan suaminya itu "Terimakasih tuan." Ucapnya.


kau selalu bisa membuat aku tidak berdaya. Apa ini caramu menutupi kesalahanmu? gatal sekali mulutku ingin bertanya siapa laki - laki itu.


Syukurlah. Tidak ada huru - hara. Terimakasih Tuhan, aku dilindungi lagi, ternyata dia sedang menjadi madu siang ini.


"Apa saja yang kau lakukan hari tadi?" Tanya Benji.


"Belanja."


"Setelah itu??"


"Hmmmmm....."


"Ya sudah kalau tidak mau jawab, dan lagi aku tau jawabannya."


"Baguslah kalau tuan tau. Berarti tuan juga tau apa mauku." Jawab Nai seenaknya.


Aku curiga ada agen FBI yang mengikutiku tadi. Dia bertanya seperti mengintrogasi.


"Aku pergi kekantor lagi." Tanpa panjang lebar Benjamin beranjak.


"Hmmmm?"


"Ada yang harus aku kerjakan. Aku kesini hanya ingin membawakan kue itu." Nai tiba - tiba murung, ia mengangguk sambil tertunduk.


"Baiklah."


Nai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. setelah mandi, ia segera menyantap blackforest yang ada dihadapannya.


"Hmmmm,, enak sekali. Kalau ada caca, aku pasti menghabiskan in berdua dengannya." Gumamnya.


Nai mengambil ponsel dan membuka ruang obrolan dengan anak perempuan yang paling ia sayangi.


Ca.. kamu lagi apa?


Tulis Nai dalam pesannya.


Lagi makan blackforest.


Balas anak itu tanpa menunggu lama.


Ih ko sama?


Tanya Nai lagi.


Dikasih tante Gema, kata tante Gema, om Benji yang titip. Gak tau, aku makan aja.


Jawab Caca.


Wah, bilang terimakasih sama om Benji ya. selamat makan.


Apapun yang dia berikan padaku, dia berikan juga untuk caca. Lelaki adil. Kenapa dia selalu tau isi hatiku?


Nai tersenyum, tanpa sadar ia membuka kolom story dan memilih galery. Nai terus mencari foto Benjamin yang diam - diam ia ambil. "Nah ini cakep." Lirihnya. Ia kemudian menuliskan sepenggal lirik lagu.


"Jujur ku mengagumi pantas ku beri 1000 pujian buat kamu. Jauh didalam hati, selalu ku rasa bersyukur aku mengenalmu.


Dan Nai langsung memposting storynya itu.


Drrrrtttttt


Nai melihat ponselnya yang terus menerus bergetar.


Tuan Benjamin


Ehem... love you.


Nai hanya memberikan gambar hati tanpa membalas kalimat apapun.


********

__ADS_1


"HIIIIHHAAAAAAAAAAAAA.."


"Astaga Benjamin, kenapa lu kayak kuda lumping jingkrak - jingkrak diatas kursi gitu? Allahuakbar!" Roni mengusap dadanya. Mencoba menenangkan diri karena sangat terkejut.


"NAI MOSTING FOTO GUE RON. LIAT INI PAKE EMOT CINTA GITU." Benjamin antusias sambil melompat kegirangan.


Roni hanya mampu menarik nafas panjang melihat perangai sahabatnya itu sambil terus mengusap dada.


***********


"Nai, sedang apa ? Kenapa belum tidur?" Benjamin baru tiba di kamarnya tengah malam, ia melihat Nai masih mematung di balkon, menatap jauh ke langit.


"Aku belum mengantuk tuan."


"Selarut ini?"


"Iya."


"Sudah makan?"


"Aku tidak lapar tuan."


"Apa yang kau fikirkan Nai?"


"Aku? Tidak, aku tidak memikirkan apa - apa tuan."


"Benarkah?"


"I iya, benar."


"Kau mau mobil lagi?"


"Kenapa jadi mobil tuan?"


"Barangkali kau melamun hingga larut malam karena masih mengenang mobilmu yg rusak tempo hari."


"Ah, tidak tuan, mobil disini banyak sekali, aku bisa meminj.."


"Ssssstttt.. semua milikmu disini Nai, jangan ada bahasa meminjam."


"Tuan,"


"Ya cantik"


"Apa tuan hari ini banyak sekali pekerjaan?"


"Memang kenapa?"


"Tidak biasanya tuan pulang selarut ini!"


"Kau habis makan apa tadi siang Nai? Blackforest? Sepertinya kau harus menyantapnya setiap hari agar bisa perhatian padaku."


"Ahhhh, tuan, aku serius." Nai tersipu malu.


"Tidak, aku tidak sibuk, aku bekerja seperti biasa, namun memang ada beberapa proyek pembangunan yang harus kudatangi."


"Lalu aku memilih ini, bukalah." Benjamin memberikan kotak bludru berwarna biru tua cukup besar.


Nai membukanya, dilihatnya satu set perhiasan berwarna gold. "Tuan, ini sangat bagus."


"Untukmu. Kau akan terlihat cantik memakainya."


"Tapi aku mau kemana memakai perhiasan seperti ini." Nai menggaruk kepalanya. Seumur hidup, Nai hanya pernah menggunakan kalung emas pemberian ayahnya, itupun jarak 1 bulan, kalungnya sudah dijual kembali untuk biaya hidup.


"Sengaja ku pilihkan yang sederhana, agar bisa dipakai sehari - hari. "


"Sepertinya tidak usah tu.."


"Jangan menolak. Kau ratu di istana ini. Kemari, biar ku pakaikan." Benjamin memakaikan perhiasan itu satu per satu.


"Kau saaaaaangaaaaat cantik." Pujinya pada Nai.


"Benarkah?"


"Tentu."


"Tuan, bagaimana aku membalas kebaikan tuan?"


"Bagaimana jika ditukar."


"Ditukar apa tuan?"


"Ditukar dengan 2 cucu untuk papi." Nai tergelak, ia membalikan badan dan kembali menatap langit sambil tersenyum, seperti membayangkan sesuatu yang ia sendiri ragu.


Melihat Nai seperti itu, Benjamin segera memeluknya dari belakang.


"Nai, kau mau berjanji sesuatu padaku?"


"Coba katakan!"


"Jika nanti kita memiliki anak, matanya harus seperti dirimu." Nai tersenyum, ia membalikan badannya menghadap Benji, jari kelingkingnya ia acungkan.


"Janji!!!!" Katanya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2